ASUHAN KEPERAWATAN REGULASI SUHU TUBUH

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

        Suhu tubuh adalah suatu keadaan kulit dimana dapat diukur dengan menggunakan thermometer yang dapat di bagi beberapa standar penilaian suhu, antara lain: normal, hipertermi, hipotermi, dan febris. Suhu tubuh kita sering kali berubah-ubah tanpa kita tau sebab-sebabnya dan mekanismenya. Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan regulasi suhu tubuh.

      Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Apabila pusat temperature hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu inti tubuh telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point). Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada 37°C. Apabila suhu tubuh meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan merangsang untuk melakuan serangkaian mekanisme untuk mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada titik tetap. Ada banyak factor yang mempengaruhi peningkatan suhu tubuh, seperti hormon, sistem syaraf, usia, dll. Dalam makalah ini saya akan membahas tentang sistem pengaturan suhu tubuh.

1.2  Rumusan Masalah

1.      Bagaimana fisiologi regulasi suhu tubuh manusia?

2.      Apa faktor yang mempengaruhi suhu tubuh manusia?

3.      Apa dampak peningkatan/ penurunan suhu tubuh?

1.3  Tujuan

1.      Untuk mengetahui tentang fisiologi regulasi suhu tubuh manusia

2.      Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi suhu tubuh manusia

3.      Untuk mengetahui dampak peningkatan/penurunan suhu tubuh manusia

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Sistem Regulasi Suhu Tubuh

      Mekanisme fisiologis dan perilaku mengatur keseimbangan antar panas yang hilang dan dihasilkan lebih sering disebut termoregulasi, mekanisme tubuh ini harus mempertahankan hubungan antara produksi panas dan kehilangan panas agar suhu tubuh tetap konstan dan normal. Hubungan ini diatur oleh mekanisme neurologis dan kardiovaskuler. Suhu tubuh diatur oleh Hipotalamus yang terletak diantara dua hemisfer otak. Fungsi hipotalamus adalah seperti thermostat, suhu yang nyaman merupakan set point untuk operasi sistem panas. Penurunan suhu lingkungan akan mengaktifkan pemanas, sedangkan peningkatan suhu tubuh akan mematikan sistem pemanastersebut (Guyton, 2007).

      Hipotalamus mendeteksi perubahan kecil pada suhu tubuh. Hipotalamus anterior mengatur kehilangan panas, sedangkan hipotalamus posterior mengatur produksi panas. Jika sel saraf dihipotalamus anteriormenjadi panas diluar batas titik pengaturan (set point), maka impuls akan dikirimkan untuk menurunkan suhu tubuh. Mekanisme kehilangan panas adalah vasodilatasi, keringat dan hambatan produksi panas, Jika hipotalamus mendetaksi adanya penurunan suhu tubuh dibawah titik pengaturan, tubuh akan memulai mekanisme konversi panas yaitu dengancara vasokontriksi untuk mengurangi aliran darah ke kulit dan ekstrimitas. Produksi panas distimulasi melalui kontraksi otot volunter dan otot yang menggigil.Bila vasokontriksi tidak efektif maka akan timbul gerakan menggigil. Disamping melalui pengaturan dihipotalamus. Proses pemindahan energi panas, baik masuk kedalam tubuh maupun hilang melalui kulit dandapat terjadi dengan beberapa cara yaitu: konduksi, konveksi, radiasi dan evaporasi. Konduksi adalah pemaparanpanas dari suatu obyek yang suhunya lebih tinggi ke obyek lain dengan jalan kontak langsung. Panas yang dibuang dengan cara konduksi ini yaitu dari permukaan tubuh ke obyek lain (Guyton, 2007). Konveksi adalah pergerakan udara dalam jumlah kecil, konveksi hampir selalu terjadi di sekitar tubuh dikarenakan oleh kecenderungan udara yang dekat dengan kulit bergerak keatas waktu udara tersebut dipanasi. Radiasi adalah pemindahan panas melalui radiasi elektromagnetik infra merah dari suatu benda yang lain dengan suhu yang berbeda tanpa mengalami kontak kedua benda tersebut (Guyton, 2007).  Evaporasi adalah pengalihan panas dari bentuk cair menjadi uap. Manusia kehilangan sekitar 9 x 10 kalori/gram melalui penguapan paru-paru. Penguapan air melalui kulit paru-paru disebut penguapan insisibel karena dapat terkontrol. Kulit juga berperan dalam mengontrol suhu tubuh. Peran kulit dalam regulasi suhu meliputi insulasi tubuh, vasokontriksi (yang mempengaruhi jumlah aliran darah dan kehilangan panas pada kulit) dan sensasi suhu.Kulit merupakan jaringan subkutan dan lemak yang menyimpan panas dalam tubuh. Ketika aliran darah antara lapisan kulitberkurang. Kulit itu sendiri merupakan insulator yang baik (Guyton, 2007). Suhu ruangan juga sangat mempengarui penurunan suhu tubuh dan proses hilangnya panas pada tubuh. Apabila ruangan/lingkungan yang panas maka proses radiasi dan konduksi menurun serta evaporasi tidak terjadi sebab evaporasi sangat dipengaruhi oleh faktor kelembaban udara. Apabila kelembaban udara meningkat maka evaporasi berkurang selain ituemosi yang tinggi dan stress dapat mempengaruhi suhu tubuh stimulasi sistem saraf simpatis dapat memproduksi epinephrin dan norepinephrine yang akan meningkatkan aktifitas metabolik dan produksi panas (Potter & Perry, 2009).

