ASUHAN KEPERAWATAN KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

Pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia secara fisiologis, sebagian besar tubuh manusia terdiri dari cairan yang dikenal sebagai Total Body Water (TBW) (Aziz, 2008). TBW adalah jumlah seluruh cairan tubuh yang terdiri dari cairan intrasel dan ekstrasel, jumlahnya berkisar 50-60% berat badan (Pranata, 2013). Orang normal dengan berat 70 kg, TBW rata-ratanya sekitar 60% berat badan atau sekitar 42 L, persentase ini dapat berubah, bergantung pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas ( Guyton & Hall, 2014). Hilangnya 20% air dalam tubuh menyebabkan fungsi organ tidak bekerja dengan baik (Je’quier dan Constant, 2010). Indeks massa tubuh (IMT) adalah suatu metode yang berfungsi untuk menilai status gizi seseorang, namun tak mampu secara langsung menilai lemak yang terkandung dalam tubuh dan paling sering digunakan dan praktis untuk mengukur tingkat populasi berat badan lebih dan obese pada orang dewasa (Lisa, 2009).

Nilai IMT yang tinggi belum tentu karena jaringan lemak tapi dapat juga karena jaringan otot dan komposisi tubuh yang lainnya (Sherwood, 2012). Persentase TBW terhadap berat badan (BB) lebih rendah pada wanita dewasa yang mempunyai lebih banyak lemak tubuh daripada laki-laki yang mempunyai sedikit lemak dikarenakan lemak mempunyai kadar air yang lebih rendah (Nelson, 2008). Mahasiswa merupakan salah satu subjek yang berada pada usia 17-20 tahun yang sedang mengalami masa remaja lanjut (Late adolescene), dimana 2 terjadi perubahan baik perubahan hormonal, fisik, psikologis maupun sosial. Fase dimana terjadi peningkatan yang sangat terlihat pada berat badan remaja perempuan pada usia 18 tahun dengan peningkatan sebanyak 8 kg pertahun dikarenakan memuncaknya kadar hormon esterogen pada fase ini. (Batubara, 2010). Pada remaja yang memiliki aktifitas fisik yang rendah menunjukkan data 81,2% mengonsumsi air minum dalam jumlah yang kurang pula serta didapatkan data pada mahasiswa yang usianya berkisar 17-19 tahun (Diyani, 2012). Mahasiswa Fakultas Kedokteran di Indonesia banyak yang tidak mempunyai waktu untuk aktifitas fisik dikarenakan setiap harinya mahasiswa Fakultas Kedokteran mempunyai jadwal kuliah yang cukup padat dari pagi sampai dengan sore hari (Ranggadwipa, 2014). Berdasarkan data jumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2017, jumlah mahasiswa aktif didominasi oleh perempuan dengan jumlah 391 mahasiswi (Data primer, 2017). TBW dapat diukur salah satunya menggunakan bioelectrical impedance analysis (BIA) yang non invasif, aman, dan mudah digunakan (Singh, 2014). BIA menganalisis komposisi cairan tubuh secara tidak langsung dengan mencatat perubahan impedance arus listrik segmen tubuh (Deghan, 2008).

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, adapun rumusan masalah yaitu :

1. Bagaimanakah konsep Kebutuhan Cairan dan Elektrolit ?

2. Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Kebutuhan Cairan dan Elektrolit ?

 

1.3. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan sesuai dengan rumusan masalah, yaitu :

- Tujuan Umum : Menegtahui Konsep dan Asuhan keperawatan Kebutuhan Cairan dan Elektrolit.

- Tujuan Khusus :

1. Menegtahui pengertian Kebutuhan Cairan dan Elektrolit.

2. Mengetahu faktor-faktor yang mempengaruhi Kebutuhan Cairan dan Elektrolit.

3. Macam-macam Cairan dan Elektrolit.

 4. Pengkajian pada Cairan dan Elektrolit.

5. Diagnosa keperawatan pada Kebutuhan Cairan dan Elektrolit.

6. Rencana tindakan keperawatan pada Kebutuhan Cairan dan Elektrolit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1. Konsep Kebutuhan Cairan dan Elektrolit

2.1.1. Pengertian Kebutuhan Cairan dan Elektrolit

Keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan salah satu faktor yang diatur dalam homeostatis. Keseimbangan cairan sangat penting karena diperlukan untuk kelangsungan hidup organisme. Keseimbangan diperlukan oleh tubuh adalah dimana input=output. (jurnal f.k unad, 2017). Kebutuhan cairan dan elektrolit merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara fisiologis, yang memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh, hampir 90% dari total berat badan tubuh. (A. Aziz Alimul H.,2006).

Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air (pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya. Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu : cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berda di dalam sel di seluruh tubuh, sedangkan cairan akstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel, sedangkan cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna.

