ASUHAN KEPERAWATAN PERSONAL HYGINE

 


BAB I
PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat berpengaruh diantaranya kebudayaan, sosial, keluarga, pendidikan. Persepsi seseorang terhadap kesehatan serta perkembangan.

Praktik hygiene sama dengan peningkatan kesehatan. Dengan implementasi tindakan hygiene pasien atau membantu anggota keluarga untuk melakukan tindakan itu dalam lingkungan rumah sakit. Dengan mengajarkan cara hygiene pada pasien, pasien akan berperan aktif dalam meningkatkan kesehatan dan partisipan dalam perawatan diri ketika memungkinkan (Perry & Potter, 2005). Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan. Hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, padahal jika hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, adapun rumusan masalah yaitu :

  1. Bagaimanakah konsep Kebutuhan Kebersihan Diri (Personal Hygiene) ?
  2. Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Kebutuhan Kebersihan Diri (Personal Hygiene) ?

1.3  Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan sesuai dengan rumusan masalah, yaitu :

-          Tujuan Umum : Menegtahui Konsep dan Asuhan keperawatan kebutuhan kebersihan diri (Personal Hygiene)

-          Tujuan Khusus :

1.      Menegtahui pengertian kebersihan dan perawatan diri

2.      Mengetahu faktor-faktor yang mempengaruhi kebersihan diri

3.      Tipe perawatan kebersihan diri

4.      Pengkajian pada kebutuhan kebersihan diri

5.      Diagnosa keperawatan pada kebutuhan kebersihan diri

6.      Rencana tindakan keperawatan pada kebersihan diri.


BAB II
PEMBAHASAN

 

 

2.1   Konsep Personal Hygiene

2.1.1          Pengertian Kebersihan Diri dan Perawatan Diri

Personal hygiene berasal dari bahasa Yunani yang berarti personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Jadi personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Cara perawatan diri manusia untuk memelihara kesehatan mereka disebut higiene perorangan. Personal hygiene atau kebersihan diri adalah upaya seseorang dalam memelihara kebersihan dan kesehatan untuk memperoleh kesejahteraan fisik dan psikologis (Kasiati, 2016).

Tujuan dari personal hygiene adalah untuk memelihara kebersihan diri, menciptakan keindahan, serta meningkatkan derajat kesehatan individu sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit pada diri sendiri maupun orang lain, baik secara sendiri/mandiri maupun dengan menggunakan bantuan dari orang lain, serta mencitakan penampilan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan (Debi, 2017).

Personal hygine harus senantiasa terpenuhi karena merupakan pencegahan primer yang spesifik karena merupakan tindakan pencegahan primer yang spesifik untuk meminimalkan pintu masuk (port de entry), pencegahan personal hygiene juga harus senantiyasa dilakukan oleh lansia (Efendi, 2013). Hal ini dikarenakan lansia mengalami penurunan fungsi dari berbagai penurunan fungsi dari berbagai organ-organ tubuh akibat kerusakan sel-sel karena proses menua (Maryam, 2011).

2.1.2          Tujuan Perawatan Kebersihan Diri

Tujuan dari personal hygiene adalah untuk memelihara kebersihan diri, menciptakan keindahan, serta meningkatkan derajat kesehatan individu sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit pada diri sendiri maupun orang lain, baik secara sendiri/mandiri maupun dengan menggunakan bantuan dari orang lain, serta mencitakan penampilan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan (Debi, 2017).

Adapun menurut (Kasiati, 2016) tujuan dari personal hygiene adalah sebagai berikut

1.      Peningkatan pada derajat kesehatan

2.      Tercipta kenyamanan dan keindahan

3.      Dapat sebagai pencegahan penyakit untuk diri sendiri ataupun orang lain

4.      Berpengaruh dalam meningkatkan kepercayaan diri

2.1.3          Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebersihan Diri

a.       Status kesehatan

Seseorang dalam kondisi sakit atau cedera, sehingga memerlukan bedrest, apalagi dalam waktu lama, hal ini akan mempengaruhi kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan personal hygiene dan tingkat kesehatan klien. Di sinilah peran perawatan untuk memenuhi kebutuhan personal hygiene dan mencegah gangguan seperti kerusakan membrane mukosa, kulit dan lain lain (Kasiati, 2016).

b.      Budaya

Sejumlah mitos berkembang di masyarakat menjelaskan bahwa seseorang yang dalam keadaan sakit tidak dimandikan, hal ini dikarenakan nanti penyakitnya tambah parah (Kasiati, 2016).

c.       Status sosial-ekonomi

Seseorang dalam kegiatan pemenuhan personal hygiene yang baik memerlukan sarana dan prasarana, seperti kamar mandi, air cukup dan bersih, peralatan (misalnya sabun, shampo, dan lain lain) (Hidayat & Uliyah, 2015). Hal ini membutuhkan biaya dan akan berpengaruh seseorang dalam memenuhi dan mempertahankan personal hygiene dengan baik.

d.      Tingkat pengetahuan dan perkembangan

Kedewasaan seseorang berpengaruh pada kualitas hidup, salah satunya pengetahuan yang lebih baik. Pengetahuan itu penting untuk meningkatkan status kesehatan seseorang. Sebagai contoh, agar seseorang terhindar dari penyakit kulit, maka seseorang tersebut harus selalu menjaga kulit agar tetap bersih dengan mandi secara teratur dan menggunakan sabun dan air bersih (Hidayat & Uliyah, 2015).

e.       Cacat jasmani atau mental

Seseorang dalam kondisi cacat jasmani atau mental akan menghambat kemampuan individu untuk melakukan perawatan pemenuhan kebutuhan diri sendiri (Kasiati, 2016).

f.       Praktik sosial

Selama anak-anak mendapatkan praktek hygiene dari orang tua, sedangkan masa remaja lebih perhatian pada hygiene karena pengaruh teman atau pacar. Praktik hygiene lansia dapat berubah dikarenakan situasi kehidupan (Kasiati, 2016).

g.      Citra tubuh

Penampilan umum klien dapat menggambarkan pentingnya hygiene pada orang tersebut. Jika seorang klien rapi sekali maka perawat mempertimbangkan ketika merencanakan perawatan dan akan berkonsultasi membuat keputusan dalam perawatan hygiene. Contoh : klien yang telah mengalami pembedahan seperti kolostomi selalu memperhatikan penampilan stoma dan bau fekal, maka perawat membantu klien menjaga kebersihan area stoma dan mengurangi atau menghilangkan bau. Sebaliknya, klien yang tidak rapi atau tidak tertarik pada hygiene maka klien membutuhkan pendidikan pentingnya hygiene (Kasiati, 2016).

h.      Pilihan pribadi

Tiap individu akan memiliki keinginan yang berbeda, menentukan yang disukai, pilihan kapan harus mandi, merawat rambut, dan perawatan yang lainnya. Klien dapat memilih suatu produk yang berbeda dalam penggunaan untuk hygiene. Pilihan klien membantu perawat pengembangan rencana perawatan, hal ini tidak perlu mengubah pilihan, kecuali hal itu tidak mempengaruhi kesehatan. Misalnya, klien diabetes harus hati-hati menjaga kakinya bersih dan menghindari infeksi. Perawat harus menjelaskan kebutuhan perawatan kaki yang baik dan bahan yang digunakan (Kasiati, 2016).

