FALSAFAH KEPERAWATAN "PHILOSOPHICAL THEORY"

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ilmu pengetahuan dan teori dalam bidang keperawatan mengalami perkembangan secara berkelanjutan dan konsisten. Perawat sebagai ujung tombak bidang kesehatan harus dapat mengaplikasikan konsep-konsep keperawatan yang telah dibangun oleh pakar-pakar keperawatan sebagai bentuk eksistensinya di masyarakat. Filosofi keperawatan yang terus dikembangkan akan menjadi acuan dalam setiap perkembangan teori keperawatan. Pelayanan keperawatan yang berkualitas didapat dari pengembangan filosofi. Philosophical Theory merefleksikan kepercayaan atau pandangan. Filosofi keperawatan merupakan suatu pernyataan dari fundamental dan asumsi umum, kepercayaan, prinsip tentang pengetahuan dan kebenaran tentang sesuatu yang mencolok yang diperlihatkan dalam metaparadigma.

Falsafah keperawatan (Philosophy Nursing) memiliki keyakinan tentang manusia yang holistik. Kebutuhan klien yang holistik dan unik menuntut kemampuan perawat yang tepat dalam menganalisis kebutuhan klien. Perawat harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang aspek manusia yang meliputi aspek biologis, sosial, spiritual, psikologis, dan kultur secara keseluruhan. Sehingga dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien tidak hanya fokus pada aspek bilogis saja.

Perkembangan teori keperawatan diawali pada tahun 1950 an, saat perawat mulai menyadari bahwa ilmu pengetahuan keperawatan perlu disusun dalam suatu fenomena yang spesifik, tetapi dapat digunakan pada lingkup yang lebih luas. Berdasarkan pada lingkup teorinya, teori keperawatan dibedakan menjadi 4 yaitu Philosophical Teory, Grand Teory, Middle RangeTeory, dan Practice Teory. Makalah ini akan membahas mengenai filosofi keperawatan

1.2 Rumusan Masalah

Apakah yang dimaksud dengan Philosophy Nursing serta konsep yang termasuk dalam Philosophy Nursing

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :Untuk mengetahui konsep Philosophy Nursing serta konsep yang termasuk dalam Philosophy Nursing

1.4 Manfaat

Manfaat dari penulisan makalah ini diharapkan mahasiswa dapat mengambil makna dari filosofi teori keperawatan agar dapat menerapkan pada praktik keperawatan baik dalam ruang lingkup pendidikan, pelayanan, dan penelitian.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


2.1Philosophy Teori

2.1.1 Definisi

Profesi keperawatan mengenal tingkatan teori, yaitu: philosophical theory, grandtheory, middlerange theory danpractice theory. Teori-teori tersebut diklasifikasikanberdasarkan ruang lingkup atau tingkatan keabstrakannya, dimulai dari grand theorysebagai yang paling abstrak, hingga practice theory sebagai yang lebih konkrit.(Hirarki & Keperawatan, 2008)

Falsafah keperawatan (Philosophy Nursing) adalah pandangan dasar tentang hakikat manusia dan esensi keperawatan yang menjadikan kerangka dasar dalam praktik keperawatan. Falsafah keperawatan bertujuan mengarahkan kegiatan keperawatan yang dilakukan. Falsafah keperawatan mengkaji penyebab dan hukum-hukum yang mendasari realitas, serta keingintahuan tentang gambaran sesuatu yang lebih berdasarkan pada alasan logis daripada metode empiris. Philosophy Nursing merupakan karya awal yang mendahului era teori yang berkonstribusi untuk pengetahuan keperawatan dengan memberikan arahan untuk disiplin dan memmbentuk dasar untuk keiluan professional yang mengarah kepada pemahaman teoritis baru. (Rustina, 2010)

Philoophy Nursing menetapkan makna fenomena keperawatan melalui analisis, penalaran, dan argumen logis.Filsafat berkontribusi pada pengetahuan keperawatan dengan memberikan arahan untuk disiplin, membentuk dasar untuk beasiswa profesional dan mengarah ke pemahaman teoretis baru.Filsafat keperawatan merupakan karya-karya awal yang mendahului era teori, serta karya-karya kontemporer yang bersifat filosofis.Filsafat adalah karya yang memberikan pemahaman luas yang memajukan disiplin dan aplikasi profesionalnya

2.1.2 Hubungan dengan Level Teori Lain

Philosophical teori merupakan level teori yang paling tinggi dibandingkan yang lainnya dan dijadikan sebagai dasar pengembangan teori - teori selanjutnya. Metateori ini sebagai induk dari teori keperawatan yang digunakan dalam pengujian atau disebut sebagai meta analisis terhadap teori-teori baru yang dilahirkan. philosophy nursing berfokus pada filosofi yang mengakomodasi berbagai sudut pandang mengenai teori keperawatan.

Dari segi abstraksi, philosophy nursing paling abstrak untuk diaplikasikan secara langsung, sehingga membutuhkan pendekatanmetodologikal untuk menyusunnya menjadi sebuah teori yang aplikatif.Ada beberapa teori yang berkembang pada level philosophy nursing, salah satunya adalah teori philosophycal and science of caringyang dikemukakan oleh Watson.Dalam filsafat keilmuan menurut Watson, dia menetapkan posisi keilmuan bagimanusia dalam hubungan antar manusia dari sudut pandang keperawatan danmenentukan sepuluh faktor kreatif untuk memandu penerapannya dalam praktik keperawatan.

Caring antar personal adalah pendekatan yang diusulkan untuk mencapai keterhubungan dimana perawat dan pasien berubah secara bersama-sama. Penekananan pada harmoni dari kesatuan dalam tubuh, pikiran dan jiwa,serta penyakit dipandang sebagai ketidakharmonisan, sehingga perawat dan paseinharus berpartisipasi secara bersama-sama sampai tercapai keharmonisan anataratubuh pikiran dan jiwa.Aplikasi teori keperawatan pada level metateori memang sulit, akan tetapisecara tersirat dapat dilihat pada aplikasi asuhan keperawatan sehari-hari secaraterintegrasi. Karena philosophy nursing sulit diaplikasi secara independen dalam asuhan keperawatan, sehingga perlu diintegrasikan dengan teori keperawatan lain.(Rustina, 2010)

2.1.3 Kriteria Philosophy Nursing

Philosophy Nursing mempunyai beberapa criteria atau penciri yang membedakannya dengan level teori lainnya, menurut Alligood (2010) philosophy nursing merupakan keyakinan dasar tentang pengetahuan, karena philosophy nursing merupakan dasar pemikiran yang harus dimiliki perawat sebagai kerangka dalam berfikir tentang manusia sehat-sakit yang unik dan individualistik serta kemampuan untuk berespon secara negatif dan positif. Kriteria kedua, teori philosophy nursing adalah jenis yang paling abstrak dan menetapkan makna fenofemena keperawatan melalui analisis, penalaran, dan argumen logis. Kriteria selanjutnya, teori philosophy nursing mewakili karya-karya awal yang mendahului era teori keperawatan yang berkontribusi pada pengembangan pengetahuan dengan memberikan arahan atau dasar untuk perkembangan selanjutnya. 

2.1.4Pengelompokan  TeoriPhilosophy Nursing

Alligood (2013) mengelompokan teori philosophy nursing berdasarkan tingkat abstraksi atau prefrensi teoritikus sebagai berikut :

1.      Florance Nightingale : Modern Nursing

2.      Jean Watson : Watson’s Philosophy and Theory of Transpersonal Caring

3.      Marilyn Anne Ray : Theory of Bureaucratic Caring

4.      Patricia Benner : From Novice to Expert :Excellence and Power in Clinical Nursing Practice

5.      Kari Martinsen : Philosophy of Caring

6.      Katie Eriksson : Theory of Caritative Caring


 

BAB III

3.1 Philosophy Theory

3.1.1 Florence Nightingale :Modern Nursing

v  Background Teorist

Florence Nightingale, pendiri keperawatan modern,lahir pada 12 Mei 1820, di Florence, Italia, sementara orang tuanya sedang melakukan tur Eropa yang diperpanjang; dia dinamai menurut tempat kelahirannya. The Nightingale adalah seorang Victorian yang berpendidikan, makmur, dan aristocrat keluarga dengan tempat tinggal di Derbyshire. Initempat tinggal terakhir berada di dekat London, memungkinkan keluarga untuk berpartisipasi dalam musim sosial London.(Alligood, 2013)

          Meskipun keluarga besar Nightingale besar, keluarga dekat hanya mencakup Florence Nightingale dan kakak perempuannya, Parthenope. Selama masa kecilnya, ayah Nightingale mendidiknya lebih luas daripada gadis-gadis lain saat itu. Ayahnya dan orang lain mengajarinya dalam matematika, bahasa, agama, dan filsafat (berpengaruh pada pekerjaan hidupnya). Meskipun ia berpartisipasi dalam kegiatan aristokrat Victoria yang biasa dan acara sosial selama masa remajanya, Nightingale mengembangkan perasaan bahwa hidupnya harus menjadi lebih berguna. Pada tahun 1837, Nightingale menulis tentang "panggilannya" di buku hariannya: "Tuhan berbicara kepada saya dan memanggil saya untuk melayani-Nya". Sifat panggilannya tidak jelas baginya untuk beberapa waktu. Setelah dia mengerti bahwa dia dipanggil untuk menjadi perawat, dia dapat menyelesaikan pelatihan keperawatannya pada tahun 1851 di Kaiserwerth, Jerman, sebuah komunitas agama Protestan dengan fasilitas rumah sakit. Dia berada di sana selama kurang lebih 3 bulan, dan pada akhirnya, gurunya menyatakan dia terlatih sebagai perawat.(Alligood, 2013)

          Selama Perang Krimea, Nightingale menerima permintaan dari Sidney Herbert (teman keluarga dan Sekretaris Perang) untuk melakukan perjalanan ke Scutari, Turki, dengan sekelompok perawat untuk merawat tentara Inggris yang terluka. Pekerjaan Nightingale dalam memperbaiki kondisi yang menyedihkan ini membuatnya menjadi orang yang populer dan dihormati oleh para prajurit, tetapi dukungan dari dokter dan perwira militer kurang antusias. Dia disebut The Lady of the Lamp, seperti yang diabadikan dalam puisi “Santa Filomena” (Longfellow, 1857), karena dia berkeliling di malam hari, memberikan kenyamanan emosional kepada para prajurit. Di Scutari, Nightingale menjadi sakit kritis dengan demam Krimea, yang mungkin tifus atau brucellosis dan yang mungkin telah mempengaruhi kondisi fisiknya selama bertahun-tahun sesudahnya.

          Setelah perang, Nightingale kembali ke Inggris dengan pujian besar, terutama dari keluarga kerajaan (Ratu Victoria), para prajurit yang selamat dari Perang Krimea, keluarga mereka, dan keluarga mereka yang tewas di Scutari. Dia dianugerahi dana sebagai pengakuan atas pekerjaan ini, yang dia gunakan untuk mendirikan sekolah untuk pelatihan keperawatan di Rumah Sakit St. Thomas dan Rumah Sakit King's College di London. Dalam beberapa tahun, Sekolah Nightingale mulai menerima permintaan untuk mendirikan sekolah baru di rumah sakit di seluruh dunia, dan reputasi Florence Nightingale sebagai pendiri keperawatan modern didirikan.

          Selama hidupnya, karya Nightingale diakui melalui banyak penghargaan yang dia terima dari negaranya sendiri dan dari banyak negara lain. Dia bisa bekerja sampai usia 80-an sampai dia kehilangan penglihatannya; dia meninggal dalam tidurnya pada 13 Agustus 1910, pada usia 90 tahun.

 

v  Sumber Teori

Levine mengembangkan teori konservasi berdasarkan ide dari Nightingale yang menyebutkan bahwa perawat harus menyediakan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses penyembuhan. Selain itu Levine juga mengadopsi pemikiran dari Tillich dengan prinsip kesatuan hidup, Bernard dengan lingkungan internal, Cannon
pada teori homeostasis dan Waddington pada konsep homeorhesis.
Karya-karya ilmuwan lain juga digunakan
dalam pengembangan teori konservasi. Terbentuklan empat prinsip konservasi yang membentuk dasar dari model keperawatan Levine; teori ini disintesis dari penelitian ilmiah dan praktek.(Alligood, 2013)

Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan filosofi keperawatan Nightingale. Nilai dan keprihatinan pribadi, sosial, dan profesionalnya semuanya merupakan bagian integral dari perkembangan keyakinannya. Dia menggabungkan sumber daya individunya dengan sumber daya sosial dan profesional yang tersedia baginya untuk menghasilkan perubahan langsung dan jangka panjang di seluruh dunia.

Akhirnya, afiliasi dan keyakinan agama Nightingale adalah sumber yang sangat kuat untuk teori keperawatannya. Dibesarkan sebagai seorang Unitarian, keyakinannya bahwa tindakan untuk kepentingan orang lain adalah cara utama melayani Tuhan menjadi dasar untuk mendefinisikan pekerjaan keperawatannya sebagai panggilan religius. Selain itu, komunitas Unitarian sangat mendukung pendidikan sebagai sarana untuk mengembangkan potensi ilahi dan membantu orang bergerak menuju kesempurnaan dalam hidup mereka dan dalam pelayanan mereka kepada Tuhan. Keyakinan Nightingale memberinya kekuatan pribadi sepanjang hidupnya dan dengan keyakinan bahwa pendidikan merupakan faktor penting dalam membangun profesi keperawatan. Juga, konflik agama waktu itu, khususnya antara Gereja Anglikan dan Katolik di Kerajaan Inggris, mungkin telah menyebabkan keyakinan kuat dia bahwa keperawatan bisa dan harus menjadi profesi sekuler. Terlepas dari keyakinan agamanya yang kuat dan pengakuannya terhadappanggilannya, ini bukan persyaratan bagi perawatnya. Memang, penentangannya terhadap pekerjaan para biarawati di Krimea (dia melaporkan bahwa mereka melakukan dakwah) meningkatkan konflik ke tingkat keterlibatan Vatikan. Ulasan Nelson tentang pelayanan pastoral di abad kesembilan belasabad memberikan pandangan sejarah yang menarik tentangperan pelayanan keagamaan dalam keperawatan.

 

v  Asumsi Mayor, Konsep dan Hubungan

          Teori Nightingale berfokus pada lingkungan, namun Nightingale menggunakan istilah lingkungan dalam tulisannya. Dia mendefinisikan dan menggambarkan konsep ventilasi, kehangatan, cahaya, diet, kebersihan, dan kebisingan — komponen lingkungan yang biasanya disebut sebagai lingkungan dalam diskusi pekerjaannya. Saat membaca Notes on Nursing (Nightingale, 1969) seseorang dapat dengan mudah mengidentifikasi penekanan pada lingkungan fisik. Dalam konteks masalah yang diidentifikasi Nightingale dan berjuang untuk diperbaiki (lingkungan dan rumah kerja yang dilanda perang), penekanan ini tampaknya paling tepat. Kekhawatirannya tentang lingkungan yang sehat melibatkan pengaturan rumah sakit di Krimea dan Inggris, dan juga meluas ke publik di rumah pribadi mereka dan kondisi kehidupan fisik orang miskin. Penggunaan Bukti Empiris Laporan Nightingale yang menggambarkan kondisi kesehatan dan sanitasi di Krimea dan di Inggris mengidentifikasi dia sebagai ilmuwan dan peneliti empiris yang luar biasabahwa lingkungan yang sehat diperlukan untuk asuhan keperawatan yang tepat dan pemulihan/pemeliharaan kesehatan. Karya teoretisnya tentang 5 komponen penting kesehatan lingkungan (udara murni, air murni, drainase yang efisien, kebersihan, dan cahaya) masih relevan saat ini seperti 150 tahun yang lalu.(Alligood, 2013)

a.       Ventilasi yang tepat untuk pasien tampaknya menjadi perhatian terbesar Nightingale; kewajibannya kepada perawat adalah untuk "menjaga udara yang dia hirup semurni udara luar, tanpa membuatnya kedinginan". Penekanan Nightingale pada ventilasi yang tepat menunjukkan bahwa dia mengenali lingkungan sekitar sebagai sumber penyakit dan pemulihan. Selain membahas ventilasi di kamar atau rumah, Nightingale memberikan deskripsi untuk mengukur suhu tubuh pasien melalui palpasi ekstremitas untuk memeriksa kehilangan panas. Perawat diinstruksikan untuk memanipulasi lingkungan sekitar untuk menjaga ventilasi dan kehangatan pasien dengan menggunakan api yang baik, membuka jendela, dan memposisikan pasien dengan benar di dalam ruangan.

b.      Konsep cahaya juga penting dalam teori Nightingale. Secara khusus, dia mengidentifikasi sinar matahari langsung sebagai kebutuhan khusus pasien. Dia mencatat bahwa ”cahaya memiliki efek yang sama nyata dan nyatanya terhadap tubuh manusia . . . Siapa yang tidak mengamati efek pemurnian cahaya, dan terutama cahaya matahari langsung, pada udara sebuah ruangan?” (Nightingale, 1969, hlm. 84-85). Untuk mencapai efek menguntungkan dari sinar matahari, perawat diinstruksikan untuk memindahkan dan memposisikan pasien untuk mengekspos mereka ke sinar matahari.

c.       Kebersihan adalah komponen penting lain dari teori lingkungan Nightingale. Dalam hal ini, dia secara khusus berbicara kepada pasien, perawat, dan lingkungan fisik. Dia mencatat bahwa lingkungan yang kotor (lantai, karpet, dinding, dan sprei) adalah sumber infeksi melalui bahan organik yang dikandungnya. Bahkan jika lingkungan berventilasi baik, keberadaan bahan organik menciptakan area yang kotor; oleh karena itu, penanganan dan pembuangan kotoran dan kotoran tubuh yang tepat diperlukan untuk mencegah kontaminasi lingkungan. Akhirnya, Nightingale menganjurkan memandikan pasien secara sering, bahkan setiap hari, pada saat praktik. Dia mengharuskan perawat juga mandi setiap hari, pakaian mereka bersih, dan mereka sering mencuci tangan. Konsep ini memiliki arti penting khusus untuk perawatan pasien individu, dan sangat penting dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat miskin yang tinggal dalam kondisi lingkungan yang padat dan rendah dengan limbah yang tidak memadai dan akses terbatas ke air murni.

            Nightingale memasukkan konsep ketenangan dan diet dalam teorinya. Perawat diminta untuk menilai kebutuhan akan ketenangan dan melakukan intervensi sesuai kebutuhan untuk mempertahankannya. Kebisingan yang ditimbulkan oleh aktivitas fisik di area sekitar kamar pasien harus dihindari karena dapat membahayakan pasien. Nightingale juga khawatir tentang diet pasien. Dia menginstruksikan perawat untuk menilai tidak hanya asupan makanan, tetapi juga jadwal makan dan pengaruhnya pada pasien. Dia percaya bahwa pasien dengan penyakit kronis bisa mati kelaparan secara tidak sengaja, dan perawat yang cerdas berhasil memenuhi kebutuhan nutrisi pasien. Komponen lain dari tulisan Nightingale adalah deskripsi manajemen kecil (administrasi keperawatan). Dia menunjukkan bahwa perawat mengendalikan lingkungan baik secara fisik maupun administratif. Perawat harus melindungi pasien dari menerima berita yang mengganggu, melihat pengunjung yang dapat mempengaruhi pemulihan secara negatif, dan mengalami gangguan tidur yang tiba-tiba. Selain itu, Nightingale menyadari bahwa kunjungan hewan peliharaan (hewan kecil) mungkin akan membuat pasien nyaman. Nightingale percaya bahwa perawat tetap bertanggung jawab atas lingkungan, bahkan ketika dia tidak hadir secara fisik, karena dia harus mengawasi orang lain yang bekerja tanpa kehadirannya.

 

v  Paradigma Keperawatan

Ø  Perawat

Nightingale percaya bahwa setiap wanita, pada satu waktu dalam hidupnya, akan menjadi perawat dalam arti bahwa keperawatan bertanggung jawab atas kesehatan orang lain. Buku Nightin-gale Notes on Nursing awalnya diterbitkan pada tahun 1859, untuk memberikan pedoman bagi wanita untuk merawat orang yang mereka cintai di rumah dan untuk memberikan nasihat tentang bagaimana "berpikir seperti seorang perawat". Perawat terlatih, bagaimanapun, harus mempelajari prinsip-prinsip ilmiah tambahan untuk diterapkan dalam pekerjaan mereka dan menjadi lebih terampil dalam mengamati dan melaporkan status kesehatan pasien sambil memberikan perawatan saat pasien pulih.

