ASUHAN KEPERAWATAN KEBUTUHAN AKTIVITAS
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kebutuhan adalah segala sesuatu
yang mutlak dan penting bagi seseorang terutama klien. Kebutuhan dasar manusia
adalah kebutuhan yang diperlukan untuk kelangsungan hidup setiap orang (DeLaune
& Ladner, 2011). Kebutuhan dasar manusia merupakan komponen yang vital
untuk mempertahankan hidup dan kesehatan. Manusia sebagai makhluk yang unik dan
holistik mempunyai kepuasan saat kebutuhan dasar manusia terpenuhi, seperti
fisiologis, psikologis, sosial budaya, intelektual, dan kebutuhan spiritual (Delaune
& Ladner, 2011).
Kebutuhan dasar
manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh setiap manusia dalam
mempertahankan kehidupan dan kesehatan salah satunya adalah kebutuhan
aktivitas. Kebutuhan aktifitas atau pergerakan ,istirahat dan tidur merupakan
satu kesatuan yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Tubuh
membutuhkan aktifitas untuk kegiatan fisiologi, serta membutuhkan istirahat dan
tidur untuk pemenuhan (Tarwoto & Wartonah, 2015).
Aktivitas adalah suatu bentuk
energi atau kemampuan bergerak pada seseorang secara bebas, mudah, dan teratur
untuk mencapai suatu tujuan, yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik
secara mandiri maupun dengan bantuan orang lain, dalam memenuhi kebutuhan
aktivitas, sesorang tidak terlepas dari keadekuatan sistem persyarafan dan
muskuloskletal (Riyadi & Harmoko,2016).
Aktivitas adalah kemampuan dalam
melakukan kegiatan sehari-hari yang merupakan kebutuhan dasar setiap manusia.
Kemampuan beraktivitas meliputi berdiri, berjalan, bekerja, makan, minum, dan
sebagainya, dengan beraktivitas tubuh akan menjadi sehat, sistem pernapasan dan
sirkulasi tubuh akan berfungsi dengan baik, dan metabolism tubuh dapat optimal
(Mubarak dkk,2015).
1.2
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Konsep Kebutuhan
Mobilisasi?
2. Apa saja Aktivitas dan fungsinya pada
manusia?
3. Bagaimana Fisiologi mobilisasi?
4. Apa saja Faktor-faktor yang mempengaruhi
mobilisasi?
5. Bagaimana Prinsip mekanika tubuh?
6. Apa saja Gangguan mobilisasi?
7. Apa Dampak Imobilisasi?
8. Bagaimana Pengkajian pada gangguan
mobilisasi?
9. Apa saja Diagnosa keperawatan pada
gangguan mobilisasi?
10. Apa Rencana Tindakan Keperawatan pada
gangguan mobilisasi?
1.3
Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui
laporan pendahuluan dari kebutuhan aktivitas.
1.3.2. Untuk mengetahui
asuhan keperawatan teori dari kebutuhan aktivitas.
1.4
Manfaat
1.4.1
Menambah dan meningkatkan
pengetahuan tentang laporan
pendahuluan dari kebutuhan aktivitas.
1.4.2
Menambah dan meningkatkan
pengetahuan tentang asuhan
keperawatan teori dari kebutuhan aktivitas.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pengertian Konsep Kebutuhan Mobilisasi
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas,
mudah, dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat.
Kehilangan kemampuan untuk bergerak mengakibatkan seseorang menjadi ketergantungan
dan membutuhkan tindakan keperawatan
2.2
Aktivitas dan Fungsi pada Manusia
Manfaat dari gerakan tubuh antara lain, tubuh menjadi segar, memperbaiki
tonus otot, mengontrol berat badan, merangsang peredaran darah, mengurangi
stres, meningkatkan relaksasi, memperlambat proses penyakit (penyakit
degeneratif), untuk aktualisasi diri (harga diri dan citra tubuh), sedang untuk
anak merangsang pertumbuhan.
2.3
Fisiologi Mobilisasi
Berdasarkan kajian teori dan pembahasan
beberapa konsep dapat disimpulkan bahwa
immobilisasi dalam periode yang lama akan terjadi respon fisologis pada sistem otot rangka. Respon fisiologis pada sistem otot rangka
tersebut berupa gangguan mobilisasi permanen yang menyebabkan
keterbatasan mobilisasi. Keterbatasan mobilisasi
akan mempengaruhi daya tahan otot sebagai akibat dari penurunan masa otot,
atrofi dan stabilitas. Pengaruh otot
akibat pemecahan protein akan mengalami kehilangan
masa tubuh yang terbentuk oleh sebagian otot. Karena itu, penurunan masa otot tidak mampu mempertahankan aktivitas tanpa peningkatan
kelelahan, selain itu juga terjadi gangguan pada metabolisme
kalsium dan mobilisasi sendi.
