ASUHAN KEPERAWATAN KEBUTUHAN ISTIRAHAT TIDUR

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Kesempatan untuk istirahat dan tidur sama pentingnya dengan kebutuhan makan, aktivitas, maupun kebutuhan dasar lainnya. Setiap individu membutuhkan istirahat dan tidur untuk memulihkan kembali kesehatannya. Tidur adalah suatu keadaan relatif tanpa sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda (Tarwoto & Wartonah, 2006). Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Tanpa jumlah tidur dan istirahat yang cukup, kemampuan untuk berkonsentrasi dan beraktivitas akan menurun serta meningkatkan iritabilitas (Potter & Perry, 2003). Tidur adalah status perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun. Tidur dikarakteristikkan dengan aktivitas metabolisme tubuh menurun (Choppra, 2003), tingkat kesadaran yang bervariasi, perubahan proses fisiologis tubuh, dan penurunan respons terhadap stimulus eksternal (Wahid, 2007).

Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur oleh adanya hubungan mekanisme serebral yang secara bergantian untuk mengaktivkan dan menekan pusat otak agar dapat tidur dan bangun. Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua system pada batang otak yaitu Reticular Activating System (RAS) dan Bulbar Synchorinizing Region (BSR) . RAS di bagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus yang dapat mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran: memberi stimulus visual, pendengaran, nyeri, dan sensori raba: serta emosi dan proses berfikir pada saat sadar. RAS melepaskan katekolamin, sedangkan pada saat tidur terjadi pelepasan serum serotonin dari BSR

 

 

 

1.2  Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian Istirahat dan Tidur ?

2.      Apa fungsi Istirahat dan Tidur ?

3.      Bagaimana fisiologi Tidur ?

4.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi Tidur ?

5.      Apa saja gangguan pada tidur ?

6.      Bagaimana pengkajian pada pasien dengan gangguan pola tidur ?

7.      Apa saja diagnosa keperawatan pada gangguan istirahat dan tidur ?

8.      Apa saja rencana tindakan keperawatan pada pasien dengan gangguan istirahat dan tidur ?

 

1.3  Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui pengertian Istirahat dan Tidur ?

2.      Untuk mengetahui fungsi Istirahat dan Tidur ?

3.      Untuk mengetahui bagaimana fisiologi Tidur ?

4.      Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi Tidur ?

5.      Untuk mengetahui apa saja gangguan pada tidur ?

6.      Untuk mengetahui bagaimana pengkajian pada pasien dengan gangguan pola tidur ?

7.      Untuk mengetahui apa saja diagnosa keperawatan pada gangguan istirahat dan tidur ?

8.      Untuk mengetahui apa saja rencana tindakan keperawatan pada pasien dengan gangguan istirahat dan tidur ?

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Istirahat dan Tidur

Tidur dapat dikatakan sebagai kondisi ketika seseorang tidak sadar, tetapi dapat dibangunkan oleh stimulus atau sensori yang sesuai.kondisi ini dapat ditandai dengan aktivitas yang minim, tingkat kesadaran bervariasi, terjadi perubahan proses fisiologis dan terjadi penurunan respon terhadap stimulus eksternal (Dr. Lyndon Saputra,2013)

Istirahat merupakan keadaan rileks dan tenang tanpa ada tekanan emosional. Seperti halnya berjalan-jalan di taman, membaca buku atau melakukan berbagai kegemaran lain. Jadi istirahat tidak hanya diartikan dengan berbaring di tempat tidur dan tidak sedang melakukan aktivitas apaun (Dr. Lyndon Saputra,2013).

Istirahat mempunyai arti yang luas seperti bersantai menyegarkan diri, diam menganggur setelah melakukan aktivitas serta melepaskan diri dari apapun yang menyebabkan kebosanan, menyulitkan,atau menjengkelkan. Dengan begitu dapat diartikan bahwa istirahat merupakan keadaan yang tenang, rileks tanpa adanya tekanan emosional. (Aspiani,2014)

Fungsi dan tujuan tidur adalah untuk menjaga keseimbangan mental, emosional, selain itu juga istirahat dan tidur berfungsi sebagai Regenerasi sel-sel tubuh yang rusak menjadi baru, Menambah konsentrasi dan kempauan fisik, Memperlancar produksi hormone pertumbuhan tubuh, Memelihara fungsi jantung, Mengistirahatkan tubuh yang letih akibat aktivitas seharian, Menyimpan energy, Meningkatkan kekebalan tubuh kita dari serangan penyakit, dan menambah konsentrasi dan kemampuan fisik.

Perawat merupakan tenaga profesional yang memberikan pelayanan keperawatan 24 jam. Perawat berperan untuk memberikan asuhan keperawatan yang holistic kepada setiap klien yang mengalami gangguan dalam pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur.