Ø  Individu

Dalam sebagian besar tulisannya, Nightingale menyebut individu tersebut sebagai pasien. Perawat melakukan tugas untuk dan untuk pasien dan mengontrol lingkungan pasien untuk meningkatkan pemulihan. Untuk sebagian besar, Nightingale menggambarkan pasien pasif dalam hubungan ini. Namun, referensi khusus dibuat untuk pasien melakukan perawatan diri bila memungkinkan dan, khususnya, terlibat dalam waktu dan substansi makanan. Perawat harus bertanya kepada pasien tentang preferensinya, yang mengungkapkan keyakinan bahwa Nightingale melihat setiap pasien sebagai individu. Namun, Nightingale menekankan bahwa perawat mengendalikan dan bertanggung jawab atas lingkungan lingkungan pasien. Nightingale menghormati orang-orang dari berbagai latar belakang dan tidak menghakimi tentang nilai sosial.

Ø  Kesehatan

Nightingale mendefinisikan kesehatan sebagai baik dan menggunakan setiap kekuatan (sumber daya) semaksimal mungkin dalam menjalani kehidupan. Selain itu, dia melihat penyakit dan penyakit sebagai proses reparatif yang dilembagakan oleh alam ketika seseorang tidak memperhatikan masalah kesehatan. Nightingale membayangkan pemeliharaan kesehatan melalui pencegahan penyakit melalui pengendalian lingkungan dan tanggung jawab sosial. Apa yang dia gambarkan mengarah pada keperawatan kesehatan masyarakat dan konsep promosi kesehatan yang lebih modern. Dia membedakan konsep keperawatan kesehatan yang berbeda dari merawat pasien yang sakit untuk meningkatkan pemulihan, dan dari hidup yang lebih baik sampai kematian yang damai. Konsepnya tentang keperawatan kesehatan ada hari ini dalam peran perawat distrik dan petugas kesehatan di Inggris dan di negara lain di mana petugas kesehatan awam digunakan untuk menjaga kesehatan dan mengajar orang bagaimana mencegah penyakit dan penyakit.

Ø  Lingkungan

Konsep lingkungan Nightingale menekankan bahwa keperawatan adalah “untuk membantu alam dalam menyembuhkan pasien. Sedikit, jika ada, di dunia pasien dikecualikan dari definisi lingkungannya. Nasihatnya kepada perawat, baik yang memberikan perawatan di rumah maupun perawat terlatih di rumah sakit, adalah untuk menciptakan dan memelihara lingkungan terapeutik yang akan meningkatkan kenyamanan dan pemulihan pasien. Risalahnya tentang kebersihan pedesaan mencakup deskripsi yang sangat spesifik tentang masalah lingkungan dan hasilnya, serta solusi praktis untuk masalah ini untuk rumah tangga dan masyarakat.

         Asumsi dan pemahaman Nightingale tentang kondisi lingkungan hari itu paling relevan dengan filosofinya. Dia percaya bahwa orang miskin yang sakit akan mendapat manfaat dari perbaikan lingkungan yang akan mempengaruhi tubuh dan pikiran mereka. Dia percaya bahwa perawat dapat menjadi instrumen dalam mengubah status sosial orang miskin dengan meningkatkan kondisi kehidupan fisik mereka.

   

v  Penerapan

       Prinsip keperawatan Nightingale tetap menjadi dasar praktik keperawatan saat ini. Aspek lingkungan dari teorinya (yaitu, ventilasi, kehangatan, ketenangan, diet, dan kebersihan) tetap menjadi komponen integral dari asuhan keperawatan. Sebagai praktik perawat di abad kedua puluh satu, relevansi konsepnya terus berlanjut; pada kenyataannya, mereka telah meningkatkan relevansi sebagai masyarakat global menghadapi masalah baru pengendalian penyakit. Meskipun sanitasi modern dan pengolahan air telah mengendalikan sumber penyakit tradisional dengan cukup berhasil di Amerika Serikat, air yang terkontaminasi karena perubahan lingkungan atau masuknya kontaminan yang tidak umum tetap menjadi masalah kesehatan di banyak komunitas. Perjalanan global telah mengubah secara dramatis penyebaran penyakit yang aktual dan potensial. Sanitasi modern, pengolahan air yang memadai, dan pengenalan dan pengendalian metode penularan penyakit lainnya tetap menjadi tantangan bagi perawat di seluruh dunia.

Masalah lingkungan baru telah diciptakan oleh arsitektur modern (misalnya, sindrom bangunan sakit); perawat perlu bertanya apakah bangunan modern yang dikendalikan lingkungan memenuhi prinsip ventilasi yang baik dari Nightingale. Di sisi lain, lingkungan yang terkendali semakin melindungi masyarakat dari asap rokok bekas, gas beracun, emisi mobil, dan bahaya lingkungan lainnya. Pembuangan limbah ini, termasuk limbah beracun, dan penggunaan bahan kimia dalam masyarakat modern ini menantang perawat profesional dan profesional perawatan kesehatan lainnya untuk menilai kembali konsep lingkungan yang sehat

3.1.2 Jean Watson :Philosophy and Theory of Transpersonal Caring

v  Background Teorist

Margaret Jean Harman Watson, PhD, RN, AHN-BC, FAAN, lahir dan besar di kota kecil Welch, Virginia Barat, di Pegunungan Appalachian. Sebagai anak bungsu dari delapan bersaudara, dia dikelilingi oleh lingkungan keluarga-masyarakat luas. Negara Bagian Colorado. Douglas, yang digambarkan Watson sebagai pasangan fisik dan spiritualnya, dan sahabatnya, meninggal pada tahun 1998. Dia memiliki dua putri yang sudah dewasa, Jennifer dan Julie, dan lima cucu. Jean tinggal di Boulder, Colorado. Setelah pindah ke Colorado, Watson melanjutkan pendidikan keperawatan dan studi pascasarjana di Universitas Colorado. Dia memperoleh gelar sarjana muda dalam keperawatan pada tahun 1964 di kampus Boulder, gelar master dalam keperawatan kesehatan psikiatri-mental pada tahun 1966 di kampus Ilmu Kesehatan, dan gelar doktor dalam psikologi pendidikan dan konseling pada tahun 1973 di Sekolah Pascasarjana, kampus Boulder. Setelah Watson Watson menghadiri sekolah menengah di West Virginia dan kemudian Sekolah Perawat Lewis Gale di Roanoke, Virginia. Setelah lulus pada tahun 1961, dia menikah dengan suaminya, Douglas, dan pindah ke barat ke negara asalnya menyelesaikan gelar doktornya, dia bergabung dengan fakultas Sekolah Keperawatan, Pusat Ilmu Kesehatan Universitas Colorado di Denver, di mana dia telah bertugas di fakultas dan posisi administratif. Pada tahun 1981 dan 1982, ia mengejar studi cuti panjang internasional di Selandia Baru, Australia, India, Thailand, dan Taiwan; pada tahun 2005, ia mengambil cuti panjang untuk ziarah berjalan di El Camino Spanyol.(Alligood, 2013)

Pada 1980-an, Watson dan rekan mendirikan Center for Human Caring di University of Colorado, pusat interdisipliner pertama bangsa yang berkomitmen untuk menggunakan pengetahuan kepedulian manusia untuk praktik klinis, beasiswa, dan administrasi dan kepemimpinan. Di pusat tersebut, Watson dan lainnya mensponsori kegiatan dan proyek beasiswa klinis, pendidikan, dan komunitas dalam kepedulian manusia. Kegiatan seperti ini berlanjut di Program Sertifikat Internasional Universitas Colorado dalam Perawatan-Penyembuhan, di mana Watson menawarkan kursus teorinya untuk mahasiswa doktoral.

Di Fakultas Keperawatan Universitas Colorado, Watson menjabat sebagai ketua dan asisten dekan program sarjana. Dia terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan program PhD keperawatan dan menjabat sebagai koordinator dan direktur program PhD antara tahun 1978 dan 1981. Watson adalah Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Colorado dan Direktur Asosiasi Praktik Keperawatan di Rumah Sakit Universitas dari tahun 1983 hingga 1990. Selama menjadi dekan, ia berperan penting dalam pengembangan kurikulum keperawatan pasca sarjana muda dalam perawatan manusia, kesehatan, dan penyembuhan yang mengarah pada gelar Doktor Keperawatan (ND), gelar doktor klinis profesional yang pada tahun 2005 menjadi Doktor Praktik Keperawatan (DNP).

Fakultas Keperawatan Universitas Colorado memberikan penghargaan kepada Watson sebagai profesor keperawatan terkemuka pada tahun 1992. Ia menerima enam gelar doktor kehormatan dari universitas di Amerika Serikat dan tiga gelar Doktor Kehormatan di universitas internasional, termasuk Universitas Göteborg di Swedia, Universitas Luton di London , dan Universitas Montreal di Quebec, Kanada. Pada tahun 1993, ia menerima National League for Nursing (NLN) Martha E. Rogers Award, yang mengakui kontribusi signifikan sarjana perawat untuk memajukan pengetahuan dan pengetahuan keperawatan dalam ilmu kesehatan lainnya. Antara 1993 dan 1996, Watson menjabat sebagai anggota Komite Eksekutif dan Dewan Pengurus, dan sebagai pejabat untuk NLN, dan dia terpilih sebagai presiden dari 1995 hingga 1996. Pada 1997, NLN memberinya sertifikat kehormatan seumur hidup sebagai perawat holistik. Akhirnya, pada tahun 1999, Watson menjabat sebagai Ketua Ilmu Kepedulian Murchison-Scoville pertama di negara itu dan saat ini adalah profesor keperawatan yang terkemuka.

Pada tahun 1998, Watson diakui sebagai Cendekiawan Perawat Terhormat oleh Universitas New York, dan pada tahun 1999, ia menerima Penghargaan Sepupu Norman dari Institut Fetzer sebagai pengakuan atas komitmennya untuk mengembangkan, memelihara, dan memberikan contoh praktik perawatan yang berpusat pada hubungan.

Jean Watson telah menulis 11 buku, menulis enam buku, dan telah menulis banyak artikel di jurnal keperawatan. Publikasi berikut mencerminkan evolusi teorinya tentang kepedulian dari ide-idenya tentang filosofi dan ilmu tentang kepedulian.

a.       Buku pertamanya, Nursing: The Philosophy and Science of Caring (1979), dikembangkan dari catatannya untuk program sarjana yang diajarkan di University of Colorado. Buku pertamanya dicetak ulang pada tahun 1985

b.      Buku keduanya, Nursing: Human Science and Human Care—A Theory of Nursing, diterbitkan pada 1985 dan dicetak ulang pada 1988 dan 1999, membahas masalah konseptual dan filosofisnya dalam keperawatan.

c.       Buku ketiganya, Postmodern Nursing and Beyond (1999), disajikan sebagai model untuk membawa praktik keperawatan ke abad kedua puluh satu. Watson menggambarkan dua peristiwa yang mengubah hidup pribadi yang berkontribusi pada tulisannya.

d.      Buku kelimanya, Caring Science as Sacred Science (2005), menggambarkan perjalanan pribadinya untuk meningkatkan pemahaman tentang ilmu caring, praktik spiritual, konsep dan praktik perawatan, dan kerja perawatan-penyembuhan.

 

v  Sumber Teori

Karya Watson disebut sebagai filsafat, cetak biru, etika, paradigma, pandangan dunia, risalah, model konseptual, kerangka kerja, dan teori. Bab ini menggunakan istilah teori dan kerangka kerja secara bergantian. Untuk mengembangkan teorinya, Watson (1988) mendefinisikan teori sebagai “pengelompokan imajinatif dari pengetahuan, ide, dan pengalaman yang direpresentasikan secara simbolis dan berusaha untuk menerangi fenomena tertentu”. Dia mengacu pada arti Latin dari teori "melihat" dan menyimpulkan, "Ini (Ilmu Manusia) adalah teori karena membantu saya 'melihat' lebih luas (jelas)". Watson mengakui adanya orientasi fenomenologis, eksistensial, dan spiritual dari ilmu pengetahuan dan humaniora serta bimbingan filosofis dan intelektual dari teori feminis, metafisika, fenomenologi, fisika kuantum, tradisi kebijaksanaan, filsafat abadi, dan agama Buddha. Dia mengutip latar belakang untuk teori dan filosofi keperawatannya, termasuk Nightingale, Henderson, Leininger, Peplau, Rogers, dan Newman, dan juga karya Gadow, seorang filsuf keperawatan dan ahli etika perawatan kesehatan. Dia menghubungkan rasa komitmen mendalam Nightingale dan panggilan ke etika pelayanan manusia.

Watson mengaitkan penekanannya pada kualitas interpersonal dan transpersonal dari keselarasan, empati, dan kehangatan dengan pandangan Carl Rogers dan penulis psikologi transpersonal yang lebih baru. Watson menunjukkan bahwa pendekatan fenomenologis Carl Rogers, dengan pandangannya bahwa perawat tidak di sini untuk memanipulasi dan mengontrol orang lain melainkan untuk memahami, sangat berpengaruh pada saat "klinikalisasi" (kontrol terapi dan manipulasi pasien ) dianggap sebagai norma. Dalam bukunya, Caring Science as Sacred Science, Watson (2005) menggambarkan kebijaksanaan filsuf Prancis Emmanuael Levinas (1969) dan filsuf Denmark Knud Løgstrup (1995) sebagai dasar karyanya.

Konsep utama Watson meliputi 10 faktor carativedan penyembuhan transpersonal dan hubungan caring transpersonal, momen caring, kesempatan caring, modalitas penyembuhan caring, kesadaran caring, energi kesadaran caring, dan kesadaran file/kesatuan fenomenal . Watson memperluas faktor-faktor carative menjadi sebuah konsep yang berkaitan erat, caritas, sebuah kata Latin yang berarti “menghargai, menghargai, memberikan perhatian khusus, jika bukan perhatian penuh kasih.” Sebagai faktor karatif berkembang dalam perspektif yang berkembang, dan sebagai ide-ide dan nilai-nilai berkembang, Watson menawarkan terjemahan dari faktor karatif asli ke dalam proses karitas klinis yang menyarankan cara terbuka di mana mereka dapat dipertimbangkan.

10 Faktor Karative Asli

1

Pembentukan Sistem Nilai Altruistik Humanistik

Nilai-nilai humanistik dan altruistik dipelajari sejak dini tetapi dapat sangat dipengaruhi oleh pendidik perawat. Faktor ini dapat didefinisikan sebagai kepuasan melalui pemberian dan perluasan rasa diri

2

Menanamkan ImanHarapan

Faktor ini, menggabungkan nilai-nilai humanistik dan altruistik, memfasilitasi promosi asuhan keperawatan holistik dan kesehatan yang positif dalam populasi pasien. Ini juga menjelaskan peran perawat dalam mengembangkan hubungan perawat-pasien yang efektif dan dalam mempromosikan kesehatan dengan membantu pasien mengadopsi perilaku mencari kesehatan.

3

Menumbuhkan Kepekaan Terhadap Diri Sendiri dan Orang Lain

 

Pengenalan perasaan mengarah pada aktualisasi diri melalui penerimaan diri baik bagi perawat maupun pasien. Ketika perawat mengakui kepekaan dan perasaan mereka, mereka menjadi lebih asli, otentik, dan sensitif terhadap orang lain

 

4

Pengembangan Hubungan Helping-Trust

 

Pengembangan hubungan membantu-percaya antara perawat dan pasien sangat penting untuk perawatan transpersonal. Hubungan saling percaya mendorong dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif. Ini melibatkan keselarasan, empati, kehangatan nonpossessive, dan komunikasi yang efektif. Kesesuaian melibatkan menjadi nyata, jujur, asli, dan otentik. Empati adalah kemampuan untuk mengalami dan dengan demikian memahami persepsi dan perasaan orang lain dan mengomunikasikan pemahaman tersebut. Kehangatan non-posesif ditunjukkan oleh: volume bicara yang moderat, postur terbuka yang santai, dan ekspresi wajah yang sesuai dengan komunikasi lainnya. Komunikasi yang efektif memiliki komponen respon kognitif, afektif, dan perilaku

5

Promosi dan Penerimaan Ekspresi Perasaan Positif dan Negatif

Berbagi perasaan adalah pengalaman pengambilan risiko bagi perawat dan pasien. Perawat harus siap untuk perasaan positif atau negatif. Perawat harus menyadari bahwa pemahaman intelektual dan emosional dari suatu situasi berbeda

6

Penggunaan Metode Pemecahan Masalah Ilmiah Secara Sistematis untuk Pengambilan Keputusan

 

Penggunaan proses keperawatan membawa pendekatan pemecahan masalah ilmiah untuk asuhan keperawatan, menghilangkan citra tradisional perawat sebagai pelayan dokter. Proses keperawatan mirip dengan proses penelitian yang sistematis dan terorganisir.

7

Promosi Pembelajaran Interpersonal

 

Faktor ini merupakan konsep penting untuk keperawatan karena memisahkan caring dari curing. Hal ini memungkinkan pasien untuk diberitahu dan mengalihkan tanggung jawab untuk kesehatan dan kesehatan kepada pasien. Perawat memfasilitasi proses ini dengan teknik belajar-mengajar yang dirancang untuk memungkinkan pasien memberikan perawatan diri, menentukan kebutuhan pribadi, dan memberikan kesempatan untuk pertumbuhan pribadi mereka.

8

Penyediaan Lingkungan Mental, Fisik, Sosial Budaya, dan Spiritual yang Mendukung, Protektif, dan Korektif

 

Perawat harus mengenali pengaruh lingkungan internal dan eksternal terhadap kesehatan dan penyakit individu. Konsep yang relevan dengan lingkungan internal termasuk mental dan spiritual kesejahteraan dan keyakinan sosiokultural individu. Selain variabel epidemiologi, variabel eksternal lainnya meliputi kenyamanan, privasi, keamanan, dan kebersihan, estetika lingkungan.

9

Bantuan Pemuasan Kebutuhan Manusia

 

Perawat mengenali kebutuhan biofisik, psiko-fisik, psikososial, dan intrapersonal diri dan pasien. Pasien harus memenuhi kebutuhan tingkat yang lebih rendah sebelum mencoba untuk mencapai kebutuhan tingkat yang lebih tinggi. Makanan, eliminasi, dan ventilasi adalah contoh kebutuhan biofisik tingkat rendah, sedangkan aktivitas, tidak aktif, dan seksualitas dianggap kebutuhan psikofisik tingkat rendah. Prestasi dan afiliasi adalah kebutuhan psikososial tingkat tinggi. Aktualisasi diri adalah kebutuhan intrapersonal-interpersonal tingkat tinggi.

10

Tunjangan untuk Kekuatan Eksistensial-Fenomenologis

 

Fenomenologi menggambarkan data situasi langsung yang membantu orang memahami fenomena yang dimaksud. Psikologi eksistensial adalah ilmu tentang keberadaan manusia yang menggunakan analisis fenomologis. Watson menganggap faktor ini sulit untuk dipahami. Ini termasuk untuk memberikan pengalaman yang menggugah pikiran, yang mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri dan orang lain.

 

Watson (1999) menjelaskan "Hubungan Peduli Transpersonal" sebagai dasar teorinya; itu adalah "jenis khusus dari hubungan perawatan manusia—persatuan dengan orang lain—penghargaan yang tinggi untuk seluruh orang dan keberadaan mereka di dunia".

v  Asumsi Mayor, Konsep dan Hubungan

             Watson menyerukan untuk menggabungkan sains dengan humaniora sehingga perawat memiliki latar belakang seni liberal yang kuat dan memahami budaya lain sebagai syarat untuk menggunakan Ilmu Mobil dan kerangka pikiran-tubuh-spiritual. Dia percaya bahwa studi tentang humaniora memperluas pikiran dan meningkatkan keterampilan berpikir dan pertumbuhan pribadi. Watson telah membandingkan status menyusui dengan Danaides mitologis, yang berusaha mengisi toples yang pecah dengan air, hanya untuk melihat air mengalir melalui celah-celah. Dia percaya studi sains dan humaniora diperlukan untuk menutup celah serupa dalam dasar ilmiah pengetahuan keperawatan.

             Watson menjelaskan asumsi untuk Hubungan Peduli Transpersonal meluas ke praktisi multidisiplin:

Ø  Komitmen moral, intensionalitas, dan kesadaran caritas oleh perawat melindungi, meningkatkan, dan memperkuat martabat manusia, keutuhan, dan penyembuhan, sehingga memungkinkan seseorang untuk menciptakan atau bersama-sama menciptakan makna keberadaannya sendiri.