2.4
Faktor-faktor yang Memengaruhi Mobilisasi
Apabila seseorang terjadi patah tulang,
menderita penyakit atau cacat, dan lain-lain.
seseorang tersebut akan mengalami masalah gangguan pergerakan (immobilisasi),
apa lagi sampai klien
tersebut selalu bedrest dalam waktu lama, hal ini bisa menyebabkan:
1. Klien
mengalami atropi otot, dimana keadaan
otot menjadi mengecil karena tidak tepakai dan pada akhirnya serabut otot
diinfiltrasi dan diganti jaringan fibrosa dan
lemak. Maka sebelum perawat membantu klien memenuhi kebutuhan aktivitas
seperti ganti posisi atau berjalan,
perawat harus mengkaji kekuatan otot. Langkah ini diambil untuk menurunkan risiko cedera tubuh.
2. Nekrosis (jaringan mati), terjadi trauma
atau iskemia di mana proses regenerasi otot sangat
minim.
3. Kontraktur sehingga body mechanic
terganggu.
4. Beberapa faktor lain yang harus saudara
ketahui antara lain:
a) Tingkat perkembangan tubuh: Usia
seseorang mempengaruhi system muskuloskeletal dan persarafan, Untuk itu, dalam
melakukan tindakan keperawatan untuk membantu memenuhi kebutuhan aktivitas,
perawat harus memperhatikan aspek tumbuh kembang klien sesuai kebutuhan.
b) Kesehatan fisik: Seseorang dengan
penyakit (gangguan musculoskeletal, gangguan kardiovaskuler, gangguan sistem
respirasi), cacat tubuh dan imobilisasi akan dapat menggangu pergerakan tubuh.
c) Keadaan nutrisi: Seseorang dengan
nutrisi kurang, hal ini menyebabkan kelemahan dan kelelahan otot yang berdampak
pada penurunan aktivitas dan pergerakan. Sebaliknya, hal yang sama terjadi pada
kondisi nutrisi lebih (obesitas).
d) Status mental: Seseorang mengalami
gangguan mental cenderung tidak antusias dalam mengikuti aktivitas , bahkan
kehilangan energi untuk memenuhi kebutuhan personal hygiene.
e) Gaya hidup: Seseorang dalam melalukan
pola aktivitas sehari-hari dengan baik tidak akan mengalami hambatan dalam
pergerakan, demikian juga sebaliknya.
2.5
Prinsip Mekanika Tubuh
Mekanika tubuh (body mechanic) adalah penggunaan organ secara efisien dan efektif sesuai dengan fungsinya. Pergerakan
merupakan rangkaian aktivitas yang terintegrasi antara system musculoskeletal dan system persarafan didalam tubuh. Komponen
system musculoskeletal melibatkan tulang, otot, tendon, ligamen,
kartilago, dan sendi.
Tulang adalah jaringan dinamis, salah satu
fungsinya menunjang jaringan tubuh dan membantu
pergerakan. Sedang otot berfungsi untuk kontraksi dan membantu menghasilkan gerakan, mempertahankan postur tubuh, dan
menghasilkan panas. Otot dipersarafi oleh saraf
yang terdiri atas serabut motoris dari medulla spinal. Medula otak seperti
korteks cerebri kanan mengatur
otot-otot anggota gerak kiri dan sebaliknya.
Bagaimana Anda bisa bergerak, berikut ini
mekanisme kontraksi otot: membran otot mengandung
myofibril, kemudian pelepasan asetikolin. Akibatnya, pintu kalsium diretikulum sarkoplasma membuka dan melepaskan ion
kalsium ke sitoplasma sel otot, lalu berikatan
dengan troposin, kemudian
membuka binding sites, terjadilah jembatan
silang (Cross bridges), antara
filamin aktin dan myosin. Selajutnya dengan katalis enzim myosin-ATP ase terjadi
hidrolikis ATP menjadi ADP + P
+ energy, sehingga terjadilah
kontraksi.
2.6
Gangguan Mobilisasi
Gangguan Mobilitas atau Imobilitas merupakan
keadaan di mana seseorang tidak dapat bergerak secara bebas karena kondisi yang
mengganggu pergerakan (aktivitas), misalnya trauma tulang belakang, cedera otak
berat disertai fraktur pada ekstremitas, dan sebagainya (Widuri, 2010).