 

 

2.2  Fungsi Istirahat Tidur

a)      Regenerasi sel-sel tubuh yang rusak menjadi baru.

b)      Menambah konsentrasi dan kemampuan fisik.

c)      Memperlancar produksi hormon pertumbuhan tubuh.

d)     Memelihara fungsi jantung.

e)      Mengistirahatkan tubuh yang letih akibat aktivitas seharian.

f)       Menyimpan energi.

g)      Meningkatkan kekebalan tubuh kita dari serangan penyakit.

h)      Menambah konsentrasi dan kemampuan fisik

2.3  Fisiologi Tidur

Tidur terjadi dalam siklus yang diselingi periode terjaga. Siklus tidur/terjaga umumnya mengikuti irama circadian atau 24 jam dalam siklus siang/malam.ada 5 tahapan tidur, tahap 1 sampai tahap 4 mengacu pada tidur dengan gerakan mata tidak cepat (NREM-Non Rapid Eye Movement) dan berkisar dari keadaan tidur sangat ringan di tahap 1 hingga keadaan tidur  nyenyak di tahap 3 dan 4 (catatan: tahap 3 dan 4 di bahas sebagai tahap 1 tahap, tahap 3 dengan berbagai sumber). Selama tidur NREM, seseorang biasanya mengalami penurunan suhu, denyut, tekanan darah, pernafasan dan ketegangan otot. Tahap 5 disebut dengan tidur gerak mata cepat (REM-Rapid Eye Movement). Tahap tidur REM dikarakteristikkan dengan meningkatnya level aktivitas dibandingkan pada tahap NREM. Manfaat tidur REM berkaitan dengan perbaikan dalam proses mental dan kesehatan emosi. (Bennita, 2013).

 

2.4  Tahap-Tahap Tidur

Tidur dapat dibagi menjadi dua tahapan yaitu non-rapid (NREM) dan rapid eye movement (REM).

a.Tidur NREM

Disebabkan oleh penurunan kegiatan dalam sistem pengaktifan retikularis. Tahapn tidur ini disebut juga tidur gelombang lambat (slow wave sleep), karena gelombang otakbergerak dengan sangat lambat. Tidur NREM ditandai dengan penurunan sejumlah fungsi otak dan tanda-tanda vital, misalnya tekanan darah dan frekuensi napas. Hala lain yang juga terjadi pada saat tidur NREM adalah pergerakanbola mata melambat dan mimpi berkurang. Tidur NREm terbagi empat tahap, yaitu :

1)Tahap I

Tahap I merupakan tahapan paling dangkal dari tidur dan merupakan tahap transisi antara bangun dan tidur. Tahap ini ditandai dengan individu yang cenderung rileks, masih sadar dengan lingkungannya, tetapi merasa ngantuk, bola mata bergerak dari samping ke samping, frekuensi nadi dan napas sedikit menurun, serta mudah dibangunkan. Tahap I normalnya berlangsung sekitar 5 menit atau sekitar 5% dari total tidur (Dr.Lyndon Saputra, 2013)

2)Tahap II

Tahap II merupakan tahap ketika individu masuk pada tahap tidur, tetapi masih dapat bangun dengan mudah. Tahap I dan tahap II termasuk tahap tidur ringan (light sleep). Pada tahap II, otot mulai relaksasi, mata pada umumnya menetap, dan proses-proses di dalam tubuh terus menurun yang diatandai dengan penurunan denyut jantung, frekuensi napas, suhu tubuh, dan metabolisme. Tahap II normalnya berlangsung selama 10-20 menit dan merupakan 50-55% dari total tidur

3)Tahap III

Tahap III merupakan awal dari tahap tidur atau tidur nyenyak (deep sleep). Tahap ini dicirikan dengan relaksasi otot menyeluruh serta pelmabtan tersebut disebabkan oleh dominasi sistem saraf parasimpateri. Pada tahap III, individu cenderung sulit dibangunkan. Tahap III berlangsung selama 15-30 menit dan merupakan 10% dari total tidur.

4)Tahap IV

Pada tahap IV individu tidur semakin dalam atau deltas sleep. Tahap ini ditandai dengan perubahan fisiologis, yaitu EEG gelombang otak melemah serta penurunan denyut jantung, tekanan darah, tonus otot, metabolisme, dan suhu tubuh. Pada tahap ini,

48individu jarang bergerak dan sulit dibangunkan. Tahap ini berlangsung selama 15-30 menit dan merupakan 10% dari total tidur.

 

 

b.Tidur REM

Tidur REM disebut juga tidur paradox. Tahapaan ini biasanya terjadi rata-rata setiap 90 menit dan berlangsung selama 5-20 menit. Tidur REM tidak senyenyak tidur NREM dan biasanya sebagian besar mimpi terjadi pada tahap ini. Tidur REM penting untuk keseimabngan mental dan emosi. Tidur REM ditandai dengan :

1)Lebih sulit dibangunkan atau justru dapat bangun dengan tiba-tiba

2)Tonus otot sangat terdepresi dan menunjukkan inhibisi kuat proyeksi spinal atas sistem pengaktivasi retikulairs

3)Sekresi lambung meningkat

4)Frekuensi denyut jantung dan pernapasan seringkali menjadi tidak teratur

5)Pada otot perifer terjadi beberapa gerakan otot yang tidak teratur

6)Mata cepat tertutup dan terbuka

7)Metabolisme meningkat

 

2.5  Faktor-faktor yang mempengaruhi tidur

Faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur :

Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas maupun kuantitas tidur,di antaranya adalah penyakit, lingkungan, kelelahan, gaya hidup, stress emosional,stimulan dan alcohol,diet, merokok,dan motivasi. 

a). Penyakit.