 

2.1.2. Tujuan Pemberian Cairan dan Elektrolit

            Tujuan pemberian cairan dan elektrolit adalah :

a. Mempertahankan panas tubuh dan pengaturan temperature tubuh.

b. Transportasi nutrisi ke sel.

c. Transport hasil sisa metabolisme

d. Transpor hormone.

e. Pelumas antar organ

f. Mempertahankan tekanan hidrostatik dalam sistem kardiovaskular. (Tarwoto dan Wartonah,2010).

2.1.3. Faktor-faktor Yang Mmepengaruhi Kebutuhan Cairan Dan Elektrolit

Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Cairan:

Yang menyebabkan adanya suatu peningkatan terhadap kebutuhan cairan harian diantaranya :

1.      Demam ( kebutuhan meningkat 12% setiap 10 C, jika suhu > 370 C )

2.      Hiperventilasi

3.      Suhu lingkungan yang tinggi

4.      Aktivitas yang ekstrim / berlebihan

5.       Setiap kehilangan yang abnormal seperti diare atau poliuria Yang menyebabkan adanya penurunan terhadap kebutuhan cairan harian diantaranya yaitu :

6.       Hipotermi

Sedangkan menurut (Tarwoto dan Wartonah,2010) adalah :

a. Usia Variasi usia berkaitan dengan luas permukaan tubuh, metabolisme yang diperlukan dan berat badan.

b. Temperature lingkungan Panas yang berlebihan menyebabkan berkeringat. Seseorang dapat kehilangan NaCl melalui keringat sebanyak 15-3- gram/hari.

c. Diet Pada saat tubuh kekurangan nutrisi, tubuh akan memecah cadangan energy, proses ini menimbulkan pergerakan cairan dari interstial ke intraseluler.

d. Stress Stress dapat menimbulkan peningkatan metabolisme sel, konsentrasi darah dan glikosis otot, mekanisme ini dapat menimbulkan retensi sodium dan air.

e. Sakit Keadaan pembedahan, trauma jaringan, kelainan ginjal, dan jantung, gangguan hormon akan mengganggu keseimbangan cairan.

2.1.4.  Macam-macam Cairan dan Elektrolit

Jenis Cairan Infus dan Kegunaannya ada beragam cairan infus yang dapat digunakan ketika pasien mendapatkan perawatan. Cairan infus yang umum digunakan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

            Cairan kristaloid

Jenis cairan infus yang pertama adalah kristaloid. Cairan kristaloid mengandung natrium klorida, natrium glukonat, natrium asetat, kalium klorida, magnesium klorida, dan glukosa.

Cairan kristaloid umumnya digunakan untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit, mengembalikan pH, menghidrasi tubuh, dan sebagai cairan resusitasi.

Beberapa cairan infus yang masuk ke dalam jenis cairan kristaloid antara lain:

·         Cairan saline

Cairan saline NaCL 0.9 % merupakan cairan kristaloid yang sering ditemui. Cairan ini mengandung natrium dan clorida. Cairan infus ini digunakan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang, mengoreksi ketidakseimbangan elektrolit, dan menjaga tubuh agar tetap terhidrasi dengan baik.

·         Ringer laktat

Ringer laktat merupakan jenis cairan kristaloid yang mengandung kalsium, kalium, laktat, natrium, klorida, dan air. Cairan ringer laktat umumnya diberikan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang saat mengalami luka, cedera, atau menjalani operasi yang menyebabkan kehilangan darah dengan cepat dalam jumlah yang banyak. Selain itu, cairan ini juga sering digunakan sebagai cairan pemeliharan ketika sedang menjalani perawatan di rumah sakit.

·         Dextrose
Dextrose merupakan cairan infus yang mengandung gula sederhana. Cairan ini sering digunakan untuk meningkatkan kadar gula darah, pada seseorang yang mengalami hipoglikemia (gula darah rendah). Selain itu, cairan infus dextrose juga dapat digunakan untuk kondisi hyperkalemia (kadar kalium yang tinggi).

Cairan koloid

Jenis cairan yang kedua adalah cairan koloid. Cairan koloid memiliki molekul yang lebih berat. Cairan ini dapat diberikan pada pasien yang menderita sakit kritis, pasien bedah, dan juga sebagai cairan resusitasi.

Cairan infus yang termasuk ke dalam jenis cairan koloid adalah:

·         Gelatin
Gelatin merupakan salah satu cairan koloid yang mengandung protein hewani. Salah satu kegunaan cairan ini adalah untuk mengatasi keadaan kurangnya volume darah yang disebabkan oleh kehilangan darah.

·         Albumin
Pemberian cairan infus albumin biasanya dilakukan saat pasien memiliki kadar albumin yang rendah, misalnya pasien yang menjalani operasi transplantasi hati, menderita luka bakar akut, dan pasien sepsis.

·         Dekstran
Dekstran merupakan jenis cairan koloid yang mengandung polimer glukosa. Dekstran dapat digunakan untuk memulihkan kondisi kehilangan darah. Selain itu, dekstran juga digunakan untuk mencegah terjadinya tromboemboli setelah operasi.