2.7
Dampak Mobilisasi
Dampak imobilisasi pada klien secara fisik adalah (1) pada fisik seperti
kerusakan integumen/integritas
kulit, system kardiovaskuler, sistem eliminasi, musculoskeletal, sistem pencernaan,
dan respirasi (2) psikologis seperti depresi dan istirahat tidur, dan (3) tumbuh kembang.
Untuk mencengah dampak buruk dari immobilisasi, maka perlu dilakukan
latihan rentang gerak (range of motion -ROM) secara aktif
maupun pasif dan ambulasi (kegiatan berjalan) (Kozier
dkk. 1995).
1.
Sistem Integumen
a. Turgor
kulit menurun: Kulit mengalami atropi akibat imobilisasi dan perpindahan cairan antar-komportemen pada area yang
mengantung, hal ini dapat mengganggu keutuhan dan kesehatan dermis dan
jaringan subkutan.
b. Kerusakan kulit: Kondisi imobilisasi
mengganggu sirkulasi dan suplai nutrisi pada area tertentu, hal ini berakibat iskemia
dan nekrosis jaringan
superfisial yang dapat menimbulkan ulkus dekubitus.
2.
Sistem Kardiovaskuler
a. Hipotensi ortostatik: Hipotensi ortostatik terjadi karena sistem saraf otonom tidak dapat menjaga keseimbangan suplai darah ke tubuh saat klien bangun dari posisi
berbaring yang lama. Darah berkumpul
di eksteremitas, dan tekanan darah menurun
drastis dan perfusi di otak mengalami gangguan, akibatnyan klien dapat
mengalami pusing, berkunang-kunang, bahkan pingsan.
b. Pembentukan trambus: Trombus atau massa
padat darah di jantung atau pembuluh darah biasa disebabkan oleh, gangguan aliran balik vena menuju jantung,
hiperkoagulabilitas darah, dan cedera dinding pembuluh darah . Jika trombus lepas dari dinding pembuluh
darah dan masuk ke siskulasi
disebut embolus.
c.
Edema dependen: Edema dependen biasa terjadi pada area
yang menggantung seperti kaki dan
tungkai bawah, edema akan menghambat aliran balik vena menuju jantung yang akan meninbulkan lebih banyak edema.
3.
Sistem Eleminasi
a. Stasis
urine: Stasis urine adalah terhentinya atau terhambatnya aliran urine. Klien berbaring
lama pengosongan ginjal dan kandung urine terlambat, akibat dari gravitasi
yang memainkan peran
dalam proses pengosongan urine.
b. Batu ginjal: Imobilisasi bisa terjadi
ketidakseimbangan antara kalsium dan asam sitrat yang menyebabkan kelebihan kalsium, akibatnya urine menjadi
lebih basa, dan garam kalsium
mempresipitasi terbentuknya batu ginjal.
c.
Retensi urine: Penurunan
tonus otot kandung
kemih menghambat kemampuan
mengosongkan kandung kemih secara tuntas.
d. Infeksi
perkemihan: Urine yang statis dan juga sifat urine yang basa akibat hiperkalsiuria merupakan
media baik pertumbuhan bakteri. Organisme penyebab
infeksi saluran kemih adalah Escherichia coli.
4.
Sistem Muskuloskeletal
a. Osteoporosis: Tanpa aktivitas yang memberi beban pada tulang akan mengalami
demineralisasi (osteoporosis), hal ini menyebabkan tulang kehilangan
kekuatan dan kepadatan sehingga tulang
menjadi keropos dan mudah
patah.
b. Atrofi otot: Otot yang tidak digunakan
dalam waktu lama akan kehilangan sebagian besar
kekuatan dan fungsi normalnya.
c.
Kontraktur dan nyeri sendi: Kondisi imobilisasi jaringan kolagen pada sendi mengalami ankilosa dan tulang terjadi
demineralisasi yang menyebabkan akumulasi kalsium pada sendi yang berakibat
kekakuan dan nyeri pada sendi.
5.
Sistem Pencernaan
Konstipasi: Imobilisasi mempengaruhi
pencernaan yaitu konstipasi akibat
penurunan peristaltik dan mobilitas
usus. Jika konstipasi berlanjut dan feses sangat keras, maka perlu upaya
kuat untuk mengeluarkannya.
6.
Respirasi
a. Penurunan gerakan pernafasan: Kondisi
ini disebabkan oleh pembatasan gerak, hilangnya kordinasi otot .
b. Penumpukan sekret: Normalnya sekret pada
saluran pernafasan dikeluarkan dengan perubahan
posisi, postur tubuh dan batuk. Pada klien imobilisasi
sekret terkumpul pada jalan nafas akibat gravitasi sehingga
mengganggu proses difusi oksigen dan karbon
dioksida di alveoli, serta pengeluarkan sekret dengan batuk terhambat karena melemahnya tonus otot pernafasan
c.