Ø  Keinginan sadar perawat menegaskan signifikansi subjektif dan spiritual pasien sambil berusaha mempertahankan perawatan di tengah ancaman dan keputusasaan—biologis, institusional, atau lainnya. Hasilnya adalah menghormati Hubungan Aku-Engkau daripada Hubungan Aku-Itu.

Ø  Perawat berusaha untuk mengenali, mendeteksi secara akurat, dan menghubungkan dengan kondisi batin semangat orang lain melalui kehadiran yang tulus dan dengan terpusat pada momen kepedulian; tindakan, kata-kata, perilaku, kognisi, bahasa tubuh, perasaan, intuisi, pikiran, indera, medan energi, dan sebagainya, semuanya berkontribusi pada hubungan kepedulian transpersonal.

Ø  Kemampuan perawat untuk berhubungan dengan orang lain pada tingkat transpersonal roh-ke-roh ini diterjemahkan melalui gerakan, gerak tubuh, ekspresi wajah, prosedur, informasi, sentuhan, suara, ekspresi verbal, dan sarana ilmiah, teknis, estetika, dan manusiawi lainnya. komunikasi, ke dalam seni/tindakan manusia keperawatan atau modalitas perawatan-penyembuhan yang disengaja.

Ø  Modalitas perawatan-penyembuhan dalam konteks kesadaran kepedulian/caritas transpersonal memperkuat harmoni, keutuhan, dan kesatuan keberadaan dengan melepaskan beberapa ketidakharmonisan, yaitu energi yang tersumbat yang mengganggu proses penyembuhan alami; dengan demikian perawat membantu orang lain melalui proses ini untuk mengakses penyembuh di dalam, dalam pengertian sepenuhnya dari pandangan Nightingale tentang keperawatan.

Ø  Pengembangan pribadi dan profesional dan pertumbuhan spiritual yang berkelanjutan, serta latihan spiritual pribadi, membantu perawat memasuki tingkat praktik penyembuhan profesional yang lebih dalam ini, memungkinkan untuk kebangkitan kondisi transpersonal dunia dan aktualisasi yang lebih lengkap dari "kompetensi ontologis" diperlukan pada tingkat praktik keperawatan tingkat lanjut ini.

Ø  Riwayat hidup perawat itu sendiri, pengalaman sebelumnya, kesempatan untuk fokus belajar, pernah menjalani atau mengalami berbagai kondisi manusia, dan membayangkan perasaan orang lain dalam berbagai keadaan adalah guru yang berharga untuk pekerjaan ini; sampai tingkat tertentu, perawat dapat memperoleh pengetahuan dan kesadaran yang dibutuhkan melalui bekerja dengan budaya lain dan studi humaniora (misalnya, seni; drama; sastra; kisah pribadi; atau narasi penyakit atau perjalanan), bersama dengan eksplorasi nilai-nilai sendiri , keyakinan yang mendalam, dan hubungan dengan diri sendiri, orang lain, dan dunia seseorang.

Ø  Fasilitator lainnya adalah pengalaman pertumbuhan pribadi seperti psikoterapi, psikologi transpersonal, meditasi, kerja bioenergi, dan model lain untuk kebangkitan spiritual.

Ø  Pertumbuhan berkelanjutan untuk pengembangan dan pendewasaan dalam model kepedulian transpersonal sedang berlangsung. Gagasan profesional kesehatan sebagai penyembuh yang terluka diakui sebagai bagian dari pertumbuhan dan kasih sayang yang diperlukan yang disebut dalam teori/filosofi ini.

v  Paradigma Keperawatan

Ø  Perawat

            Menurut Watson, kata perawat adalah kata benda dan kata kerja. Baginya, keperawatan terdiri dari "pengetahuan, pemikiran, nilai, filosofi, komitmen, dan tindakan, dengan beberapa derajat gairah" (hal. 53). Perawat tertarik untuk memahami kesehatan, penyakit, dan pengalaman manusia; mempromosikan dan memulihkan kesehatan; dan mencegah penyakit. Teori Watson menyerukan perawat untuk melampaui prosedur, tugas, dan teknik yang digunakan dalam pengaturan praktik, diciptakan sebagai trim keperawatan, berbeda dengan inti keperawatan, yang berarti aspek-aspek hubungan perawat-pasien yang menghasilkan hasil terapeutik. yang termasuk dalam proses transpersonal caring. Menggunakan 10 faktor cara-tif asli dan berkembang, perawat memberikan perawatan kepada berbagai pasien. Setiap faktor carative dan proses caritas klinis menggambarkan proses caring tentang bagaimana pasien mencapai atau mempertahankan kesehatan atau meninggal dengan tenang. Sebaliknya, Watson menggambarkan penyembuhan sebagai istilah medis yang mengacu pada penghapusan penyakit. Ketika pekerjaan Watson berkembang, dia meningkatkan fokusnya pada proses perawatan manusia dan aspek transpersonal dari perawatan-penyembuhan dalam Hubungan Peduli Transpersonal

Ø  Personhood (Human Being)

            Watson menggunakan istilah manusia, pribadi, kehidupan, kepribadian, dan diri secara bergantian. Dia memandang orang sebagai "kesatuan pikiran/tubuh/roh/alam", dan dia mengatakan bahwa "kepribadian terikat pada gagasan bahwa jiwa seseorang memiliki tubuh yang tidak dibatasi oleh waktu dan ruang objektif. . . .”

Ø  Kesehatan

            Awalnya, definisi kesehatan Watson diturunkan dari Organisasi Kesehatan Dunia sebagai, “Keadaan positif dari fisik, mental, dan kesejahteraan sosial dengan masuknya tiga elemen: (1) tingkat tinggi keseluruhan fisik, mental , dan fungsi sosial; (2) tingkat pemeliharaan adaptif umum dari fungsi sehari-hari; (3) tidak adanya penyakit (atau adanya upaya yang menyebabkan tidak adanya penyakit)”. Kemudian, dia mendefinisikankesehatan sebagai “kesatuan dan keselarasan dalam pikiran, tubuh, dan jiwa”; dikaitkan dengan "tingkat kesesuaian antara diri yang dirasakan dan diri yang dialami". Watson menyatakan lebih lanjut, “penyakit belum tentu penyakit; [sebaliknya itu adalah] gejolak subjektif atau ketidakharmonisan di dalam diri atau jiwa seseorang pada tingkat ketidakharmonisan dalam lingkup orang tersebut, misalnya, dalam pikiran, tubuh, dan jiwa, baik secara sadar maupun tidak sadar”. “Sementara penyakit dapat menyebabkan penyakit, penyakit dan kesehatan adalah [suatu] fenomena yang tidak harus dilihat secara kontinum. Proses penyakit juga dapat diakibatkan oleh genetik, kerentanan konstitusional dan muncul dengan sendirinya ketika ada ketidakharmonisan. Ketidaknyamanan pada gilirannya menciptakan lebih banyak ketidakharmonisan”.

Ø  Lingkungan

            Dalam sepuluh faktor karatif asli, Watson berbicara tentang peran perawat dalam lingkungan sebagai "memperhatikan lingkungan mental, fisik, sosial, dan spiritual yang mendukung, protektif, dan atau korektif". Dalam karya selanjutnya, dia memiliki pandangan yang jauh lebih luas tentang lingkungan: “ilmu kepedulian tidak hanya untuk mempertahankan umat manusia, tetapi juga untuk mempertahankan planet ini . . . Milik adalah dunia roh universal yang tak terbatas dari alam dan semua makhluk hidup; itu adalah mata rantai primordial umat manusia dan kehidupan itu sendiri, melintasi ruang dan waktu, batas-batas dan kebangsaan”

Dia mengatakan bahwa "ruang penyembuhan dapat digunakan untuk membantu orang lain mengatasi penyakit, rasa sakit, dan penderitaan," menekankan lingkungan dan hubungan orang: "ketika perawat memasuki kamar pasien, medan magnet harapan dibuat"

v  Penerapan

       Teori Watson telah divalidasi dalam pengaturan klinis rawat jalan, rawat inap, dan kesehatan masyarakat dan dengan berbagai populasi, termasuk aplikasi terbaru dengan perhatian pada kebutuhan perawatan pasien yang hidup di ventilator, dan perawatan simulasi. Watson dan Foster (2003) menggambarkan penerapan teori yang patut dicontoh untuk praktik; The Attending Nurse Caring Model (ANCM) adalah proyek percontohan yang unik di rumah sakit anak-anak Denver yang dimodelkan setelah Model Dokter yang "Menghadiri". Namun, tidak seperti model medis/penyembuhan, ANCM berkaitan dengan model asuhan keperawatan. “Ini dibangun sebagai Ilmu Keperawatan-Peduli, teori-dipandu, berbasis bukti, model praktik kolaboratif untuk menerapkannya pada perilaku dan pengawasan manajemen nyeri di 37 tempat tidur, unit pasca bedah”. Perawat yang berpartisipasi dalam proyek belajar tentang teori kepedulian Watson, faktor karatif, kesadaran kepedulian, in-tensionalitas, dan praktik penyembuhan-perawatan. Misi ANCM adalah memiliki hubungan kepedulian yang berkesinambungan dengan anak-anak yang kesakitan dan keluarganya. ANCM dibuat terlihat dalam kehadiran perawatan-penyembuhan di seluruh rumah sakit.

3.1.3 Marilyn Anne Ray : Theory of Bureaucratic Caring

v  Background Teorist

Marilyn Anne (Dee) Ray lahir di Hamilton, Ontario, Kanada, dan dibesarkan dalam keluarga dengan enam anak. Ketika Ray berusia 15 tahun, ayahnya sakit parah, dirawat di rumah sakit, dan hampir meninggal. Seorang perawat menyelamatkan hidupnya. Marilyn memutuskan bahwa dia akan menjadi perawat sehingga dia bisa membantu orang lain dan mungkin menyelamatkan nyawa juga.(Alligood, 2013)

Pada tahun 1958, Marilyn Ray lulus dari Sekolah Keperawatan Rumah Sakit St. Joseph, Hamilton, dan berangkat ke Los Angeles, California. Dia bekerja di University of California, Los Angeles Medical Center di sejumlah unit, termasuk obstetri dan ginekologi, departemen darurat, dan perawatan jantung dan kritis dengan orang dewasa dan anak-anak dari populasi rentan. Saat bekerja dengan orang Afrika-Amerika dan Latin, Ray mulai melihat betapa pentingnya budaya dalam perkembangan pandangan orang tentang keperawatan dan dunia.(Alligood, 2013)

Pada tahun 1965, Ray kembali ke sekolah untuk BSN dan MSN-nya dalam keperawatan ibu-anak di University of Colorado School of Nursing. Di sana dia bertemu Dr. Madeleine Leininger, yang merupakan perawat antropolog pertama dan Direktur program Ilmuwan Perawat Federal. Melalui bimbingannya, Leininger memengaruhi kehidupan Ray. Ray mengambil minat khusus dalam keperawatan, antropologi, masa kanak-kanak, dan budaya. Dia mempelajari organisasi sebagai budaya kecil, dan proyek sekolah pascasarjananya melibatkan studi tentang rumah sakit anak sebagai budaya kecil. Saat di University of Colorado, Ray berlatih dengan anak-anak dan orang dewasa dalam perawatan kritis dan dialisis ginjaldan dalam keperawatan kesehatan kerja dengan perawatan yang berpusat pada keluarga.

Pada pertengahan 1960-an, Ray menjadi warga negara Amerika Serikat dan tak lama kemudian ditugaskan sebagai perwira di Cadangan Angkatan Udara Amerika Serikat, Korps Perawat (dan Pengawal Nasional Udara). Dia lulus sebagai perawat penerbangan dari School of Aerospace Medicine di Brooks Air Force Base, San Antonio, Texas, dan menjabat sebagai perawat evakuasi aero-medis. Dia merawat korban pertempuran dan pasien lain di berbagai jenis pesawat selama perang Vietnam. Ray menjabat lebih dari 30 tahun di berbagai posisi di Angkatan Udara AS—perawat penerbangan, dokter, administrator, pendidik, dan peneliti—dan berpangkat kolonel. Ketertarikannya pada keperawatan luar angkasa mendorongnya untuk mengikuti program untuk pendidik di Marshall Space Flight Center di Huntsville, Alabama. Dia tetap menjadi anggota piagam dari Space Nursing Society. Pada tahun 1990, Ray adalah perawat pertama yang pergi ke Uni Soviet dengan Aero-space Medical Association, ketika bekas Uni Soviet membuka operasi luar angkasanya untuk insinyur dan dokter luar angkasa Amerika. Ray dipanggil untuk tugas aktif selama Perang Teluk Persia pada tahun 1991 dan ditugaskan ke Pangkalan Angkatan Udara Eglin, Valparaiso, Florida, di mana dia mengatur perencanaan pelepasan dan melakukan penelitian di departemen darurat.

Dari tahun 1973 hingga 1977, Ray kembali ke Kanada untuk bersama keluarganya. Dia bergabung dengan fakultas keperawatan di McMaster University di Hamilton, Ontario, dan mengajar di program praktisi perawat keluarga. Ini adalah waktu yang menyenangkan, karena Pusat Ilmu Kesehatan Universitas McMaster memulai pengajaran, pendidikan, dan praktik berbasis bukti. Ray menyelesaikan Master of Arts dalam Antropologi Budaya di McMaster University dan mempelajari hubungan manusia, pengambilan keputusan dan konflik, dan rumah sakit sebagai budaya organisasi. Dia kemudian menerima surat dari Dr. Leininger yang memintanya untuk melamar program doktor keperawatan transkultural pertama di Universitas Utah. Di universitas, disertasi doktoral Ray (1981a) adalah studi tentang caring dalam budaya organisasi rumah sakit yang kompleks. Dari penelitian ini, Teori Caring Birokrasi, fokus bab ini, dikembangkan.

Selama studi doktoralnya, Ray menikah dengan James L. Droesbeke, inspirasi dan sahabatnya, dan cinta dalam hidupnya. Dia adalah sumber dukungan dan bantuan yang konstan untuknya selama karirnya sampai kematiannya akibat kanker pada tahun 2001. Setelah menyelesaikan gelar doktornya pada tahun 1981, Ray bergabung kembali dengan University of Colorado School of Nursing. Di Universitas Colorado, Ray bekerja dengan Dr. Jean Watson, yang mengembangkan teori dan praktik kepedulian manusia dalam keperawatan. Bersama Watson dan cendekiawan lainnya, Ray mendirikan Asosiasi Internasional untuk Kepedulian Manusia, yang menganugerahkannya Penghargaan Prestasi Seumur Hidup pada tahun 2008. Pada 1980-an, Di University of Colorado, Ray melanjutkan studinya tentang fenomenol-ogy dan pendekatan penelitian kualitatif dan disertasi terarah kerja.

Ray melanjutkan sebagai Profesor Emeritus di Universitas Florida Atlantik Christine E. Lynn College of Nursing sebagai anggota fakultas paruh waktu dalam program PhD dan mentor fakultas. Minat Ray dalam keperawatan trans-budaya tetap menjadi tema dalam penelitian, pengajaran, dan praktiknya. Ray adalah wakil presiden Florida untuk Perawatan Kesehatan (perawatan kesehatan universal) dari tahun 1998 hingga 2000. Dia adalah Perawat Transkultural Bersertifikat dan anggota Masyarakat Perawatan Transkultural Internasional. Dia telah membuat presentasi internasional di Cina, Arab Saudi, Swedia, Finlandia, Inggris, Swiss, Thailand, dan Vietnam. Pada tahun 1984, Ray menerima Leininger Transcultural Nursing Award untuk keunggulan dalam keperawatan trans-budaya. Pada tahun 2005, ia dinobatkan sebagai Sarjana Keperawatan Transkultural oleh International Trans-cultural Nursing Society. Ray terdaftar di Who's Who in America dan Who's Who in the World dan memberikan makalah pada tahun 2010 tentang organisasi peduli di Forum Universitas Dunia di Davos, Swiss (Ray, 2010c). Ia mengikuti program studi di Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait implementasi Millenium Goals 2015. Ray melayani di dewan peninjau Journal of Transcultural Nursing and Qualitative Health Research. Dia juga menerbitkan Dinamika Peduli Transkultural dalam Perawatan dan Perawatan Kesehatan(Ray, 2010a) dan, dengan editor bersama, Ilmu Keperawatan, Kepedulian, dan Kompleksitas: Untuk Kesejahteraan Manusia-Lingkungan, yang menerima penghargaan American Journal of Nursing Book of the Year 2011.

 

v  Sumber Teori

Ketertarikan Ray dalam merawat sebagai topik beasiswa keperawatan dirangsang oleh pekerjaannya dengan Leininger mulai tahun 1968, yang berfokus pada keperawatan transkultural dan metode penelitian etnografi-etnonursa. Dia menggunakan metode etnografi dalam kombinasi dengan fenomenologi dan teori dasar untuk menghasilkan teori dasar yang substantif dan formal, menghasilkan Teori Kepedulian Birokrasi yang menyeluruh, yang berfokus pada keperawatan di organisasi yang kompleks seperti rumah sakit. Dia membedakan organisasi sebagai budaya berdasarkan studi antropologis tentang bagaimana orang berperilaku dalam masyarakat dan signifikansi atau makna kehidupan kerja. Budaya organisasi, dipandang sebagai konstruksi sosial, dibentuk secara simbolis melalui makna dalam interaksi

Karya Ray dipengaruhi oleh Hegel, yang mengemukakan keterkaitan antara tesis, antitesis, dan sintesis. Dalam teori Ray, tesis kepedulian (humanistik, spiritual, dan etika) dan antitesis birokrasi (teknologi, ekonomi, politik, dan hukum) direkonsiliasi dan disintesis menjadi kekuatan kesatuan, kepedulian birokrasi. Sintesis, sebagai proses menjadi, adalah transformasi yang terus berulang selalu berubah, muncul, dan mentransformasi.

Saat dia meninjau kembali dan terus mengembangkan teori formalnya, Ray menemukan bahwa temuan studinya cocok dengan penjelasan dari teori chaos. Teori chaos menggambarkan keteraturan dan ketidakteraturan secara simultan, dan keteraturan dalam ketidakteraturan. Keteraturan atau keterkaitan yang mendasari ada dalam peristiwa yang tampaknya acak. Studi matematika telah menunjukkan bahwa apa yang mungkin tampak acak sebenarnya adalah bagian dari pola yang lebih besar. Penerapan teori ini untuk organisasi menunjukkan bahwa dalam keadaan chaos, sistem tersebut diadakan dalam batas-batas yang tertata dengan baik.

Dalam Theory of Bureaucratic Caring, Ray membandingkan struktur perawatan kesehatan politik, hukum, ekonomi, pendidikan, fisiologis, sosial-budaya, dan teknologi dengan urutan eksplikatif dan perawatan spiritual-etika dengan urutan implikasi. Contohnya mungkin keputusan manajer kasus tentang mendapatkan sumber daya untuk perawatan klien di rumah. Pada awalnya, menjelaskan struktur seperti kontrak perawatan terkelola hukum atau kebutuhan fisik klien mungkin tampak memberikan informasi yang cukup. Namun, melalui hubungan kepedulian manajer kasus dengan klien, masalah implikasi mungkin muncul, seperti nilai dan keinginan klien. Sebenarnya, situasi keperawatan melibatkan pelipatan dan penyingkapan informasi yang tidak ada habisnya yang dapat dilihat sebagai urutan penjelasan dan implikasi, dan penting untuk dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan.Theory of Bureaucratic Caring merupakan representasi dari keterkaitan sistem dan faktor caring.

 

v  Asumsi Mayor, Konsep dan Hubungan

              Proses teoritis kesadaran melihat kebenaran, atau melihat kebaikan dari hal-hal (peduli), dan komunikasi adalah pusat teori. Dialektika kepedulian spiritual-etis (tatanan implikasi) dalam kaitannya dengan struktur-struktur politik, hukum, ekonomi, pendidikan, fisiologis, sosial-budaya, dan teknologi yang melingkupinya menggambarkan bahwa segala sesuatu adalah saling berhubungan dengan kepedulian dan sistem sebagai makrokosmos budaya. Dalam model semuanya diresapi dengan kepedulian spiritual-etika (pusat) dengan koneksi integratif dan relasional ke struktur kehidupan organisasi. Kepedulian spiritual-etika melibatkan proses politik, ekonomi, dan teknologi yang berbeda.

              Holografi berarti bahwa segala sesuatu adalah keseluruhan dalam satu konteks dan bagian dalam konteks lain—dengan masing-masing bagian berada dalam keseluruhan dan keseluruhan berada dalam bagian. Kepedulian spiritual-etika adalah bagian dan keseluruhan. Setiap bagian mengamankan maknanya dari setiap bagian, juga dilihat sebagai keseluruhan.