 Cairan infus tidak boleh digunakan secara sembarangan dan penggunaannya harus berada di bawah pengawasan dokter. Hal ini karena risiko komplikasi akibat pemberian infus bisa saja terjadi. Selain itu, pemilihan jenis cairan infus juga harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan pertimbangan dokter.

Berbagai Jenis Elektrolit dalam Tubuh dan Manfaatnya

Jumlah elektrolit di dalam tubuh dikendalikan oleh berbagai hormon, terutama hormon yang diproduksi di ginjal dan kelenjar adrenal. Apabila terjadi gangguan keseimbangan elektrolit, baik kelebihan atau kekurangan, fungsi jaringan dan organ tubuh pun akan terganggu.

Berikut ini adalah berbagai jenis elektrolit yang ada di dalam tubuh beserta manfaatnya:

1. Natrium

Natrium dibutuhkan tubuh untuk menjaga keseimbangan elektrolit, mengendalikan cairan dalam tubuh, dan mengatur kontraksi otot serta fungsi saraf. Normalnya, kadar natrium di dalam darah berkisar antara 135–145 milimol/liter (mmol/L).

Masalah kesehatan tertentu bisa menyebabkan tubuh kelebihan atau kekurangan natrium. Kelebihan natrium (hipernatremia) biasanya terjadi akibat dehidrasi berat, misalnya kurang minum air, diet ekstrem, atau diare kronis.

2. Kalium

Elektrolit yang satu ini berfungsi untuk mengatur irama dan pompa jantung, menjaga tekanan darah tetap stabil, mendukung aktivitas listrik saraf, mengatur kontraksi otot dan metabolisme sel, serta menjaga kesehatan tulang dan keseimbangan elektrolit.

Dalam darah, jumlah kalium normal berada di kisaran 3,5–5 milimol/liter (mmol/L). Kekurangan kalium (hipokalemia) dapat disebabkan oleh diare, dehidrasi, dan efek samping obat diuretik.

Sementara itu, kelebihan kalium (hiperkalemia) biasanya disebabkan oleh dehidrasi parah, gagal ginjal, asidosis, atau rendahnya jumlah hormon kortisol dalam tubuh, misalnya karena penyakit Addison.

3. Klorida

Klorida dalam tubuh berfungsi untuk menjaga pH atau tingkat keasaman darah, jumlah cairan tubuh, dan aktivitas saluran pencernaan. Normalnya, kadar klorida dalam tubuh adalah 96–106 mmol/L.

Kekurangan klorida (hipokloremia) dapat terjadi karena gagal ginjal akut, keringat berlebih, gangguan makan, gangguan fungsi kelenjar adrenal, dan fibrosis kistik. Sementara itu, kelebihan klorida (hiperkloremia) terjadi akibat dehidrasi parah, gangguan kelenjar paratiroid, gagal ginjal, atau efek samping cuci darah.

4. Kalsium

Kalsium merupakan mineral dan elektrolit penting yang berperan untuk menstabilkan tekanan darah, mengendalikan kontraksi otot dan aktivitas listrik saraf, menguatkan tulang dan gigi, serta menunjang proses pembekuan darah.

Kelebihan kalsium (hiperkalsemia) dapat disebabkan oleh hiperparatiroidisme, penyakit ginjal, gangguan paru-paru, kanker, atau kelebihan asupan vitamin D dan kalsium.

Sebaliknya, kekurangan kalsium dapat disebabkan oleh gagal ginjal, hipoparatiroidisme, kekurangan vitamin D, pankreatitis, kekurangan albumin, dan kanker prostat.

5. Magnesium

Magnesium berperan penting dalam proses pembentukan sel dan jaringan tubuh, menjaga irama jantung, serta mendukung fungsi saraf dan kontraksi otot. Mencukupi kebutuhan magnesium juga bermanfaat untu memperbaiki kualitas tidur pada penderita insomnia.

Normalnya, kadar magnesium dalam tubuh ialah 1,4–2,6 mg/dL. Kelebihan magnesium (hipermagnesemia) bisa disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti penyakit Addison atau gagal ginjal berat. Sementara itu, kekurangan magnesium (hipomagnesemia) bisa disebabkan oleh gagal jantung, diare kronis, kecanduan alkohol, atau efek samping obat-obatan, misalnya diuretik dan antibiotik.

6.      Fosfat

Fosfat berfungsi untuk memperkuat tulang dan gigi, menghasilkan energi, serta mendukung pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh. Kekurangan fosfat (hipofosfatemia) biasanya disebabkan oleh kelenjar paratiroid yang terlalu aktif, kekurangan vitamin D, luka bakar parah, dan kecanduan alkohol.

Sementara itu, kelebihan fosfat (hiperfosfatemia) biasanya disebabkan oleh cedera parah, kelenjar paratiroid kurang aktif, gagal napas, penyakit ginjal kronis, kadar kalsium rendah, atau efek samping obat-obatan, misalnya kemoterapi dan obat pencahar yang mengandung fosfat.

7. Bikarbonat

Jenis elektrolit ini berfungsi untuk menjaga pH darah tetap normal, menyeimbangkan kadar cairan tubuh, dan mengatur fungsi jantung. Normalnya, kadar bikarbonat dalam tubuh berkisar antara 22–30 mmol/L.