Penyakit dapat menyebabkan nyeri atau distress fisik yang dapat menyebabkan gangguan tidur. Individu yang sakit membutuhkan waktu tidur yang lebih banyak daripada biasanya.di samping itu, siklus bangun-tidur selama sakit juga dapat mengalami gangguan. 

b). Lingkungan.

Faktor lingkungan dapat membantu sekaligus menghambat proses tidur. Tidak adanya stimulus tertentu atau adanya stimulus yang asing dapat menghambat upaya tidur. Sebagai contoh, temperatur yang tidak nyaman atau ventilasi yang buruk dapat mempengaruhi tidur seseorang. Akan tetapi, seiring waktu individu bisa beradaptasi dan tidak lagi terpengaruh dengan kondisi trsebut. 

 

c). Kelelahan.

Kondisi tubuh yang lelah dapat mempengaruhi pola tidur seseorang. Semakin lelah seseorang,semakin pendek siklus tidur REM yang dilaluinya. Setelah beristirahat biasanya siklus REM akan kembali memanjang. 

d). Gaya hidup.

Individu yang sering berganti jam kerja harus mengatur aktivitasnya agar bisa tidur pada waktu yang tepat. 

e). Stress emosional.

Ansietas dan depresi sering kali mengganggu tidur seseorang. kondisi ansietas dapat meningkatkan kadar norepinfrin darah melalui stimulasi system saraf simapatis. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya siklus tidur NREM tahap IV dan tidur REM serta seringnya terjaga saat tidur. 

f). Stimulant dan alkohol. 

Kafein yang terkandung dalam beberapa minuman dapat merangsang SSP sehingga dapat mengganggu pola tidur. Sedangkan konsumsi alcohol yang berlebihan dapat mengganggu siklus tidur REM. Ketika pengaruh alcohol telah hilang, individu sering kali mengalami mimpi buruk. 

g). Diet

Penurunan berat badan dikaitkan dengan penurunan waktu tidur dan seringnyaterjaga di malam hari. Sebaliknya, penambahan berat badan dikaitkan dengan peningkatan total tidur dan sedikitnya periode terjaga di malam hari. 

h). Merokok

Nikotin yang terkandung dalam rokok memiliki efek stimulasi pada tubuh. Akibatnya, perokok sering kali kesulitan untuk tidur dan mudah terbangun di malam hari. 

i). Medikasi.

Obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang. hipnotik dapat mengganggu tahap III dan IV tidur NREM,metabloker dapat menyebabkan insomnia dan mimpi buruk, sedangkan narkotik (mis; meperidin hidroklorida dan morfin) diketahui dapat menekan tidur REM dan menyebabkan seringnya terjaga di malam hari. 

 

j). Motivasi. 

Keinginan untuk tetap terjaga terkadang dapat menutupi perasaan lelah seseorang. sebaliknya, perasaan bosan atau tidak adanya motivasi untuk terjaga sering kali dapat mendatangkan kantuk. 

 

2.6  Waktu kebutuhan tidur normal menurut usia

Kebutuhan waktu tidur berbeda-beda tergantung usia. Semakin bertambahnya usia, kebutuhan waktu tidur menjadi berkurang. Berikut ini adalah waktu tidur ideal yang disarankan berdasarkan usia:

a)       Bayi usia 0–3 bulan: 14–17 jam per hari.

b)       Bayi usia 4–11 bulan: 12–15 jam per hari.

c)       Bayi usia 1–2 tahun: 11–14 jam per hari.

d)       Anak prasekolah usia 3–5 tahun: 10–13 jam per hari.

e)       Anak usia sekolah usia 6–13 tahun: 9–11 jam per hari.

f)        Remaja usia 14–17 tahun: 8–10 jam per hari.

g)       Dewasa muda usia 18–25 tahun: 7–9 jam per hari.

h)       Dewasa usia 26–64 tahun: 7–9 jam per hari.

i)         Lansia usia dia atas 65 tahun: 7–8 jam per hari.

2.7  Gangguan pada Tidur

Macam-Macam Gangguan Tidur :

a. Insomnia

Insomnia adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan tidur, baik secara kualitas maupun kuantitas. Gangguan tidur ini umumnya ditemui pada individu dewasa. Penyebabnya bisa karena gangguan fisik atau karena faktor mental seperti perasaan gundah atau gelisah.