·         Caring

Caring didefinisikan sebagai proses transkultural, relasional yang kompleks yang didasarkan pada konteks etis dan spiritual. Peduli adalah hubungan antara amal dan tindakan yang benar, antara cinta sebagai kasih sayang dalam menanggapi penderitaan dan kebutuhan dan keadilan atau keadilan dalam hal apa yang seharusnya dilakukan. Caring terjadi dalam budaya atau masyarakat, termasuk budaya pribadi, budaya organisasi rumah sakit, dan budaya masyarakat dan global

·           Kepedulian Spiritual-Etis (Spiritual-Ethical Caring)

Spiritualitas melibatkan kreativitas dan pilihan dan diungkapkan kembali dalam keterikatan, cinta, dan komunitas. Imperatif etis kepedulian bergabung dengan spiritual dan terkait dengan kewajiban moral kepada orang lain. Ini berarti tidak pernah memperlakukan orang sebagai alat untuk mencapai tujuan tetapi sebagai makhluk dengan kapasitas untuk membuat pilihan. Perawatan spiritual-etika untuk keperawatan berfokus pada fasilitasi pilihan untuk kebaikan orang lain.

·           Pendidikan

Program pendidikan formal dan informal, penggunaan media audiovisual untuk menyampaikan informasi, dan bentuk lain dari pengajaran dan berbagi informasi adalah contoh faktor pendidikan yang terkait dengan makna kepedulian.

·           Fisik

Faktor fisik berkaitan dengan keadaan fisik makhluk, termasuk pola biologis dan mental. Karena pikiran dan tubuh saling terkait, masing-masing pola mempengaruhi yang lain

·           Sosial-Budaya

Contoh faktor sosial dan budaya adalah suku dan struktur keluarga; keintiman dengan teman dan keluarga; komunikasi; interaksi sosial dan dukungan; memahami hubungan timbal balik, keterlibatan, dan keintiman; dan struktur kelompok budaya, komunitas, dan masyarakat

·           Hukum

Faktor hukum yang berkaitan dengan makna caring meliputi tanggung jawab dan akuntabilitas; aturan dan prinsip untuk memandu perilaku, seperti kebijakan dan prosedur; Penjelasan dan persetujuan; hak atas privasi; masalah malpraktik dan kewajiban; hak klien, keluarga, dan profesional; dan praktik kedokteran dan keperawatan defensif

·           Teknologi

Faktor teknologi termasuk sumber daya non-manusia, seperti penggunaan mesin untuk menjaga kesejahteraan fisiologis pasien, tes diagnostik, agen farmasi, dan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk memanfaatkan sumber daya ini.

v  Paradigma Keperawatan

Ø  Perawat

Keperawatan adalah perawatan holistik, relasional, spiritual, dan etis yang mencari kebaikan diri sendiri dan orang lain dalam budaya komunitas, organisasi, dan birokrasi yang kompleks. Tinggal dengan sifat kepedulian mengungkapkan bahwa cinta adalah dasar dari kepedulian spiritual. Melalui pengetahuan tentang misteri batin kehidupan inspirasional di dalam, cinta memunculkan kehidupan etis yang bertanggung jawab yang memungkinkan ekspresi tindakan nyata kepedulian dalam kehidupan perawat. Dengan demikian, kepedulian adalah budaya dan sosial. Kepedulian lintas budaya meliputi keyakinan dan nilai-nilai kasih sayang atau cinta dan keadilan atau keadilan, yang memiliki arti penting dalam ranah sosial, di mana hubungan dibentuk dan ditransformasikan. Kepedulian transkultural berfungsi sebagai lensa unik di mana pilihan manusia dilihat, dan pemahaman dalam kesehatan dan penyembuhan muncul. Jadi, melalui kasih sayang dan keadilan, keperawatan berusaha menuju keunggulan dalam kegiatan merawat melalui dinamika konteks budaya yang kompleks dari hubungan, organisasi, dan komunitas

Ø  Individu

Individu adalah makhluk spiritual dan budaya. Orang diciptakan oleh Tuhan, Misteri Keberadaan, dan mereka terlibat secara kreatif dalam hubungan organisasi dan transkultural manusia untuk menemukan makna dan nilai.

Ø  Kesehatan

Kesehatan memberikan pola makna bagi individu, keluarga, dan masyarakat. Di semua masyarakat manusia, kepercayaan dan praktik kepedulian tentang penyakit dan kesehatan adalah ciri utama budaya. Kesehatan bukan hanya konsekuensi dari keadaan fisik. Orang mengkonstruksi realitas kesehatan mereka dalam kerangka biologi; pola mental; karakteristik citra tubuh, pikiran, dan jiwa mereka; etnis dan struktur keluarga; struktur masyarakat dan komunitas (politik, ekonomi, hukum, dan teknologi); dan pengalaman kepedulian yang memberi makna hidup dengan cara yang kompleks. Organisasi sosial kesehatan dan penyakit dalam masyarakat (sistem perawatan kesehatan) menentukan cara orang dikenali sebagai sakit atau sehat. Ini menentukan bagaimana profesional kesehatan dan individu memandang kesehatan dan penyakit. Kesehatan terkait dengan cara orang-orang dalam kelompok budaya atau budaya organisasi atau sistem birokrasi mengkonstruksi realitas dan memberi atau menemukan makna.

Ø  Lingkungan

Lingkungan adalah fenomena spiritual, etika, ekologi, dan budaya yang kompleks. Konseptualisasi lingkungan ini mewujudkan pengetahuan dan hati nurani tentang keindahan bentuk kehidupan dan sistem atau pola makna simbolis (representasi). Pola-pola ini ditransmisikan secara historis dan dipertahankan atau diubah melalui nilai-nilai kepedulian, sikap, dan komunikasi. Bentuk-bentuk fungsional yang diidentifikasi dalam struktur sosial atau birokrasi (misalnya, politik, hukum, teknologi, dan ekonomi) berperan dalam memfasilitasi pemahaman tentang makna kepedulian, kerja sama, dan konflik dalam kelompok budaya manusia dan lingkungan organisasi yang kompleks. Praktik keperawatan di lingkungan mewujudkan unsur-unsur struktur sosial dan pola makna kepedulian spiritual dan etis

v  Penerapan

       The Theory of Bureaucratic Caring memiliki aplikasi langsung untuk keperawatan. Dalam pengaturan klinis, staf perawat ditantang untuk mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian. Sintesis perilaku dan pengetahuan ini mencerminkan sifat holistik dari Theory of Bureaucratic Caring. Di tepi kekacauan, isu-isu kontemporer seperti inflasi biaya perawatan kesehatan berfungsi sebagai katalis untuk perubahan dalam organisasi perawatan kesehatan perusahaan. Komponen etika yang tertanam dalam kepedulian spiritual-etika membahas kewajiban moral perawat kepada orang lain. Ray menekankan bahwa “transformasi dapat terjadi bahkan dalam suasana bisnis saat ini jika perawat memperkenalkan kembali dimensi spiritual dan etika kepedulian. Nilai-nilai mendalam yang mendasari pilihan untuk berbuat baik akan dirasakan baik di dalam maupun di luar organisasi”

Deborah McCray-Stewart, administrator layanan kesehatan koreksi di Penjara Negara Telfair di Helena, Georgia, menggambarkan bagaimana perawat dalam pengaturan perawatan kesehatan pemasyarakatan mengintegrasikan Teori Mobilisasi Birokrasi ke dalam kerangka praktik. Perawat di lembaga pemasyarakatan memiliki tanggung jawab merawat populasi khusus yang kompleks. Mereka harus memahami budaya, melihat narapidana sebagai manusia, dan memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, mendidik, dan merehabilitasi di bidang perawatan kesehatan ini. Efektivitasnya dihasilkan dari penggabungan dimensi sosiokultural, fisik, pendidikan, hukum, dan etika dari teori caring ke dalam praktik sehari-hari. Di bidang ekonomi dan politik sistem pemasyarakatan, perawat berjuang dengan masalah yang sama seperti perawat di sistem rumah sakit, seperti mengurangi biaya perawatan kesehatan sambil memberikan perawatan yang berkualitas. Strategi ekonomi termasuk melakukan pelayanan kesehatan di tingkat fasilitas dibandingkan dengan mengangkut pasien ke rumah sakit. Radiologi, laboratorium, dan telemedicine diperkenalkan ke dalam sistem yang membutuhkan perawat untuk bekerja di semua bidang. Pemerintah menyediakan konstitusi perawatan untuk populasi khusus iniRay telah membahas antarmuka budaya yang beragam dalam sistem perawatan kesehatan. Alat Peduli Komunikatif Transkultural memberikan pedoman untuk membantu perawat memahami kebutuhan, kesulitan, masalah, dan pertanyaan yang muncul dalam situasi perawatan kesehatan yang dinamis secara budaya. Dimensi alat ini adalah sebagai berikut :

1.      Kasih sayang

2.      Advokasi

3.      Rasa hormat

4.      Interaksi

5.      Negosiasi

6.      Bimbingan

3.1.4 Patricia Benner : From Novice to Expert :Excellence and Power in Clinical Nursing Practice

v  Background Teorist

Patricia Benner lahir di Hampton, Virginia, dan menghabiskan masa kecilnya di California, di mana dia menerima pendidikan awal dan profesionalnya. Mengambil jurusan keperawatan, ia memperoleh gelar sarjana seni dari Pasadena College pada tahun 1964. Pada tahun 1970, ia memperoleh gelar master dalam keperawatan, dengan penekanan utama dalam keperawatan medis-bedah, dari University of California, San Francisco (UCSF) Sekolah Keperawatan. PhD-nya dalam bidang stres, koping, dan kesehatan dianugerahkan pada tahun 1982 di Universitas California, Berkeley, dan disertasinya diterbitkan pada tahun 1984 (Benner, 1984b). Benner memiliki berbagai pengalaman klinis, termasuk posisi dalam bedah medis akut, perawatan kritis, dan perawatan kesehatan di rumah. Benner memiliki latar belakang yang kaya dalam penelitian dan memulai bagian karirnya pada tahun 1970 sebagai peneliti perawat pascasarjana di School of Keperawatan di UCSF. Setelah menyelesaikan gelar doktornya pada tahun 1982, Benner mencapai posisi profesor di Departemen Keperawatan Fisiologis di UCSF dan profesor tetap pada tahun 1989. Pada tahun 2002, ia pindah ke Departemen Ilmu Sosial dan Perilaku di UCSF, di mana ia adalah yang pertama penghuni Kursi Thelma Shobe Cook yang Diberkahi dalam Etika dan Spiritualitas. Dia mengajar di tingkat doktoral dan master dan bertugas di tiga hingga empat komite disertasi per tahun. Benner pensiun dari mengajar penuh waktu pada tahun 2008 sebagai profesor emerita dari UCSF, tetapi terus terlibat dalam presentasi dan konsultasi, serta proyek penulisan dan penelitian. Dia saat ini adalah Profesor Tamu Terhormat di Sekolah Keperawatan Universitas Seattle, membantu mereka dengan transformasi kurikulum sarjana dan pascasarjana mereka.

Benner telah menerbitkan secara ekstensif dan telah menjadi penerima berbagai penghargaan dan penghargaan, yang terbaru adalah induksi ke dalam Perhimpunan Keperawatan Denmark sebagai Anggota Kehormatan, dan penghargaan Penulis Buku Internasional Sigma Theta Tau dibagikan dengan rekan editornya untuk Fenomenologi Interpretif. dalam Penelitian Perawatan Kesehatan. Dia dihormati dengan 1984, 1989, 1996, dan 1999 American Journal of Nursing Book of the Year penghargaan untuk Dari Novice to Expert: Excellence and Power in Clinical Nursing Practice, The Primacy of Caring: Stress and Coping in Health and Illness, Expertise in Praktik Keperawatan: Perawatan, Penilaian Klinis, dan Etika, dan Kebijaksanaan Klinis dan Intervensi dalam Perawatan Kritis: Pendekatan Berpikir-dalam-Aksi, masing-masing. The Crisis of Care: Affirming and Restoring Caring Practices in the Helping Professions, diedit oleh Susan S. Phillips dan Patricia Benner, terpilih untuk daftar PILIHAN Buku Akademik Luar Biasa untuk tahun 1995. Buku-buku Benner telah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa juga seperti beberapa artikelnya. Benner menerima penghargaan CD-ROM media American Journal of Nursing tahun ini untuk Clinical Wisdom and Interventions in Critical Care: A Thinking-in-Action Approach.

Pada tahun 2002, The Institute for Nursing Healthcare Leader-ship memperingati dampak dari buku pentingFrom Novice to Expert (1984a) dengan penghargaan yang mengakui 20 tahun mengumpulkan dan memperluas kebijaksanaan klinis, pembelajaran berdasarkan pengalaman, dan praktik perawatan, serta perayaan di konferensi “Memetakan Kursus: Kekuatan Perawat Ahli untuk Menentukan Masa Depan.” Benner menerima Penghargaan Semangat Perintis Perawat Perawatan Kritis Asosiasi Amerika pada Mei 2004 untuk karyanya dalam perolehan keterampilan dan mengartikulasikan pengetahuan keperawatan dalam perawatan kritis. Pada tahun 2007, dia terpilih untuk UCSF School of Nursing's Centennial Wall of Fame dan menjadi profesor tamu di University of Pennsylvania School of Nursing pada tahun 2009. Bersama dengan suami dan rekannya, Richard Benner, Patricia Benner berkonsultasi di seluruh dunia mengenai klinis model pengembangan praktek (CPDMs) (Benner & Benner, 1999). Benner diangkat sebagai Direktur Studi Pendidikan Keperawatan untuk Program Persiapan Profesi (PPP) Yayasan Carnegie pada Maret 2004. Buku yang diterbitkan dari The Carnegie Foundation for the Advancement of Teaching National Nursing Education Study, Educating Nurses: A Call for Radical Transformation dianugerahi American Journal of Nursing Book of the Year Award untuk 2010, dan Penghargaan Prosa untuk Penulisan Ilmiah. Studi nasional ini adalah studi tentang pendidikan profesional dan pergeseran dari profesionalisme teknis ke profesionalisme sipil. Pada tahun 2011, American Academy of Nursing menghormati Patricia Benner sebagai Legenda Hidup.(Alligood, 2013)

 

v  Sumber Teori

            Benner mengakui bahwa pemikirannya dalam keperawatan sangat dipengaruhi oleh Virginia Henderson. Benner mempelajari praktik keperawatan klinis dalam upaya untuk menemukan dan menggambarkan pengetahuan yang tertanam dalam praktik keperawatan. Dia berpendapat bahwa pengetahuan bertambah dari waktu ke waktu dalam disiplin praktik dan dikembangkan melalui pembelajaran pengalaman dan pemikiran yang terletak dan refleksi pada praktik dalam situasi praktik tertentu. Dia menyebut karya ini sebagai penelitian artikulasi, yang didefinisikan sebagai: "menggambarkan, mengilustrasikan, dan memberikan bahasa ke area kebijaksanaan praktis yang diterima begitu saja, pengetahuan terampil, dan gagasan praktik yang baik". Salah satu perbedaan filosofis pertama Benner adalah membedakan antara pengetahuan praktis dan teoritis. Dia menyatakan bahwa pengembangan pengetahuan dalam disiplin praktik “terdiri dari perluasan pengetahuan praktis (know-how) melalui penyelidikan ilmiah berbasis teori dan melalui pemetaan 'know-how' yang ada yang dikembangkan melalui pengalaman klinis dalam praktik disiplin itu”. Benner percaya bahwa perawat telah lalai dalam mendokumentasikan pembelajaran klinis mereka, dan "kurangnya pemetaan praktik dan pengamatan klinis kami menghilangkan keunikan dan kekayaan pengetahuan teori keperawatan yang tertanam dalam praktik klinis ahli". Dia telah berkontribusi pada deskripsi pengetahuan praktik keperawatan.

            Mengutip Kuhn (1970) dan Polanyi (1958), para filosof ilmu pengetahuan, Benner (1984a) menekankan perbedaan antara "mengetahui bagaimana", sebuah pengetahuan praktis yang mungkin menghindari formulasi abstrak yang tepat, dan "mengetahui itu," yang meminjamkan sendiri untuk penjelasan teoretis. Mengetahui itu adalah cara seorang individu mengetahui dengan membangun hubungan sebab akibat antara peristiwa. Situasi klinis selalu lebih bervariasi dan rumit daripada penjelasan teoritis; oleh karena itu, praktik klinis adalah bidang penyelidikan dan sumber pengembangan pengetahuan. Dengan mempelajari praktik, perawat dapat mengungkap pengetahuan baru. Perawat harus mengembangkan basis pengetahuan praktik (know-how), dan, melalui penyelidikan dan observasi, mulai mencatat dan mengembangkan know-how keahlian klinis. Idealnya, dialog praktik dan teori menciptakan kemungkinan baru. Teori berasal dari praktik, dan praktik diperluas oleh teori.

            Hubert Dreyfus memperkenalkan Benner ke phenomenol-ogy. Stuart Dreyfus, dalam riset operasi, dan HubertDreyfus, dalam bidang filsafat, keduanya profesor di Universitas California di Berkeley, mengembangkan Model Akuisisi Keterampilan Dreyfus (Dreyfus & Dreyfus, 1980; Dreyfus & Dreyfus, 1986), yang diterapkan Benner dalam karyanya, Dari Pemula hingga Ahli ( 1984a). Dia memuji beasiswa, pengajaran, dan rekan kerja Jane Rubin (1984) sebagai sumber inspirasi dan pengaruh, terutama dalam kaitannya dengan pekerjaan.benner mengadaptasi model Dreyfus untuk praktik keperawatan klinis. Saudara-saudara Dreyfus mengembangkan model akuisisi keterampilan dengan mempelajari kinerja master catur dan pilot dalam situasi darurat (Dreyfus & Dreyfus, 1980; Dreyfus & Dreyfus, 1986). Model Benner bersifat situasional dan menggambarkan lima tingkat perolehan dan pengembangan keterampilan: (1) pemula, (2) pemula tingkat lanjut, (3) kompeten, (4) mahir, dan (5) ahli. Model tersebut menyatakan bahwa perubahan dalam empat aspek kinerja terjadi dalam gerakan melalui tingkat perolehan keterampilan: (1) perpindahan dari ketergantungan pada prinsip dan aturan abstrak ke penggunaan masa lalu, pengalaman konkret, (2) pergeseran dari ketergantungan pada analitis, pemikiran berbasis aturan ke intuisi, (3) perubahan persepsi pelajar tentang situasi dari melihatnya sebagai kompilasi dari bit yang sama relevan untuk melihatnya sebagai keseluruhan yang semakin kompleks, di mana bagian-bagian tertentu berdiri keluar sebagai lebih atau kurang relevan, dan (4) bagian dari pengamat terpisah, berdiri di luar situasi, ke salah satu posisi keterlibatan, sepenuhnya terlibat dalam situasi

            Karena modelnya berdasarkan situasi dan bukan berdasarkan sifat, tingkat kinerja bukanlah karakteristik individu dari individu yang berkinerja, melainkan merupakan fungsi dari keakraban perawat dengan situasi tertentu dalam kombinasi dengannya. latar belakang pendidikan. Tingkat kinerja dapat ditentukan hanya dengan validasi konsensual dari hakim ahli dan dengan penilaian hasil situasi (Benner, 1984a). Dalam menerapkan model untuk keperawatan, Benner mencatat bahwa "perolehan keterampilan berbasis pengalaman lebih aman dan lebih cepat ketika bertumpu pada dasar pendidikan suara". Benner (1984a) mendefinisikan keterampilan dan praktek terampil berarti menerapkan intervensi keperawatan terampil dan keterampilan penilaian klinis dalam situasi klinis yang sebenarnya. Dalam hal ini tidak mengacu pada keterampilan psikomotor bebas konteks atau keterampilan lain yang memungkinkan yang dapat dibuktikan di luar konteks praktik keperawatan.