Jumlah bikarbonat dalam darah yang tidak normal dapat disebabkan oleh gangguan pernapasan, gagal ginjal, asidosis dan alkalosis, serta penyakit metabolik.

2.1.5. Dampak Masalah Dari Kebutuhan Cairan dan Elektrolit

            1. Overhidrasi

Air, seperti subtrat lain, berubah menjadi toksik apabila dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka waktu tertentu. Intoksikasi air sering terjadi bila cairan di konsumsi tubuh dalam kadar tinggi tanpa mengambil sumber elektrolit yang menyeimbangi kemasukan cairan tersebut. Overhidrasi terjadi jika asupan cairan lebih besar daripada pengeluaran cairan. Kelebihan cairan dalam tubuh menyebabkan konsentrasi natrium dalam aliran darah menjadi sangat rendah. Penyebab overhidrasi meliputi, adanya gangguan ekskresi air lewat ginjal (gagal ginjal akut), masukan air yang berlebihan pada terapi cairan, masuknya cairan irigator pada tindakan reseksi prostat transuretra, dan korban tenggelam.

Gejala overhidrasi meliputi, sesak nafas, edema, peningkatan tekanan vena jugular, edema paru akut dan gagal jantung. Dari pemeriksaan lab dijumpai hiponatremi dalam plasma. Terapi terdiri dari pemberian diuretic (bila fungsi ginjal baik), ultrafiltrasi atau dialisis (fungsi ginjal menurun), dan flebotomi pada kondisi yang darurat.

       2. Dehidrasi

Dehidrasi merupakan suatu kondisi defisit air dalam tubuh akibat masukan yang kurang atau keluaran yang berlebihan. Kondisi dehidrasi bisa terdiri dari 3 bentuk, yaitu: isotonik (bila air hilang bersama garam, contoh: GE akut, overdosis diuretik), hipotonik (Secara garis besar terjadi kehilangan natrium yang lebih banyak dibandingkan air yang hilang.

Gangguan keseimbangan elektrolit yang umum yang sering ditemukan pada kasuskasus di rumah sakit hanyalah beberapa sahaja. Keadaan-keadaan tersebut adalah :

• Hiponatremia dan hypernatremia

• Hipokalemia dan hyperkalemia

• Hipokalsemia.

Hiponatremia Hiponatremia selalu mencerminkan retensi air baik dari peningkatan mutlak dalam jumlah berat badan (total body weight, TBW) atau hilangnya natrium dalam relatif lebih hilangnya air. Kapasitas normal ginjal untuk menghasilkan urin encer dengan osmolalitas serendah 40 mOsm / kg (berat jenis 1,001) memungkinkan mereka untuk mengeluarkan lebih dari 10 L air gratis per hari jika diperlukan. Karena cadangan yang luar biasa ini, hiponatremia 7 hampir selalu merupakan efeknya dari akibat kapasitas pengenceran urin tersebut (osmolalitas urin> 100 mOsm / kg atau spesifik c gravitasi> 1,003).Kondisi hiponatremia apabila kadar natrium plasma di bawah 130mEq/L. Jika < 120 mg/L maka akan timbul gejala disorientasi, gangguan mental, letargi, iritabilitas, lemah dan henti pernafasan, sedangkan jika kadar < 110 mg/L maka akan timbul gejala kejang, koma. Antara penyebab terjadinya Hiponatremia adalah euvolemia (SIADH, polidipsi psikogenik), hipovolemia (disfungsi tubuli ginjal, diare, muntah, third space losses, diuretika), hipervolemia (sirosis, nefrosis). Terapi untuk mengkoreksi hiponatremia yang sudah berlangsung lama dilakukan secara perlahan-lahan, sedangkan untuk hiponatremia akut lebih agresif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

 

3.1. Konsep Asuhan Keperawatan

3.1.1. Pengkajian

            a. Pengkajian Keperawatan

1) Identitas klien Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, nomor registrasi, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, diagnosa medis.

2) Identitas Penanggung Jawab Meliputi nama, umur, pendidikan, pekerjaan, alamat dan hubungan dengan klien.

3) Riwayat Kesehatan

 a. Keluhan Utama

 Keluhan yang sangat bervariasi, terlebih jika terdapat penyakit sekunder yang menyertai. Keluhan bisa berupa urine output yang menurun (oliguria) sampai pada anuria, penurunan kesadaran karena komplikasi pada system sirkulsi-ventilasi, anoreksia, mual dan muntah, diaphoresis, fatigue, napas berbau urea,dan pruritus. Kondisi ini dipicu oleh karena penumpukan (akumulasi) zat sisa metabolism/ toksin dalam tubuh karena ginjal mengalami kegagalan filtrasi (Eko prabowo dan Andi eka pranata, 2014).

