ASUHAN KEPERAWATAN KEBUTUHAN KEAMANAN DAN KESELAMATAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebutuhan
akan keamanan dan keselamatan adalah kebutuhan untuk melindungi diri dari
berbagai bahaya yang mengancam, baik tehadap fisik maupun psikososial. Secara umum, keamanan adalah status seseorang
dalam keadaan aman, kondisi yang terlindungi secara fisik, sosial, spiritual,
finansial, politik, emosi, pekerjaan, psikologis, atau berbagai akibat dari
sebuah kegagalan, kerusakan, kecelakaan atau berbagai keadaan yang tidak
diinginkan. Keamanan tidak hanya mencegah dari rasa sakit dan cedera tetapi
juga membuat individu merasa aman dalam aktivitasnya dan dapat mengurangi
stress dan meningkatkan kesehatan secara umum. Keselamatan merupakan suatu
keadaan dimana seseorang atau lebih yang terhindar dari ancaman bahaya atau
kecelakaan atau kejadian yang tidak dapat diduga dan tidak diharapkan yang
dapat menimbulkan kerugian.
Keamanan
fisik merupakan keadaan fisik yang aman terbebas dari ancaman kecelakaan dan
cedera baik secar mekanis, thermis, elektris maupun bakteriologis. Ancaman
terhadap keamanan dan keselamatan fisik seseorang dapat dikategorikan ke dalam
ancaman mekanik, kimia, termal dan bakteri. Kebutuhan keamanan dan keselamatan
berkenaan denga konteks fisisologis dan hubungan interpersonal. Keamanan dan
keselamatan dalam konteks secara fisiologis berhubungan dengan sesuatu yang
mengancam tubuh seseorang dan kehidupannya. Ancaman bisa nyata atau imajinasi,
misalnya penyakit nyeri, cemas dan lain sebagainya. Terkadang klien tidak
menyadari bahwa yang dapat mengancam di rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan
leinnya. Perlu kesadaran perawat akan situasi yang mungkin dapat membuat klien
cedera. Perlindungan terhadap klien bukan hanya mencegah terjadinya kecelakaan,
tetapi juga memelihara postur tubuh klien selama dirawat serta menjaga
kebersihan dan kesehatan kulit klien. Perubahan postur tubuh klien dapat
diakibatkan oleh posisi tidur yang kurang tepat. Kebersihan dan kesehatan kulit bagian tubuh
klien dijaga agar tidak terjadi dekubitus.
Dalam
konteks hubungan interpersonal, keamanan dan keselamatan seseorang tegantung
pada banyak faktor, seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan untuk mengontrol
dan mengatasi masalah, kemampuan untuk mengerti, kemampuan untuk konsisten
menjaga tingkah laku yang berhubungan dengan oranglain, serta mengenal
orang-orang di sekitarnya dan lingkungan. Terkadang ketidaktahuan akan sesuatu
atau ketidakpastian akan membuat perasaan cemas dan tidak aman. Misalnya
ketidakpastian akan operasi apendisitis membuat seseorang akan cemas dengan
pemikiran bahwa operasi dapat membahayakan hidupnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah yaitu sebagai
berikut:
1. Apa pengertian dari keamanan dan
keselamatan?
2. Apa yang dimaksud dengan keamanan lingkungan?
3. Apa saja faktor-faktor yang memengaruhi keselamatan dan
keamanan?
4. Apa saja macam-macam bahaya/kecelakaan?
5. Bagaiman kebijakan rumah sakit terkait keselamatan
klien?
6. Bagaimana peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan
keamanan dan keselamatan?
7. Bagaimana pengkajian, diagnosis, intervensi,
implementasi dan evaluasi asuhan keperawatan keamanan dan
keselamatan pasien?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan Umum: Mengetahui konsep keamanan dan keselamatan pasien
Tujuan Khusus:
1. Mengetahui pengertian dari keamanan dan
keselamatan.
2. Mengetahui pengertian keamanan lingkungan.
3. Mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi keselamatan
dan keamanan.