            Konsep bahwa pengalaman didefinisikan sebagai hasil ketika gagasan yang terbentuk sebelumnya ditantang, disempurnakan, atau disangkal dalam situasi aktual didasarkan pada karya Heidegger (1962) dan Gadamer (1970). Ketika perawat memperoleh pengalaman, pengetahuan klinis menjadi perpaduan antara pengetahuan praktis dan teoritis. Keahlian berkembang sebagai tes klinisi dan memodifikasi harapan berbasis prinsip dalam situasi aktual. Pengaruh Heidegger terbukti dalam hal ini dan dalam tulisan-tulisan Benner selanjutnya tentang keutamaan kepedulian. Benner membantah deskripsi Cartesian dualistik tentang pikiran-tubuh orang dan mendukung deskripsi fenomenologis Heidegger tentang orang sebagai makhluk yang menafsirkan diri yang ditentukan oleh keprihatinan, praktik, dan pengalaman hidup. Orang selalu berada, yaitu, mereka terlibat secara bermakna dalam konteks di mana mereka berada. Heidegger mengistilahkan pengetahuan praktis sebagai jenis mengetahui yang terjadi ketika seorang individu terlibat dalam situasi. Karena menjadi manusia, kita telah mewujudkan kecerdasan, artinya kita mengetahui sesuatu dengan berada dalam situasi. Ketika situasi yang akrab ditemui, ada pengakuan yang diwujudkan dari maknanya. Misalnya, setelah sebelumnya menyaksikan seseorang mengembangkan emboli paru, seorang perawat memperhatikan nuansa kualitatif dan memiliki kemampuan pengenalan untuk mengamatinya sebelum perawat yang belum pernah melihatnya. Benner dan Wrubel menyatakan, "Aktivitas terampil, yang dimungkinkan oleh kecerdasan tubuh kita, telah lama dianggap 'lebih rendah' ​​daripada intelektual, aktivitas reflektif" tetapi berpendapat bahwa kapasitas in-telelektual, reflektif bergantung pada pengetahuan yang diwujudkan. Pengetahuan yang diwujudkan dan makna keberadaan adalah premis untuk kapasitas untuk peduli; hal-hal penting dan "menyebabkan kita terlibat dan ditentukan oleh keprihatinan kita".

           

v  Asumsi Mayor, Konsep dan Hubungan

Benner menggabungkan asumsi berikut dalam penelitian artikulasinya yang sedang berlangsung:

·         Tidak ada data yang bebas interpretasi. Ini menghilangkan asumsi dari ilmu alam bahwa ada realitas independen yang maknanya dapat diwakili oleh istilah atau konsep abstrak.

·         Tidak ada data nonreaktif. Ini meninggalkan kepercayaan salah dari ilmu alam bahwa seseorang dapat mengamati data kasar secara netral.

·         Makna tertanam dalam keterampilan, praktik, niat, harapan, dan hasil. Mereka diterima begitu saja dan seringkali tidak diakui sebagai pengetahuan. Menurut Polanyi (1958), sebuah konteks memiliki makna eksistensial, dan ini membedakannya dari “makna denotatif atau, lebih umum, makna representatif”. Dia mengklaim bahwa mengubah keseluruhan yang signifikan dalam hal bagian-bagian penyusunnya menghilangkan tujuan atau makna apa pun.

·         Orang-orang yang memiliki sejarah budaya dan bahasa yang sama memiliki latar belakang makna yang sama yang memungkinkan pemahaman dan interpretasi.

·         Makna yang tertanam dalam keterampilan, praktik, niat, harapan, dan hasil tidak dapat dibuat sepenuhnya eksplisit; namun, mereka dapat ditafsirkan oleh seseorang yang memiliki bahasa dan latar belakang budaya yang sama dan dapat divalidasi secara konsensual oleh peserta dan praktisi terkait. Manusia menafsirkan diri sendiri makhluk.

·         Manusia adalah makhluk holistik yang terintegrasi. Pemisahan pikiran-tubuh ditinggalkan. Kecerdasan yang diwujudkan memungkinkan aktivitas terampil yang ditransformasikan melalui pengalaman dan penguasaan.

Konsep Utama Patricia Patricia Benner diadaptasi dari “Model Dreyfus” yang dikemukakan oleh Hubert Dreyfus dan Stuart Dreyfus. Teori From Novice to Expert menjelaskan 5 tingkat/tahap akuisisi peran dan perkembangan profesi meliputi :

a.       Novice

Adalah perawat yang belum memiliki latar belakang pengalaman klinik. Level ini paling cocok disematkan kepada mahasiswa keperawatan yang akan memasuki dunia klinik, akan tetapi Patricia Benner menambahkan perawat senior yang masuk ke lingkungan/setting yang sama sekali baru baru juga dikategorikan ke dalam level ini. Perawat pada level pemula perlu untuk selalu diarahkan dan diberi petunjuk yang jelas (tidak konstektual, akan tetapi dapat langsung diinterpretasi secara tekstual).

b.      Advance Beginner

Pada level ini perawat telah memiliki pengalaman klinik dan mampu menangkap makna dari aspek-aspek dalam suatu situasi keperawatan. Pada tahap ini perawat masih memerlukan bimbingan dan arahan secara kontinyu karena belum mampu memandang situasi secara luas dan holistik. Perawat masih merasa bahwa situasi klinik dan berbagai kasus pasien adalah sebuah tantangan yang harus dilalui, dan belum memandang dari sisi kebutuhan pasien. Meskipun demikian mereka masih sangat membutuhkan bantuan dari senior. Level ini paling sesuai untuk fresh graduated Ners.

c.       Competent

Pada level ini perawat telah mampu memilah dan memilih aspek mana dari suatu situasi keperawatan yang benar-benar penting dan kurang perlu dipertimbangkan lebih lanjut. Kriteria utama dari level ini adalah perawat harus mampu membuat perencanaan dan memprediksi hal-hal apa yang mungkin terjadi selanjutnya. Keterbatasan dari level ini adalah perawat masih memandang suatu situasi pasien secara parsial sehingga tindakannya pun kurang dapat menyentuh setiap dimensi pasien sebagai individu yang holistik.

d.      Proficient

Pada level ini perawat dapat memandang situasi secara holistik, tidak hanya per aspek dari situasi tersebut. Perawat mampu bertindak bagi pasien tanpa terlebih dahulu melalui tahapan-tahapan penetapan tujuan dan penyusunan rencana tindakan. Pada level ini juga perawat telah lebih banyak berinteraksi dengan pasien dan keluarganya.

e.       Expert

Pada level ini perawat telah dapat menentukan inti masalah yang dialami oleh pasien dan segera mengetahui intervensi apa yang paling tepat diberikan tanpa harus melalui serangkaian tahap berpikir analitis. Secara intuitif perawat expert dapat menentukan masalah dan tindakan tanpa dibingungkan dengan berbagai alternatif. Pengalaman dan pengetahuan yg bersinergi dengan baik telah membentuk naluri dan intuisinya sehingga dapat memandang pasien secara keseluruhan dalam waktu yang singkat.

Menurut Benner, secara umum konsep teori keperawatan didasarkan atas etika keperawatan yang berhubungan dengan pasien secara keseluruhan yang disebut dengan pendekatan interpretative. Kekuatan utama dari keperawatan adalah jenis perawatan yang berhubungan dengan masalah mental pasien stres dan emosi serta praktik klinis.

 

v  Paradigma Keperawatan

Ø  Perawat

Keperawatan digambarkan sebagai hubungan peduli, "kondisi yang memungkinkan koneksi dan perhatian."Peduli adalah yang utama karena kepedulian mengatur kemungkinan memberi bantuan dan menerima bantuan" (Benner & Wrubel, 1989, hlm. 4). “Keperawatan dipandang sebagai praktik kepedulian yang ilmunya dipandu oleh seni moral dan etika kepedulian dan tanggung jawab”. memahami praktik keperawatan sebagai perawatan dan studi tentang pengalaman hidup sehat, sakit, dan penyakit dan hubungan di antara ketiga elemen ini

Ø  Individu

Benner dan Wrubel menggunakan deskripsi fenom-enologis Heidegger tentang orang, yang mereka gambarkan sebagai "Seseorang adalah makhluk yang menafsirkan diri sendiri, yaitu, orang tersebut tidak datang ke dunia yang telah ditentukan sebelumnya tetapi akan ditentukan dalam perjalanan menjalani kehidupan. Seseorang juga memiliki. . . pemahaman yang mudah dan tidak reflektif tentang diri di dunia”. “Orang tersebut dipandang sebagai partisipan dalam arti yang sama”.

Akhirnya, orang itu diwujudkan. Benner dan Wrubel mengkonseptualisasikan empat aspek utama pemahaman berikut yang harus dihadapi orang tersebut:

1.      Peran situasi

2.      Peran tubuh

3.      Peran keprihatinan pribadi

4.      Peran temporalitas

Bersama-sama, aspek-aspek pribadi ini membentuk pribadi di dunia. Pandangan orang ini didasarkan pada karya Heidegger (1962), Merleau-Ponty (1962), dan Dreyfus. Tujuan mereka adalah untuk mengatasi dualisme Cartesian, pandangan bahwa pikiran dan tubuh adalah entitas yang berbeda dan terpisah.

Benner dan Wrubel mendefinisikan perwujudan sebagai kapasitas tubuh untuk merespons situasi yang bermakna. Berdasarkan karya Merleau-Ponty (1962), Dreyfus (1979, 1991), dan Dreyfus dan Dreyfus (1986), mereka menguraikan lima dimensi tubuh berikut (Benner & Wrubel, 1989):

1.      Kompleks yang belum lahir, tubuh janin dan bayi yang baru lahir yang belum diakulturasi

2.      Tubuh terampil kebiasaan lengkap dengan postur, gerak tubuh, kebiasaan, dan keterampilan yang dipelajari secara sosial yang terbukti dalam keterampilan tubuh seperti persepsi indera dan "bahasa tubuh" yang "dipelajari dari waktu ke waktu melalui identifikasi, imitasi, dan coba-coba"

3.      Tubuh proyektif yang diatur (predisposisi) untuk bertindak dalam situasi tertentu

4.      Tubuh aktual yang diproyeksikan menunjukkan orientasi atau proyeksi tubuh individu saat ini dalam situasi yang fleksibel dan bervariasi agar sesuai dengan situasi, seperti ketika seseorang terampil dalam menggunakan computer

5.      Tubuh fenomenal, tubuh yang menyadari dirinya sendiri dengan kemampuan untuk membayangkan dan menggambarkan sensasi kinestetikBenner dan Wrubell menunjukkan bahwa perawat memperhatikan semua dimensi tubuh ini dan berusaha memahami peran perwujudan dalam situasi kesehatan tertentu. , penyakit, dan pemulihan.

Ø  Kesehatan

Atas dasar karya Heidegger (1962) dan Merleau-Ponty (1962), Benner dan Wrubel fokus "pada pengalaman hidup menjadi sehat dan sakit" (1989, hal. 7). Kesehatan didefinisikan sebagai apa yang dapat dinilai, sedangkan kesejahteraan adalah pengalaman manusia akan kesehatan atau keutuhan. Kesejahteraan dan sakit dipahami sebagai cara berbeda untuk berada di dunia. Kesehatan digambarkan bukan hanya tidak adanya penyakit dan penyakit. Juga, berdasarkan karya Kleinman, Eisenberg, dan Good (1978), seseorang mungkin memiliki penyakit dan tidak mengalami penyakit, karena penyakit adalah pengalaman manusia kehilangan atau disfungsi, sedangkan penyakit adalah apa yang dapat -dinilai pada tingkat fisik.

Ø  Situasi

Benner dan Wrubel (1989) menggunakan istilah situasi daripada lingkungan, karena situasi menyampaikan lingkungan sosial dengan definisi sosial dan kebermaknaan. Mereka menggunakan istilah fenomenologis be-ing terletak dan makna terletak, yang didefinisikan oleh interaksi orang yang terlibat, interpretasi, dan pemahaman situasi. "Penafsiran pribadi dari situasi dibatasi oleh cara individu berada di dalamnya". Ini berarti bahwa masa lalu, masa kini, dan masa depan setiap orang, yang mencakup makna, kebiasaan, dan perspektif pribadinya, memengaruhi situasi saat ini.

v  Penerapan

Benner menjelaskan praktik keperawatan klinis dengan menggunakan pendekatan fenomenologis interpretatif. From Novice to Expert mencantumkan beberapa contoh penerapan karyanya dalam setting praktek sebagai berikut: Dolan (1984) menjelaskan kegunaannya untuk pengembangan preceptor, program orientasi, dan pengembangan karir; Huntsman, Lederer, dan Peterman merinci implementasi tangga klinis mereka untuk mengenali dan mempertahankan staf perawat yang berpengalaman; Ullery (1984) menyajikan kegunaannya untuk melakukan simposium keunggulan tahunan di mana perawat menyajikan narasi klinis mereka untuk mengenali dan mengembangkan lebih lanjut pengetahuan klinis; dan melaporkan penggunaan pendekatan Benner dalam studi etnografi kinerja perawat-spesialis klinis.

Balasco dan Black menggunakan karya Benner sebagai dasar untuk membedakan pengembangan pengetahuan klinis dan kemajuan karir dalam keperawatan. Neverveld (1990) menggunakan alasan dan format Benner dalam pengembangan lokakarya pembimbing dasar dan lanjutannya. Farrell dan Bramadat (1990) menggunakan analisis kasus paradigma Benner dalam proyek pendidikan kolaboratif antara sekolah keperawatan universitas dan rumah sakit pendidikan perawatan tersier untuk lebih memahami pengembangan keterampilan penalaran klinis dalam situasi praktik yang sebenarnya. Crissman dan Jelsma (1990) menerapkan temuan Benner dalam mengembangkan program pelatihan silang untuk mengatasi ketidakseimbangan staf. Mereka menggambarkan tujuan kinerja lintas pelatihan khusus untuk perawat pemula, tetapi juga memberikan dukungan untuk penilaian pengalaman yang diperlukan untuk berfungsi dalam pengaturan yang tidak dikenal dengan menunjuk seorang pembimbing di area klinis. Tujuannya adalah agar pemula dapat tampil lebih seperti pemula tingkat lanjut, dengan perawat berpengalaman yang tersedia sebagai sumber daya.

3.1.5 Karl Martinsen : Philosophy of Caring

v  Background Teorist

Kari Marie Martinsen, seorang perawat dan filsuf, lahir di Oslo, Norwegia, pada tahun 1943, selama pendudukan Jerman di Norwegia pada Perang Dunia II. Orang tuanya terlibat dalam Gerakan Perlawanan. Setelah perang, diskusi moral dan sosial politik mendominasi kehidupan rumah tangga, rumah yang terdiri dari tiga generasi: adik perempuan, orang tua, dan nenek. Kedua orang tuanya adalah ekonom yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Oslo. Ibunya bekerja sepanjang kehidupan dewasanya di luar rumah

Setelah sekolah menengah, Martinsen memulai studinya di Kolese Keperawatan Ullevål di Oslo, lulus pada tahun 1964. Dia bekerja dalam praktik klinis di rumah sakit Ullevl selama 1 tahun, sambil melakukan studi persiapan untuk masuk universitas. Sebelum memulai gelar universitas, ia mengkhususkan diri sebagai perawat psikiatri pada tahun 1966 dan bekerja selama dua tahun di Rumah Sakit Jiwa Dikemark dekat Oslo.

Saat berpraktik sebagai perawat, ia menjadi prihatin tentang kesenjangan sosial pada umumnya dan dalam pelayanan kesehatan pada khususnya. Kesehatan, penyakit, perawatan, dan pengobatan jelas tidak merata. Dia juga menjadi terganggu atas perbedaan yang dirasakan antara teori perawatan kesehatan, cita-cita, dan tujuan di satu sisi, dan hasil praktis keperawatan, kedokteran, dan layanan kesehatan di sisi lain. Dia mulai mengajukan pertanyaan tentang bagaimana masyarakat dan profesi harus dibentuk untuk mendukung dan membantu orang sakit dan pengangguran. Satu pertanyaan yang sangat menyentuh adalah bagaimana profesi keperawatan harus beroperasi jika tidak ingin mengecewakan pasiennya yang paling lemah dan mereka yang paling membutuhkan perawatan. Pertanyaan lanjutan yang jelas adalah bagaimana perawat dapat merawat pasien ketika ilmu kedokteran pertama dan terutama berhubungan dengan penyakit pasien? Dengan kata lain, Martinsen ingin tahu bagaimana kita yang mewakili layanan kesehatan memberikan perawatan yang memadai untuk subjek perawatan kita, ketika kita begitu erat bersekutu dengan ilmu yang mengobjektifikasi pasien. Dia mengajukan pertanyaan tentang apakah objektifikasi yang sama akan meningkat dengan penekanan pada basis ilmiah untuk disiplin keperawatan.

Pertanyaan mendasar ini mendesak Martinsen untuk mengambil studi tambahan, kali ini untuk gelar sarjana psikologi di Universitas Oslo pada tahun 1968, dengan tujuan memperoleh gelar master dalam psikologi. Sebagai prasyarat, dia membutuhkan ujian menengah dalam fisiologi dan kredit gratis lainnya di tingkat menengah; di sini dia memilih filsafat. Perjumpaan dengan filsafat dan fenomenologi ini mengubah pemikirannya secara drastis. Dia menyadari bahwa filsafat daripada psikologi mungkin lebih baik menerangi pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang menjadi perhatiannya. Studi fenomenologi menariknya ke Universitas Bergen, kota terbesar kedua di Norwegia.

Dari tahun 1972 hingga 1974, ia menghadiri Departemen Filsafat di Universitas Bergen. Dalam karyanya untuk gelar sarjana dalam bidang filsafat (Magister artium), Martinsen secara filosofis bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah mengganggunya sebagai warga negara, seorang profesional, dan seorang pekerja perawatan kesehatan. disertasi

Filsafat dan Keperawatan: Sebuah Kontribusi Marxis dan Fenomena-logis (Martinsen, 1975) menciptakan perdebatan instan dan menerima banyak perhatian kritis. Disertasi mengarahkan pandangan kritis terhadap profesi keperawatan karena penolakannya untuk menganggap serius konsekuensi dari disiplin keperawatan yang secara tidak kritis mengadopsi karakteristik profesi, dan secara tidak kritis hanya merangkul dasar ilmiah untuk keperawatan. Perkembangan seperti itu mungkin berkontribusi untuk menjauhkan perawat dari pasien yang paling membutuhkannya. Disertasi ini, yang pertama ditulis oleh seorang perawat di Norwegia, menganalisis disiplin keperawatan dari perspektif filosofis dan sosial yang kritis.

Selama pertengahan 1970-an, Norwegia mengalami kekurangan guru keperawatan. Rektor dari tiga perguruan tinggi keperawatan di Bergen mengambil inisiatif untuk mendirikan kursus pelatihan guru keperawatan sementara untuk mengatasi masalah ini. Kursus ini didirikan bersama oleh University of Bergen, otoritas daerah, dan tiga perguruan tinggi keperawatan. Dibutuhkan seorang perawat dengan kualifikasi tingkat universitas untuk memimpin program ini. Martinsen diminta menjadi Dekan Fakultas Keperawatan di Bergen, yang diterimanya dari tahun 1976 hingga 1977.

Melalui studi filosofis dan masalah sosio-logis yang dia temui dalam keperawatan praktis dan pendidikan keperawatan, Martinsen mengembangkan minat dalam sejarah keperawatan. Bagaimana pendidikan perawat di Norwegia dimulai, siapa yang bertanggung jawab atas permulaannya, dan apa yang ingin mereka capai? Untuk melihat lebih dekat beberapa masalah ini, Martinsen melamar dan menerima hibah dari Asosiasi Perawat Norwegia pada tahun 1976. Dia berafiliasi dengan Departemen Kebersihan dan Kedokteran Sosial di Universitas Bergen, tempat dia mengajar kepada mahasiswa program pelatihan guru keperawatan dan juga mahasiswa kedokteran sosial.

Pada saat itu, perdebatan sengit tentang pendidikan keperawatan berkecamuk di Norwegia. Sebuah komisi publik mengusulkan retensi gelar tradisional 3 tahun tetapi akhirnya setuju untuk mengubahnya menjadi sistem kualifikasi berbasis tahap. Ini berarti bahwa setelah menyelesaikan 1 tahun, seorang siswa menjadi asisten perawat yang memenuhi syarat, dan setelah 2 tahun tambahan, seorang perawat yang memenuhi syarat. Ini menyiratkan akhir dari prinsip gelar 3 tahun yang komprehensif. Perawat di seluruh negeri, dengan Asosiasi Perawat Norwegia di garis depan, berbaris sebagai protes untuk menyelamatkan gelar keperawatan 3 tahun. Sisi dalam debat ini tetap ditentang secara kaku, dan nada wacana politik tentang masalah pendidikan keperawatan memanas. Martinsen melemparkan dirinya ke dalam perdebatan ini. Dia menyarankan agar pendidikan keperawatan diubah menjadi program 4 tahun, tetapi juga memberikan persetujuannya pada prinsip pendidikan berbasis tahap. Dia membuat sketsa model pendidikan di mana seseorang memenuhi syarat sebagai asisten perawatan setelah 2 tahun dan sebagai perawat setelah 4 tahun (Martinsen, 1976). Dengan gelar 3 tahun yang komprehensif sebagai tujuan yang ditetapkan untuk asosiasi keperawatan, sarannya dipandang sebagai provokasi.