 

2.2  Faktor yang Memepengaruhi Suhu Tubuh

      Setiap saat suhu tubuh manusia berubah secara fluktuatif. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai factor yaitu:

a.       Exercise: Semakin beratnya exercise maka suhunya akan meningkat 15 x, sedangkan pada atlet dapat meningkat menjadi 20 x dari basal ratenya.

b.      Hormon: Thyroid (Thyroxine dan Triiodothyronine) adalah pengatur pengatur utama basal metabolisme rate. Hormon lain adalah testoteron, insulin, dan hormon pertumbuhan dapat meningkatkan metabolisme rate 5-15%

c.       Sistem syaraf: Selama exercise atau situasi penuh stress, bagian simpatis dari system syaraf otonom terstimulasi.  Neuron-neuron postganglionik melepaskan norepinephrine (NE) dan juga merangsang pelepasan hormon epinephrine dan norephinephrine (NE) oleh medulla adrenal sehingga meningkatkan metabolisme rate dari sel tubuh.

d.      Suhu tubuh: meningkatnya suhu tubuh dapat meningkatkan metabolisme rate, setiap peningkatan 1 % suhu tubuh inti akan meningkatkan kecepatan reaksi biokimia 10 %

e.       Asupan makanan: makanan dapat meningkatkan 10 – 20 % metabolisme rate terutama intake tinggi protein.

f.       Berbagai macam factor seperti: gender, iklim dan status malnutrisi.

g.      Usia: Pada saat lahir, mekanisme kontrol suhu masih imatur. Produksi panas meningkat seiring dengan pertumbuhan bayi memasuki masa anak-anak. Regulasi suhu akan normal setelah anak mencapai  pubertas. Pada lansia sensitif terhadap suhu yang ekstrem akibat turunnya mekanisme control suhu (terutama kontrol vasomotor), penurunan jumlah jaringan subkutan, penurunan aktivitas kelenjar keringat, penurunan metabolism

h.      Olahraga: aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan metabolisme lemak dan karbohidrat.

i.        Kadar Hormon: suhu tubuh wanita lebih fluktuatif dibandingkan pria

j.        Irama sirkardiansuhu tubuh berubah secara normal 0,5 - 1 derajat Celcius selama periode 24  jam.suhu tubuh rendah antara pukul 01:00 dan 04:00 dini hari.

k.      Stres: stress fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi hormonal dan persyarafan

l.        Lingkungan: mekanisme kontrol suhu tubuh akan dipengaruhi oleh suku disekitar. Walaupun terjadi perubahan suhu tubuh, tetapi tubuh mempunyai mekanisme homeostasis yang dapat dipertahankan dalam rentang normal. Suhu tubuh yang normal adalah mendekati suhu tubuh inti yaitu sekitar 37 0 C. suhu tubuh manusia mengalami fluktuasi sebesar 0,5 – 0,7 0 C, suhu terendah pada malam hari dan suhu tertinggi pada siang hari. Panas yang diproduksikan harus sesuai dengan panas yang hilang.