4. Mengetahui macam-macam bahaya/kecelakaan.
5. Mengetahui kebijakan rumah sakit terkait keselamatan
klien.
6. Mengetahui peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan
keamanan dan keselamatan.
7. Mengetahui pengkajian, diagnosis, intervensi,
implementasi dan evaluasi asuhan keperawatan keamanan dan
keselamatan pasien.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kebutuhan
akan keselamatan dan keamanan adalah kebutuhan untuk melindungi diri dari
berbagai bahaya yang mengancam baik terhadap fisik maupun psikososial. Ancaman
terhadap keselamatan dan keamanan fisik seseorang dapat dikategorikan ke dalam
ancaman mekanik, kimia, termal dan bakteri. Kebutuhan keselamatan dan keamanan
berkenaan dengan konteks fisiologis dan hubungan interpersonal. Keselamatan dan
keamanan dalam konteks secara fisiologis berhubungan dengan sesuatu yang
mengancam tubuh seseorang dan kehidupannya. Ancaman bisa nyata atau hanya
imajinasi misalnya penyakit, nyeri, cemas, dan lainnya. Terkadang klien kurang
menyadari bahaya yang dapat mengancam di rumah sakit atau tempat pelayanan
kesehatan lainnya. Perlunya kesadaran perawat akan situasi yang mungkin dapat
membuat klien cidera perlindungan terhadap klien bukan hanya mencegah
terjadinya kecelakaan, tetapi juga memelihara postur tubuh klien selama dirawat
serta menjaga kebersihan dan kesehatan kulit klien.
Kebutuhan
akan keselamatan dan keamanan adalah suatu keadaan seseorang agar terhindar dari
ancaman bahaya/kecelakaan. Sementara kecelakaan merupakan kejadian tidak dapat
diduga dan tidak diharapkan yang dapat menimbulkan cedera fisik maupun
psikologis. Konsep keselamatan dan keamanan terkait dengan kemampuan seseorang
dalam menghindari bahaya, yang ditentukan oleh pengetahuan dan kesadaran serta
motivasi orang tersebut untuk melakukan tindakan pencegahan. Ada tiga faktor
penting yang terkait dengan keselamatan dan keamanan, yaitu tingkat pengetahuan
dan kesadaran individu, kemampuan fisik dan mental dalam mempraktikkan upaya
pencegahan, serta lingkungan fisik yang membahayakan atau berpotensi
menimbulkan bahaya. Pemenuhan kebutuhan keamanan dan keselamatan bertujuan
melindungi tubuh agar terbebas dari bahaya kecelakaan, baik pada klien, petugas
kesehatan, atau individu yang terlibat dalam upaya memenuhi kebutuhan tersebut
(Mubarak, Indrawati, dan Susanto, 2020).
Keselamatan
(safety) adalah kondisi ketika individu, kelompok, atau masyarakat
terhindar dari segala bentuk ancaman atau bahaya. Sementara itu, keamanan (security)
adalah kondisi aman dan tenteram, bebas dari ancaman atau penyakit. Untuk
mendukung keselamatan dan keamanan diperlukan kerja area sensori motorik yang
baik pada korteks serebri.
Keamanan
adalah keadaan bebas dari cedera fisik dan psikologis sebagai salah satu
kebutuhan dasar yang harus terpenuhi, bebas dari bahaya fisik, penyebaran
organisme patogen, sanitasi memenuhi syarat, dan bebas dari polusi (Mubarak,
Indrawati, dan Susanto, 2020).
B. Keamanan Lingkungan
Menurut Mubarak, Indrawati,
dan Susanto, (2020), lingkungan klien mencakup semua faktor fisik dan
psikososial yang memengaruhi atau berakibat terhadap kehidupan dan kelangsungan
hidup klien. Lingkungan yang aman adalah salah satu kebutuhan dasar yang
terpenuhi, bahaya fisik akan berkurang, penyebaran organisme patogen akan
berkurang, sanitasi dapat dipertahankan, dan polusi dapat dikontrol. Keamanan
lingkungan meliputi sebagai berikut.
1.