2.1.4          Tipe Perawatan Kebersihan Diri

Menurut (Hidayat & Uliyah, 2015)) kebersihan diri personal hygiene dibagi menjadi dua yaitu :

a.       Berdasarkan waktu pelaksanaan

Berdasarkan waktu pelaksanaan personal hygiene dapat dibagi menjadi 4 yaitu :

1.      Perawatan dini hari

Adalah perawatan yang dilaksanakan saat bangun tidur, kegiatan ini meliputi persiapan dalam pengambilan bahan pemeriksaan (urin atau feses).

2.      Perawatan pagi hari

Dilakukan pada pagi hari, perawatan dilakukan setelah menyelesaikan sarapan dan membersihkan diri (mandi), perawatan ini melupakan pertolongan dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi (BAK dan BAB).

3.      Perawatan siang hari

Perawatan dilakukan di siang hari setelah pengobatan dan makan siang.

4.      Perawatan malam hari

Dilakukan saat akan tidur berupa perawatan dalam persiapan tidur malam agar dalam kondisi tenang.

b.      Berdasarkan Tempat

1)      Perawatan Kulit

Kulit bagian dari anggota tubuh yang memiliki fungsi dalam sekresi, ekskresi, serta mengatur suhu, rasa (sensasi) serta sebagai pertukaran oksigen, nutrisi dan cairan dengan pembuluh darah dibawahnya, sintesa sel baru dan eliminasi sel mati (Kasiati, 2016). Dengan kata lain bahwa kulit adalah bagian dari tubuh yang berfungsi sebagai pelindung tubuh dari berbagai kuman, trauma, dalam mempertahankan fungsi kulit, perawatan untuk kebersihan kulit perlu dijaga. Perawatan kulit dapat dilakukan dengan mandi minimal 2 kali dengan menggunakan pembersih kulit (sabun) yangaman serta sesuai kebutuhan (Kasiati, 2016). Dengan demikian kulit dapat melakukan refleksi yakni perubahan kondisi fisik seperti warna, ketabalan, tekstur, turgor, temperatur, dan hidarasi. Adanya perubahan tersebut karena beberapa faktor yakni :

1.      Usia : Adanya perubahan kulit pada bayi, kulit masih terlihat lembut, kenyal dan relatif masih muda pun rawan dengan trauma dan masuknya kuman. Pada kondisi dewasa fungsi kulit sebagai pelindung mencapai tingkat kematangan yang baik. Pada usia tua kulit secara fisik sudah tampak mengendur.

2.      Jaringan kulit : Adanya perubahan keutuhan pada kulit dipengaruhi oleh struktur jaringan kulit, dimana ketika jaringan tersebut rusak maka akan terjadi perubahan yang terjadi di struktur kulit.

3.      Lingkungan : keadaan lingkungan dapat mempengaruhi kondisi kulit seperti panas, dingin, nyeri akibat tekanan.

2)      Perawatan Kaki dan Kuku

Kaki dan kuku merupakan salah satu anggota tubuh yang harus mempunyai perlakuan khusus dalam pencegahan infeksi, bau dan cedera pada jaringan. Kuku yang sebagai pelengkap pada kulit, jika tidak diberi treatment bisa menjadi tempat timbulnya penyakit. Adapun masalah yang bisa ditimbulkan akibat salah perawatan ialah, menggigit kuku, memeotong yang tidak atau kurang tepat, pemakaian sepatu tidak pas (Kasiati, 2016).

3)      Perawatan Rambut

Rambut bagian dari struktur kulit, dimana fungsi rambut sebagai pelindung kepala dan sebagai kebutuhan sebagai mempercantik diri, kriteria rambut sehat dalam (Kasiati, 2016) adalah rambut mengkilat, tidak mudah patah, tidak kering maupun berminyak. Beberapa kondisi membuat terganggunya pertumbuhan rambut yakni cuaca panas, nutrisi rambut, perubahan hormon, stress secara psikis dan fisik, pertambahan usia, infeksi, penyakit, serta obat-obatan (Kasiati, 2016).

4)      Personal Hygiene Gigi dan Mulut

Hygiene mulut dapat menjaga status kesehatan pada mulut, gigi, gusi dan bibir agar tetap sehat. Karena mulut adalah rongga yang berperan dalam sistem pencernaan juga sistem pernafasan sehingga mulut tidak dalam kondisi bersih penuh bakteri sehingga harus diberi perawatan dan dijaga kebersihannya, dimana peran dan tanggungjawab sebagai erawat adalah dalam pemeliharaan serta pencegahan salah satu cara yakni dapat melakukan edukasi dalam menjaga kebershan mulut dan gigi (Hidayat & Uliyah, 2015).

5)      Perawatan pada kelamin

Perawatan diri pada alat kelamin atau genetalia pada perempuan adalah perawatan genatalia eksterna yang terdiri atas mins veneris, labiya mayora, labiya minora, klitoris, uretra, vagina, erinium dan anus, sedangakan ada laki-laki difokuskan pada daerah ujung penis untuk mencegah penumpukan sisa urine (Hidayat & Uliyah, 2015).

6)      Perawatan Mata

Mata secara normal tidak memiliki perawatan khusus, air mata memiliki peran dalam pembersihan mata pun juga kelopak dan bulu mata sebagai tebeng dalam masuknya benda asing. Biasanya seseorang mengambil kotoran mata yang berda disudut mata dan bulu mata, untuk mnjaga kesehatan mata dan pencegahan infeksi mata (Kasiati, 2016).