2.3  Dampak Peningkatan Suhu Tubuh

      Akibat suhu tubuh meningkat, seseorang akan mengalami kelesuhan (lethargy), mengantuk, dan depresi. Bisa juga timbul kebingungan, rasa bermusuhan atau gejala intoksikasi. Apabila terjadi dehidrasi dapat menyebabkan mual, muntah, pusing kepala dan tekanan darah menurun. Hal ini berakibat pusing atau bahkan pingsan. Dapat juga ditemukan takikardia dan takipneu. Pada anak-anak sering mengalami kejang. Pada akhirnya organ tubuh dapat gagal sehingga berakibat tidak sadar bahkan kematian.

 

2.4  Dampak Penurunan Suhu Tubuh

      Pada penelitian Joshi (2006) dan Kumra (2008) telah membuktikan dampak negatif hipotermi terhadap pasien, antara lain ialah risiko perdarahan meningkat, iskemia miokardium, pemulihan post anestesi yang lebih lama, gangguan penyembuhan luka, serta meningkatnya risiko infeksi. Harahap (2014) menyebutkan bahwa hipotermi akan menambah kebutuhan oksigen, produksi karbondioksida dan juga peningkatan kadar katekolamin di dalam plasma yang akan diikuti dengan peningkatan laju nadi, tekanan darah, serta curah jantung.

       Hipotermi menjadi salah satu penyebab keterlambatan waktu pulih sadar. Hal ini disebabkan oleh metabolisme agen anestesi yang melambat, karena obat-obat anestesi yang dapat mempengaruhi enzimenxim yang mengatur fungsi organ dan juga durasi obat sehingga waktu pulih sadar menjadi lama (Hanifa, 2017).

 

2.5  Pengkajian Suhu Tubuh

a)      Mengukur Suhu Tubuh Per Oral

Pengertian: Mengukur suhu tubuh klien dengan menggunakan thermometer yang ditempatkan di mulut/oral.

Tujuan: Mengetahui suhu tubuh klien untuk menentukan tindakan kesehatan dan membantu menentukan diagnosa.

Keuntungan: Paling mudah dilakukan, nyaman, pembacaan hasil akurat. Nilai normal suhu per oral adalah 35,8-37,3° C

Kontraindikasi:

·         Klien tidak mampu menahan termometer di dalam mulut.

·         Resiko tergigit oleh klien seperti bayi atau anak kecil.

·         Klien bingung atau tidak sadar.

·         Perbedaan oral.

·         Trauma mulut atau wajah.

·         Bernapas hanya dengan melalui mulut.

·         Riwayat kejang-kejang.

·         Gemetar kedinginan.

b)      Mengukur Suhu Tubuh per Rectal

Pengertian: Mengukur suhu tubuh dengan menggunakan thermometeryang ditempatkan directal/anus/pelepasan.

Tujuan: Mengetahui suhu tubuh klien untuk menentukan tindakan kesehatan dan membantu menentukan diagnosa.

Kontraindikasi:

·         Pembedahan atau gangguan pada rectal seperti pada tumor/hemoroid.

·         Klien yang tidak dapat berposisi baik seperti mereka dengan traksi atau pada bayi baru lahir.

·         Pada klien yang berpenyakit kelamin.

·         Nilai normal suhu per rectal pada orang dewasa adalah :36,1-37°

c)      Mengukur Suhu Tubuh per Axilla

Pengertian: Mengukur suhu klien dengan menggunakan thermometer yang di tempatkan diaksila/ketiak.

Tujuan: Suhu tubuh klien untuk menentukan tindakan kesehatan dan membantu menentukan diagnosa.

Keuntungan:

·         Aman dan tidak mengganggu.

·         Dapat digunakan dapat bayi baru lahir.

Pelaksanaan:

·         Menurut kebiasaan rumah sakit, dimana tidak dapat dikerjakan pada bagaian tubuh lainnya.

Nilai normal untuk suhu per aksila:

·         Orang dewasa adalah 35,8-37,3° C Bayi 36,8-37°C

Tidak dapat digunakan pada:

·         Pasien yang luka / kudis diketiak

·         Operasi pada mammae.