Periode 1976-1986 dapat digambarkan sebagai fase sejarah dalam karya Martinsen (Kirkevold, 2000). Dia menerbitkan beberapa artikel sejarah (Martinsen, 1977, 1978, 1979a, 1979b). Kolaborator dekat selama fase ini adalah Anne Lise Seip, profesor sejarah sosial; Ida Blom, profesor sejarah feminis; dan Kari Wærness, profesor sosiologi. Pada tahun 1979, Martinsen dan Wærness menerbitkan sebuah buku dengan judul provokatif,Peduli Tanpa Peduli? (Martinsen & Wærness, 1979). Dalam buku ini, penulis mengajukan pertanyaan penting:

·         Apakah perawat "bergerak menjauh" dari ranjang sakit?

·         Apakah merawat orang sakit dan lemah menghilang dengan munculnya perawatan dan pengobatan yang semakin teknis?

·         Apakah perawat menjadi administrator dan peneliti yang semakin melepaskan pelaksanaan konkret perawatan untuk kelompok pekerjaan lain?

Membantu orang yang sakit dan bergantung pada perawatan dianggap sebagai pekerjaan perempuan, dan pandangan ini memiliki akar sejarah yang panjang. Namun, keberadaan perawat terlatih secara profesional tidak terlalu tua di Norwegia, yang berasal dari akhir 1800-an. Para diaken (para suster awam Kristen), yang dididik di berbagai rumah diakon di Jerman, adalah petugas kesehatan terlatih pertama di Norwegia. Martinsen menggambarkan bagaimana perawat terlatih pertama ini membangun pendidikan keperawatan di Norwegia, dan bagaimana mereka mengembangkan dan menulis buku teks dan mempraktikkan keperawatan baik di institusi maupun di rumah. Mereka adalah pelopor sistem kesehatan masyarakat Norwegia. Periode pionir ini dijelaskan oleh Martinsen dalam bukunya, History of Nursing: Frank and Engaged Deaconesses: A Caring Profession Emerges 1860-1905 (Martinsen, 1984). Berdasarkan karya ini, Martinsen memperoleh gelar doktor filsafat dari Universitas Bergen pada tahun 1984.

Dalam sebuah antologi Denmark yang diterbitkan pada tahun 1990, dia menyumbangkan makalah berjudul "Praktek Moral dan Dokumentasi dalam Keperawatan Praktis." Di sini dia menulis:

Praktik moral didasarkan pada kepedulian. Caring tidak hanya membentuk dasar nilai keperawatan; itu adalah prasyarat mendasar dari kehidupan kita. . . Kebijaksanaan menuntut keterlibatan emosional dan kapasitas untuk analisis situasi untuk menilai alternatif tindakan. . Mempelajari praktik moral dalam keperawatan adalah mempelajari bagaimana moral dibentuk dalam situasi konkret. Hal ini diperhitungkan melalui objektivitas pengalaman atau melalui kebijaksanaan, dalam tindakan atau dalam ucapan. Dalam kedua kasus, mempelajari keperawatan yang baik adalah esensinya

Pada tahun 1990, Martinsen pindah ke Denmark untuk jangka waktu 5 tahun. Dia dipekerjakan di Universitas rhus untuk mendirikan program gelar master dan PhD dalam keperawatan. Sementara Martinsen tinggal dan bekerja di Denmark, dia bertemu dengan Patricia Benner pada beberapa kesempatan untuk dialog publik di Norwegia dan Denmark, dan lagi pada tahun 1996 di California. Salah satu dialog tersebut kemudian diterbitkan dengan judul, “Etika dan Panggilan, Budaya dan Tubuh” (Martinsen, 1997b); itu terjadi di sebuah konferensi di Universitas Troms.

Martinsen juga melakukan dialog penting dengan Katie Eriksson, profesor keperawatan Finlandia. Mereka bertemu di Norwegia, Denmark, Swedia, dan Finlandia. Pada awalnya, diskusi mereka tegang dan tegang, tetapi seiring waktu, mereka berkembang menjadi percakapan yang bermanfaat dan mencerahkan yang kemudian diterbitkan sebagai Phenomenology and Caring: Three Dialogues (Martinsen, 1996). Bab pertama Martinsen dalam buku ini berjudul "Perawatan dan Metafisika—Apakah Ilmu Keperawatan Punya Ruang untuk Ini?" yang kedua, "Tubuh dan Roh dalam Keperawatan Praktis," dan yang ketiga, "Fenomenologi Penciptaan—Etika dan Kekuasaan: Filsafat Agama Løgstrup Memenuhi Praktik Keperawatan." Judul-judul ini menggunakan bahasa yang mengesankan, mirip dengan dialog yang dilakukan Martinsen dengan Benner; dalam kata pengantar bukunya, dia menjelaskan:

 

v  Sumber Teori

Apa latar belakang teoritis Martinsen? Dalam analisisnya tentang profesi keperawatan di awal 1970-an, Martinsen melihat ke tiga filsuf khususnya: filsuf Jerman, politisi, dan ahli teori sosial Karl Marx (1818 hingga 1883); Filsuf Jerman dan pendiri fenomenologi Edmund Husserl (1859 hingga 1938); dan filsuf Perancis dan fenomenolog tubuh Merleau-Ponty (1908-1961). Kemudian, ia memperluas sumber teoretisnya untuk memasukkan filsuf, teolog, dan sosiolog lain.

·         Karl Marx: Analisis Kritis—Praktik Transformatif

Filsafat Marxis memberi Martinsen beberapa alat analisis untuk menggambarkan realitas disiplin keperawatan dan krisis sosial yang dialaminya. Krisis terdiri dari kegagalan disiplin untuk memeriksa dan mengenali sifatnya sebagai terfragmentasi, terspesialisasi, dan menghitung secara teknis. Dia menemukan bahwa disiplin adalah bagian dari positivisme dan sistem kapitalis, tanpa praksis pembebasan. Aturan “hukum perawatan terbalik” sedemikian rupa sehingga mereka yang paling membutuhkan perawatan menerima paling sedikit. Karl Marx mengkritik individualisme dan pemuasan kebutuhan si kaya dengan mengorbankan si miskin. Pandangan Martinsen adalah itupenting untuk mengungkap fenomena ini ketika terjadi dalam pelayanan kesehatan. Paparan realitas ini dapat menjadi kekuatan untuk perubahan. Dia berpendapat bahwa kita harus mempertanyakan sifat keperawatan, isi dan struktur dalamnya, asal-usul sejarah, dan asal-usul profesi. Pertanyaan ini menghasilkan praktik keperawatan kritis karena praktisi memandang pekerjaan dan profesinya dalam konteks sejarah dan sosial. Kepentingan historis Martinsen memiliki niat kritis dan transformative

·         Edmund Husserl: Fenomenologi sebagai Sikap Alami

Fenomenologi Edmund Husserl penting untuk kritik Martinsen terhadap sains dan positivisme. Pandangan positivisme tentang diri terletak pada sikap objektifikasi dan sikap yang tidak manusiawi dan penuh perhitungan terhadap orang tersebut. Husserl memandang fenomenologi sebagai ilmu yang ketat. Proses metodologis fenomenologi yang ketat menghasilkan sikap refleksi yang tersusun atas realitas ilmiah kita, sehingga kita dapat mengungkap struktur dan konteks di mana kita sebaliknya melakukan pekerjaan yang diterima begitu saja dan tidak disadari. Praktik ini adalah tentang membuat masalah yang diterima begitu saja. Dengan mempermasalahkan pemahaman diri yang diterima begitu saja, kita menemukan peluang untuk memahami "sesuatu itu sendiri", yang akan selalu mengungkapkan dirinya secara perspektif. Fenomenologi bekerja dengan prasains, apa yang kita temui dalam sikap alami, ketika kita diarahkan pada sesuatu dengan maksud untuk mengenali dan memahaminya secara bermakna. Fenomenologi menekankan pada konteks, keutuhan, keterlibatan, keterlibatan, tubuh, dan kehidupan yang dijalani. Kita hidup dalam konteks, dalam ruang dan waktu, dan kita hidup secara historis. Tubuh tidak dapat dibagi menjadi tubuh dan jiwa; itu adalah keutuhan yang berhubungan dengan tubuh lain, dengan hal-hal di dunia, dan dengan alam.

·         Merleau-Ponty: Tubuh sebagai Sikap Alami

Maurice Merleau-Ponty (1908 hingga 1961) dibangun di atas pemikiran Husserl, tetapi lebih berfokus daripada pemikir lain pada tubuh manusia di dunia. Baik Husserl maupun Merleau-Ponty mengkritik Descartes (1596 hingga 1650), yang memisahkan pribadi dari dunia di mana seseorang hidup dengan orang lain. Tubuh mewakili sikap alami di dunia. Profesi keperawatan berhubungan dengan tubuh dalam semua aspeknya. Kita menggunakan tubuh kita sendiri dalam melakukan perawatan, dan kita berhubungan dengan tubuh lain yang membutuhkan perawatan, pengobatan, dan perawatan. Tubuh kita dan pasien kita mengekspresikan diri melalui tindakan, sikap, kata-kata, nada suara, dan gerak tubuh. Fenomenologi melibatkan tindakan interpretasi, deskripsi, dan pengakuankehidupan, kehidupan sehari-hari dimana orang hidup bersama dengan orang lain dalam dunia alami bersama, termasuk konteks profesional di mana kepedulian dilakukan. Martin Heidegger: Wujud Eksistensial sebagai Peduli

Martin Heidegger (1889-1976) adalah seorang ahli fenomenologi Jerman dan mahasiswa Husserl, antara lain. Dia menyelidiki keberadaan eksistensial, yaitu, apa yang ada dan bagaimana adanya. Martinsen menghubungkan konsep caring dengan Heidegger karena dia “memiliki caring sebagai konsep sentral dalam pemikirannya. . . . Intinya adalah mencoba untuk mendapatkan kualitas dasar dari kepedulian, atau apa itu kepedulian dan meliputinya” (Martinsen, 1989c, hlm. 68). Dia melanjutkan: “Analisis tentang kehidupan praktis kita dan analisis tentang apa itu kepedulian, tidak dapat dipisahkan. Untuk menyelidiki-gerbang yang satu sekaligus menyelidiki yang lain. Bersama-sama, mereka membentuk satu kesatuan yang tak terpisahkan. Peduli adalah konsep mendasar dalam memahami orang” (Martinsen, 1989c, hal. 69). Dengan fenomenologi dan Heidegger sebagai latar belakang, Martinsen memberikan konten dan substansi untuk peduli: kepedulian akan selalu memiliki setidaknya dua bagian sebagai prasyarat. Yang satu prihatin dan cemas terhadap yang lain. Peduli melibatkan bagaimana kita berhubungan satu sama lain, dan bagaimana kita menunjukkan kepedulian satu sama lain dalam kehidupan kita sehari-hari. Peduli adalah aspek yang paling alami dan paling mendasar dari keberadaan manusia.

Seperti disebutkan sebelumnya, Martinsen merevisi perspektifnya tentang Heidegger (Martinsen, 1993b). Pada saat yang sama, dia tidak menolak "pemikiran asli dan akut Heidegger" (Martinsen, 1993b, hal. 17). Dia kembali ke Heidegger ketika dia menjelaskan apa artinya berdiam. Heidegger telah meneliti dengan tepat konsep bahwa berdiam adalah selalu hidup di antara benda-benda (Martinsen, 2001). Di sini kita dapat mencatat Heidegger memperkuat ide yang juga dipertahankan oleh Merleau-Ponty: hal-hal yang mengelilingi diri kita bukan hanya hal-hal bagi kita, secara objektif, tetapi mereka benar-benar berpartisipasi dalam membentuk hidup kita. Kita meninggalkan sesuatu dari diri kita sendiri di dalam hal-hal ini ketika kita berdiam di tengah-tengahnya. Ini adalah tubuh yang berdiam, dikelilingi oleh lingkungan.

 

v  Asumsi Mayor, Konsep dan Hubungan

Martinsen enggan memberikan definisi istilah, karena definisi cenderung menutup konsep. Sebaliknya, dia berpendapat, konten konsep harus disajikan. Penting untuk membatasi konten yang bermakna dari suatu istilah, menjelaskan apa arti istilah tersebut, tetapi menghindari istilah yang terkunci dalam definisi.

·         Care

Perawatan “tidak hanya membentuk dasar nilai keperawatan, tetapi merupakan prasyarat mendasar bagi kehidupan kita. Kepedulian adalah perkembangan positif seseorang melalui Kebaikan”. Peduli adalah trinitas: relasional, praktis, dan moral secara bersamaan. Kepedulian diarahkan ke luar terhadap situasi orang lain. Dalam konteks profesional, kepedulian membutuhkan pendidikan dan pelatihan. “Tanpa pengetahuan profesional, kepedulian terhadap pasien menjadi sentimentalitas belaka”. Dia jelas bahwa kelalaian perwalian dan sentimentalitas bukanlah ekspresi kepedulian.

·         Penilaian dan Kearifan Profesional

Kualitas ini terkait dengan beton. Melalui pelaksanaan penilaian profesional dalam konteks praktis dan hidup, kita mempelajari observasi klinis. Ini adalah "pelatihan tidak hanya untuk melihat, mendengarkan dan menyentuh secara klinis, tetapi untuk melihat, mendengarkan dan menyentuh secara klinis dengan cara yang baik". Pasien membuat kesan pada kami, kami tergerak secara fisik, dan kesan sensual. "Karena persepsi memiliki karakter analog, itu membangkitkan variasi dan konteks dalam situasi". Satu hal mengingatkan yang lain, dan ingatan ini menciptakan hubungan antara kesan dalam situasi, pengetahuan profesional, dan pengalaman sebelumnya. Kebijaksanaan mengungkapkan pengetahuan profesional melalui indera alami dan bahasa sehari-hari.

·         Praktik Moral Didasarkan pada Kepedulian

“Praktek moral adalah ketika empati dan refleksi bekerjabersama-sama sedemikian rupa sehingga kepedulian dapat diekspresikan dalam keperawatan”. Moralitas hadir dalam situasi konkrit dan harus dipertanggungjawabkan. Tindakan kita perlu dipertanggungjawabkan; mereka dipelajari dan dibenarkan melalui objektivitas empati, yang terdiri dari empati dan refleksi. Ini berarti secara konkret untuk menemukan cara terbaik untuk membantu orang lain, dan kondisi dasarnya adalah pengakuan dan empati. Ketulusan dan penilaian masuk ke dalam praktik moral.

·         Profesionalisme yang Berorientasi pada Pribadi

Profesionalisme yang berorientasi pada pribadi adalah “menuntut pengetahuan profesional yang memberikan pandangan pasien sebagai orang yang menderita, dan yang melindungi integritasnya. Ini menantang kompetensi profesional dan kemanusiaan dalam timbal balik yang baik hati, dikumpulkan dalam pengalaman dasar komunal tentang perlindungan dan perawatan untuk kehidupan . . . Itu menuntut keterlibatan dalam apa yang kita lakukan, sehingga seseorang ingin menginvestasikan sesuatu dari dirinya sendiri dalam pertemuan dengan yang lain, dan agar seseorang berkewajiban untuk melakukan yang terbaik bagi orang yang dia rawat, jaga atau rawat. Ini adalah tentang memiliki pemahaman tentang posisi seseorang dalam konteks kehidupan yang menuntut sesuatu dari kita, dan tentang menempatkan yang lain di pusat, tentang orientasi pertemuan kepedulian terhadap yang lain”.

·         Ungkapan Kehidupan Berdaulat

Ungkapan kehidupan berdaulat adalah fenomena yang menyertai Penciptaan itu sendiri. Mereka ada sebagai fenomena prabudaya di semua masyarakat; mereka hadir sebagai potensi. Mereka berada di luar kendali dan pengaruh manusia, dan karena itu berdaulat. Ungkapan kehidupan yang berdaulat adalah keterbukaan, belas kasihan, kepercayaan, harapan, dan cinta. Ini adalah fenomena yang diberikan kepada kita dengan cara yang sama seperti kita diberikan waktu, ruang, udara, air, dan makanan (Alvsvåg, 2003). Kecuali kita menerimanya, kehidupan akan hancur. Hidup adalah pemeliharaan diri melalui penerimaan. Tuturan hidup berdaulat merupakan prasyarat untuk peduli, sekaligus sebagai tindakan kepedulian merupakan kondisi yang diperlukan untuk terwujudnya tuturan hidup berdaulat dalam kehidupan konkret. Kita dapat bertindak sedemikian rupa sehingga keterbukaan, kepercayaan, harapan, belas kasihan, dan cinta diwujudkan melalui interaksi kita, atau kita dapat menutupnya. Tanpa kehadiran mereka dalam tindakan kita, kepedulian tidak dapat diwujudkan. Pada saat yang sama, tindakan kepedulian membuka jalan bagi terwujudnya ucapan kehidupan berdaulat dalam kehidupan pribadi dan profesional kita. Peduli dapat membawa pasien untuk mengalami makna cinta dan belas kasihan; Caring dapat menyalakan harapan atau memberikan rezeki, dan Caring dapat menjadi hal yang mengutamakan kepercayaan dan keterbukaan dalam hubungan dengan perawat. Dengan cara yang sama, kurangnya perhatian dapat menghalangi pengalaman belas kasih orang lain; dapat menimbulkan ketidakpercayaan dan sikap menahan diri terhadap pelayanan kesehatan.

·         Zona Tak Tersentuh

Istilah ini mengacu pada zona yang tidak boleh kita campuri dalam perjumpaan dengan yang lain dan perjumpaan dengan alam. Ini mengacu pada batas-batas yang harus kita hormati. Zona tak tersentuh menciptakan jarak perlindungan tertentu dalam hubungan; ia memastikan ketidakberpihakan dan menuntut argumentasi, teori, dan profesionalisme. Dalam caring, untouchable zone menyatu dengan lawannya, yaitu keterbukaan, di mana kedekatan, kerentanan, dan motif memiliki tempat yang tepat. Keterbukaan dan zona tak tersentuh merupakan kontradiksi pemersatu dalam kepedulian.

·         Mata Hati

Konsep ini berasal dari perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati. Hati mengatakan sesuatu tentang keberadaan manusia seutuhnya, tentang tersentuh atau tergerak oleh penderitaan orang lain dan situasi yang dialami orang lain. Dalam sensualitas dan persepsi, kita tergerak sebelum kita memahami, tetapi kita juga ditantang oleh renungan pemahaman. Melihat dan dilihat dengan mata hati merupakan bentuk perhatian partisipatif berdasarkan timbal balik yang menyatukan persepsi dan pemahaman, di mana pemahaman mata dipimpin oleh indera.

·         Mata yang Mendaftar

Mata yang mendaftar adalah mengobjektifikasi, dan perspektifnya adalah pengamat. Ini berkaitan dengan menemukan koneksi, sistematisasi, peringkat, klasifikasi, dan penempatan dalam suatu sistem. Mata pendaftaran mewakili aliansi antara ilmu pengetahuan alam modern, teknologi, dan industrialisasi. Jika seseorang sebagai pasien terpapar, atau jika seseorang sebagai pekerja profesional, tatapan ini secara sepihak, kasih sayang diangkat dari situasi, dan keinginan untuk hidup berkurang.

 

v  Paradigma Keperawatan

Ø  Perawat

Meskipun perawatan melampaui keperawatan, kepedulian adalah dasar untuk keperawatan dan pekerjaan lain yang bersifat peduli. Peduli melibatkan memiliki pertimbangan untuk, mengurus, dan peduli tentang yang lain. Kapankita berbicara tentang kepedulian, tiga hal harus hadir secara bersamaan; kita bisa menyebutnya "trinitas kepedulian": kepedulian harus relasional, praktis, dan moral

·         Relasional artinya kepedulian membutuhkan setidaknya dua orang. Martinsen menggambarkannya sebagai berikut:Yang satu memiliki kepedulian terhadap yang lain. Ketika yang satu menderita, yang lain akan “berduka” (dalam arti menderita bersama) dan menyediakan pengurangan rasa sakit. . . .

·         Peduli itu praktis. Ini tentang tindakan nyata dan praktis. Peduli dilatih dan dipelajari melalui praktiknya.

·         Peduli juga bersifat moral: “Jika kepedulian harus tulus, saya harus berhubungan dengan orang lain dari sikap (suasana hati, 'befindlichkeit') yang mengakui orang lain dalam situasinya. . . . [Kita tidak boleh] melebih-lebihkan atau meremehkan kemampuannya untuk membantu dirinya sendiri”.