7)      Perawatan Hidung

Hidung merupakan bagian dari sistem pernafasan,dimana hidung sebagai pemantau temperatur dan menjaga kelembaban udara serta mencegah masuknya partikel asing dalam sistem pernafasan. Dalam perawatan hidung sederhana, tetapi pada kasus tertentu seperti pada pasien dengan pemasangan nasogastrik, pipa endotrakhea, memerlukan perhatian khusus (Kasiati, 2016).

8)      Perawatan Telinga

Hygiene pada telinga bertujuan untuk mempertajam pendengaran, hal demikian biasa terjadi karena adanya penumpukan kotoran pada telinga, yang dimana hal ini kebanyakan didapati pada lansia. Pembersihan telinga dilakkan ketika ada kotoran yang dirasa menyumbat telinga, pada pasien dengan alat bantu pendengaran dalam pembersihan telinga dapat dikomunikasikan dengan bahasa tubuh yang mudah dimengerti oleh klien (Kasiati, 2016).

2.1.5           Dampak Masalah Personal Hygiene

Bila individu mengalami masalah pada personal hygiene, hal tersebut memberikan dampak terhadap fisik, psikososial, dan spiritualnya (Debi, 2017)

a.       Dampak fisik

Berbagai macam dampak terhadap gangguan kesehatan yang akan dialami oleh individu jika tidak dapat menjaga kebersihan. Diantaranya masalah yang biasa terjadi yajni seperti berhubungan dengan masalah kulit (gatal-gatal, berdaki ataupun yang lain), membran mukosa pada mulut bermasalah, mata dan telinga mengalami infeksi, dan permasalahan pada kuku.

b.      Dampak Psiko Sosial

Dampak psikosisial dikaitkan dengan personal hygiene karena pada dampak ini akan mucul permasalahan pada rasa nyaman, permaslaahan mencintai dan dicintai, harga diri serta aktualisasi diri.

c.       Dampak Spiritual

Permasalahan yang akan dijumpai yakni adanya distress spiritual dimana keyakinan atau penilaian mengalami kesulitan dalam merasakan makna dan tujuan hidup dengan tuhan, diri sendiri, orang lain, serta lingkungan. Dimana dengan gangguan ini orang akan merasakan bahwa dirinya tidak suci dan bersih (PPNI, 2017).



BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

 

3.1   Konsep Asuhan Keperawatan

3.1.1          Pengkajian

Dalam proses keperawatan merupakan proses penilaian awal dimana proses ini memiliki tujuan yakni mengumpulkan data baik subjektif maupun objektif dengan wawancara, pemeriksaan sehingga data ini akan digunakan pada proses penentuan diagnosa keperawatan (Kasiati, 2016).

1.      Identitas Klien/Pasien

2.      Riwayat Keperawatan

Pada pengkajian riwayat keperawatan mengenai pola kebersihan, sarana dan prasarana yang dimiliki, serta faktor yang berpengaruh dalam hygiene personal individu baik faktor pencetus atau faktor pendukung.

3.      Pemeriksaan Fisik

Pada (Kasiati, 2016) pemeriksaan fisik, personal hygiene pada individu, adalah sebagai berikut :

a.       Rambut (beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengamati kondisi rambut, (warna,tekstur, kuantitas), apakah tampak kusam ? apakah mengalami rontok rambut ?)

Pengkajian

1)      Kaji kondisi rambut dan kulit kepala : rambut normal bersih, bercahaya, tidak kusut, kulit kepala bebas dari lesi.

2)      Mengkaji masalah rambut: ketombe, kutu (pediculosis), kehilangan rambut, pembotakan (alopesia).

3)      Mengkaji kemampuan perawatan diri klien untuk merawat rambut (kondisi penyakit klien merusak kemampuan klien dalam perawatan rambut).

4)      Praktik perawatan rambut : dengan mengkaji gaya rambut perawat dapat mengatur pola rambut, produk perawatan, waktu perawatan.

 

b.      Kepala

(Inspeksi apakah terdapat luka atau lecet diarea kepala, amati adanya pembesaran atau pengecilan kepala, amati kebersihan kulit kepala)

c.       Mata

(Inspeksi adanya ikterik, konjungtiva, secret pada kelopak mata, kemerahan serta gatal pada mata).

d.      Hidung

(Inspeksi hidung, dalam keadaan bersih atau tidak, kaji adanya polip hidung, sinusitis seta tanda-tanda pikej tidak kunjung sembuh, atau adanya perubahan penciuman (anosmia)).

e.       Mulut

(Inspeksi apakah bagiaman kelembapan, apakah ada luka, lecet atau lesi, serta apakah ada sariawan atau bibir kering, pecah-pecah).

f.       Gigi

(Amati kondisi dan kebersihan gigi. Perhatikan adanya tanda-tanda karang gigi, karies, gigi pecah-pecah, tidak lengkap, atau gigi palsu).

g.      Telinga (Amati kondisi dan kebersihan telinga. Perhatikan adanya serumen atau kotoran pada telinga, lesi, infeksi, atau perubahan daya pendengaran).

h.      Kulit : Amati kondisi kulit (tekstur, turgor, kelembaban) dan kebersihannya. Perhatikan adanya perubahan warna kulit, stria, kulit keriput, lesi, atau pruritus.

Kaji perawatan hygiene:

1.      Identifikasi klien terhadap toleransi prosedur hygiene, tipe perawatan yang diperlukan dan masalah kesehatan klien.

2.      Selama membantu klien melalukan hygiene kaji seluruh permukaan kulit secara inspeksi dan palpasi, meliputi perubahan integumen, respon terapi,

3.      Kaji fisik kulit

a)      Okservasi kondisi kulit meliputi warna, tekstur, turgor, temperatur, dan hidrasi kulit.

b)      Masalah kulit seperti: Kulit kering karena kebanyakan mandi, penggunaan sabun berlebihan atau sabun kasar dan alkalin, kulit maserasi, daerah kalus kaki , tangan.

-          Ruam kulit atau erupsi kulit dari reaksi alergi bisa datar, naik berupa lokal atau sistemik, pruritik atau nonpruritik.

-          Dermatitis kontak yaitu inflasi ditandai dengan letusan eritema, pruritis, nyeri, bersisik. Abrasi dan lesi kulit rusak, perdarahan, cairan.

-          Dekubitus dampak dari imobilisasi lama, bagian badan tergantung,terpapar tekanan seperti gips, linen, matras.

c)      Kaji kemampuan perawatan diri klien seperti klien tidak mampu merawat kulit maka perawat memberi bantuan atau mengajarkan pada keluarga, Kaji keseimbangan, toleransi, kekuatan otot, keadaan berbaring, kemampuan duduk, alat yang dibutuhkan, dan jarak rentang gerak pada ekstremitas klien.

d)     Kaji masalah kesehatan klien seperti gangguan fungsi kognitif dan kondisi fisik.

e)      Kaji penurunan sensasi.