 

2.6  Diagnosa Keperawatan

1.      Hipertermi

·         Kategori: Lingkungan

·         Subkategori: Keamanan dan Proteksi

·         Definisi: Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal tubuh.

·         Penyebab:

a)      Dehidrasi

b)      Terpapar lingkungan panas

c)      Proses penyakit (mis. infeksi, kanker)

d)     Ketidaksesuaian pakaian dengan suhu lingkungan

e)      Peningkatan laju metabolisme

f)       Respon trauma

g)      Aktivitas berlebihan

h)      Penggunaan inkubator

·         Gejala dan Tanda Mayor

a)      Subjektif

( Tidak tersedia )

b)      Objektif

Suhu tubuh diatas normal

·         Gejala dan Tanda Minor

a)      Subjektif

( Tidak Tersedia )

b)      Objektif

a.       Kulit merah

b.      Kejang

c.       Takikardi

d.      Takipnea

e.       Kulit terasa hangat

·         Kondisi Klinis Terkait

a)      Proses infeksi

b)      Hipertiroid

c)      Stroke

d)     Dehidrasi

e)      Trauma

f)       Prematuritas

2.      Hipotermia

·         Kategori: Lingkungan

·         Subkategori: Keamanan dan Proteksi

·         Definisi: Suhu tubuh berada dibawah rentang normal tubuh.

·         Penyebab:

a)      Kerusakan hipotalamus

b)      Konsumsi alkohol

c)      Berat badan ekstrem

d)     Kekurangan lemak subkutan

e)      Terpapar suhu lingkungan rendah

f)        Malnutrisi

g)      Pemakaian pakaian tipis

h)      Penurunan laju metabolisme

i)        Tidak beraktivitas

j)        Transfer panas (mis, konduksi, konveksi, evaporasi, radiasi)

k)      Trauma

l)        Proses penuaan

m)    Efek agen farmakologis

n)      Kurang terpapar informasi tentang pencegahan hipotermia

·         Gejala dan Tanda Mayor

a)      Subjektif

(tidak tersedia)

b)      Objektif

a.       Kulit teraba dingin

b.      Menggigil

c.       Suhu tubuh di bawah nilai normal

·         Gejala dan Tanda Minor

a)      Subjektif

(tidak tersedia)

b)      Objektif

a.       Akrosianosis

b.      Bradikardi

c.       Dasar kuku sianotik

d.      Hipoglikemia

e.       Hipoksia

f.       Pengisiaan kapiler >3 detik

g.      Konsumsi oksigen meningkat

h.      Ventilasi menurun

i.        Piloereksi

j.        Takikardia

k.      Vasokonstriksi perifer

l.        Kutis memorata (pada neonatus)

3.      Resiko Termogulaasi Tidak Efektif

·         Kategori: Lingkungan

·         Subkategori: Keamanan dan Proteksi

·         Definisi: Berisiko mengalami kegagalan mempertahankan suhu tubuh dalam tentang normal.

·         Faktor Risiko

a)      Cedera otak akut

b)      Dehidrasi

c)      Pakaian yang tidak sesuai untuk suhu lingkungan

d)     Peningkatan area permukaan tubuh terhadap rasio berat badan

e)      Kebutuhan oksigen meningkat

f)       Perubahan laju metabolisme

g)      Proses penyakit (mis. infeksi)

h)      Suhu lingkungan ekstrem

i)        Suplai lemak subkutan tidak memadai

j)        Proses penuaan

k)      Berat badan ekstrem

l)        Efek agen farmakologis (mis sedasi)

·         Kondisi Klinis Terkait

a)      Cedera otak akut

b)      Dehidrasi

c)      Trauma

4.      Termogulasi Tidak Efektif

·         Kategori: Lingkungan

·         Subkategori: Keamanan dan Proteksi

·         Definisi: Kegagalan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal

·         Penyebab:

a)      Stimulasi pusat termoregulasi hipotalamus

b)      Fluktuasi suhu lingkungan

c)       Proses penyakit (mis. infeksi)

d)     Proses penuaan

e)      Dehidrasi

f)       Ketidaksesuaian pakaian untuk suhu lingkungan

g)      Peningkatan kebutuhan oksigen

h)      Perubahan laju metabolisme

i)        Suhu lingkungan ekstrem

j)        Ketidakadekuatan suplai lemak subkutan

k)      Berat badan ekstrem

l)        Efek agen farmakologis (mis. sedasi)