b. Riwayat Kesehatan Sekarang

Terjadi penurunan urine output, penurunan kesadaran, perubahan pola napas karena komplikasi dari gangguan system ventilasi seperti pernapasan kussmaul, fatigue, perubahan fisiologi kulit seperti pruritus dan area ekimosis pada kulit, serta bau urea pada napas. Selain itu, karena berdampak pada proses metabolisme (sekunder karena intoksikasi), maka akan terjadi anoreksia, nausea dan vomit sehingga beresiko untuk terjadinya gangguan nutrisi (Eko prabowo dan Andi eka pranata, 2014).

c. Riwayat Kesehatan Dahulu

Biasanya ada riwayat penyakit ISK, payah jantung, penggunaan obat berlebihan (overdosis) khususnya obat yang bersifat nefrotoksik, BPH dan lain sebagainya yang mampu mempengaruhi kerja ginjal. Selain itu ada beberapa penyakit yang langsung mempengaruhi/menyebabkan gagal ginjal yaitu diabetes mellitus, hipertensi, dan batu saluran kemih (urolithiasis) (Eko prabowo dan Andi eka pranata, 2014).

d. Riwayat Kesehatan Keluarga

Namun pencetus sekunder seperti DM dan Hipertensi memiliki pengaruh terhadap kejadian penyakit gagal ginjal kronis, karena penyakit tersebut bersifat herediter.Kaji pola kesehatan keluarga yang diterapkan jika ada anggota keluarga yang sakit, misalnya minum jamu saat sakit.

4) Activity Daily Living (ADL)

1. Pola Nutrisi Gangguan system pencernaan lebih dikarenakan efek dari penyakit (stress effect).Sering ditemukan anoreksia, nausea, vomit, dan diare.

2. Pola Eliminasi Dengan gangguan/ kegagalan fungsi ginjal secara kompleks (filtrasi, sekresi, reabsorbsi dan ekskresi), maka manifestasi yang paling menonjol adalah penurunan urin output < 400 ml/hari bahkan sampai pada anuria (tidak adanya urine output).

3. Pola Aktivitas / istirahat Klien mengalami penurunan tingkat kesadaran dan keadaan umum yang lemah.Didapatkan adanya nyeri panggul, sakit kepala, keram otot, defosit fosfat kalsium dan keterbatasan gerak sendi serta menyebabkan Poltekkes Kemenkes Padang 28 keletihan, kelemahan, malaise, dan aktivitas fisik rendah.

5) Riwayat Psikososial

Pada klien gagal ginjal kronis, biasanya perubahan psikososial terjadi pada waktu klien mengalami perubahan struktur fungsi tubuh dan menjalani proses dialisa. Klien akan mengurung diri dan lebih banyak berdiam diri (murung). Selain itu, kondisi ini juga dipicu oleh biaya yang dikeluarkan selama proses pengobatan sehingga klien mengalami kecemasan.

 6) Pemeriksaan Fisik

a) Keadaan umum Keadaan umum klien lemah dan terlihat sakit berat.Tingkat kesadaran menurun sesuai dengan tingkat uremia dimana dapat mempengaruhi system saraf pusat.Pada TTV sering didapatkan adanya perubahan; RR meningkat, tekanan darah terjadi perubahan dari hipertensi ringan sampai berat. (Arif Muttaqin, 2011).

b) Kepala

 (1)Inspeksi : Biasanya ditemukan normachepal, rambut tipis dan kasar

 (2) Palpasi : Biasanya tidak ditemukan benjolan

 c) Wajah

(1) Inspeksi : Biasanya ditemukan edema

(2) Palpasi : Biasanya ditemukan pitting edema (+)

                                              d) Mata

(1)Inspeksi : Biasanya ditemukan konjungtiva anemis

e) Telinga

(1) Inspeksi : Biasanya tidak ditemukan lesi

f) Hidung

(1) Inspeksi : Biasanya ditemukan klien bernapas dengan bau urine (fetor uremik) dan pernapasan kusmaul.

g) Mulut

(1)Inspeksi : Biasanya ditemukan klien dengan bau mulut ammonia, dan peradangan mukosa mulut.

h) Leher

 (1)Inspeksi : Biasanya tidak ditemukan pembengkakan (2)Palpasi : Biasanya ditemukan distensi vena jugularis

i) Thoraks Paru

(1) Inspeksi : Biasanya terdapat tarikan dinding dada

(2) Palpasi : Biasanya premitus kiri dan kanan sama

(3) Perkusi : Biasanya terdengar bunyi pekak

 (4) Auskultasi : Biasanya terdengar crackles Jantung

(1) Inspeksi : Biasanya ictus cordis tidak tampak

(2) Palpasi : Biasanya nadi meningkat

(3) Perkusi : Biasanya terdengar bunyi pekak

(4) Auskultasi : Biasanya ditemukan gangguan irama jantung, friction rub

j) Abdomen

(1) Inspeksi : Biasanya ditemukan asites

 (2) Palpasi : Biasanya ditemukan distensi abdomen

(3) Perkusi : Biasanya terdengar bunyi timpani

(4) Auskultasi : Biasanya bising usus normal

k) Ekstremitas :

1) Inspeksi : Biasanya ditemukan edema ,ptekie, area ekimosis pada kulit.