Klien tidak mampu merasakan cedera permukaan kulit biasanya pada klien dengan paralisis, insufisiensi sirkulasi, kerusakan saraf.

i.        Kuku tangan dan kaki : Amati keber

Pengkajian :

1)      Lakukan inspeksi pada permukaan kulit : bentuk, ukuran, jumlah jari, bentuk kaki, dan kondisi kaki meliputi adanya luka, inflamasi, iritasi dan pecah-pecah

2)      Amati jari kaki, secara normal adalah lurus, datar dan kaki harus dalam garis lurus dengan mata kaki dan tibia

3)      Kaji cara berjalan, apa pincang atau tidak alami, rasa nyeri saat berjalan.

4)      Kaji keadekuatan serkulasi perifer pada kaki terutama klien dengan diabetes: dengan cara palpasi dari pedisdorsalis dan denyut tibial posterior.

5)      Kaji adanya neuropati yaitu degerasi saraf perifer yang ditandai kehilangan sensasi dengan cara sentukan ringan, suhu atau tusukan. Kaji kemampuan klein tentang perawatan kaki dan kuku.

6)      Amati kuku: kuku sehat yaitu transparan, lembut dan alas jari pink dan ujung putih tembus cahaya, sedangkan pada lansia tebal dan kuning. Kulit sekitar kuku dan kutikula lembut dan tanpa inflamasi.

7)      Kaji masalah umum pada kaki dan kuku seperti kalus (pengerasan), katimumul atau keratosis pada jari di atas tonjolan tulang bentuknya kerucut, bulat dan naik. Kutil (plantar wart) yaitu luka yang menjamur pada tumit kaki disebabkan virus papiloma. Infeksi jamur kaki ( tinea pedes ) biasanya antara jari dan tumit, keadaan melempuh, berair, hal ini biasanya disebabkan alas kaki yang ketat. Kuku yang tumbuh kedalam. Bau kaki, hal ini disebabkan keringat berlebih yang meningkatkan perkembangan mikroorganisme.

j.        Genetalia

(Amati kondisi dan kebersihan genetalia berikut area perineum. Perhatikan pola pertumbuhan rambut pubis. Pada laki-laki, perhatikan kondisi skrotum dan testisnya).

k.      Hygiene personal secara umum.

Amati kondisi dan kebersihan kulit secara umum. Perhatikan adanya kelainan pada kulit dan bentuk tubuh.

 

3.1.2          Diagnosa Keperawatan

Dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), (Tim Pokja SDKI D P P PPNI, 2017) pada klien dengan permasalahan personal hygiene adalah Defisit Perawatan diri diantaranya diagnosa yang biasa dipakai pada kasus ini adalah sebagai berikut

1.      Defisit Perawatan Diri (Mandi)

2.      Defisit Perawatan Diri (Berpakaian)

3.      Defisit Perawatan Diri (Makan)

4.      Defisit Perawatan Diri (Toileting)

5.      Defisit Perawatan Diri (Berhias)

Gejala Mayor yang didapatkan bisanya berupa :

1.      Menolak melakukan perawatan

2.      Tidak mampu mandi/mengenakan pakaian/makan/ketoilet/berhias secara mandiri

3.      Minat melakukan perawatan diri kurang

Penyebab :

1.      Ganggguan Muskuloskeletal

2.      Gangguan Neuromuskuler

3.      Kelemahan

4.      Gangguan psikologis dan atau/psikotik

5.      Penurunan motivasi/minat

Kondisi klinis yang terkait berupa :

1.      Stroke

2.      Cedera medula spinalis

3.      Depre si

4.      Arthritis reumatoid

5.      Retardasi mental

6.      Delirium

7.      Demensia

8.      Gangguan amnestik

9.      Skizofrenia dan gangguan psikotik

10.  Fungsi penilaian terganggu

3.1.3          Intervensi Keperawatan

Berdasarkan diagnosis (Tim Pokja SDKI D P P PPNI, 2017) berikut intervensi berdasrkan (Tim Pokja SIKI D P P PPNI, 2018) dan kriteria hasil berdasarkan (Indonesia, 2019) dari diagnosis tersebut adalah sebagai berikut :

1)      Dukungan Perawatan Diri

Intervensi

Observasi

-     Identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia

-     Monitor tingkat kemandirian

-     Identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian, berhias dan makan

Terapeutik

-     Sediakan lingkungan yang teraputik (mis.suasana hangat, rileks, privasi)

-     Siapkan keperluan pribadi (mis.parfum, sikat gigi, dan sabun mandi)

-     Dampingi dalam melakukan perawatan diri sampai mandiri

-     Fasilitasi untuk menerima keadaan ketergantungan

-     Fasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu melakukan perawatan diri

-     Jadwalkan rutinitas perawatan diri

Edukasi

-     Anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan

Kriteria Hasil

Setelah dilakukan intervensi perawatan diri meningkat dengan kriteria hasil :

-     Kemampuan mandi meningkat (5)

-     Verbalisasi perawatan diri meningkat (5)

-     Minat melakukan perawat diri meningkat (5)

-     Mempertahankan kebersihan diri meningkat (5)

-     Kemampuan menganakan pakaian/berhias meningkat (5)

-     Kemampuan makan meningkat (5)

-     Mempertahankan kebersihan mulut meningkat (5)

2)      Defisit Perawatan Diri (Mandi)

Intervensi (dukungan perawatan diri mandi)

Observasi

-     Identifikasi usia dan budaya dalam membantu kebersihan diri

-     Identifikasi jenis bantuan yang dibutuhkan

-     Monitor kebersihan tubuh (mis.rambut, mulut, kulit, kuku)

-     Monitor integritas kulit

Terapeutik

-     Sediakan peralatan mandi (mis.sabun, sikat gigi, shampoo, pelembap kulit)

-     Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman

-     Fasilitasi menggosok gigi, sesuai kebutuhan

-     Fasilitasi mandi, sesuai kebutuhan

-     Pertahankan kebiasaan kebersihan diri

-     Berikan bantuan sesuai tingkat kemandirian

Edukasi

-     Jelaskan manfaat mandi dan dampak tidak mandi terhadap kesehatan

-     Ajarkan kepada keluarga cara memandikan pasien, jika perlu

Kriteria Hasil

Setelah dilakukan intervensi perawatan diri meningkat dengan kriteria hasil :