Ada tiga jenis insomnia: 

1.Insomnia inisial yaitu kesulitan untuk memulai tidur.

2.Insomnia intermiten yaitu kesulitan untuk tetap tertidur karena seringnya terjaga.

3.Insomnia terminal yaitu bangun terlalu dini dan sulit untuk tidur kembali.

 

b. Parasomnia

Masalah tidur yang lebih banyak terjadi pada anak-anak :

• Night terrors dan mimpi buruk

• Sleepwalking dan sleeptalking

• Bruksisme

• Enuresis

c.       Hypersomnia

Gangguan ini adalah kebalikan dari insomnia. Seringkali penderita dianggap memiliki gangguan jiwa atau malas. Para penderita hypersomnia membutuhkan waktu tidur yang sangat banyak dari ukuran normal. Meskipun penderita tidur melebihi ukuran normal, namun mereka selalu merasa letih dan lesu sepanjang hari. Namun gangguan ini tidaklah terlalu serius dan dapat diatasi sendiri oleh penderita dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen diri.

d.      Sleep apnea

Gangguan yang dicirikan dengan kurangnya aliran udara melalui hidung dan mulut.

Ada 3 jenis apnea tidur: apnea sentral, obstruktif, dan campuran :

1. Apnea obstruktif

Terjadi pada saat otot atau struktur rongga mulut atau tenggorok rileks pada saat tidur. Jalan nafas atas menjadi tersumbat, dan aliran udara pada hidung berkurang atau berhenti. Individu masih berusaha untuk bernafas karena gerakan dada dan abdomen terus terjadi, yang seringkali menyebabkan bunyi dengkuran atau dengusan yang keras.

2. Apnea sentral

Melibatkan disfungsi pada pusat pengendalian pernafasan di otak. Impuls untuk bernafas sementara berhenti, dan aliran udara pada hidung dan gerakan dinding dada juga terhenti. Saturasi oksigen dalam darah juga menurun. Kondisi ini terjadi pada klien yg mengalami cedera batang otak

3. Apnea campuran

Merupakan perpaduan antara apnea obstruktif dan apnea sentral

 

e.       Narkolepsi

 Disfungsi mekanisme yang mengatur keadaan bangun dan tidur. Suatu kondisi yang dicirikan oleh keinginan yang tidak terkendali untuk tidur. Orang yg menderita narkolepsi boleh dikatakan dapat tidur di waktu sedang berdiri, tengah mengemudikan kendaraan, tidur di tengah-tengah suatu pembicaraan atau selagi berenang

f.       Somnambulisme

Somnambulisme, berjalan-jalan dalam tidur, lebih banyak terlihat pada anak-anak daripada di kalangan orang dewasa. Bahaya bagi orang yang menderita somnambulisme adalah bahwa ia dapat mendapatkan cedera, dan tindakan-tindakan membuat lingkungannya aman merupakan suatu keharusan, umpanya memasang kunci-kunci yang benar-benar bekerja baik pada pintu-pintu. Jika seorang penderita yang pernah mengalami somnambulisme akan diterima untuk dirawat di Rumah sakit atau unit perawatan kesehatan lainnya,maka

 

2.8  Pengkajian pada Gangguan Istirahat dan Tidur

A.    Identitas pasien :

Nama : Umur : Alamat : Pekerjaan : No.Reg : Tgl MRS : Tgl Pengkajian : Dx Medis :

B.     Identitas Penanggung Jawab Nama : Umur : Pendidikan : Pekerjaan : Hub. dgn pasien :

C.     Riwayat Kesehatan Keluhan utama :

Perawat memfokuskan pada hal-hal yang menyebabkan klien meminta bantuan pelayanan seperti :

a.       Apa yang dirasakan klien

b.      Apakah masalah atau gejala yang dirasakan terjadi secara tiba-tiba atau perlahan dan sejak kapan dirasakan

c.       Bagaimana gejala itu mempengaruhi aktivitas hidup sehari-hari

d.      Apakah ada perubahan fisik tertentu yang sangat mengganggu klien

Riwayat penyakit sekarang : Kaji kondisi yang pernah dialami oleh klien diluar gangguan yang dirasakan sekarang khususnya gangguan yang mungkin sudah berlangsung lama bila dihubungkan dengan usia dan kemungkinan penyebabnya, namun karena tidak mengganggu aktivitas klien, kondisi ini tidak dikeluhkan. Riwayat diit.

D.    Perubahan status nutrisi atau gangguan pada saluran pencernaan dapat mencerminkan gangguan pola tidur. Pola dan kebiasaan makan yang salah dapat menjadi faktor penyebab, oleh karena itu kondisi ini perlu dikaji :

a.       Penurunan berat badan yang drastis

b.      Selera makan yang menurun

c.       Pola makan dan minum sehari-hari

d.      Kebiasaan mengonsumsi makanan yang dapat mengganggu fungsi pencernaan

E.     Riwayat Tidur : Data yang perlu dikaji seperti deskripsi masalah tidur klien, pola tidur biasa, perubahan tidur terakhir, rutinitas menjelang tidur dan lingkungan tidur, penggunaan obat tidur, pola asupan diet, gejala yang dialami selama terbangun, penyakit fisik yang terjadi secara bersamaan, status emosional dan mental saat ini.