Atelektasis: Imobilisasi terjadi
perubahan aliran darah regional dan menurunkan produksi surfaktan, ditambah sumbatan
sekret pada jalan nafas, dapat mengakibatkan
atelektasis.
2.8
Pengkajian pada Gangguan Mobilisasi
Melakukan pengkajian harus dilihat dari
dua bagian yaitu mobilisasi dan imobilisasi dengan menggerakan semua indra dan tenaga untuk melakukan pengkajian secara cermat baik melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dengan palpasi,
aukultasi, hasil tes laboratorium, bb (berat badan),
asupan cairan, dan haluaran cairan.
Menggali data yang akurat selama pemeriksaan fisik yang meliputi:
1.
Perawat harus menanyakan tingkat aktivitas klien, hal ini untuk mengidentifikasi mobilisasi dan resiko cedera yang meliputi pola aktivitas, jenis, frekuensi, dan lamanya.
2.
Selain itu perawat
juga perlu mengkaji
kecepatan aktivitas.
3.
Tanyakan tingkat kelelahan
meliputi aktivitas yang membuat lelah dan gangguan
pergerakan meliputi penyebab
, gejala dan efek dari gangguan pergerakan
4.
Perawat mengkaji tingkat aktivitas klien meliputi,
a) tingkat 0: klien mampu merawat diri sendiri secara penuh,
b) tingkat 1: klien memerlukan penggunaan
alat,
c) tingkat
2: klien perlu bantuan atau pengawasan orang lain,
d) tingkat
3: memerlukan bantuan, pengawasan orang lain dan
peralatan,
e) tingkat 4: Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan
atau berpartisipasi dalam perawatan
5.
Pemeriksaan fisik, pemeriksaan ini bertujuan untuk
mendapatkan data adanya indikasi rintangan
dan keterbatasan sehingga klien perlu bantuan perawat meliputi:
(a) tingkat kesadaran dan postur/bentuk tubuh,
(b) skoliosis, kiposis, lordosis dan cara berjalan,
(c) Ekstremitas: kelemahan, gangguan
sensorik, tonus otot, atropi, tremor, gerakan tak terkendali, kekuatan otot, kemampuan jalan, kemampuan duduk, kemampuan berdiri,
(d) pergerakan, kemerahan, deformitas, nyeri sendi dan kripitasi, suhu sekitar sendi.
2.9
Diagnosa Keperawatan pada Gangguan
Mobilisasi
Menurut NANDA (2018), diagnosa keperawatan yang terkait dengan aktivitas
antara lain:
1) Hambatan mobilitas di tempat tidur
2) Hambatan mobilitas fisik
3) Hambatan mobilitas berkursi roda
4) Hambatan duduk
5) Hambatan berdiri
6) Hambatan kemampuan berpindah
7) Hambatan berjalan
8) Keletihan
9) Intoleransi aktivitas
10) Risiko intileran aktivitas
Menurut SDKI (Edisi I Cetakan 3, 2017), diagnosa keperawatan yang
terkait dengan subkategori aktivitas antara lain:
1) D.0053 Disorganisasi Perilaku Bayi
Definisi: Disintegrasi respon fisiologi dan neurobehaviour bayi terhadap
lingkungan.
Penyebab:
Keterbatasan lingkungan fisik, ketidaktepatan
sensori, kelebihan stimulasi sensorik, imauritas sistem sensoris, prematuris, prosedur
invansif, malnutrisi, gangguan motori, kelainan kongenital, kelainan genetik, terpapar
teratogenik
Gejala dan Tanda Mayor
1. Subjektif: (Tidak tersedia)
2. Objektif: hiperekstensi ekstermitas,
jari-jari menggenggan atau merenggang, respon abnormal terhadap stimulus
sensorik, gerakan tidak terkoordinasi
Gejala dan Tanda Minor
1. Subjektif: (Tidak tersedia)
2. Objektif: Menangis, tidak mampu
menghambat respon terkejut, iritabilitasi, gangguan refleks, tonus motorik
berubah, tangan di wajah, gelisah.
Kondisi Klinis Terkait: Hospitalisasi,
prosedur invansif, prematuritis, gangguan neurologis, gangguan pernapasan,
ganguan kardiovaskuler.
2) D.0054 Gangguan Mobilitas Fisik
Definisi: keterbatasan dalam gerak dari satu atau lebih ekstermitas secara
mandiri.