-     Kemampuan mandi meningkat (5)

-     Verbalisasi perawatan diri meningkat (5)

-     Minat melakukan perawat diri meningkat (5)

-     Mempertahankan kebersihan diri meningkat (5)

3)      Defisit Perawatan Diri (Berpakaian)

Intervensi (defisit perawatan diri berpakaian)

Observasi

-     Identifikasi usia dan budaya dalam membantu berpakaian/berhias

Terapeutik

-     Sediakan pakaian pada tempat yang mudah dijangkau

-     Sedikan pakaian pribadi, sesuai kebutuhan

-     Fasilitasi mengenakan pakaian, jika peerlu

-     Fasilitasi berhias (mis.menyisir rambut, merapikan kumis/jenggot)

-     Jaga privasi selama berpakaian

-     Tawarkan untuk laundry, jika perlu

-     Berikan pujian terhadap kemampuan berpakaian secara mandiri

Edukasi

-     Informasikan paaian yang tersedia untuk dipilih, jika perlu

-     Ajarkan mengenakan pakaian, jika perlu

Kriteria Hasil

Setelah dilakukan intervensi perawatan diri meningkat dengan kriteria hasil :

-     Kemampuan menganakan pakaian meningkat (5)

-     Verbalisasi perawatan diri meningkat (5)

-     Minat melakukan perawat diri meningkat (5)

-     Mempertahankan kebersihan diri meningkat (5)

4)      Defisit Perawatan Diri (Makan/minum)

Intervensi (dukungan perawatan diri makan/minum)

Observasi

-     Identifikasi diet yang dianjurkan

-     Monitor kemampuan menelan

-     Monitor status hidrasi pasien, jika perlu

Terapeutik

-     Ciptakan lingkungan yang menyenanngkan selama makan

-     Atur posisi yang nyaman untuk makan.minum

-     Lakukan oral hygiene sebelum makan/minum

-     Letakkan makanan disisi mata yang sehat

-     Sediakan sedotan untuk minum, sesuai kebutuhan

-     Siapkan sedotan untuk minum, sesuai kebutuhan

-     Siapkan makanan dengan suhu yang meningkatkan nafsu makan

-     Sediakan makanan dan minuman yang disukai

-     Berikan bantuan saat makan/minum sesuai tingkat kemandirian, jika perlu

-     Motivasi untuk makan diruang makan, jika perlu

Edukasi

-     Jelaskan posisi makanan pada pasien yang mengalami gangguan penglihatandengan menggunakan arah jarum jam (mis.sayur dijam 12, rendang dijam 3)

Kolaborasi

-     Kolaborasi pemberian obat (mis.analgesik, antiemetik) sesuai indikasi

-     Kolaborasi pemberian makanan dengan ahli gizi

Kriteria Hasil

Setelah dilakukan intervensi perawatan diri meningkat dengan kriteria hasil :

-     Kemampuan makan meningkat (5)

-     Verbalisasi perawatan diri meningkat (5)

-     Minat melakukan perawat diri meningkat (5)

-     Mempertahankan kebersihan diri meningkat (5)

-     Mempertahankan kebersihan mulut meningkat (5)

5)      Defisit Perawatan Diri (Toileting)

Intervensi (dukungan perawatan diri BAK/BAB)

Observasi

-     Identifikasi kebiasaan BAK/BAB sesuai dengan usia

-     Monitor integritas kulit

Terapeutik

-     Buka pakaian yang diperlukan untuk memudahkan eliminasi

-     Dukung penggunaan toilet/commode/pispot/urinari secara konsisten

-     Jaga privasi selama eliminasi

-     Ganti pakaian pasien setelah eliminasi, jika perlu

-     Bersihkan alat bantu BAK/BAB setelah digunakan

-     Latih BAK/BAB sesuai jadwal jika perlu

-     Sediakan alat bantu (mis.kateter eksternal, urinal), jikaperlu

Edukasi

-     Anjurkan BAK/BAB secara rutin

-     Anjurkan ke kamar mandi/toilet, jika perlu

Kriteria Hasil

Setelah dilakukan intervensi perawatan diri meningkat dengan kriteria hasil :

-     Kemampuan mandi meningkat (5)

-     Verbalisasi perawatan diri meningkat (5)

-     Minat melakukan perawat diri meningkat (5)

-     Mempertahankan kebersihan diri meningkat (5)

6)      Defisit Perawatan Diri (Berhias)

Intervensi (dukungan perawatan diri berhias)

Observasi

-     Identifikasi usia dan budaya dalam membantu berpakaian/berhias

Terapeutik

-     Sediakan pakaian pada tempat yang mudah dijangkau

-     Sedikan pakaian pribadi, sesuai kebutuhan

-     Fasilitasi mengenakan pakaian, jika peerlu

-     Fasilitasi berhias (mis.menyisir rambut, merapikan kumis/jenggot)

-     Jaga privasi selama berpakaian

-     Tawarkan untuk laundry, jika perlu

-     Berikan pujian terhadap kemampuan berpakaian secara mandiri

Edukasi

-     Informasikan paaian yang tersedia untuk dipilih, jika perlu

-     Ajarkan mengenakan pakaian, jika perlu

Kriteria Hasil

Setelah dilakukan intervensi perawatan diri meningkat dengan kriteria hasil :

-     Kemampuan menganakan pakaian/berhias meningkat (5)

-     Verbalisasi perawatan diri meningkat (5)

-     Minat melakukan perawat diri meningkat (5)

-     Mempertahankan kebersihan diri meningkat (5)

3.2   Deskripsi Kasus

Seorang perempuan usia 60 tahun masuk dengan keluhan pusing dan tidak dapat menggerakkan ekstremitas kiri, setelah dilakukan pemeriksaan CT-Scan kesimpulan yang didapatkan adalah Infark Cerebri, pasien dipindahkan di rawat inap dengan kondisi umum lemah, kesadaran composmetis, TD : 160/100, Nadi : 88x/menit, Suhu : 36,8⸰C, RR: 18x/menit, tidak dapat menggerakan esktremitas kiri (kanan dan kaki kiri), bibir mencong kearah yang sakit, dan pasien dianjurkan untuk bedrest. Pasien mengalami kelumpuhan sehingga beberapa aktivitas perlu dibantu oleh keluarga ataupun perawat termasuk dalam hal kebersihan diri (Personal Hygiene), sore ini perawat akan membantu untuk memandikan pasien dan membantu pasien dalam berpakaian.