Kelembapan
Kelembapan relatif udara
dalam lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan dan keamanan klien. Kelembapan
relatif adalah jumlah uap air di udara dibandingkan dengan jumlah uap air
maksimum yang dapat dikandung oleh udara pada suhu yang sama. Pada cuaca panas
dan lembap orang akan merasa tidak nyaman.
2.
Nutrisi
Pemenuhan kebutuhan
nutrisi secara adekuat dan aman memerlukan kontrol lingkungan dan pengetahuan.
Makanan yang tidak disimpan atau disiapkan dengan tepat, atau benda yang dapat
menyebabkan kondisi yang tidak bersih akan meningkatkan risiko terjadi infeksi
dan keracunan pada makanan.
3.
Pengurangan
bahaya fisik
Bahaya fisik yang ada di
dalam komunitas dan tempat pelayanan kesehatan menyebabkan klien berisiko
mengalami cedera, untuk itu diperlukan:
a.
Menjamin
pencahayaan yang adekuat,
b.
Mengurangi
penghalang fisik,
c.
Mengontrol
bahaya yang ada di kamar mandi, dan
d.
Mengamankan
rumah.
4.
Pengurangan
transmisi patogen
Salah satu metode yang paling efektif
untuk membatasi penyebaran bakteri patogen ialah mencuci tangan dengan teknik
aseptik. Penyebaran penyakit dari orang ke orang juga dapat dikurangi dan pada
beberapa kasus dapat dicegah melalui imunisasi.
5.
Pengontrolan
polusi
Lingkungan yang sehat adalah lingkungan
yang bebas dari bahan polusi, baik polusi udara, air, maupun suara.
C.
Faktor
yang Memengaruhi Keselamatan dan Keamanan
Ada
beberapa faktor yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk melindungi diri dari
bahaya kecelakaan. Perawat perlu mengkaji faktor-faktor tersebut saat
merencanakan perawatan atau mengajarkan klien cara untuk melindungi diri
sendiri.
1.
Usia
Ini erat kaitannya
dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki individu. Perawat perlu untuk
mempelajari bahaya-bahaya yang mungkin mengancam individu sesuai usia dan tahap
tumbuh kembangnya sekaligus tindakan pencegahannya.
2.
Perubahan
persepsi sensorik
Individu yang mengalami
gangguan persepsi sensorik (pendengaran, penglihatan, penciuman, sentuhan)
berisiko tinggi mengalami cedera.
3.
Gangguan
kesadaran
Klien yang mengalami
segala bentuk gangguan kesadaran (misal klien yang kurang tidur, klien tidak
sadar atau setengah sadar, klien disorientasi, halusinasi, klien yang menerima
obat-obatan tertentu seperti narkotik, sedatif, dan hipnotik) dapat
membahayakan keselamatan dan keamanan seseorang.
4.
Mobilitas
dan status kesehatan
Klien dengan gangguan
ekstremitas (misal paralisis, lemah otot, gangguan keseimbangan tubuh,
inkoordinasi) berisiko tinggi mengalami cedera.
5.
Keadaan
emosi
Emosi yang tidak stabil
akan mengubah kemampuan seseorang dalam mempersepsikan bahaya lingkungan.
Klien dengan penurunan
kemampuan untuk menerima dan mengemukakan informasi juga birisiko untuk cedera.
7.
Pengetahuan
tentang keamanan
Informasi tentang
keamanan sangat penting guna menurunkan tingkat kebahayaan lingkungan. Setiap
individu perlu mengetahui cara-cara yang dapat mencegah terjadinya cedera.
8.
Gaya
hidup
Gaya hidup yang
menyebabkan individu berisiko tinggi antara lain lingkungan kerja yang tidak
aman, tinggal di daerah dengan tingkat kejahatan tinggi, ketidakcukupan dana
untuk membeli perlengkapan keamanan, dan lain-lain.
9.
Lingkungan
Kondisi lingkungan yang
tidak aman dapat mengancam keselamatan dan keamanan individu.
10. Faktor fisiologis
Sistem pada tubuh
manusia bekerja secara terkoordinasi dengan baik, apabila salah satu sistem
tidak bekerja maka hal tersebut akan mengancam keamanan seseorang.