Penyebab: kerusakan integritas struktur tulang, perubahan metabolisme, ketidakbugaran
fisik, penurunan kenddali otot, penurunan massa otot, penurunan kekuatan otot,
keterlambatan perkembangan, kekakuan ssendi, nyeri.
Gejala dan Tanda Mayor
1. Subjektif: Mengeluh sulit menggerakkan
ekstermitas.
2. Objektif: kekuatan otot menurun, tentang
gerak menurun.
Gejala dan Tanda Minor
1. Subjektif: Nyeri saat bergerak, enggan
melakukan pergerakan, merasa cemas saat bergerak.
2. Objektif: sendi kaku, gerakan tidak
terorganisasi, gerakan terbatas, fisik lemah.
Kondisi Klinis Terkait: stroke, cedera medula
spinalis, trauma, fraktur, osteoatritis, osteomalasia, keganasan.
3) D.0055 Gangguan Pola Tidur
Definisi: Gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat faktor
eksternal.
Penyebab: hambatan lingkungan, kurang kontrol tidur, kurang privasi, restraint fisik, krtiadaan teman tidur,
tidak familiar dengan peralatan tidur.
Gejala dan Tanda Mayor
1. Subjektif: mengeluh sulit tidur,
mengeluh sering terjaga, mengeluh tidak puas tidur, mengeluh pola tidur
berubah, mengeluh istirahat tidak cukup.
2. Objektif: (Tidak tersedia)
Gejala dan Tanda Minor
1. Subjektif: mengeluh kemampuan
beraktivitas menurun
2. Objektif: (Tidak tersedia)
Kondisi Klinis Terkait: nyeri,
hipertiroidisme, kecemasa, kehamilan, periode pasca partum, kondidi pasca
operasi.
4) D.0056 Intoleransi Aktivitas
Definisi: ketidakcukupan energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Penyebab: ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, tirah
baring, kelemahan, imobilitas, gaya hidup monoton.
Gejala dan Tanda Mayor
1. Subjektif: mengeluh lelah
2. Objektif: frekuensi jantung meningkat
>20% dari kondisi istirahat.
Gejala dan Tanda Minor
1. Subjektif: dipsnea saat/setelah
aktivitas, merasa tidak nyaman setelah beraktivitas, merasa lemah.
2. Objektif: tekanan darah berubah >20%
dari kondisi istirahat, gambaran EKG menunjukkan aritmia saat/setelah
aktivitas, gambaran EKG menunjukkan iskemia, sianosis.
Kondidi Klinis Terkait: Anemia, gagal
jantung kongsti, penyakit jantung koroner, penyakit katup jantung, aritmia,
PPOK, gangguan metabolik, gangguan muskuloskeletal.
5) D.0057 Keletihan
Definisi: penurunan kapasitas kerja fisik dan mental yang tidak pulih
dengan istirahat.
Penyebab: gangguan tidur, gaya hidup monoton, kondisi fisiologi, program
perawatan atau pengobatan jangka panjang, peristiwa hidup negatif, stres
berlebihan, depresi.
Gejala dan Tanda Mayor
1. Subjektif: merasa energi tidak pulih
walaupun telah tidur, merasa kuranng tenaga, mengeluh lelah.
2. Objektif: tidak mampu mempertahankan
aktivitas rutin, tampak lesu.
Gejala dan Tanda Minor
1. Subjektif: mersa bersalah akibat tidak
mampu menjalankan tanggungjawab, libido menurun.
2. Objektif: kebutuhan istirahat meningkat.
Kondidi Klinis Terkait: anemia, kanker,
AIDS, depresi, menopouse.
6) D.0058 Kesiapan Peningkatan Tidur
Definisi: pola penurunan kesadaran alamiah dan periodik yang memungkinkan
istirahat adekuat, mempertahankan gaya hidup yang diinginkan dan dapat
ditingkatkan.
Gejala dan Tanda Mayor
1. Subjektif: mengekspresikan keinginan
untuk meningkatkan tidur, mengekspreikan perasaan cukup istirahat setelah
tidur.
2. Objektif: jumlah waktu tidur sesuai
dengan pertumbuhan dan perkembangan.
Gejala dan Tanda Minor
1. Subjektif: Tidak menggunakan obat tidur.
2. Objektif: menerapkan rutinitas tidur
yang meningkatkan kebiasaan tidur.
Kondisi Klinis Terkait: pemulihan pasca
operasi, nyeri kronis, kehamilan, sleep
apnea.
7) D.0059 Risiko Disorganisasi Perilaku
Bayi
Definisi: berisiko mengalami disintegrasi respon fisiologis dan neurobehaviour bayi terhadap lingkungan.