 



BAB IV
PENUTUP

 

4.1   Kesimpulan

Personal Hygiene merupakan hal atau suatu cara dalam menjaga kebersihan diri dan menjaga kesehatan badan dalam mencapai kesejahteraan baik secara fisik maupun fisiologis. Dimana tujuan dari personal hygiene  adalah untuk memelihara kebersihan diri, mencegah timbulnya penyakit, menciptakan keindahan serta meningkatkan derajat kesehatan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi diantaranya adalah status kesehatan, budaya, status sosial ekonomi, tingkat pengetahuan dan perkembanga, cacat jasmani atau mental, praktik sosial, citra tubuh, pilihan pribadi.

Dengan demikian macam-macam perawatan dalam personal hygiene adalah perawatan kulit, perawatan kaki dan kuku, perawaan rambut, perawatan gigi dan mulut, perawatan kelamin, perawatan telinga, perawatan mata, perawatan hidung,

4.2   Saran

Bagi mahasiswa keperawatan supaya bisa memhami konsep teori serta asuhan keperawatan serta pengaplikasian tindakan keperawatan personal hygiene demi tercapainya derajat kesehatan dan mempertahankan rasa nyaman pada pasien. Demi kesempurnaan makalah ini tanpa mengurangi rasa hormat pada pendamping ataupun fasilitator dapat memberikan kritik atau saran yang membangun bagi kami untuk kesempurnaan masalah selanjutnya serta motivasi dan ilmu pengetahuan yang dapat memberikan pemahaman khususnya pada topik personal hygiene.



DAFTAR PUSTAKA

 

Debi, M. (2017). Personal Hygiene. Jember : Universitas Negeri Jember

Efendi, M. (2013). Keperawatan Komunitas. Jakarta : Salemba Medika.

Hidayat, A. A., & Uliyah, M. (2015). Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia. Health Books Publishing.

Indonesia, P. P. N. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: PPNI.

Kasiati, N. W. D. R. (2016). Modul Praktik Keperawatan Kebutuhan Dasar Manusia 1 (Cetakan 1). Pusdik SDM Kesehatan. http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/08/Praktikum-KDM-1-Komprehensif.pdf

Maryam. (2011). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta : Salemba Medika.

PPNI, Tim Pokja SDKI D P P. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.

PPNI, Tim Pokja SIKI D P P. (2018). Standar intervensi keperawatan indonesia. Jakarta: PPNI.

 



LAMPIRAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)

 

     SOP Memandikan Pasien

Definisi : suatu kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebuuhan personal hygiene dengan memandikan pasien

Tujuan : memenuhi personal hygiene dengan memandikan pasien

Indikasi : pasien dengan masalah imobilitas fisik

SOP :

-  Persiapan Tempat dan alat :

Baki berisi :

1.      2 kom berisi air hangat

2.      3 katong pencuci

3.      2 handuk

4.      Alas meja

5.      Sabun dan tempatnya

6.      Kamfer spiritus dan dedak/talk

7.      Peralatan untuk menggosok gigi

8.      Pakaian bersih

9.      Sisir

10.  Botol berisi air untuk membilas sesudah BAK/BAB

11.  Kertas kloset

12.  Selimut mandi

13.  Tempat pakaian kotor

-  Persiapan pasien : Memberitahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan

-  Persiapan lingkungan : Menutup pintu dan jendela dan memasang tabir tirai, menyalakan lampu jika gelap

-  Pelaksanaan :

1.      Mencuci tangan

2.      Menutup selimut pada bagian kaki tempat tidur

3.      Membantu pasien menyikat gigi

4.      Menawarkan pasien untuk BAK/BAB

5.      Membersihkan Muka pasien

       Handuk dibagian atas dibentangkan dibawah kepala

       Membersihkan mata pasien tanpa menggunakan sabun

       Membasuh muka dan telinga dengan waslap, mengeringkan dengan handuk yang dibentangkan dibawah kepala

6.      Membersihkan Lengan

       Pakaian bagian atas ditanggalkan

       Handuk atas dibentangkan memanjang sisi kanan dan handuk disisi kiri sehingga menutup bagian depan dan kedua lengan diatas handuk

       Membersihkan lengan ketiak, membilas minimum 3x

       Mengeringkan dengan handuk atas

7.      Membersihkan Dada dan Perut

       Kedua lengan dikeataskan dan diletakkan disamping kepala

       Merubah letak kedua handuk sehingga leher, dada dan perut dapat dibersihkan

       Membersihkan leher dada dan perut dengan gerakan memutar, kemudian mengeringkan dengan handuk

       Memberi bedak tipis-tipis pada leher, dada, ketiak, perut

8.      Membersihkan Punggung

       Menutup bagian depan dengan handuk bawah

       Menanggalkan celana dalam

       Menganjurkan pasien miring ke kiri

       Membentangkan handuk atas memanjang dibawah punggung

       Mencuci punggung dengan waslap

       Mencuci paha dan bokong dengan waslap

       Mengeringkan punggung dengan handuk atas dan keringkan paha dan bokong dengan handuk bawah

       Menggosok kamfer spiritus dan memberi bedak tipis-tipis

       Mengenakan pakaian bagian atas

9.      Membersihkan paha dan kaki

       Membentangkan handuk atas metupi bagian bawah

       Handuk bawah memanjang dibawah kaki

       Membersihkan dengan waslap

       Mengeringkan dengan handuk bawah

10.  Membersihkan bagian bawah depan

       Menanggalkan pakaian bagian bawah

       Handuk bawah melintang dibawah bokong separuh menutupi bagian atas

       Membersihkan bagian bawah dengan waslap

       Mengeringkan dengan handuk

       Memberi bedak tipis-tipis

       Mengenakan pakaian bawah

11.  Menyisir rambut

12.  Membereskan peralatan

13.  Mencuci tangan

-  Sikap :

1.      Menunjukkan sikap sopan dan ramah

2.      Menjamin privacy pasien

3.      Bekerja dengan teliti

4.      Memperhatikan body mekanism

-  Evaluasi : tanyakan keadaan dan kenyamanan setelah tindakan

 

     SOP Merawat Mulut

Definisi : suatu kegiatan yang dilakukan yang untuk memenuhi kebutuhan personal hygiene dengan membersihkan mulut

Tujuan : memenuhi personal hygiene dengan membersihkan mulut pasien

Indikasi :

1.    Pasien dengan masalah imobilitas fisik

2.    Pasien dengan masalah di mulut

3.    Kesadaran menurun

SOP :