11. Faktor toleransi terhadap stress dan
mekanisme koping
Faktor seperti kecemasan
dan depresi merupakan permasalahan yang akan mengganggu keamanan seseorang,
yakni seseorang akan kesulitan dalam mengekspresikan sesuatu.
12. Faktor lingkungan
Adapun faktor lingkungan
yang dapat memengaruhi keamanan dan keselamatan meliputi rumah, tempat kerja,
komunitas, tempat pelayanan kesehatan, temperatur, polusi, sumber listrik, dan
radiasi.
13. Faktor penyakit
Penyakit sangat
memengaruhi seseorang untuk mengalami masalah dalam pemenuhan kebutuhan
keamanan.
14. Faktor kurangnya mengindahkan tentang
keamanan
Hal ini berkaitan dengan kesadaran diri
individu dalam pemenuhan kebutuhan keamanan (Mubarak, Indrawati, dan
Susanto, 2020).
D.
Macam-Macam
Bahaya/Kecelakaan
Menurut
Mubarak, Indrawati, dan Susanto, (2020), beberapa bahaya yang sering mengancam klien
baik yang berada di tempat pelayanan kesehatan, rumah, maupun masyarakat.
1.
Api/kebakaran
Penyebab kebakaran yang
paling sering adalah rokok dan hubungan pendek arus listrik.
2.
Luka
bakar (scalds dan burns)
Scald adalah luka bakar yang
diakibatkan oleh cairan atau uap panas. Burn adalah luka bakar
diakibatkan terpapar oleh panas tinggi, bahan kimia, listrik, atau agen
radioaktif.
3.
Jatuh
Dapat terjadi akibat
lantai licin dan berair, alat-alat yang berantakan, dan lingkungan dengan
pencahayaan yang kurang.
4.
Keracunan
Penyebab utama keracunan
pada anak-anak adalah penyimpanan bahan berbahaya atau beracun yang
sembarangan, pada remaja adalah gigitan serangga dan ular atau upaya bunuh
diri, sedangkan pada lansia biasanya akibat salah minum atau overdosis obat
(akibat penurunan penglihatan dan daya ingat).
5.
Sengatan
listrik
Perlengkapan listrik
yang tidak baik dapat menyebabkan sengatan listrik bahkan kebakaran.
6.
Suara
bising
Suara bising adalah
bahaya yang dapat menyebabkan hilangnya fungsi pendengaran, bergantung pada
tingkat kebisingan, frekuensi terpapar kebisingan, dan lamanya terpapar
kebisingan serta kerentanan individu.
7.
Radiasi
Cedera radiasi dapat
terjadi akibat terpapar zat radioaktif yang berlebihan atau pengobatan melalui
radiasi yang merusak sel lain.
8.
Suffocation (asfiksia) atau choking
(tersedang)
Adalah keadaan
kekurangan oksigen akibat gangguan dalam bernapas.
9.
Lain-lain
Kecelakaan bisa juga
disebabkan oleh alat-alat medis yang tidak berfungsi dengan baik (equipment-related
accidents) dan kesalahan prosedur yang tidak disengaja (procedure-related
aquipment).
E.
Kebijakan
Rumah Sakit Terkait Keselamatan Klien
Pelaksanaan
keselamatan klien di rumah sakit ini agar terciptanya budaya keselamatan klien
di rumah sakit dan meningkatkan akuntabilitas rumah sakit terhadap klien dan
masyarakat yang tidak mampu. Kebijakan rumah sakit terkait keselamatan klien
meliputi sebagai berikut.
1.
Kecelakaan
yang disebabkan oleh klien (client-inherent accident)
Contoh kecelakaan ini
antara lain cedera, terbakar, memakan atau menyuntikkan zat asing, mencederai
diri sendiri, dan lain-lain. Peran perawat dalam kasus ini antara lain mencatat
dan mendokumentasikan kecelakaan yang terjadi secara akurat dan komplet serta
berkoordinasi dengan tim kesehatan lain untuk membuat perlindungan hukum bagi
profesi dan institusi yang bersangkutan dari tuntutan klien.