Faktor Risiko: kelebihan stimulasi sensorik, prematuritas, prosedur
invansif, gangguan motorik, kelainan kongenital, kelainan genetik.
Kondisi Klinis Terkait: Hospitalisasi, prosedur invansif, prematuritis,
gangguan neirologis, gangguan pernapasan, gangguan kardiovaskuler.
8) D.0060 Risiko Intoleransi Aktivitas
Definisi: Berisiko mengalami ketidakcukupan energi untuk melakukan
aktivitas sehari-hari.
Faktor risiko: gangguan sirkulasi, ketidakbugaran status fisik, riwayat intoleransi
aktivitas sebelumnya, tidak berpengalaman dengan suatu aktivitas, gangguan
pernapasan.
Kondisi Klinia Terkait: anemia, gagal jantung kongesti, penyakit katup
jantug, aritmia, PPOK, gangguan metabolik, gangguan muskuloskeletal.
2.10
Rencana Tindakan Keperawatan pada Gangguan
Mobilisasi
Menurut SIKI(2018), sesuai dengan SDKI
(2017) subkategori aktivitas terdapat 8 diagnosa. Berikut intervensi utama dari
8 diagnosa tersebut:
Diagnosa Keperawatan Disorganisasi
Perilaku Bayi
Intervensi Utama: Perawatan Bayi
Definisi: Mengidentifikasi dan merawat
kesehatan bayi.
Tindakan observasi:
1. Monitor tanda-tanda vital bayi
Tindakan Terapeutik:
1. Mandikan bayi dengan suhu ruang(21-24ºC)
2. Mandikan bayi dalam waktu 5-10 menit dan
2 kali sehari
3. Rawat tali pusat secara terbuka
4. Bersihkan pangkal tali pusat lidi kapas
yang telah diberi air matang
5. Kenakan popok bayi di bawah umbilikus
jika tali pusat belum terlepas
6. Lakukan pemijatan bayi
7. Ganti popok bayi jika basah
8. Kenakan pakaian bayi dari bahan katun
Tindakan Edukasi:
1. Anjurkan ibu menyusui sesuai kebutuhan
bayi
2. Ajarkan ibu cara merawat bayi di rumah
3. Ajarkan cara pemberian makanan penddamping
ASI pada bayi >6 bulan
Luaran Utama: Organisasi Perilaku Bayi
Kriteria Hasil:
1. Gerakan pada ekstermitas: Meningkat
2. Kemampuan jari-jari menggenggam:
Meningkat
3. Gerakan terkoordinasi: Meningkat
4. Respon normal terhadap stimulus
sensirik: Meningkat
Diagnosa Keperawatan Gangguan Mobilitas
Fisik
Intervensi
Utama: Dukungan Ambulasi
Definisi:
Memfasilitasi pasien untuk meningkatkan aktivitas berpindah.
Tindakan Observasi:
1. Identifikasi adanya nyeri atau keluhan
fisik lainnya
2. Identifikasi toleransi fisik melakukan
ambulasi
3. Monitoe frekuensi jantung dan tekanan
darah
4. Monitor kondisi umum selama melakukan
ambulasi
Tindakan Terapeutik:
1. Fasilitasi fasilitas ambulasi dengan
alat bantu
2. Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik,
jika perlu
3. Libatkan keluarga untyk mebantu pasien
dalam meningkatkan ambulasi
Tindakan Edukasi:
1. Jelaskan prosedur dan tujuan ambulasi
2. Anjurkan melakukan ambulasi dini
3. Ajarkan ambulasi sederhana yang harus
dilakukan
Luaran Utama: Mobilitas Fisik
Kriteria Hasil:
1. Pergerakan ekstermitas: Meningkat
2. Kekuatan otot: Meningkat
3. Rentang gerak(ROM): Meningkat
Diagnosa
Keperawatan Gangguan Pola Tidur
Intervensi
Utama: Dukungan Tidur
Definisi:
Memfasilitasi siklus tidur dan terjaga yang teratur
Tindakan Observasi:
1. Identifikasi pola aktivitas dan tidur
2. Identifikasi faktor pengganggu tidur
3. Identifikasi makanan dan minuman yang
mengganggu tidur
4. Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi
Tindakan Terapeutik:
1. Modifikasi lingkungan (pencahayaan,
kebisingan, suhu, matras)
2. Batasi waktu tidur siang, jika perlu
3. Fasilitasi menghilangkan stress sebelum
tidur
4. Tetapkan jadwal tidur rutin
5. Lakukan prosedur untuk meningkatkan
kenyamanan
Tindakan Edukasi:
1. Jelaskan pentingnya tidur cukup saat
sakit
2. Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur
3. Anjurkan menghindari makanan/minuman
yang mengganggu tidur
Luaran Utama: Pola Tidur
Ekspektasi: Membaik
Kriteria Hasil:
1. Keluhan sulit tidur: Menurun
2. Keluhan sering terjaga: Menurun
3. Keluhan tidak puas tidur: Menurun
4. Keluhan pola tidur susah: Menurun
Diagnosa Keperawatan Intoleransi
Aktifitas
Intervensi Utama: Manajemen Energi
Definisi: mengidentifikasi dan mengelola
penggunaan energi untuk mengatasi atau mencegah kelelahan dan mengoptimalkan
proses pemulihan.