(2) Palpasi : Biasanya ditemukan pitting edema (+).

3.1.2. Diagnosa Keperawatan

Dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), (Tim Pokja SDKI D P P PPNI, 2017) pada klien dengan permasalahan personal hygiene adalah Defisit Perawatan diri diantaranya diagnosa yang biasa dipakai pada kasus ini adalah sebagai berikut :

1. Aktual/risiko kelebihan volume cairan b/d penurunan volume urin, retensi cairan dan natrium, peningkatan aldosteron sekunder dari penurunan GFR.

2. Aktual/risiko ketidakseimbangan cairan elektrolit b/d destruksi stuktur ginjal secara progrsif.

3. Aktual/risiko tinggi terjadinya penurunan curah jantung b/d ketidakseimbangan cairan dan elekrolit, gangguanfrekuensi, irama, konduksi jantung, akumulasi/ penumpukan urea toksin, kalsifikasi jaringan lunak.

4. ktual/risiko terjadinya kerusakan integritas kulit b/d gangguan status metabolic, penurunan turgor kulit, penurunan aktivitas, akumulasi ureum dalam kulit.

5. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan b/d kurangnya informasi. NANDA,2015.

3.1.3. Intervensi Keperawatan

            a. Intervensi Keperawatan

No

DIAGNOSA KEPERAWATAN

NOC

NIC

1.

Kelebihan Volume Cairan

a. Electrolit and acid base balance Indikator :

1) Serum albumin, kreatinin, hematokrit, Blood Urea Nitrogen (BUN), dalam rentang normal

2) pH urine, urine sodium, urine creatinin,urine osmolarity, dalam rentang normal

3) tidak terjadi kelemahan otot 4) tidak terjadi disritmia b.Fluid balance Indikator :

1) Tidak terjadi asites

2) Ekstremitas tidak edema

3) Tidak terjadi distensi vena jugularis

Fluid Management

1. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat

2. Pasang urin kateter jika diperlukan

3. Monitor hasil Hb yang sesuai dengan retensi cairan (BUN, Hmt, osmolaritas urin)

4. Monitor vital sign

5. Monitor indikasi retensi / kelebihan cairan

6. Kaji luas dan lokasi edema

7. Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori 8. Monitor status nutrisi

9. Kolaborasi pemberian diuretikssuai interuksi 10.Kolaborasikan dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk Fluid Monitoring

1. Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan eliminasi

2. Tentukan kemungkinan faktor resiko dari ketidakseimbangan cairan

3. Monitor berat badan

4. Monitor TD, HR dan RR

5. Monitor tekanan darah orthostastik dan perubahan irama jantung

6. Monitor parameter hemodinamik infasif

7. Catat secara akurat intake dan output

8. Monitor tanda dan gejala oedema

9. Beri cairan sesuai keprluan 10.Kolaborasi dalam pemberian obat yang dapat meningkatkan output urin

2.

Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit

Keseimbangan elektrolit dan Asam Basa Indikator :

1. Serum albumin, kreatinin, hematokrit, Blood Urea Nitrogen (BUN), dalam rentang normal

2. Tidak terjadi kelemahan otot, kram otot dan kram perut 3. Tidak terjadi disritmia

4. Tidak terjadi gangguan kesadaran

Manajemen Elektrolit/Cairan 1. Pantau kadar serum elektrolit yang abnormal, seperti yang tersedia

2. Monitor peeubahan status paru atau jantung yang menunjukkan kelebihan cairan atau dehidrasi

3. Timbang berat badan harian dan pantau gejala

4. Monitor hasil laboratorium yang relevan dengan keseimbangan cairan (misalnya, peningkatan BUN, albumin, protein total, dan osmolalitas serum)

5. Jaga pencatatan intake/asupan dan output yang akurat.

 6. Batasi cairan yang sesuai

 7. Monitor tanda-anda vital yang sesuai

8. Konsultasikan dengan dokter jika tanda dan gejala ketidakseimbangan cairan dan/atau elektrolit yang menetap atau memburuk

 9. Instruksikan pasien dan keluarga mengenai alasan untuk pembatasan cairan, tindakan hidrasi, atau administrasi elektrolit tambahan, seperti yang ditunjukkan.

3.

Resiko kerusakan intergritas kulit

a. Tissue integrity : Skin and Mucous Membranes Indikator :

1) Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan ( sensasi, elastic sitas, temperature, hidrasi, pigmentasi )

 2) Tidak ada luka / lesi pada kulit

3) Perfusi jaringan baik

4) Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang

5) Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami.