1.      Kebiasaan tidur

a)      Lamanya/ kebiasaan tidur

b)      Kebiasaan menjelang tidur

c)      Jam/waktu untuk dapat tidur

d)     Lingkungan tidur sehari-hari

e)      Posisi tubuh sewaktu tidur

2.      Symtom dan tanda klinis kurang tidur

a)      Ekspresi tampak lelah

b)      Mudah tersinggung / gelisah

c)      Apatis, kelelahan

d)     Warna kehitaman disekitar mata, konjungtiva merah, bola mata merah

e)      Kurang perhatian

f)       Pusing, mual

3.      Perubahan perkembangan

a)      Jumlah jam tidur/pola tidur menurun dengan bertambahnya usia.

4.      Faktor-faktor yang mempengaruhi tidur

a)      Sakit : butuh waktu tidur yang lebih lama

b)      Lingkungan : perubahan, bising, cahaya

c)      Lelah, cemas

d)     Alkohol: insomnia, gelisah

F.      Riwayat kesehatan keluarga : Mengkaji kondisi kesehatan keluarga klien untuk menilai ada tidaknya hubungan dengan penyakit yang sedang dialami.

G.    Pola Kesehatan Fungsional Pola Gordon Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan Pola nutrisi dan metabolic Pola cairan dan metabolic Pola istirahat dan tidur Pola aktivitas dan latihan

H.    Pengkajian Fisik Keadaan umum pasien :

Kesadaran, Pemeriksaan TTV Secara umum, teknik pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan dalam memperoleh berbagai penyimpangan fungsi adalah : Inspeksi, Palpasi, Auskultasi dan Perkusi.

Pengkajian Psikososial : Mengkaji keterampilan koping, dukungan keluarga, teman dan handai taulan serta bagaimana keyakinan klien tentang sehat dan sakit.

 

2.9  Diagnosa Keperawatan pada gangguan Istirahat dan Tidur

Diagnosa yang muncul pada gangguan istirahat dan tidur :

1.      Gangguan pola tidur (D. 0055)

Definisi : Gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat faktor eksternal

Penyebab :

·         Hambatan lingkungan (mis. kelembapan lingkungan sekitar, suhu lingkungan, pencahayaan, kebisingan, bau tidak sedap, jadwal pemantauan/ pemeriksaan/tindakan)

·         Kurang kontrol tidur

·         Kurang privasi

·         Restraint fisik

·         Ketiadaan teman tidur

·         Tidak familiar dengan peralatan tidur

Gejala dan Tanda Mayor :

Subjektif                                                               Objektif

·         Mengeluh sulit tidur                                        (tidak tersedia)

·         Mengeluh sering terjaga

·         Mengeluh tidak puas tidur

·         Mengeluh pola tidur berubah

·         Mengeluh istirahat tidak cukup

Gejala dan Tanda Minor

Subjektif                                                                           Objektif

·         Mengeluh kemampuan beraktivitas menurun             (tidak tersedia)

·         Kondisi Klinis Terkait Nyeri/kolik

·         Hypertirodisme

·         Kecemasan

·         Penyakit paru obstruktif kronis

·         Kehamilan

·         Periode pasca partum kondisi pasca operasi

Tautan Luaran: Gangguan Pola Tidur

Luaran Utama  :            Pola Tidur

Luaran Tambahan:       

·         Penampilan Peran

·         Status Kenyamanan

·         Tingkat Depresi

·         Tingkat Keletihan

 

2.    Keletihan (D.0057)

a.       Definisi     : Penurunan kapasitas kerja fisik dan mental yang tidak pulih dengan istirahat.

b.      Penyebab   :

      Gangguan tidur

      Gaya hidup monoton

      Kondisi fisiologis (mis. penyakit kronis, penyakit terminal, anemia. malnutrisi, kehamilan) ‘

      Program perawatan/pengobatan jangka panjang

      Peristiwa hidup negatif

      Stres—berlebihan

      Depresi

c.       Gejala dan Tanda Mayor :

Subjektif:                                       Objektif:

      Merasa energi tidak pulih        - Tidak mampu mempertahankan walaupun telah tidur                           aktivitas rutin            

      Merasa kurang tidur               -   Tampak lesu

      Mengeluh lelah

d.      Gejala dan Tanda Minor

Subjektif                                                      Objektif

      Merasa bersalah akibat                        - Kebutuhan

tidak mampu menjalankan                    istirahat meningkat

tanggung jawab

e.       Kondisi Klinis Terkait

      Anemia

      Kanker

      Hipotiroidisme/Hipertirodisme

      AIDS

      Depresi

      Menopause

Keterangan

Diagnosis keletihan merupakan perasaan subjektif yang tidak teratasi dengan istirahat dan intervensi keperawatan tidak difokuskan untuk meningkatkan daya tahan beraktivitas (endurance), melainkan untuk membantu klien beradaptasi dengan kondisi yang dialaminya. Sedangkan, Intoleransi Aktivitas difokuskan untuk meningkatkan toleransi dan daya tahan beraktivitas klien.