Tindakan Observasi:
1. Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan
kelelahan
2. Monitor kelelahan fisik dan emosional
3. Monitor poka dan jam tidue
4. Monitor lokasi dan ketidaknyamanan
selama melakukan aktivitas
Tindakan Terapeutik:
1. Sediakan lingkungan yang nyaman dan
rendah stimulus
2. Lakukan latihan gerak pasif dan/aktif
3. Berikan aktivitas distraksi yang
menenangkan
4. Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur,
jika tidak boleh berpindah atau berjalan
Tindakan Edukasi:
1. Anjurkan tirah baring
2. Anjurkan melakukan aktivitas secara
bertahap
3. Ajarkan strategi koping untuk mengurangi
kelelahan
Tindakan Kolaborasi:
1. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara
meningkatkan asupan makan
Luaran Utama: Toleransi Aktivitas
Ekspektasi: Meningkat
Kriteria Hasil:
Saturasi oksigen: meningkat
1. Kecepatan berjalan: meningkat
2. Kekuatan tubuh bagia atas dan bawah:
meningkat
3. Toleransi dalam menaiki tangga:
meningkat
Diagnosa Keperwatan Keletihan
Intervensi Utama: Edukasi Aktivitas
Definisi: Mengajarkan pengaturan
aktivitas dan istirahat
Tindakan Observasi:
1. Identifikasi kesiapan dan kemampuan
menerima informasi
Tindakan Terapeutik:
1. Sediakan materi dan pengaturan aktivitas
dan istirahat
2. Jadwalkan pemberian pendidikan kesehatan
sesuai kesepakatan
3. Berikan kesempatan kepada pasien dan
keluarga untuk bertanya
Tindakan Edukasi:
1. Jelaskan pentingnya melakukan aktivitas
fisik/olaharaga secara rutin
2. Anjurkan terlibat dalam aktivitas
kelompok, aktivitas bermain, dan aktivitas lainnya
3. Anjurkan menyusun jadwal aktivitas dan
istirahat
4. Anjurkan cara mengidentifikasi kebutuhan
istirahat (kelelahan, sesak napas saat aktivitas)
5. Anjurkan cara mengidentifikasi terget
dan jenis aktivitas sesuai kemampuan.
Luaran Utama: Tingkat Keletihan
Ekspektasi: Menurun
Kriteria Hasil:
1. Vebralisasi kepulihan energi: Meningkat
2. Tenaga: Meningkat
3. Kemampuan melakukan aktivitas rutin: Meningkat
Diagnosa
Keperawatan Kesiapan Peningkatan Tidur
Intervensi
Utama: Dukungan Tidur
Definisi:
Memfasilitasi siklus tidur dan terjaga yang teratur
Tindakan Observasi:
1. Identifikasi pola aktivitas dan tidur
2. Identifikasi faktor pengganggu tidur
3. Identifikasi makanan/minuman pengganggu
tidur
4. Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi
Tindakan Terapeutik:
1. Modifikasi lingkungan
2. Batasi waktu tidur siang, jika perlu
3. Fasilitasi menghilangkan stress sebelum
tidur
4. Tetapkan jadwal rutin tidur
5. Lakukan prosedur untuk meningkatkan
kenyamanan
6. Sesuaikan jadwal pemberiaon obat
danm/tindakan untuk menunnjang siklus tidur terjaga
Tindakan Edukasi:
1. Jelaskan pentingya tidur yang cukup
selama sakit
2. Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur
3. Anjurkan menghindari makan/minum yang mengganggu
tidur
4. Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi
terhadap gangguan pola tidur
Luaran Utama: Pola Tidur
Ekspektasi: Membaik
Kriteria Hasil:
1. Keluhan sulit tidur: menurun
2. Keluhan sering terjaga: menurun
3. Keluhan tidak puas tidur: menurun
4. Keluhan pola tidur berubah: menurun
5. Keluhan istirahat tidak cukup: menurun
Diagnosa
Keperawatan Risiko Disorganisasi Perilaku Bayi
Intervensi
Utama: Edukasi Keamanan Bayi
Definisi: Menyediakan informasi dan
dukungan terhadap pencegahan cedera pada bayi
Tindakan Observasi:
1. Identifikasi kesiapan dan kemampuan
menerima informasi
Tindakan Terapeutik:
1. Sediakan materi atau media pendidikan
kesehatan
2. Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai
kesepakatan
3. Berikan kesempatan untuk bertanya
Tindakan Edukasi:
1. Anjurkan selalu mengawasi bayi
2. Anjurkan tidak meninggalkan bayi
sendirian
3. Anjurkan memasang sisi penghalang tempat
tidur
4. Anjurkan menutup sumber listrik yang
terjangkau oleh bayi
5. Anjurkan mengatur perabotan rumah tangga
di rumah
6. Anjurkan memeberikan pembatas pada area
berisiko
Luaran Utama: Organisasi Perilaku Bayi
Kriteria Hasil:
1. Gerakan pada ekstermitas: Meningkat
2. Kemampuan jari-jari menggenggam:
Meningkat
3. Gerakan terkoordinasi: Meningkat
4. Respon normal terhadap stimulus
sensirik: Meningkat
Diagnosa Risiko Intoleransi Aktivitas
Intervensi Utama: Manajemen Energi
Definisi: mengidentifikasi dan mengelola
penggunaan energi untuk mengatasi atau mencegah kelelahan dan mengoptimalkan
proses pemulihan.
Tindakan Observasi:
5. Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang
mengakibatkan kelelahan
6. Monitor kelelahan fisik dan emosional
7. Monitor poka dan jam tidue
8. Monitor lokasi dan ketidaknyamanan
selama melakukan aktivitas
Tindakan Terapeutik:
5. Sediakan lingkungan yang nyaman dan
rendah stimulus
6. Lakukan latihan gerak pasif dan/aktif
7. Berikan aktivitas distraksi yang
menenangkan
8. Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur,
jika tidak boleh berpindah atau berjalan
Tindakan Edukasi:
4. Anjurkan tirah baring
5. Anjurkan melakukan aktivitas secara
bertahap
6. Ajarkan strategi koping untuk mengurangi
kelelahan
Tindakan Kolaborasi:
2. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara
meningkatkan asupan makan
Luaran Utama: Toleransi Aktivitas
Ekspektasi: Meningkat
Kriteria Hasil:
Saturasi oksigen: meningkat
4. Kecepatan berjalan: meningkat
5. Kekuatan tubuh bagia atas dan bawah: meningkat
6. Toleransi dalam menaiki tangga:
meningkat
BAB 3
SIMPULAN DAN SARAN
3.1
Simpulan
3.1.1
Untuk memberikan asuhan
keperawatan pada klien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan aktivitas, perawat harus
memahamai terlebih dahulu definisi aktivitas dan mobilisasi.
3.1.2
Mekanika tubuh (body
mechanic) adalah penggunaan organ secara efisien dan efektif sesuai dengan fungsinya. Pergerakan
merupakan rangkaian aktivitas yang terintegrasi antara system musculoskeletal dan system persarafan didalam tubuh. Komponen
system musculoskeletal melibatkan tulang, otot, tendon, ligamen,
kartilago, dan sendi.
3.1.3
Untuk mendukung fungsi aktivitas, seorang perawatat harus menegetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi aktivitas yaitu Tingkat perkembangan tubuh Kesehatan fisik Keadaan nutrisi Status mental
3.1.4
Sebelum
menentukan masalah keperawatan yang berhubungan dengan aktivitas, perawat harus
melakukan pengkajianyang meliputi: pemeriksaan fisik dengan palpasi, aukultasi, hasil tes laboratorium, bb (berat badan),
asupan cairan, dan haluaran cairan.
3.1.5
Dalam
memfasilitasi klien dengan pemenuhan kebutuhan aktivitas seorang perawat harus menguasai implementasi
keperawatan yang mendukung.
3.2
Saran
Dengan terselesainya makalah ini,
diharapkan para pembaca dapat memahami dan mendapatkan pengetahuan tentang
laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan teori tentang kebutuhan aktivitas. Penulis
mengharapkan kritik dan saran agar makalah ini lebih baik dan memberikan
motivasi kepada penulis dalam membuat makalah yang lebih baik di masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
Kasiati, Ni
Wayan Dwi Rosmalawati. 2016. Kebutuhan Dasar Manusia 1. Jakarta: Badan
Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta:
DPP PPNI
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: DPP PPNI
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: DPP
PPNI
Komentar
Posting Komentar