·         Gejala dan Tanda Mayor

a)      Subjektif

(tidak tersedia)

b)      Objektif

a.       Kulit dingin/hangat

b.      Menggigil

c.       Suhu tubuh fluktuatif

·         Gejala dan Tanda Minor

a)      Subjektif

(tidak tersedia)

b)      Objektif

a.       Piloereksi

b.      Pengisian kapiler >3 detik

c.       Tekanan darah meningkat

d.      Pucat

e.       Frekuensi napas meningkat

f.       Takikardia

g.      Kejang

h.      Kulit kemerahan

i.        Dasar kuku sianotik

·         Kondisi Klinis Terkait

a)      Cedera medula spinals

b)      Infeksi/sepsis

c)      Perbedahan

d)     Cedera otak akut

e)      Trauma

5.      Resiko Hipotermia

·         Kategori: Lingkungan

·         Subkategori: Keamanan dan Proteksi

·         Definisi :Berisiko mengalami kegagalan termoregulasi yang dapat mengakibatkan suhu tubuh berada di bawah rentang normal

·         Faktor Risiko:

a)      Berat badan ekstrem

b)      Kerusakan hipotalamus

c)      Konsumsi alkohol

d)     Kurangnya lapisan lemak subkutan

e)      Suhu lingkungan rendah

f)       Malnutrisi

g)      Pemakaian pakaian yang tipis

h)      Penurunan laju metabolisme

i)        Terapi radiasi

j)        Tidak beraktivitas

k)      Transfer panas (mis, konduksi, konveksi evaporasi, radiasi)

l)        Trauma

m)    Prematuritas

n)      Penuaan

o)      Bayi baru lahir

p)      Berat badan lahir rendah

q)      Kurang terpapar informasi tentang pencegahan hipotermia

r)       Efek agen farmakologis

·         Kondisi Klinis Terkait

a)      Berat badan ekstrem

b)      Dehidrasi

c)      Kurang mobilitas fisik

6.      Risiko Hipotermia Perioporatif

·         Kategori: Lingkungan

·         Subkategori: Keamanan dan Proteksi

·         Definisi: Berisiko mengalami penurunan suhu tubuh di bawah 36 °C secara tiba-tiba yang terjadi satu jam sebelum pembedahan hingga 24 jam setelah pembedahan

·         Faktor Risiko:

a)      Prosedur pembedahan

b)      Kombinasi anastesi regional dan umum

c)      Skor American Society of Anestesiologist (ASA) > 1

d)     Suhu pra-operasi rendah (<36 "C)

e)      Berat badan rendah

f)       Neuropati diabetik

g)      Komplikasi kardiovaskuler

h)      Suhu lingkungan rendah

i)        Transfer panas (mis, volume tinggi infus yang tidak dihangatkan, ingasi > 2 liter yang tidak dihangatkan)

·         Kondisi Klinis Terkait

Tindakan pembedahan

 

2.7  Intervensi Keperawatan

·         Hipertermia

a)      Intervensi Utama

1.      Manajemen Hipertermia

Definisi

Mengidentifikasi dan mengelola peningkatan suhu tubuh akibat disfungsi termoregulasi.

Tindakan

Observasi

1.      Identifikasi penyebab hipertermia (mis. dehidrasi, terpapar lingkungan panas, penggunaan inkubator)

2.      Monitor suhu tubuh

3.      Monitor kadar elektralit

4.      Monitor haluaran urine

5.      Monitor komplikasi akibat hipertermia

Terapeutik

1.      Sediakan lingkungan yang dingin

2.      Longgarkan atau lepaskan pakaian

3.      Basahi dan kipasi permukaan tubuh

4.      Berikan cairan oral

5.      Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami hiperhidrosis (keringat berlebih)

6.      Lakukan pendinginan eksternal (mis. selimut hipotermia atau kompres dingin pada dahi, leher, dada, abdomen, aksila)

7.      Hindari pemberian antipiretik atau aspirin Berikan oksigen, jika perlu

Edukasi

Anjurkan tirah baring

Kolaborasi

Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu

 

2.      Regulasi Temperatur

Definisi

Mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal.