 

3.      Kesiapan Peningkatan Tidur (D.0058)[A1] 

a.       Definisi : Pola penurunan kesadaran alamiah dan periodik yang memungkinkan istirahat adekuat, memperthankan gaya hidup yang diinginkan dan dapat ditingkatkan.

b.      Gejala dan Tanda Mayor

Subjektif

1.      Mengekspresikan keinginan untuk meningkatkan tidur

2.      Mengekspresikan perasaan cukup istirahat setelah tidur

Objektif

1.      Jumlah waktu tidur sesuai dengan pertumbuhan perkembangan

c.       Gejala dan Tanda Minor

Subjektif

Tidak menggunakan obat tidur

 Objektif

Menerapkan rutinitas tidur yang meningkatkan kebiasaan tidur

d.      Kondisi Klinis Terkait

·         Pemulihan pasca operasi

·         Nyeri kronis

·         Kehamilan (periode prenatal/postnatal)

·         Sleep apnea

 

2.10    Rencana Tindakan Keperawatan pada Gangguan Pola Tidur

A.    Gangguan Pola Tidur

Intervensi (SIKI) : Dukungan Tidur (I.05174)

Definisi : memfasilitasi siklus tidur dan terjaga yang teratur.

Tindakan :

1.      Observasi

a.       Identifikasi pola aktivitas dan tidur

b.      Identifikasi faktor penganggu tidur (fisik dan/atau psikologis)

c.       Identifikasi makanan dan minuman yang menganggu tidur (mis. Kopi , the, alkohol,dll)

d.      Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi

2.      Terapeutik

a.       Modifikasi lingkungan (missal: pemcahayaan, kebisingan, suhu, matras, tempat tidur)

b.      Batasi waktu tidur siang,jika perlu

c.       Fasilitasi menghilangkan stress sebelum tidur

d.      Tetapkan jadwal tidur rutin

e.       Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (missal: pijat, pengaturan posisi, terapi akrupressur)

f.       Sesuaikan jadwal pemberian obat dan/atau tindakan untuk menunjang siklus tidur terjaga

3.      Edukasi

a.       Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit

b.      Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur

c.       Anjurkan menghindari makanan/ minuman yang mengganggu tidur

d.      Ajarkan relaksasi otot autogenik atay cara non farmakologi lainnya.

B.     Keletihan

Intervensi (SIKI) : Edukasi Aktivitas/istirahat (I.12362)

Definisi : mengajarkan pengaturan aktivitas dan istirahat

Tindakan :

1.      Observasi

a.       Identifikasi  kesiapan dan kemampuan menerima informasi

2.      Terapeutik

a.       Sediakan materi dan media pengaturan aktivitas dan istirahat

b.      Jadwalkan pemberian pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan

c.       Berikan kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk bertanya

3.      Edukasi

a.       Jelaskan pentingnya melakukan aktivitas fisik / olahraga secara rutin

b.      Anjurkan terlibat dalam aktivitas kelompok, aktivitas bermain atau aktivitas lainnya

c.       Anjurkan menyusun jadwal aktivitas dan istirahat

d.      Anjurkan cara mengidentifikasi kebutuhan istirahat (mis, kelelahan, sesak nafas saat aktivitas)

e.       Ajarkan cara mengidentifikasi target dan jenis aktivitas sesuai kemampuan

C.     Kesiapan Peningkatan Tidur

Intervensi (SIKI) : Dukungan Tidur (I.05174)

Definisi : memfasilitasi siklus tidur dan terjaga yang teratur.

Tindakan :

1.      Observasi

a.       Identifikasi pola aktivitas dan tidur

b.      Identifikasi faktor penganggu tidur (fisik dan/atau psikologis)

c.       Identifikasi makanan dan minuman yang menganggu tidur (mis. Kopi , the, alkohol,dll)

d.      Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi

2.      Terapeutik

a.       Modifikasi lingkungan (mis, pemcahayaan, kebisingan, suhu, matras, tempat tidur)

b.      Batasi waktu tidur siang,jika perlu

c.       Fasilitasi menghilangkan stress sebelum tidur

d.      Tetapkan jadwal tidur rutin

e.       Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (mis, pijat, pengaturan posisi, terapi akrupressur)

f.       Sesuaikan jadwal pemberian obat dan/atau tindakan untuk menunjang siklus tidur terjaga

3.      Edukasi

a.       Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit

b.      Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur

c.       Anjurkan menghindari makanan/ minuman yang mengganggu tidur

d.      Ajarkan relaksasi otot autogenik atay cara non farmakologi lainnya.