Caring membutuhkan pemahaman yang benar tentang situasi, yang mengandaikan evaluasi yang baik dari tujuan yang melekat dalam situasi caring: “Melakukan keperawatan pada dasarnya diarahkan pada orang yang tidak mampu menolong diri sendiri, yang sakit dan membutuhkan perawatan. Untuk menghadapi orang sakit dengan perawatan melalui keperawatan melibatkan satu set prasyarat seperti pengetahuan, keterampilan, dan organisasi ". Kami membutuhkan pelatihan dalam semua jenis pekerjaan perawatan. Kita harus berlatih dan berefleksi sendiri dan bersama orang lain untuk mengembangkan penilaian profesional. Kepedulian dan penilaian profesional terintegrasi dalam keperawatan.

Ø  Individu

Ini adalah persekutuan tradisi yang membawa makna yang mengubah individu menjadi pribadi. Individu tersebut tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosial dan komunitas orang. Di satu sisi, ada kesejajaran antara pribadi dan tubuh. Sebagai tubuh kita berhubungan dengan diri kita sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia. Tubuh adalah satu kesatuan jiwa dan daging, atau roh dan daging. Orang itu adalah tubuh, dan sebagai tubuh kita merasakan dan memahami.

Ø  Kesehatan

Kesehatan dibahas dari perspektif sosiohistoris. Dua cita-cita kesehatan historis yang bersaing, Yunani klasik dan modern tentang intervensi dan ekspansi, membentuk latar belakang ketika Martinsen menulis: “Kesehatan tidak hanya mencerminkan kondisi organisme, tetapi juga merupakan ekspresi dari tingkat kompetensi saat ini. dalam kedokteran. Singkatnya, kecenderungan konsep kesehatan modern sedemikian rupa sehingga jika seseorang memiliki 'cacat' yang tidak perlu atau organ yang 'bisa' lebih baik, ia tidak sepenuhnya sehat” (Martinsen, 1989c, hlm. 146). Cita-cita kesehatan reduksionis modern di mana pengobatan modern dibangun adalah analitis dan individualistis; itu berorientasi pada semua yang tidak "cukup baik." Dikombinasikan dengan otonomi dan sumber daya obat-obatan, itu telah menghasilkan keberhasilan dalam hal pengobatan. Martinsen prihatin dengan poin bahwa ideologi ini tidak tahan terhadap pemeriksaan kritis. Efek obat yang terkadang merusak dan layanan yang tidak memadai bagi orang-orang dengan penyakit kronis dan penyakit membawa Martinsen beralih ke ideal kesehatan klasik yang konservatif. Yang penting adalah menyembuhkan kadang-kadang, sering membantu, dan selalu menghibur. Hal ini menuntut masyarakat untuk menawarkan kepada orang-orang kesempatan untuk menjalani kehidupan sebaik mungkin dan individu untuk hidup dengan bijaksana; kedua persyaratan memiliki implikasi lingkungan. Kita tidak boleh mengubah lingkungan dengan kecepatan dan sedemikian rupa sehingga perubahan tersebut melebihi basis pengetahuan kita; pengekangan dan kehati-hatian diperlukan

Ø  Lingkungan : Ruang dan Situasi

Orang tersebut selalu berada dalam situasi tertentu dalam ruang tertentu. Dalam ruang ditemukan waktu, suasana, dan kekuatan. Martinsen bertanya apa pengaruh waktu, arsitektur, dan pengetahuan terhadap suasana ruang. Arsitektur, interaksi kita satu sama lain, penggunaan objek, kata-kata, pengetahuan, keberadaan kita di dalam ruangan—semuanya mengatur nada dan warna situasi dan ruang. Orang masuk ke dalam ruang universal, ruang alam, tetapi melalui hunian menciptakan ruang budaya. Kami membangun rumah dengan ruangan, dan kegiatan pelayanan kesehatan berlangsung di ruangan yang berbeda. “Ruang sakit penting sebagai tempat fisik, material dan konstruksi, tetapi juga tempat kita berbagi dengan orang lain. . . . Ruangan dengan interior dan objeknya membuat interpretasi pasien dan perawat terlihat”. Tantangan kami adalah memberikan pasien dan satu sama lain martabat di ruang ini. Apa yang dibutuhkan kemudian adalah pengetahuan yang disengaja yang dikumpulkan di ruang yang diperlambat dan disengaja, "ruang di mana untuk merasakan — mencium, mendengarkan, melihat, dan merawat"

v  Penerapan

Martinsen sendiri enggan memberikan arahan konkret untuk praktik keperawatan. Namun, dia merekomendasikan agar perawat "berpikir bersama" dan menilai apa yang dia tulis dan bicarakan dalam kehidupan mereka sendiri, praktik dan pengalaman mereka sendiri, dan, dengan latar belakang ini, bayangkan cara mereka sendiri untuk alternatif tindakan. Beginilah Kirkevold (1998) mengatakannya:

Teori asuhan Martinsen secara praktis relevan sebagai filosofi keperawatan yang menyeluruh/umum. Ini diartikulasikan dengan jelas dan mencakup formulasi yang tepat tentang bagaimana (seseorang harus) memahami dan mendekati pasien dan keperawatan. Kekuatannya adalah kemampuan untuk mempromosikan refleksi pada praktik keperawatan dalam konteks yang berbeda, dalam hal ini memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang penulis yakini harus ada sehingga keperawatan dapat dianggap sebagai praktik kepedulian atau moral.

3.1.6 Katie Eriksson : Theory of Caritative Caring

v  Background Teorist

Katie Eriksson adalah salah satu pelopor ilmu kepedulian di negara-negara Nordik. Ketika dia memulai karirnya 30 tahun yang lalu, dia harus membuka jalan untuk ilmu baru. Kami yang mengikuti karya dan kemajuannya di Finlandia telah memperhatikan kemampuannya sejak awal untuk merancang ilmu caring sebagai suatu disiplin, sambil menghidupkan substansi abstrak caring.

Eriksson lahir pada 18 November 1943, di Jakobstad, Finlandia. Dia termasuk minoritas Finlandia-Swedia di Finlandia, dan bahasa asalnya adalah Swedia. Dia adalah lulusan tahun 1965 dari Sekolah Keperawatan Swedia Helsinki, dan pada tahun 1967, dia menyelesaikan pendidikan khusus keperawatan kesehatan masyarakat di institusi yang sama. Ia lulus pada tahun 1970 dari program pendidikan guru keperawatan di Helsinki Finnish School of Nursing. Dia melanjutkan studi akademisnya di University of Helsinki, di mana dia menerima gelar MA dalam bidang filsafat pada tahun 1974 dan gelar sarjana pada tahun 1976; dia mempertahankan disertasi doktoralnya di bidang pedagogi (Proses Perawatan Pasien—Pendekatan pada Konstruksi Kurikulum dalam Pendidikan Keperawatan: Pengembangan Model Proses Perawatan Pasien dan Pendekatan Pengembangan Kurikulum Berdasarkan Proses Perawatan Pasien) pada tahun 1982. Pada tahun 1984, Eriksson ditunjuk sebagai Docent of Caring Science (paruh waktu) di University of Kuopio, dosen pertama dalam caring science di negara-negara Nordik. Dia diangkat sebagai Profesor Ilmu Kepedulian di Universitas bo Akademi pada tahun 1992. Antara tahun 1993 dan 1999, dia memegang jabatan guru besar dalam ilmu kepedulian di Universitas Helsinki, Fakultas Kedokteran, di mana dia menjadi dosen sejak 2001. Sejak tahun 1996, dia juga telah menjabat sebagai Direktur Keperawatan di Rumah Sakit Pusat Universitas Helsinki, dengan tanggung jawab untuk penelitian dan pengembangan ilmu keperawatan sehubungan dengan jabatan profesornya di Universitas bo Akademi.

 

Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, Eriksson bekerja di berbagai bidang praktik keperawatan dan melanjutkan studinya pada waktu yang sama. Bidang pekerjaan utamanya adalah mengajar dan penelitian. Sejak tahun 1970-an, Eriksson telah secara sistematis memperdalam pemikirannya tentang kepedulian, sebagian melalui pengembangan model ideal untuk kepedulian yang membentuk dasar bagi teori kepedulian karitatif, dan sebagian melalui pengembangan ilmu kepedulian yang otonom dan berorientasi humanistik. Eriksson, salah satu dari sedikit peneliti ilmu caring di negara-negara Nordik, mengembangkan teori caring dan merupakan pelopor penelitian dasar dalam ilmu caring.

Karir ilmiah dan pengalaman profesional Eriksson terdiri dari dua periode: tahun 1970 hingga 1986 di Helsinki Swedish School of Nursing, dan periode dari 1986, ketika ia mendirikan Departemen Ilmu Kepedulian di bo Akademi University, yang dipimpinnya sejak 1987.

Teori karitatif kepedulian Eriksson menjadi fokus yang lebih jelas secara internasional pada tahun 1997, ketika IAHC untuk pertama kalinya mengatur konferensinya di negara Eropa. Departemen Ilmu Kepedulian menjadi tuan rumah konferensi ini, yang diselenggarakan di Helsinki, Finlandia, dengan topik, “Kepedulian Manusia: Keutamaan Cinta dan Penderitaan Eksistensial.”

 

v  Sumber Teori

Sejak pertengahan 1970-an, pemikiran utama Eriksson tidak hanya mengembangkan substansi caring, tetapi juga mengembangkan ilmu caring sebagai disiplin mandiri (Eriksson, 1988). Sejak awal, Eriksson ingin kembali ke klasik Yunani karya Plato, Socrates, dan Aristoteles, yang darinya ia menemukan inspirasinya untuk pengembangan substansi dan disiplin ilmu kepedulian. Dari ide dasarnya tentang ilmu kepedulian sebagaiilmu humanistik, dia mengembangkan meta-teori yang dia sebut sebagai "teori ilmu untuk ilmu peduli".

Ketika mengembangkan ilmu kepedulian sebagai disiplin akademis, sumber inspirasi terpenting Eriksson selain Plato dan Aristoteles adalah teolog Swedia Anders Nygren (1972) dan Hans-Georg Gadamer (1960/1994). Nygren dan kemudian Tage Kurtén (1987) memberinya dukungan untuk pembagian ilmu caring menjadi ilmu caring yang sistematis dan klinis. Eriksson memperkenalkan konsep penelitian motif Nygren, konteks makna, dan motif dasar, yang memberikan struktur disiplin. Tujuan dari penelitian motif adalah untuk menemukan konteks esensial, gagasan utama tentang kepedulian. Ide penelitian motif yang diterapkan pada ilmu caring adalah untuk menunjukkan karakteristik caring (Eriksson, 1992c).

Motif dasar dalam merawat ilmu dan merawat Eriksson adalah caritas, yang merupakan gagasan utama dan menyatukan berbagai elemen. Ini memberikan substansi dan disiplin ilmu kepedulian karakter yang khas. Dalam perkembangan motif dasar, St. Augustine (1957) dan Søren Kierkegaard (1843/1943) menjadi sumber penting. Dalam perkembangan lebih lanjut dari disiplin, pemikiran Eriksson dipengaruhi oleh sumber-sumber seperti Thomas Kuhn (1971) dan Karl Popper (1997), dan kemudian oleh filsuf Amerika Susan Langer (1942) dan filsuf Finlandia Eino Kaila (1939) dan Georg von Wright (1986), yang semuanya mendukung gagasan sains manusia bahwa sains tidak dapat eksis tanpa nilai.

Dalam perumusannya tentang etika kepedulian berbasis caritas, yang menurut Eriksson sebagai etika ontologis, gagasan Emmanuel Lévinas (1988) bahwa etika mendahului ontologi telah menjadi prinsip panduan. Eriksson setuju terutama dengan pemikiran Lévinas bahwa panggilan untuk melayani mendahului dialog, bahwa etika selalu lebih penting dalam hubungan dengan manusia lain. Substansi dasar etika—caritas, cinta, dan amal—didukung lebih jauh oleh gagasan Aristoteles (1993), gagasan Nygren (1972), Kierkegaard (1843/1943), dan St. Augustine (1957). Dalam perumusan etika caritatif, Eriksson telah terinspirasi oleh ide-ide Kierkegaard tentang semangat terdalam manusia sebagai sintesis dari yang abadi dan temporal, dan bahwa bertindak secara etis adalah kehendak mutlak atau kehendak yang abadi. Dia menekankan pentingnya pengetahuan sejarah ide untuk pelestarian seluruh budaya spiritual dan menemukan dukungan untuk ini di Nikolaj Berdâev (1990), filsuf dan sejarawan Rusia. Dalam mengintensifkan konsepsi dasar manusia sebagai tubuh, jiwa, dan roh, Eriksson melakukan dialog menarik dengan beberapa teolog seperti Gustaf Wingren (1960/1996), Antonio Barbosa da Silva (1993), dan Tage Kurtén (1987), saat mengembangkan subdisiplin yang dia sebut sebagai teologi kepedulian. Mungkin ciri yang paling menonjol dari pemikiran Eriksson adalah perumusannya yang jelas tentang asumsi dasar ontologis, epistemologis, dan etis sehubungan dengan disiplin ilmu kepedulian.

v  Asumsi Mayor, Konsep dan Hubungan

Eriksson membedakan antara dua jenis asumsi utama: aksioma dan tesis. Dia menganggap aksioma sebagai kebenaran mendasar dalam kaitannya dengan konsepsi dunia; tesis adalah pernyataan mendasar tentang sifat umum ilmu kepedulian, dan validitasnya diuji melalui penelitian dasar. Aksioma dan tesis bersama-sama membentuk ontologi ilmu kepedulian dan karena itu juga merupakan dasar dari epistemol-oginya (Eriksson, 1988, 2001). Teori karitatif kepedulian didasarkan pada aksioma dan tesis berikut, sebagaimana dimodifikasi dan diklarifikasi dari asumsi dasar Eriksson dengan persetujuannya (Eriksson, 2002). Aksioma tersebut adalah sebagai berikut:

·         Manusia pada dasarnya adalah entitas tubuh, jiwa, dan roh.

·         Manusia pada dasarnya adalah makhluk religius.

·         Manusia pada dasarnya adalah suci. Martabat manusia berarti menerima kewajiban manusia untuk melayani dengan cinta, untuk ada demi orang lain.

·         Persekutuan adalah dasar bagi semua umat manusia. Manusia pada dasarnya saling terkait dengan sesuatu yang abstrak dan/atau konkret dalam suatu persekutuan.

·         Peduli pada dasarnya adalah sesuatu yang manusiawi, panggilan untuk melayani dalam kasih.

·         Penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Penderitaan dan kesehatan adalah prasyarat satu sama lain.

·         Kesehatan lebih dari tidak adanya penyakit. Kesehatan menyiratkan keutuhan dan kesucian.

·         Manusia hidup dalam realitas yang dicirikan oleh misteri, ketidakterbatasan, dan keabadian.

Konsep Utama Katie Eriksson : Theory of Caritative Caring

1.      Carita

Caritas berarti cinta dan kasih. Dalam caritas, eros dan agape dipersatukan, dan caritas pada dasarnya adalah cinta tanpa syarat. Caritas, yang merupakan motif dasar dari ilmu caring, juga merupakan motif untuk semua caring. Artinya, kepedulian adalah upaya memediasi iman, harapan, dan cinta melalui merawat, bermain, dan belajar.

2.      Komunitas Peduli

Persekutuan peduli merupakan konteks makna kepedulian dan merupakan struktur yang menentukan realitas kepedulian. Peduli mendapatkan karakter khasnya melalui persekutuan yang peduli (Eriksson, 1990). Ini adalah bentuk hubungan intim yang menjadi ciri kepedulian. Persekutuan yang peduli membutuhkan pertemuan dalam ruang dan waktu, kehadiran yang mutlak dan langgeng (Eriksson, 1992c). Persekutuan yang peduli dicirikan oleh intensitas dan vitalitas, dan oleh kehangatan, kedekatan, istirahat, rasa hormat, kejujuran, dan toleransi. Itu tidak dapat diterima begitu saja tetapi mengandaikan upaya sadar untuk bersama yang lain. Persekutuan peduli dipandang sebagai sumber kekuatan dan makna dalam kepedulian. Eriksson (1990) menulis dalam Pro Caritate, mengacu pada Lévinas:Masuk ke dalam persekutuan berarti menciptakan peluang bagi yang lain—untuk dapat melangkah keluar dari kandang identitasnya sendiri, keluar dari apa yang menjadi milik seseorang menuju apa yang bukan milik salah satunya dan tetap menjadi miliknya—itu adalah salah satu bentuk persekutuan terdalam.

Bergabung dalam persekutuan berarti menciptakan kemungkinan bagi yang lain. Lévinas menyarankan bahwa menganggap seseorang sebagai anak sendiri menyiratkan hubungan "di luar kemungkinan" (1985, hlm. 71; 1988). Dalam hubungan ini, individu merasakan kemungkinan orang lain seolah-olah itu miliknya sendiri. Ini membutuhkan kemampuan untuk bergerak menuju apa yang bukan lagi miliknya tetapi milik dirinya sendiri. Ini adalah salah satu bentuk persekutuan terdalam (Eriksson, 1992b). Persekutuan peduli adalah apa yang menyatukan dan mengikat bersama dan memberikan arti pentingnya (Eriksson, 1992a).

3.      Tindakan Peduli

Tindakan peduli mengandung unsur-unsur kepedulian (iman, harapan, cinta, merawat, bermain, dan belajar), melibatkan kategori ketakterhinggaan dan keabadian, dan mengajak pada persekutuan yang dalam. Tindakan peduli adalah seni membuat sesuatu yang sangat istimewa dari sesuatu yang kurang istimewa.

4.      Etika Peduli

KaritatifEtika caritative caring terdiri dari etika caring, yang intinya ditentukan oleh motif caritas. Eriksson membuat perbedaan antara etika caring dan etika keperawatan. Dia juga mendefinisikan dasar-dasar etika dalam perawatan dan substansi esensialnya. Etika Caring berkaitan dengan hubungan dasar antara pasien dan perawat—cara perawat bertemu dengan pasien dalam pengertian etis. Ini tentang pendekatan yang kita miliki terhadap pasien. Etika keperawatan berkaitan dengan prinsip dan aturan etika yang memandu pekerjaan saya atau keputusan saya. Etika Caring merupakan inti dari etika keperawatan. Landasan etika karitatif tidak hanya dapat ditemukan dalam sejarah, tetapi juga pada garis pemisah antara etika teologis dan etika manusia pada umumnya. Eriksson telah dipengaruhi oleh etika manusia Nygren (1966) dan "etika wajah" Lévinas (1988). Kepedulian etis adalah apa yang sebenarnya kami nyatakan melalui pendekatan kami dan hal-hal yang kami lakukan untuk pasien dalam praktik. Pendekatan yang didasarkan pada etika dalam perawatan berarti bahwa kita, tanpa prasangka, memandang manusia dengan hormat, dan bahwa kita menegaskan martabat mutlaknya. Itu juga berarti bahwa kita rela mengorbankan sesuatu dari diri kita sendiri. Kategori etika yang muncul sebagai dasar dalam etika caritative caring adalah martabat manusia, kebersamaan kepedulian, ajakan, tanggung jawab, kebaikan dan kejahatan, serta kebajikan dan kewajiban. Dalam tindakan etis, kebaikan dibawa keluar melalui tindakan etis (Eriksson, 1995, 2003).

5.      Harga diri

Martabat merupakan salah satu konsep dasar etika peduli karitatif. Martabat manusia sebagian adalah martabat mutlak, sebagian lagi martabat relatif. Martabat mutlak diberikan kepada manusia melalui penciptaan, sedangkan martabat relatif dipengaruhi dan dibentuk melalui budaya dan konteks eksternal. Martabat mutlak manusia melibatkan hak untuk dikukuhkan sebagai manusia yang unik

6.      Undangan

Undangan mengacu pada tindakan yang terjadi ketika pengasuh menyambut pasien ke dalam persekutuan yang penuh perhatian. Konsep undangan menemukan ruang untuk tempat di mana manusia diizinkan untuk beristirahat, tempat yang menghirup keramahan yang tulus, dan di mana permohonan pasien untuk amal bertemu dengan tanggapan

7.      Menderita

Penderitaan adalah konsep ontologis yang digambarkan sebagai perjuangan manusia antara yang baik dan yang jahat dalam keadaan menjadi. Penderitaan dalam arti tertentu menyiratkan kematianjauh dari sesuatu, dan melalui rekonsiliasi, keutuhan tubuh, jiwa, dan roh diciptakan kembali, ketika kesucian dan martabat manusia muncul. Penderitaan adalah pengalaman total yang unik dan terisolasi dan tidak identik dengan rasa sakit.