Tindakan

Observasi

1.      Monitor suhu bayi sampai stabil (36.5°C-37,5°C)

2.      Monitor suhu tubuh anak tiap dua jam, jika perlu

3.      Monitor tekanan darah, frekuensi pernapasan dan nadi

4.      Monitor warna dan suhu kulit

5.      Monitor dan catat tanda dan gejala hipotermia atau hipertermia

Terapeutik

1.      Pasang alat pemantau suhu kontinu, jika perlu

2.      Tingkatkan asupan cairan dan nutnsi yang adekuat

3.      Bodong bayi segera setelah lahir untuk mencegah kehilangan panas

4.      Masukkan bayi BBLR ke dalam plastik segera setelah lahir (mis. bahan

5.      polyethylene, polyurethane)

6.      Gunakan topi bayi untuk mencegah kehilangan panas pada bayi baru lahir

7.      Tempatkan bayi baru lahir di bawah radiant warmer

8.      Pertahankan kelembaban Inkubator 50% atau lebih untuk mengurangi kehilangan

9.      panas karena proses evaporasi

10.  Atur suhu inkubator sesuai kebutuhan

11.  Hangatkan tertebih dahulu bahan-bahan yang akan kontak dengan bayi (mis.

12.  selimut, kain bedongan, stetoskop)

13.  Hindari meletakkan bayi di dekat Jandela terbuka atau di area aliran pendingin

14.  ruangan atau kipas angina

15.  Gunakan matras penghangat, selimut hangat, dan penghangat ruangan untuk

16.  menaikkan suhu tubuh, jika perlu

17.  Gunakan kasur pendingin, water circulating blankets, ice pack atau gel pad dan

18.  inlravascular cooling cathetedzation untuk menurunkan suhu tubuh

19.  Sesuaikan suhu lingkungan dengan kebutuhan pasien

Edukasi

1.      Jelaskan cara pencegahan heat exhaustion dan heat stroke

2.      Jelaskan cara pencegahan hipotermi karena terpapar udara dingin

3.      Demonstrasikah teknik perawatan metode kanguru (PMK) untuk bayi BBLR

Kolaborasi

Kolaborasi pemberian antipiretik, jika perlu

 

2.      Edukasi Dehidrasi 

b)      Intervensi Pendukung

1.      Edukasi Analgesia Terkontrol

3.      Edukasi Pengukuran Suhu Tubuh

4.      Edukasi Program Pengobatan

5.      Edukasi Terapi Cairan

6.      Edukasi Termoregulasi

7.      Kompres Dingin

8.      Manajemen Cairan

9.      Manajemen Kejang

10.  Pemantauan Cairan

11.  Pemberian Obat

12.  Pemberian Obat Intravena

13.  Pemberian Obat Oral

14.  Pencegahan Hipertermi Keganasan

15.  Perawatan Sirkulasi

16.  Promosi Teknik Kulit ke Kulit

·         Hipotermia

a)      Intervensi Utama

1.      Manajemen Hipotermia


Definisi

Mengidentifikasi dan mengelola suhu tubuh dibawah rentang normal.

Tindakan

Observasi

1.      Monitor suhu tubuh

2.      Identifikasi penyebab hipotermia (mis. tarpapar suhu lingkungan rendah, pakaian tipis, kerusakan hipotalamus, penurunan laju metabolisme, kekurangan lemak subkutan)

3.      Monitor tanda dan gejala akibat hipotermia (Hipotermia ringan: takipnea, disartria, menggigil, hipertensi, diuresis; Hipotermia sedang: aritmia, hipotensi, apatis, koagulopati, refleks manurun; Hipotermia berat: oliguria, refleks menghilang, edema paru, asam-basa abnormal)

Terapeutik

1.      Sediakan lingkungan yang hangat (mis. atur suhu ruangan, inkubator)

2.      Ganti pakaian dan/atau linen yang basah

3.      Lakukan penghangatan pasif (mis. selimut, menutup kepala, pakaian tebal)

4.      Lakukan penghangatan aktif eksternal (mis. kompres hangat, botol hangat, selimut hangat, perawatan metode kangguru)

5.      Lakukan penghangatan aktif internal (mis. infus cairan hangat, oksigen hangat, lavase peritoneal dengan cairan hangat)

Edukasi

Anjurkan makan/minum hangat

Kolaborasi

_

 

2.      Terapi Paparan Panas

Definisi

Menstimulasi kulit dan jaringan di bawahnya dengan panas untuk mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan lainnya.