-     Persiapan tempat dan alat

1.      Larutan air garam

2.      Deppers

3.      Pinset

4.      Sudip lidah

5.      Borak gliserin

6.      Bengkok

7.      Pengalas dagu

-     Persiapan Pasien : Memberitahu pasien tentang maksud dan tujuan

-     Persiapan lingkungan : mengatur ruangan/tempat yang aman dan nyaman

-     Pelaksanaan :

1.      Pasien diberitahu

2.      Alat-alat didekatkan pada pasien

3.      Perawat mencuci tangan

4.      Memasang pengalas dibawah dagu pasien

5.      Mengambil deppres dengan pinset dan dibasahi dengan air garam

6.      Menekan lidah dengan sulip sehingga mulut dibuka

7.      Mula-mula dibersihkan gusi dan lidah kemudian dinding dalam yang terakhir gigi dan bibir

8.      Mulut dikeringkan dengan diulas borak gliserin (mencegah kekeringan dan pecah)

9.      Bengkok dan pengalas diangkat

10.  Membersihkan peralatan

11.  Mencuci tangan

-     Sikap

1.    Menunjukkan sikap sopan dan ramah

2.    Menjamin privacy pasien

3.    Bekerja dengan teliti

4.    Memperhatikan body mekanism

-     Evaluasi : Tanyakan keadaan dan kenyamanan pasien setelah tindakan

 

     SOP Oral Hygiene

Definisi : suatu kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan personal hygiene dengan membersihkan gigi pasien

Tujuan :

1.      Memenuhi personal hygiene dengan membersihkan gigi pasien

2.      Mempertahankan dan membantu memelihara gigi

3.      Memberikan kenyamanan dan mecegah infeksi

Indikasi : pasien dengan masalah imobilitas fisik

SOP :

-     Persiapan tempat dan alat

1.      Handuk/pengalas

2.      Bengkok

3.      Air untuk kumur-kumur

4.      Sikat gigi dan pasta gigi

5.      Tissue

-     Persiapan pasien : Pasien diberitahu maksud dan tujuan, mengatur posisi pasien

-     Persiapan lingkungan : Tutup pintu dan jendela

-     Pelaksanaan :

1.      Kepala pasien dimiringkan

2.      Handuk dan pengalas diletakkan dibawah dagu

3.      Bengkok diletakkan dibawah dagu

4.      Pasien diberi air untuk kumur-kumur

5.      Sikatlah gigi pasien dengan perlahan-lahan dari atas ke bawah luar dalam gerakan atas dan bawah

6.      Pasien diberi air untuk kumur-kumur lagi sampai bersih

7.      Mulut dibersihkan/ dikeringkan dengan tissue

8.      Bengkok dengan pengalas diangkat pasien dibaringkan kembali

9.      Membereskan peralatan

10.  Mencuci tangan

-     Sikap

1.      Menunjukkan sikap ramah dan sopan

2.      Menjamin privacy pasien

3.      Bekerja dengan teliti

4.      Memperhatikan body mekanism

-     Evaluasi : Tanyakan keadaan dan kenyamanan pasien setelah tindakan

     SOP Mencuci Rambut

Definisi : suatu kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuha personal hygiene dengan membersihkan/mencuci rambut

Tujuan : memenuhi personal hygiene dengan mencuci rambut, rambut bersih

Indikasi : pasien dengan masalah imobilitas fisik

SOP :

-          Persiapan Tempat dan Alat

Baki berisi

1.      Perlak

2.      2 sisir

3.      2 handuk

4.      Handscoen bersih

5.      Handscoen steril

6.      Shampoo

7.      Talang karet (perlak dan handuk yang dibuat untuk talang)

8.      Kom kecil

9.      Kasa dan kapas bulat dalam tempatnya

10.  2 bengkok, 1 bengko sudah berisi desinfektan

11.  Karet pengikat jika perlu

12.  2 skort

13.  Baskom berisi air hangat

14.  Ember kosong dan gayung

15.  Kain pel

-          Persiapan pasien : Menjelaskan maksud dan tujuan tindakan dan memposisikan pasien 

-          Persiapan lingkungan : Menutup tirai dan penerangan cukup

-          Pelaksanaan :

1.      Atur peralatan disamping tempat tidur pasien

2.      Tarik tirai/gorden disekitar tempat tidur atau tutup pintu kamar untuk menjaga privasi pasien

3.      Cuci tangan dan gunakan handscoen

4.      Ganti selimut pasien dan selimut mandi

5.      Angkat bantal lalu pasang pengalas/perlak dibawah kepala pasien

6.      Pasang talang diujung tempat tidur pasien (posisinya yang dekat dengan perawat) dengan ujung talang dimasukkan kedalam ember kosong. Alasi ember dengan kain pel

7.      Atur posisi pasien dengan kepala pasien berada dipinggir tempat tidur, diatas talang

8.      Pasang ujung handuk diatas bahu pasien

9.      Tutup lubang telinga dengan kasa dan jika perlu ditutup juga mata pasien dengan kain kapas

10.  Kaji rambut (lesi, ketombe, kutu)

11.  Sisir rambut pasien sebelum mencuci rambut

12.  Basahi rambut mulai dari pangkal sampai ujung rambut. Oleskan shampoo ke seluruh permukaan kulit kepala dan batang rambut, kemudian usap dengan kasa samapai berbusa, lalu gunakan teknik memijit kepala dengan lembut

13.  Bilas rambut sampai bersih (tidak ada busa)

14.  Angakat penutup telinga dan mata (letakkan dibengkok) lalu angkat handuk yanng dibahu pasien

15.  Keringkan rambut dengan handuk,jika perlu dibungkus (kalau ada alat pengering rambut boleh pakai alat tersebut)

16.  Angkat talang dan masukkan kedalam ember jika terdapat air dilantai lap dengan kain pel

17.  Angkat talang dan masukkan ke dalam ember, jika terdapat air dilaintai lap dengan kain pel

18.  Sisir rambut, angkat perlak dibawah kepala pasien

19.  Ganti kembali selimut pasien

20.  Rapikan kembali alat-alat ke baki beralas

21.  Lepas handscoen tutup sampiran/gorden dan cuci tangan

-          Sikap

1.      Menunjukkan sikap sopan dan ramah

2.      Menjaga privacy pasien

3.      Bekerja dengan teliti

4.      Memperhatikan body mekanism

-          Evaluasi : Menanyakan keadaan dan kenyamanan setelah di lakukan tindakan

 