Pressure Management

1. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaianyang longgar

2. Hindari kerutan pada tempat tidur

3. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering

4. Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien setiap dua jam sekali)

 5. Monitor kulit akan danya kemerahan

6. Oleskan lotion atau minyak baby/baby oil pada daerah yang tertekan

7. Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien

8. Monitor status nutrisi pasien 9. Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat

 

            b. Implementasi Keperawatan

Implementasi Keperawatan Implementasi adalah tahap keempat dalam proses keperawatan. Tahap inimuncul jika perencanaan yang dibuat diaplikasikan pada pasien. Tindakan yang dilakukan mungkin sama, mungkin juga berbeda dengan urutan yang telah dibuat pada perencanaan. Aplikasi yang dilakukan pasien berbeda-beda disesuaikan dengan kondisi pasien saat itu dan kebutuhan yang dirasakan oleh pasien (Debora,2011).

            c. Evaluasi Keperawatan

            Evaluasi merupakan tahap akhir dari asuhan keperawatan yang membandingkan hasil tindakan yang telah dilakukan dengan criteria hasil yang sudah ditetapkan serta menilai apakah masalah yang terjadi sudah teratai seluruhnya, hanya sebagian, atau bahkan belum teratasi semuanya (Debora, 2011).

3.2. Deskripsi Kasus

Ny. J berusia 50 tahun , sudah menikah, beragama islam, pendidikan terakhir SMA dan bekerja sebagai ibu rumah tangga Ny. J masuk ke RSUP Dr. M. Djamil Padang. datang melalui IGD pada tanggal 22 Mei 2017 pukul 15.05 WIB diantar oleh keluarga, dengan keluhan badan terasa lemah, letih, lesu, sembab pada tangan dan kaki serta air kencing keluar sedikit. Riwayat kesehatan sekarang tanggal 25 Mei 2017, pasien mengatakan bahwa kaki dan tangannya masih sembab, mengeluh air kencing masih sedikit, dan sering merasa mual dan badan lemah. Pasien mengatakan bahwa pasien dahulunya sudah dikenal menderita Diabetes Melitus tipe II sejak 5 tahun yang lalu, adanya riwayat hipertensi sejak 2 tahun yang lalu dan adanya riwayat stroke sejak 8 bulan yang lalu. Pasien dan keluarga pasien mengatakan bahwa ada ibu dan kakak pasien yang juga menderita Diabetes Melitus. Pasien mengatakan suka makanan yang bersantan dan berminyak. Pasien diberikan diit ML RG II, pasien mampu menghabiskan diit ¼, minum pasien dibatasi± 750 cc. Pola aktivitas pasien sehari-hari yaitu sebagai ibu rumah tangga dan terkadang pergi membantu suami kesawah. pasien lebih banyak tidur dari hari yang biasanya. Saat dilakukan pemeriksaan fisik, tanggal 25 Mei 2017 keadaan umum pasien adalah GCS : 15, hasil pengukuran tekanan darah : 140/90 mmHg (normal sistolik : 120-139) (normal diastolik 80-90), nadi : 80 kali permenit (normal nadi : 60-100 kali permenit), suhu : 370C (suhu normal : 36,50C – 37,50C), pernafasan : 24 kali permenit (pernafasan normal 16-24 kalipermenit). wajah tampak pucat, konjungtiva anemis, mulut tidak bersih, mukosa bibir kering, tidak ada pernapasan cuping hidung, leher tidak ada pembengakakan, tidak ada distensi vena jugularis. Pemeriksaan pada paru-paru, dada simetris kiri dan kanan, tidak terdapat tarikan dinding dada, fremitus kiri dan kanan sama, perkusi : sonor, auskultasi : vesikuler, pada pemeriksaan jantung, ictus cordis tidak terlihat, ictus teraba 1 jari di RIC VI , perkusi : pekak, auskultasi : irama regular. Pemeriksaan abdomen, tampak tidak membuncit, ketika dilakukan palpasi distensi abdomen, perkusi : asietes, auskultasi : bising usus normal. Pada pemeriksaan ekstremitas atas, kulit tampak kering, dan mengkilap, terdapat pitting edema, pruritus serta area ekimosis pada kulit. kekuatan otot anggota gerak kanan 1, otot gerak kiri 5, CRT kembali cepat anggota gerak kanan adalah 1,otot gerak kiri 5, CRT kembali cepat < 2 detik. Data psikologis pasien tampak gelisah dan cemas, pasien mengatakan ingin cepat pulang karena ia ingin berkumpul dengan keluarganya di rumah. Hubungan pasien dengan keluarga baik. Pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan oleh pasien pada tanggal 22 Mei 2017, adalah gula darah sewaktu 132 mg/dl (normalnya 200), ureum darah 140 mg/dl (normalnya : 10,0-50,0), kreatinin darah 7,0 mg/dl (normalnya 6,6-8,7), protein total : 5,9 g/dl (normalnya 6,6 – 8,7) albumin : 1,8 (3,4 - 4,8), APTT : 40,6 detik (normalnya 28,20 – 38,10), pH : 7,32 (normalnya 7,35) PCO2 : 30 mmHg (normalnya : 35-45), PO2 : 66 mmHg (normalnya ), HCO3 - : 15,5 mmol/L (normalnya 22- 26), BE : -9,4 mmol/L (normalnya -2 sampai +2), Na+ : 146 (normalnya 135- 145), K+ : 3,3 mmol/L (normalnya 3,5- 5,3). Terapi pengobatan yang Data psikologis pasien tampak sabar dalam menghadapi masalah ksehatan yang dialami. Hubungan pasien dengan keluarga baik. Pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan oleh pasien adalah pemeriksaan laboratorium pada tanggal 26/05/2017 gula darah sewaktu 592 mg/dl (normalnya 200), ureum darah 152 mg/dl (normalnya : 10,0-50,0), kreatinin darah 7,5 mg/dl (normalnya 6,6-8,7), protein total : 5,5 g/dl (normalnya 6,6 – 8,7), albumin 2,3 g/dl (normalnya 3,8-5,0), globulin 3,2 g/dl (normalnya 1,3-2,7), pH : 7,31 (normalnya 7,35), PCO2 : 38 mmHg (normalnya : 35-45), PO2 : 114 mmHg (normalnya ), HCO3 - : 19,1 mmol/L (normalnya 22-26), BE : -7,2 mmol/L (normalnya -2 sampai +2), Na+ : 124 (normalnya 135- 145), K+ : 4,7 mmol/L (normalnya 3,5- 5,3). Terapi pengobatan yang Poltekkes Kemenkes Padang 52 didapatkan oleh Ny. J dimulai dari tanggal 22 Mei 2017 adalah diit ML DD RG II asam folat 1x5 mg, bicnat 3x500 mg, candesartan 1x16 mg, lasix 2x1 amp dan HD 2x seminggu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Air merupakan komponen terbesar dari tubuh manusia. Persentase cairan tubuh tergantung pada usia, jenis kelamin, dan derajat status gizi seseorang.Seluruh cairan tubuh tersebut secara garis besar terbagi ke dalam 2 kompartemen, yaitu intraselular dan ekstraselular. Cairan tubuh sendiri terdiri dari komposisi zat elektrolit dan elektrolit yang masing-masing memegang peranannya. Pergerakanzat dan air di bagian-bagian tubuh melibatkan transpor pasif, yang tidak membutuhkan energi terdiri dari difusi dan osmosis,dan transporaktif yang membutuhkan energi ATP yaitu pompa Na-K. Dalam kondisi yang normal, tubuh mememiliki suatu sistem mekanisme pengaturan untuk menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh, baik melalui kendali osmoler dan nonosmoler. Perlu diketahui kebutuhan harian cairan tubuh untuk menilai apakah keseimbangan cairan tubuh dalam kondisi yang balans atau tidak. Dalam kondisi yang tidak balans, perlu diberikan terapi cairan. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh dapat menyebabkan berbagai macam gangguan. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat terjadi dalam beberapa bentuk, seperti overhidrasi, dehidrasi, hiponatremia, hipernatremia, dan sebagainya. Masingmasing gangguan keseimbangan tersebut menimbulkan berbagai gejala dan bahkan kegawatdaruratan medis. Oleh sebab itu, praktisi kesehatan seharusnya mengetahui tentang pentingnya keseimbangan cairan dan elektrolit agar tidak terjadi kasus-kasus tersebut.