2.
Kecelakaan
terkait prosedur (procedure-related accident)
Jenis kecelakaan ini
biasanya terjadi pada saat terapi sebagai akibat kesalahan prosedur. Contohnya
adalah kesalahan dalam pemberian cairan, penggunaan peralatan eksternal, atau
ketika melakukan tindakan keperawatan (misal penggantian balutan). Peran
perawat dalam hal ini antara lain memberikan obat dengan prinsip lima benar,
mencegah kesalahan dalam pemberian cairan IV (kelebihan atau kekurangan), serta
mencegah paparan kuman patogen pada saat mengganti balutan.
3.
Kecelakaan
terkait peralatan (equipment-related accident)
Kecelakaan ini biasanya
disebabkan oleh tidak berfungsinya atau rusaknya alat-alat elektronik (misal
tersengat arus listrik saat menggunaan peralatan elektronik, baterai tidak
bekerja, dan lain-lain). Peran perawat dalam hal ini adalah memeriksa peralatan
sebelum dan sesudah digunakan, tindak melakukan pemantauan atau terapi dengan
peralatan elektronik jika tidak ada instruksi, serta mengkaji adanya
kemungkinan bahaya tersengat arus listrik (Mubarak, Indrawati, dan Susanto, 2020).
A)
Pencegahan
Kecelakaan di Rumah Sakit
Menurut Mubarak,
Indrawati, dan Susanto, (2020), contoh pencegahan kecelakaan di Rumah Sakit
antara lain:
1.
Mengkaji
tingkat kemampuan pasien untuk melindungi diri sendiri dari kecelakaan.
2.
Menjaga
keselamatan pasien yang gelisah selama berada di tempat tidur.
3.
Menjaga
keselamatan klien dari infeksi dengan mempertahankan teknik aseptik,
menggunakan alat kesehatan sesuai tujuan.
4.
Menjaga
keselamatan klien yang dibawa dengan kursi roda.
5.
Menghindari
kecelakaan dengan mengunci roda kereta dorong saat berhenti, tempat tidur dalam
keadaan rendah dan ada penghalang pada klien yang gelisah, bel berada pada
tempat yang mudah dijangkau, meja yang mudah dijangkau, serta kereta dorong ada
penghalangnya.
6.
Mencegah
kecelakaan pada klien yang menggunakan alat listrik misalnya suction,
kipas angin, dan-lain.
7.
Mencegah
kecelakaan pada klien yang menggunakan alat yang mudah meledak seperti tabung
oksigen dan termos.
8. Memasang label pada obat, botol, dan
obat-obatan yang mudah terbakar.
9. Melindungi semaksimal mungkin klien dari
infeksi nosokomial seperti penempatan klien terpisah antara infeksi dan
noninfeksi.
10. Mempertahankan ventilasi dan cahaya yang
adekuat.
11. Mencegah terjadinya kebakaran akibat
pemasangan alat bantu penerangan.
12. Mempertahankan kebersihan lantai ruangan
dan kamar mandi.
13. Menyiapkan alat pemadam kebakaran dalam
keadaan siap pakai dan mampu menggunakannya.
14. Mencegah kesalahan prosedur, identitas
klien harus jelas.
F.
Peran
Perawat dalam Pemenuhan Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Peran
perawat dalam pemenuhan kebutuhan keamanan dapat berperan secara langsung
maupun tidak langsung. Secara langsung perawat dapat melakukan asuhan
keperawatan pada klien yang mengalami masalah terkait dengan
ketidakterpenuhinya kebutuhan keamanan. Adapun peran perawat dalam pemenuhan
kebutuhan keamanan adalah sebagai berikut.
1.
Pemberi
perawatan langsung (care giver)
Perawat memberikan
bantuan secara langsung pada klien dan keluarga yang mengalami masalah terkait
dengan kebutuhan keamanan.
2.