8.      Penderitaan Terkait dengan Penyakit, Perawatan, dan Kehidupan

Ini adalah tiga bentuk penderitaan yang berbeda. Penderitaan yang berhubungan dengan penyakit dialami sehubungan dengan penyakit dan pengobatan. Ketika pasien dihadapkan pada penderitaan yang disebabkan oleh perawatan atau tidak adanya perawatan, pasien mengalami penderitaan yang terkait dengan perawatan, yang selalu merupakan pelanggaran terhadap martabat pasien. Bukandianggap serius, tidak diterima, disalahkan, dan menjadi sasaran pelaksanaan kekuasaan adalah berbagai bentuk penderitaan yang berhubungan dengan perawatan. Dalam situasi menjadi pasien, seluruh hidup manusia dapat dialami sebagai penderitaan yang berhubungan dengan kehidupan.

9.      Manusia yang Menderita

Manusia yang menderita adalah konsep yang digunakan Eriksson untuk menggambarkan pasien. Pasien mengacu pada konsep patiens (Latin), yang berarti “penderitaan.” Pasien adalah manusia yang menderita, atau manusia yang menderita dan sabar menanggung.

10.  Rekonsiliasi

Rekonsiliasi mengacu pada drama penderitaan. Seorang manusia yang menderita ingin dikukuhkan dalam penderitaannya dan diberi waktu dan ruang untuk menderita dan mencapai rekonsiliasi. Rekonsiliasi menyiratkan suatu perubahan yang melaluinya suatu keutuhan baru terbentuk dari kehidupan manusia yang telah hilang dalam penderitaan. Dalam rekonsiliasi, pentingnya pengorbanan muncul (Eriksson, 1994a). Mencapai rekonsiliasi berarti hidup dengan ketidaksempurnaan sehubungan dengan diri sendiri dan orang lain tetapi melihat jalan ke depan dan makna dalam penderitaan seseorang. Rekonsiliasi adalah prasyarat caritas (Eriksson, 1990).

11.  Budaya Peduli

Budaya peduli adalah konsep yang Eriksson (1987a) gunakan daripada lingkungan. Ini mencirikan realitas kepedulian total dan didasarkan pada unsur-unsur budaya seperti tradisi, ritual, dan nilai-nilai dasar. Budaya peduli mentransmisikan tatanan dalam preferensi nilai atau etos, dan konstruksi budaya yang berbeda memiliki dasar dalam perubahan nilai yang dialami etos. Jika persekutuan muncul berdasarkan etos, budaya menjadi mengundang. Penghormatan terhadap manusia, martabat dan kesuciannya, membentuk tujuan persekutuan dan partisipasi dalam budaya peduli. Asal usul konsep budaya dapat ditemukan dalam dimensi-dimensi seperti penghormatan, pemeliharaan, penggarapan, dan kepedulian; dimensi ini merupakan inti dari motif dasar melestarikan dan mengembangkan budaya peduli

 

v  Paradigma Keperawatan

Ø  Perawat

Cinta dan amal, atau caritas, sebagai motif dasar kepedulian telah ditemukan di Eriksson sebagai ide utama bahkan dalam karya-karya awalnya.Motif caritas dapat ditelusuri melalui semantik, antropologi, dan sejarah gagasan. Sejarah gagasan menunjukkan bahwa dasar dari profesi pengasuhan selama berabad-abad telah menjadi kecenderungan untuk membantu dan melayani mereka yang menderita.

Caritas merupakan motif kepedulian, dan melalui motif caritas itulah caring mendapatkan rumusan terdalamnya. Motif ini, menurut Eriksson, juga merupakan inti dari semua pengajaran dan pembinaan pertumbuhan dalam segala bentuk hubungan manusia. Dalam caritas, dua bentuk dasar cinta—eros digabungkan. Ketika dua bentuk cinta digabungkan, kedermawanan menjadi sikap manusia terhadap kehidupan dan kegembiraan adalah bentuk ekspresinya. Motif caritas terlihat dalam sikap etis khusus dalam caring, atau yang disebut Eriksson sebagai pandangan caritative, yang ia rumuskan dan spesifikasikan dalam etika caritative caring (Eriksson, 1995). Caritas merupakan kekuatan batin yang berhubungan dengan misi peduli. Seorang penjaga memancarkan apa yang disebut Eriksson sebagai claritas, atau kekuatan dan cahaya keindahan.

Peduli adalah sesuatu yang alami dan asli. Eriksson berpikir bahwa substansi kepedulian hanya dapat dipahami dengan mencari asal-usulnya. Asal usul ini adalah asal mula konsep dan gagasan kepedulian alami. Dasar-dasar kepedulian alami dibentuk oleh gagasan keibuan, yang menyiratkan pembersihan dan nutrisi, dan cinta spontan dan tanpa syarat.

Kepedulian dasar alami diekspresikan melalui merawat, bermain, dan belajar dalam semangat cinta, iman, dan harapan. Ciri-ciri merawat adalah kehangatan, kedekatan, dan sentuhan; bermain adalah ekspresi dari latihan, pengujian, kreativitas, dan imajinasi, dan keinginan dan keinginan; pembelajaran ditujukan untuk pertumbuhan dan perubahan. Merawat, bermain, dan belajar menyiratkan berbagi, dan berbagi, Eriksson (1987a) mengatakan, adalah "kehadiran dengan manusia, kehidupan dan Tuhan" (hal. 38). Oleh karena itu, kepedulian sejati adalah “bukan suatu bentuk perilaku, bukan perasaan atau keadaan. Itu adalah untuk berada di sana—itulah caranya, semangat di mana hal itu dilakukan, dan semangat ini adalah karitatif” (Eriksson, 1998, hlm. 4). Eriksson mengemukakan bahwa kepedulian selama berabad-abad dapat dilihat sebagai berbagai ekspresi cinta dan amal, dengan tujuan untuk meringankan penderitaan dan melayani kehidupan dan kesehatan. Dalam teks-teksnya selanjutnya, dia menekankan bahwa kepedulian juga dapat dilihat sebagai pencarian kebenaran, kebaikan, keindahan, dan keabadian, dan untuk apa yang permanen dalam kepedulian, dan membuatnya terlihat atau nyata (Eriksson, 2002). Eriksson menekankan bahwa perawatan karitatif berhubungan dengan inti paling dalam dari keperawatan. Dia membedakan antara perawatan mobil dan asuhan keperawatan. Dia berarti bahwa asuhan keperawatan didasarkan pada proses asuhan keperawatan, dan itu mewakili perawatan yang baik hanya jika didasarkan pada inti terdalam dari perawatan. Keperawatan Caring merupakan jenis kepedulian tanpa prasangka yang menekankan pasien dan penderitaan dan keinginannya (Eriksson, 1994a).

Inti dari hubungan caring antara perawat dan pasien seperti yang dijelaskan oleh Eriksson (1993), adalah undangan terbuka yang berisi penegasan bahwa yang lain selalu diterima. Undangan terbuka yang konstan terlibat dalam apa yang Eriksson (2003) sebut sebagai tindakan kepedulian. Tindakan kepedulian mengungkapkan semangat terdalam dari kepedulian dan menciptakan kembali motif dasar cari-tas. Tindakan kepedulian mengungkapkan elemen suci terdalam, menjaga martabat individu pasien. Dalam tindakan kepedulian, pasien diundang untuk berbagi yang tulus, sebuah persekutuan, untuk membuat dasar-dasar kepedulian itu hidup dan aktif (Eriksson, 1987a) (yaitu, disesuaikan dengan pasien). Apropriasi memiliki konsekuensi entah bagaimana memulihkan manusia dan membuatnya lebih manusiawi sejati. Dalam pengertian ontologis, tujuan akhir dari kepedulian tidak hanya kesehatan; ia menjangkau lebih jauh dan mencakup kehidupan manusia secara keseluruhan. Karena misi manusia adalah untuk melayani, untuk eksis demi orang lain, tujuan akhir dari kepedulian adalah membawa manusia kembali ke misi ini.

Ø  Individu/Manusia

Konsepsi manusia dalam teori Eriksson didasarkan pada aksioma bahwa manusia adalah entitas dari tubuh, jiwa, dan roh. Ia menekankan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk religius, tetapi semua manusia belum mengenal dimensi ini. Manusia pada dasarnya suci, dan aksioma ini terkait dengan gagasan tentang martabat manusia, yang berarti menerima kewajiban manusia untuk melayani dengan cinta dan keberadaan demi orang lain. Eriksson menekankan perlunya memahami manusia dalam konteks ontologisnya. Manusia dilihat sebagai makhluk yang terus-menerus; ia terus-menerus dalam perubahan dan karena itu tidak pernah dalam keadaan penyelesaian penuh. Dia dipahami dalam kerangka kecenderungan ganda yang ada di dalam dirinya, terlibat dalam perjuangan yang berkelanjutan dan hidup dalam ketegangan antara ada dan tidak ada. Eriksson melihat kebebasan bersyarat manusia sebagai dimensi menjadi. Dia menghubungkan pemikirannya dengan ide-ide Kierkegaard (1843/1943) tentang pilihan dan keputusan bebas dalam berbagai tahap manusia — tahap estetika, etika, dan agama — dan dia berpikir bahwa kekuatan transendensi manusia adalah dasar dari kebebasan sejati. Kecenderungan ganda manusia juga muncul dalam usahanya untuk menjadi unik, sementara ia secara bersamaan mendambakan untuk menjadi bagian dari persekutuan yang lebih besar.

Manusia pada dasarnya bergantung pada persekutuan; dia bergantung pada yang lain, dan dalam hubungan antara yang lain yang konkret (manusia) dan yang lain yang abstrak (sesuatu bentuk Tuhan) manusia membentuk dirinya dan keberadaannya (Eriksson, 1987a). Manusia mencari persekutuan di mana ia dapat memberi dan menerima cinta, mengalami iman dan harapan, dan menyadari bahwa keberadaannya di sini dan sekarang memiliki makna. Menurut Eriksson, manusia yang kita temui dalam perawatan adalah kreatif dan imajinatif, memiliki keinginan dan keinginan, dan mampu mengalami fenomena; oleh karena itu, gambaran tentang manusia hanya dari segi kebutuhannya saja tidak cukup. Ketika manusia memasuki konteks kepedulian, dia menjadi pasien dalam pengertian asli dari konsep-manusia yang menderita. 

Ø  Kesehatan

Eriksson mempertimbangkan kesehatan dalam banyak tulisan sebelumnya sesuai dengan analisis konsep di mana ia mendefinisikan kesehatan sebagai kesehatan, kesegaran, dan kesejahteraan. Dimensi subjektif, atau kesejahteraan, sangat ditekankan (Eriksson, 1976). Dalam aksioma kesehatan saat ini, kesehatan menyiratkan menjadi utuh dalam tubuh, jiwa, dan roh. Kesehatan berarti sebagai konsep murni keutuhan dan kekudusan (Eriksson, 1984). Sesuai dengan pandangannya tentang manusia, Eriksson telah mengembangkan berbagai premis mengenai substansi dan hukum kesehatan, yang telah terangkum dalam model kesehatan ontologis. Dia melihat kesehatan sebagai gerakan dan integrasi. Premis kesehatan adalah gerakan yang terdiri dari berbagai premis parsial: kesehatan sebagai gerakan menyiratkan perubahan; seorang manusia sedang dibentuk atau dihancurkan, tetapi tidak pernah sepenuhnya; kesehatan adalah pergerakan antara aktual dan potensial; kesehatan adalah pergerakan dalam ruang dan waktu; kesehatan karena gerak bergantung pada kekuatan vital dan vitalitas tubuh, jiwa, dan roh; arah gerakan ini ditentukan oleh kebutuhan dan keinginan manusia; keinginan untuk menemukan makna, kehidupan, dan cinta merupakan sumber energi gerakan; dan kesehatan sebagai gerakan berusaha menuju realisasi potensi seseorang (Eriksson, 1984).

Dalam konsepsi ontologis, kesehatan dipahami sebagai menjadi, sebuah gerakan menuju keutuhan dan kekudusan yang lebih dalam. Ketika potensi kesehatan batin manusia disentuh, terjadilah gerakan yang menjadi terlihat dalam berbagai dimensi kesehatan sebagaimelakukan, menjadi, dan menjadi dengan keutuhan yang unik bagi. Dalam melakukan, pikiran orang tentang kesehatan difokuskan pada kebiasaan hidup sehat dan menghindari penyakit; dalam keberadaan, orang tersebut berusaha untuk keseimbangan dan harmoni; dalam menjadi, manusia menjadi utuh pada tingkat integrasi yang lebih dalam. 

Ø  Lingkungan

Eriksson menggunakan konsep etos sesuai dengan gagasan Aristoteles (1935, 1997) bahwa etika berasal dari etos. Dalam pengertian Eriksson, etos ilmu kepedulian, serta kepedulian, terdiri dari gagasan cinta dan amal dan rasa hormat dan kehormatan kesucian dan martabat manusia. Etos adalah papan suara dari semua kepedulian. Etos adalah ontologi di mana ada "keharusan batiniah," target kepedulian "yang memiliki bahasa dan kuncinya sendiri". Kepedulian yang baik dan pengetahuan yang benar menjadi terlihat melalui etos. Etos awalnya mengacu pada rumah, atau tempat di mana manusia merasa betah. Ini melambangkan ruang terdalam manusia, di mana ia muncul dalam ketelanjangannya (Lévinas, 1989). Etos dan etika menjadi satu kesatuan, dan dalam budaya peduli menjadi satu (Eriksson, 2003). Eriksson berpikir bahwa etos berarti bahwa kita merasa terpanggil untuk melayani tugas tertentu. Etos ini ia lihat sebagai inti dari budaya peduli. Etos, yang membentuk kekuatan dasar dalam budaya peduli, mencerminkan prioritas nilai-nilai yang berlaku di mana fondasi dasar etika dan tindakan etis muncul.

Pada awal 1990-an, ketika Eriksson memperkenalkan kembali gagasan penderitaan sebagai kategori dasar dari peduli, dia kembali ke kondisi historis mendasar dari semua kepedulian, gagasan amal sebagai dasar untuk mengurangi penderitaan. Ini berarti perubahan pandangan tentang realitas kepedulian menjadi fokus pada penderitaan manusia. Titik awalnya adalah bahwa penderitaan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, dan tidak memiliki alasan atau definisi yang jelas. Penderitaan seperti itu tidak ada artinya, tetapi manusia dapat mengartikannya dengan berdamai dengannya. Eriksson membuat perbedaan antara penderitaan yang tak tertahankan dan penderitaan yang tak tertahankan dan berpikir bahwa penderitaan yang tak tertahankan melumpuhkan manusia, mencegahnya berkembang, sementara penderitaan yang tak tertahankan cocok dengan kesehatan. Penderitaan setiap manusia ditampilkan dalam drama penderitaan. Mengurangi penderitaan manusia berarti menjadi aktor pendamping dalam drama dan menegaskan penderitaannya. Seorang manusia yang menderita ingin agar penderitaannya ditegaskan dan diberi waktu dan ruang untuk berdamai dengannya. Tujuan akhir dari kepedulian adalah untuk meringankan penderitaan. Eriksson telah menggambarkan tiga bentuk yang berbeda: penderitaan yang berhubungan dengan penyakit, penderitaan yang berhubungan dengan perawatan, dan penderitaan yang berhubungan dengan kehidupan.

 

v  Penerapan

Ciri khas cara kerja Eriksson adalah caranya menyusun pemikiran abstrak sebagai prasyarat alami dan jelas dari aktivitas klinis dan bentuk kepedulian berbasis bukti yang membuka wawasan yang lebih dalam. Beberapa unit keperawatan di negara-negara Nordik telah mendasarkan praktik dan filosofi caring mereka pada ide-ide Eriksson dan teori caritative tentang caring. Ini termasuk Distrik Rumah Sakit Helsinki dan Uusimaa di Finlandia, Stiftelsen Hemmet di Kepulauan land Finlandia, dan Stora Sköndal di Swedia. Karena pemikiran dan model proses perawatan Eriksson bersifat umum, model proses asuhan keperawatan telah terbukti dapat diterapkan dalam semua konteks perawatan, mulai dari perawatan klinis akut dan perawatan psikiatri hingga perawatan promosi kesehatan dan pencegahan.(Alligood, 2013)

Sejak tahun 1970-an, model proses asuhan keperawatan Eriksson digunakan, diuji, dan dikembangkan secara sistematis sebagai dasar asuhan keperawatan dan dokumentasi di Rumah Sakit Pusat Universitas Helsinki. Sejak awal 1990-an, Eriksson menjabat sebagai direktur program penelitian klinis, "Di Dunia Pasien." Dalam berbagai penelitian, teori Eriksson telah diuji, dan hasilnya telah dipresentasikan dalam tesis doktoral dan master serta dipublikasikan dalam jurnal profesional dan ilmiah. Studi, "Di Dunia Pasien II: Mengurangi Penderitaan Pasien—Etika dan Bukti" menghasilkan rekomendasi untuk perawatan pasien dan merupakan proyek penelitian berkelanjutan yang akan menjadi buku pegangan untuk ilmu perawatan klinis.

Model Eriksson telah menjadi sasaran penelitian akademis yang lebih komprehensif. Pemikiran Eriksson telah berpengaruh dalam kepemimpinan keperawatan dan administrasi keperawatan, di mana teori karitatif keperawatan membentuk inti dari pengembangan kepemimpinan keperawatan di berbagai tingkat organisasi keperawatan. Bahwa gagasan Eriksson tentang perawatan dan model proses asuhan keperawatannya bekerja dalam praktik telah diverifikasi oleh banyak hal mulai dari beragam esai dan tes pembelajaran dalam praktik klinis hingga tesis master, tesis pemegang lisensi, dan disertasi doktoral yang diproduksi di seluruh negara Nordik.

 

3.2 Disukusi Kelompok Alasan Kenapa Termasuk dalam Philosophy Nursing

Sesuai dengan arti Philosophy Nursing/ Filsafat Keperawatan yaitu filsafat merupakan jenis yang paling abstrak dan menetapkan makna fenomena keperawatan melalui analisis, penalaran, dan argumen logis. Filsafat berkontribusi pada pengetahuan keperawatan dengan memberikan arahan untuk disiplin, membentuk dasar untuk beasiswa profesional dan mengarah pada pemahaman teoretis baru.Karya-karya awal yang mendahului era teori keperawatan serta karya-karya kontemporer yang bersifat filosofis, seperti Nightingale (1969/1859), berkontribusi pada pengembangan pengetahuan dengan memberikan arahan atau dasar untuk perkembangan selanjutnya. Karya-karya selanjutnya mencerminkan ilmu pengetahuan manusia kontemporer dan metodenya

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 


 

BAB IV

PENUTUP

 

4.1 Kesimpulan

            Profesi keperawatan mengenal tingkatan teori, yaitu: philosophical theory, grandtheory, middlerange theory danpractice theory. Teori-teori tersebut diklasifikasikanberdasarkan ruang lingkup atau tingkatan keabstrakannya, dimulai dari grand theorysebagai yang paling abstrak, hingga practice theory sebagai yang lebih konkrit.

Falsafah keperawatan (Philosophy Nursing) adalah pandangan dasar tentang hakikat manusia dan esensi keperawatan yang menjadikan kerangka dasar dalam praktik keperawatan. Falsafah keperawatan bertujuan mengarahkan kegiatan keperawatan yang dilakukan. Falsafah keperawatan mengkaji penyebab dan hukum-hukum yang mendasari realitas, serta keingintahuan tentang gambaran sesuatu yang lebih berdasarkan pada alasan logis daripada metode empiris. Philoophy Nursing menetapkan makna fenomena keperawatan melalui analisis, penalaran, dan argumen logis.Filsafat berkontribusi pada pengetahuan keperawatan dengan memberikan arahan untuk disiplin, membentuk dasar untuk beasiswa profesional dan mengarah ke pemahaman teoretis baru.Filsafat keperawatan merupakan karya-karya awal yang mendahului era teori, serta karya-karya kontemporer yang bersifat filosofis.Filsafat adalah karya yang memberikan pemahaman luas yang memajukan disiplin dan aplikasi profesionalnya

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alligood,  martha raile. (2013). Nursing Theorists and Their Work (Eighth edi). Elsevier.

Hirarki, S., & Keperawatan, I. (2008). Level Of Nursing Theory.

Rustina, Y. (2010). Tingkatan Teori Keperawatan Capaian Pembelajaran.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NILAI KEADILAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN ILMU

Iyadatul Maridh (Menjenguk Orang Sakit)

Issue Etik Dan Dilema Etik Dalam Keperawatan