     SOP Memotong Kuku

Definisi : suatu kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan personal hygiene dengan memotong kuku

Tujuan : memenuhi personal hygiene dengan memotong kuku

Indikasi : pasien dengan masalah imobilitas fisik

SOP :

-     Persiapan Tempat dan Alat :

1.      Handuk

2.      Gunting/pemotong kuku

3.      Bengkok

4.      Kapas alkohol

5.      Air hangat dalam waksom

6.      Tisu

7.      Pengalas

-     Persiapan Pasien : memberikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan

-     Persiapan Lingkungan : mengatur ruangan/tempat yang nyaman dan cukup pencahayaan

-     Pelaksanaan

1.      Pasien diberitahu

2.      Alat-alat didekatkan pada pasien

3.      Perawat cuci tangan

4.      Memeriksa kondisi kuku dan jari-jari tangan

5.      Memasang handuk dibawah tangan

6.      Bila keadaan kuku kotor kuku direndan dengan air hangan ±3 menit

7.      Keringkan kuku dan jari jari tangan dengan handuk

8.      Lakukan pemotongan kuku dengan bentuk ovale jangan terlalu pendek

9.      Kikir kuku dan bersihkan dengan kapas alkohol

10.  Membersihkan perlatan

11.  Mencuci tangan

-     Sikap

1.      Memunjukkan sikap sopan dan ramah

2.      Menjamin privacy pasien

3.      Bekerja dengan teliti

4.      Memperhatikan body mekanism

-     Evaluasi : tanyakan keadaan dan kenyamanan pasien setelah tindakan

 

     SOP Membersihkan Genetalia Laki-laki

Definisi : suatu kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan personal hygiene didaerah genetalia pria

Tujuan : memenuhi personal hygiene dengan membersihkan daerah genetalia pria

Indikasi :

1.      Pasien dengan masalah imobilitas fisik

2.      Pasien yang terpasang kateter

3.      Pasien dengan masalah didaerah genetalia pria

SOP :

-     Persiapan tempat dan alat

1.      Kapas direndam NaCl/sublimat

2.      Bengkok

3.      Pispot

4.      Peralatan yang diperlukan

5.      Sarung tangan steril

6.      Tisu

7.      Celana dalam

8.      Pot

9.      Botol berisi air hangat

10.  Obat bila ada

-     Persiapan pasien : pasien diberitahu maksud dan tujuan, mengatur posisi pasien (supine)

-     Persiapan lingkungan : tutup pintu dan jendela, pasang sampiran, alat-alat didekatkan

-     Pelaksanaan :

1.      Mencuci tangan

2.      Alas dan selimut dipasang

3.      Pakaian pasien bagian bawah dikeataskan atau dibuka

4.      Atur posisi pasien (supine)

5.      Memakai sarung tangan

6.      Membersihkan genetalia dengan memegang penis dengan tangan kiri, sementara tangan kanan memegang kapas sublimat/NaCl

7.      Membersikan gland penis dari ujung ke arah bawah dengan cara memutar (bagi pasien yang belum disuna, tarik prepetium kearah gland. Bersihkan batang penis dari atas ke bawah).

8.      Bersihkan skrotum, dari atas ke bawah mengarah ke rektum

9.      Pasang pot dibawah bokong

10.  Basuh daerah genetalia dengan air hangat

11.  Keringkan dengan tissu sekitar genetalia taruh pada bengkok

12.  Oleskan obat bila ada luka daerah genetalia dan pakai celana

13.  Pispot diangkat pengalas dan selimut

14.  Melepas sarung tangan steril

15.  Merapikan pasien dan posisinya diatur kembali

16.  Membereskan peralatan

17.  Mencuci tangan

-     Sikap

1.      Menunjukkan sikap sopan dan ramah

2.      Menjamin privacy pasien

3.      Bekerja dengan teliti

4.      Memperhatikan body mekanism

-     Evaluasi

1.      Tanyakan keadaan dan kenyamanan pasien setelah tindakan

2.      Observasi keadaan pasien

3.      Catat tindakan yang dilakukan dan hasilnya

 

 

     SOP Membersihkan Genetalia Perempuan

Definisi : suatu kegiatan yang dilakukan yang untuk memenuhi kebutuhan personalhygiene didaerah vulva

Tujuan : memenuhi personal hygiene dengan membersihkan daerah vulva

Indikasi :

1.      Pasien dengan imobilitas fisik

2.      Pasien terpasang kateter

3.      Pasien dengan masalah daerah vulva

SOP :

-     Persiapan tempat dan alat

1.      Kapas direndam NaCl/sublimat

2.      Bengkok

3.      Pispot

4.      Peralatan lain yang diperlukan

5.      Sarung tangan steril

6.      Tissu

7.      Celana dalam

8.      Pot

9.      Botol berisi air hangat

10.  Pembalut bila perlu

-     Persiapan pasien : pasien diberitahu maksud dan tujuan dan mengatur posisi pasien

-     Persiapan lingkungan : tutup pintu dan jendela, pasang sampiran, alat-alat didekatkan dengan pasien

-     Pelaksanaan

1.      Mencuci tangan

2.      Pakaian pasien bagan bawah dikeataskan atau dibuka

3.      Atur posisi pasien dorsal recumbent

4.      Memasang pispot

5.      Memakai sarung tangan

6.      Membersihkan genetalian dengan membuka labia mayora dengan tangan kanan dan memegang kapas sublimat/NaCl

7.      Membersihkan mulai labia mayora dan minor 1 kali pemakaian dengan arah ke bawah. Ulangi untuk labias yang lain sampai bersih. Demikian dilanjutkan beberapa kali sampai vulva bersih

8.      Basuh daerah genetalian dengan air hangat

9.      Keringkan dengan tisu sekitar genetalian letakkan pada bengkok

10.  Oleskan obat bila ada luka daerah genetalia

11.  Melepas sarung tangan steril

12.  Merapikan pasien dan posisinya diatur kembali

13.  Membereskan peralatan

14.  Mencuci tangan

-     Sikap

1.      Menunjukkan sikap sopan dan ramah

2.      Menjamin privacy pasien

3.      Bekerja dengan teliti

4.      Memperhatikan body mekanism

-     Evaluasi :

1.      Tanyakan keadaan dan kenyamanan pasien setelah tindakan

2.      Observasi keadaan

3.      Catat tindakan yang dilakukan dan hasilnya

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

NILAI KEADILAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN ILMU

Iyadatul Maridh (Menjenguk Orang Sakit)

Issue Etik Dan Dilema Etik Dalam Keperawatan