 

BAB III

CONTOH ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN POLA TIDUR

A.    PENGKAJIAN

Biodata pasien :

Nama                          : Ny. K

Umur                           : 61 tahun

Agama                        : Islam

Pendidikan                  : SMA

Pekerjaan                    : Ibu rumah tangga

Status pernikahan        : menikah

Alamat                        : jl. Mawar no. 3

Diagnosa medis           : Hipertensi

No. RM                       : 431xxx

Tanggal masuk            : 17 November 2020

Penanggung jawab :

Nama                                       : Sdr. I

Umur                                       : 22 tahun

Agama                                     : Islam

Pendidikan                              : SMA/sederajat

Pekerjaan                                 : Wiraswasta

Status pernikahan                    : belum menikah

Alamat                                    : jl. Kusuma gang II no 9

Hubungan dengan klien          : Anak kandung pasien

Status kesehatan Saat ini:

Keluhan Utama

Lama keluhan : pasien mengeluh semalam kesulitan untuk memulai tidur, sering terbangun di malam hari.

Riwayat penyakit sekarang : pasien mengatakan bahwa sering  mengalami kesulitan tidur dan selalu terbangun di malam hari dan kesulitan tidur lagi dirasakan sekitar 1 bulan yang lalu. Pasien juga mengatakan badannya terasa lemas saat pagi dan siang hari dan mengeluh pusing kadang-kadang di bagian belakang dan tengkuk.

Riwayat penyakit dahulu : pasien mengatakan memiliki riwayat darah tinggi.

Riwayat kesehatan keluarga : pasien mengatakan keluarganya ada yang mempunyai riwayat penyakit hipertensi

Riwayat kesehatan lingkungan : pasien mengatakan lingkungannya bersih dan rapi.

Pemeriksaan Fisik :

Keadaan umum :

Kesadaran : CM

GCS : 456

Tanda-tanda vital :

TD : 160/90 mmHg ; Nadi : 97 x/menit ; Suhu : 36.7oC ; RR : 20 x/menit

Breathing (B1) :

a.       Inspeksi : bentuk dada simetris kanan dan kiri, tidak ada benjolan, tidak ada lesi, tidak ada retraksi dinding dada, tidak memakai alat bantu pernafasan

b.      Palpasi : tidak ada nyeri tekan

c.       Perkusi : bunyi paru sonor (normal)

d.      Auskultasi : irama nafas vesikuler, tidak ada suara nafas tambahan, tidak ada keluhan

Blood (B2)

a.       Inspeksi : normal, tidak terlihat ictus cordis, tidak ada benjolan, tidak ada lesi

b.      Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran hepar, ictus cordis teraba di ICS 5 middle clavikula sinistra

c.       Perkusi : kecepatan denyut apikal pekak

d.      Auskultasi : irama jantung teratur, S1 S2 tunggal berbunyi lub dub

e.       CRT : <2 detik

f.       Akral : hangat

Brain (B3)

a.       Inspeksi :bentuk kepala normal, tidak ada benjolan, tidak ada lesi.

b.      Mata : normal, tidak ada gangguan penglihatan, konjungtiva merah muda, pupil isokor, tampak kantung mata dan berwarna kehitaman

c.       Leher : normal, tidak ada benjolan, tidak ada pembesaran limfe dan tiroid, tidak ada pembesaran vena jugularis, nyeri pada bagian tengkuk belakang

Bladder (B4)

Frekuensi : 5-6 x/hari

Konsistensi : cair

Warna :bening/kuning

Bau : amoniak

Bowel (B5)

Inspeksi : tidak ada benjolan, tidak ada lesi

Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada hypertimpani, tidak ada pembesaran hepar

Perkusi : bunyi suara timpani

Auskultasi : bising usus normal (peristaltik usus : 13)

Bone (B6)

Kekuatan otot anggota gerak atas : 4444 | 4444

Kekuatan otot anggota gerak bawah : 4444|4444

Tidak ada sianosis

Warna kulit kemerahan,akral hangat, tidak ada odema,tidak ada lesi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B.     ANALISA DATA

No.

Analisa data

Etiologi

Problem

1.

DS :

a.       Pasien mengatakan mengalami kesulitan untuk memulai tidur.

b.      Pasien tidak bisa tidur siang dan merasa pusing di bagian tengkuk belakang

c.       Pasien mengatakan keluhan dirasakan sekitar 1  bulan yang lalu

DO :

a.       Pasien tampak lesu

b.      Tampak kantung mata dan kehitaman di sekitar aera mata

c.       Tampak sering memegangi kepala bagian tengkuk belakang.

d.      Pasien tampak sering menguap

e.       Ttv :

TD : 160/90 mmHg

Nadi : 97 x/menit

Suhu : 36.7oC

RR : 20 x/menit.

Kurang kontrol tidur

Gangguan Pola Tidur

Kategori : Fisiologis

Sub Kategori :

Aktivitas/istirahat

Kode : D.0055

 


 

C.    DIAGNOSA KEPERAWATAN

Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan kurang kontrol hidup dibuktikan dengan pasien tidak bisa memulai tidur dan sering terbangun dari tidurnya.