Tindakan

Observasi

1.      Identifikasi kontraindikasi penggunaan terapi (mis. penurunan atau tidak adanya sensasi, penurunan sirkulasi)

2.      Monitor suhu alat terapi

3.      Monitor kondisi kulit selama terapi

4.      Monitor kondisi umum, kenyamanan dan keamanan selama terapi

5.      Monitor respon pasien terhadap terapi

Terapeutik

1.      Pilih metode stimulasi yang nyaman dan mudah didapatkan (mis. botol air panas, bantal

2.      panas listrik, lilin parafin, lampu)

3.      Pilih lokasi stimulasi yang sesuai

4.      Bungkus alat terapi dengan menggunakan kain

5.      Gunakan kain lembab di sekitar area terapi

6.      Tentukan durasi terapi sesuai dengan respon pasien

7.      Hindari melakukan terapi pada daerah yang mendapatkan terapi radiasi

Edukasi

1.      Ajarkan cara mencegah kerusakan jaringan

2.      Ajarkan cara menyesuaikan suhu secara mandiri

Kolaborasi

_


2.      Edukasi Pengukuran Suhu Tubuh 

b)      Intervensi Pendukung

1.      Dukungan Ventilasi

3.      Edukasi Program Pengobatan

4.      Edukasi Terapi Cairan

5.      Edukasi Termoregulasi

6.      Kompres Panas

7.      Manajemen Cairan

8.      Manajemen Lingkungan

9.      Manajemen Nutrisi

10.  Pemantauan Cairan

11.  Pemantauan Nutrisi

12.  Pemberian Obat

13.  Pemberian Obat Intravena

14.  Pemberian Obat Oral

15.  Perawatan Kanguru

16.  Perawatan Sirkulasi

17.  Promosi Dukungan keluarga

18.  Promosi Teknik Kulit ke Kulit

·         Termogulasi Tidak Efektif

a)      Intervensi Utama

1.      Regulasi Temperatur

Definisi

Mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal.

Tindakan

Observasi

1.      Monitor suhu bayi sampai stabil (36.5°C-37,5°C)

2.      Monitor suhu tubuh anak tiap dua jam, jika perlu

3.      Monitor tekanan darah, frekuensi pernapasan dan nadi

4.      Monitor warna dan suhu kulit

5.      Monitor dan catat tanda dan gejala hipotermia atau hipertermia

Terapeutik

1.      Pasang alat pemantau suhu kontinu, jika perlu

2.      Tingkatkan asupan cairan dan nutnsi yang adekuat

3.      Bodong bayi segera setelah lahir untuk mencegah kehilangan panas

4.      Masukkan bayi BBLR ke dalam plastik segera setelah lahir (mis. bahan

5.      polyethylene, polyurethane)

6.      Gunakan topi bayi untuk mencegah kehilangan panas pada bayi baru lahir

7.      Tempatkan bayi baru lahir di bawah radiant warmer

8.      Pertahankan kelembaban Inkubator 50% atau lebih untuk mengurangi kehilangan

9.      panas karena proses evaporasi

10.  Atur suhu inkubator sesuai kebutuhan

11.  Hangatkan tertebih dahulu bahan-bahan yang akan kontak dengan bayi (mis.

12.  selimut, kain bedongan, stetoskop)

13.  Hindari meletakkan bayi di dekat Jandela terbuka atau di area aliran pendingin

14.  ruangan atau kipas angina

15.  Gunakan matras penghangat, selimut hangat, dan penghangat ruangan untuk

16.  menaikkan suhu tubuh, jika perlu

17.  Gunakan kasur pendingin, water circulating blankets, ice pack atau gel pad dan

18.  inlravascular cooling cathetedzation untuk menurunkan suhu tubuh

19.  Sesuaikan suhu lingkungan dengan kebutuhan pasien

Edukasi

1.      Jelaskan cara pencegahan heat exhaustion dan heat stroke

2.      Jelaskan cara pencegahan hipotermi karena terpapar udara dingin

3.      Demonstrasikah teknik perawatan metode kanguru (PMK) untuk bayi BBLR

Kolaborasi

Kolaborasi pemberian antipiretik, jika perlu

 