4.2. Saran

Bagi mahasiswa keperawatan supaya bisa memhami konsep teori serta asuhan keperawatan serta pengaplikasian tindakan keperawatan demi tercapainya derajat kesehatan dan mempertahankan kebutuhan cairan dan elektrolit pada pasien. Demi kesempurnaan makalah ini tanpa mengurangi rasa hormat pada pendamping ataupun fasilitator dapat memberikan kritik atau saran yang membangun bagi kami untuk kesempurnaan masalah selanjutnya serta motivasi dan ilmu pengetahuan yang dapat memberikan pemahaman khususnya pada topik kebutuhan cairan dan elektrolit.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/4631b9b8c3f8152608a46238e4a719dc.pdf

http://repository.poltekkes-tjk.ac.id/61/4/BAB%20II.pdf

https://med.unhas.ac.id/kedokteran/wp-content/uploads/2016/10/DASAR-DASAR-TERAPI-CAIRAN-DAN-ELEKTROLIT.pdf

https://ners.unair.ac.id/site/lihat/read/766/mengenal-berbagai-jenis-elektrolit-dalam-tubuh-dan-manfaatnya

https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/7de4f855c9453d88152fbc9f442b7a60.pdf

http://pustaka.poltekkes-pdg.ac.id/repository/NURFRIYATNA_UTAMI_143110180_3A(1).pdf

http://repository.poltekeskupang.ac.id/1464/1/SIAP%20BAKAR-PARTO.pdf

https://www.google.com/search?q=deskripsi+kasus+kebutuhan+cairan+dan+elektrolit&rlz=1C1KNTJ_enID958ID958&oq=depkripsi+kasus+kebutuhan+ca&aqs=chrome.1.69i57j33i22i29i30l2.8686j0j7&sourceid=chrome&ie=UTF-8

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NILAI KEADILAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN ILMU

Iyadatul Maridh (Menjenguk Orang Sakit)

Issue Etik Dan Dilema Etik Dalam Keperawatan