 

D.    INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan kurang kontrol hidup dibuktikan dengan pasien tidak bisa memluai tidur dan sering terbangun dari tidurnya.

 

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, diharapkan masalah gangguan pola tidur dapat teratasi dengan kriteria hasil :

Pola tidur

a.       Keluhan sulit tidur dari skala 1 (menurun) menjadi skala 3 (sedang)

b.      Keluhan sering terjaga dari skala 2(cukup menurun) menjadi skala 4 (cukup meningkat)

c.       Keluhan tidak puas tidur dari skala 2 (cukup menurun) menjadi skala 4 (cukup meningkat)

d.      Keluhan istirahat tidak cukup dari skala 2 (cukup menurun) menjadi skala 4 (cukup meningkat)

Keterangan :

1    : menurun

2    : cukup menurun

3        : sedang

4        : cukup meningkat

5        : meningkat

Intervensi (SIKI)

Dukungan Tidur (I.05174)

Definisi : memfasilitasi siklus tidur dan terjaga yang teratur.

Tindakan :

1.      Observasi

a.       Identifikasi pola aktivitas dan tidur

b.      Identifikasi faktor penganggu tidur (fisik dan/atau psikologis)

c.       Identifikasi makanan dan minuman yang menganggu tidur (mis. Kopi , the, alkohol,dll)

2.      Terapeutik

a.       Modifikasi lingkungan (mis, pemcahayaan, kebisingan, suhu, matras, tempat tidur)

b.      Batasi waktu tidur siang,jika perlu

c.       Tetapkan jadwal tidur rutin

d.      Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (mis, pijat, pengaturan posisi, terapi akrupressur)

3.      Edukasi

a.       Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit

b.      Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur

c.       Anjurkan menghindari makanan/ minuman yang mengganggu tidur

d.      Ajarkan relaksasi otot autogenik atay cara non farmakologi lainnya.

 

 

 

E.     IMPELEMENTASI KEPERAWATAN

No.

Implementasi

Evaluasi

1.

Tindakan :

1.      Observasi

a.       Mengidentifikasi pola aktivitas dan tidur

b.      Mengidentifikasi faktor penganggu tidur (fisik dan/atau psikologis)

c.       Mengidentifikasi makanan dan minuman yang menganggu tidur (mis. Kopi , the, alkohol,dll)

2.      Terapeutik

a.       Memodifikasi lingkungan (mis, pemcahayaan, kebisingan, suhu, matras, tempat tidur)

b.      Membatasi waktu tidur siang,jika perlu

c.       Menetapkan jadwal tidur rutin

d.      Melakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (mis, pijat, pengaturan posisi, terapi akrupressur)

3.      Edukasi

a.       Menjelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit

b.      Menganjurkan menepati kebiasaan waktu tidur

c.       Menganjurkan menghindari makanan/ minuman yang mengganggu tidur

d.      Mengajarkan relaksasi otot autogenik atay cara non farmakologi lainnya.

S          : Pasien mengatakan saat malam hari sudah bisa tidur

O         : TTV

            TD:150/90mmHg

            N: 88x/menit

            S: 36,7oC

            RR: 20x/menit

- pasien tampak tenang

A         : Masalah teratasi sebagian

P          :Intervensi dilanjutkan

 

 

BAB IV

PENUTUP

3.1.Kesimpulan

Tidur dapat dikatakan sebagai kondisi ketika seseorang tidak sadar, tetapi dapat dibangunkan oleh stimulus atau sensori yang sesuai.kondisi ini dapat ditandai dengan aktivitas yang minim, tingkat kesadaran bervariasi, terjadi perubahan proses fisiologis dan terjadi penurunan respon terhadap stimulus eksternal (Dr. Lyndon Saputra,2013).

Istirahat merupakan keadaan rileks dan tenang tanpa ada tekanan emosional. Seperti halnya berjalan-jalan di taman, membaca buku atau melakukan berbagai kegemaran lain. Jadi istirahat tidak hanya diartikan dengan berbaring di tempat tidur dan tidak sedang melakukan aktivitas apaun (Dr. Lyndon Saputra,2013).

 

3.2.Saran

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih ada kekurangan.Tentunya, penulis akan terus memperbaiki makalah dengan mengacu pada sumber yang baru dan valid.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aziz, Alimul. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Tarwoto & Wartona.2010. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan.Jakarta : Salemba Madika.

Prabandini, Laras. 2019. Pentingnya Tidur Untuk Kesehatan. https://indonesiare.co.id/id/article/pentingnya-tidur-untuk-kesehatan. Diakses tanggal 31 Des 2021 pukul 08.00 WIB

Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

 

 

 

 


 [A1]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NILAI KEADILAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN ILMU

Iyadatul Maridh (Menjenguk Orang Sakit)

Issue Etik Dan Dilema Etik Dalam Keperawatan