 

b)      Intervensi Pendukung

1.      Edukasi Aktivitas/Istirahat

2.      Edukasi Berat Badan Efektif

3.      Edukasi Dehidrasi

4.      Edukasi Pengukuran Suhu Tubuh

5.      Edukasi Terapi Cairan

6.      Edukasi Termoregulasi

7.      Kompres Dingin

8.      Kompres Panas

9.      Manajemen Cairan

10.  Manajemen Demam

11.  Manajemen Hipertermia

12.  Manajemen Hipotermia

13.  Manajemen Lingkungan

14.  Pemantauan Cairan

15.  Pemantauan Tanda Vital

16.  Pencegahan Hipertermi Maligna

17.  Perawatan Bayi

18.  Promosi Teknik Kulit ke Kulit

 

2.8  Implementasi Keperawatan

a)      Kompres hangat kering

      Dilakukan dengan bantal pemanas, sinar inframerah. Sementara itu, kompres hangat lembap dapat menggunakan handuk yang direndam air hangat atau mandi air hangat. Fungsi kompres hangat adalah melebarkan pembuluh darah, sehingga aliran darah ke sel dan jaringan tubuh menjadi lancar. Kompres hangat Sangat umum digunakan saat demam, kompres hangat juga bisa membantu mengelola nyeri dan cedera. 

b)      Kompres Dingin

      Kompres dingin boleh digunakan untuk menangani kondisi cedera akut atau cedera yang baru saja terjadi, misalnya luka memar atau keseleo. Dalam penanganan cedera, kompres dingin hanya boleh digunakan dalam waktu 48 jam. Waktu pemberian kompres dingin yang disarankan adalah 10–15 menit hingga maksimal 20 menit. Hindari memberikan kompres dingin terlalu lama karena dapat menghambat sirkulasi darah dan mengganggu proses penyembuhan cedera.

 

 

 

 

2.9  Evaluasi Keperawatan

      Tahap akhir suatu proses keperawaan yang merupakan perbandingan yang sistematis dan berencana Kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakuakn dengan cara melibatkan klien dan sesame keluarga medis

·         Tujuan tercapai

Tujuan keperawatan tercapai bila klien mampu menerapkan tindakan yang diberikan

·         Tujuan belum tercapai

Tindakan tidak mampu menunjukkan perilaku yang diharapkan sesuai tujuan bahkan timbul masalah baru

·         Tujuan tercapai sebagian

Klien menunjukkan perubahan dari kriteria yang ditentukan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

            Suhu tubuh adalah suatu keadaan kulit dimana dapat diukur dengan menggunakan thermometer yang dapat di bagi beberapa standar penilaian suhu, antara lain : normal, hipertermi, hipotermi, dan febris. Pengeluaran panas (heat loss) dari tubuh ke lingkungan atau sebaliknya berlangsung secara fisika. Permukaan tubuh dapat kehiulangam panas melalui pertukaran panas secara radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi air. Alat penerima rangsang disebut reseptor, sedangkan alat penghasil tanggapan disebut efektor. Suhu tubuh dipengaruhi oleh exercize, hormone, system saraf, asupan makanan, gender, iklim (lingkungan), usia, aktivitas, otot, dan stress.

 

3.2  Saran

            Sebaiknya kita selalu menerapkan cara hidup sehat agar tubuh kita selalu sehat dan tidak mengganggu aktivitas kita sehari-hari, agar suhu tubuh selalu dalam keadaan normal dan dapat menyesuaikan denbgan kondisi lingkungan sekitar kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Guyton A.C. and J.E. Hall. (2007). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC

Journal of Endocrinology. (2005). Functional anatomy of hypothalamic homeostatic systems

Journal of Endocrinology. (2005). Hypothalamic hormon a.k.a. hypothalamic releasing factors.

Pearce, C Evelyn. (2009). Anatomi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia

Potter & Perry. (2000). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik. Jakarta: EGC

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: DPP PPNI

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: DPP PPNI

Syaifuddin. (2006). Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi. Jakarta: EGC

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iyadatul Maridh (Menjenguk Orang Sakit)

NILAI KEADILAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN ILMU

FALSAFAH KEPERAWATAN "PHILOSOPHICAL THEORY"