Pendidik
Perawat perlu memberikan
pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga agar mereka melakukan profram
asuhan kesehatan keluarga terkait dengan kebutuhan keamanan secara mandiri, dan
bertanggung jawab terhadap masalah keamanan keluarga.
3.
Pengawas
kesehatan
Perawat harus melakukan
home visit atau kunjungan rumah yang teratur untuk mengidentifikasi atau
melakukan pengkajian tentang kebutuhan keamanan klien dan keluarga.
4.
Konsultan
Perawat sebagai
narasumber bagi keluarga dalam mengatasi masalah keamanan keluarga. Agar
keluarga mau meminta nasihat kepada perawat maka hubungan perawat-keluarga
harus dibina dengan baik, perawat harus bersikap terbuka dan dapat dipercaya.
5.
Kolaborasi
Perawat juga harus
bekerja sama dengan lintas program maupun secara lintas sektoral dalam
pemenuhan kebutuhan keamanan keluarga untuk mencapai kesehatan dan keamanan
keluarga yang optimal.
6.
Fasilitator
Perawat harus mampu
menjembatani dengan baik terhadap pemenuhan kebutuhan keamanan klien dan
keluarga sehingga faktor risiko dalam ketidakpemenuhan kebutuhan keamanan dapat
diatasi.
7.
Penemu
kasus/masalah
Perawat
mengidentifikasi masalah keamanan secara dini, sehingga tidak terjadi cedera
atau risiko jatuh pada klien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan keamanannya.
8.
Modifikasi
lingkungan
Perawat
harus dapat memodifikasi lingkungan baik lingkungan rumah maupun lingkungan
masyarakat agar tercipta lingkungan yang sehat dalam menunjang pemenuhan
kebutuhan keamanan (Mubarak, Indrawati, dan Susanto,
2020).
G.
Konsep
Asuhan Keperawatan Klien dengan Masalah Keamanan
A)
Pengkajian
Keperawatan
Pengkajian
klien dengan risiko cedera menurut Mubarak,
Indrawati, dan Susanto (2020) meliputi pengkajian
risiko (risk assestment tools) dan adanya bahaya di lingkungan klien (home
hazards appraisal). Pengkajian risiko meliputi sebagai berikut.
1) Pengkajian Bahaya
Meliputi
mengkaji keadaan lantai, peralatan rumah tangga, kamar mandi, dapur, kamar
tidur, pelindung kebakaran, zat-zat berbahaya, listrik, dan lain-lain apakah
dalam keadaan aman atau dapat mengakibatkan kecelakaan.
2) Pengkajian Keamanan (Spesifik pada Lansia
di Rumah)
Gangguan
keamanan berupa jatuh di rumah pada lansia memiliki insidensi yang cukup
tinggi, banyak di antara lansia tersebut yang akhirnya cedera berat bahkan
meninggal. Bahaya yang menyebabkan jatuh cenderung mudah dilihat tetapi sulit untuk
diperbaiki. Oleh karena itu, diperlukan pengkajian yang spesifik tentang
keadaan rumah yang terstruktur. Pengkajian bahaya akibat lingkungan rumah
meliputi sebagai berikut.
Tabel
2.1 Pengkajian Bahaya Lingkungan Rumah
|
Lingkungan
Rumah |
Hal
yang Dikaji |
|
Eksterior
rumah |
Bagaimana
kondisi tangga di dalam rumah: apa kondisinya baik, ada tidaknya
handrails/pengangan tangan di pinggir tangganya? Apakah
pencahayaannya adekuat? Apakah
furnitur di luar ruangan kuat untuk diduduki? |
|
Interior
rumah |
Penerangan
lampu, keset, dan pengaman karet, tata ruang atau barang, kondisi kamar mandi
atau WC. Apakah
semua kamar dan tangga mempunyai pencahayaan yang adekuat? Apakah
ada lampu yang dinyalakan pada malam hari? Apakah
permadani telah aman? Apakah
lantai dari kayu tidak licin? |
|
Dapur |
Konfisi
lantai, penerangan lampu, sumber air, kompor, kulkas. Apakah
tersedia fasilitas untuk mencuci tangan? Apakah
lampu pilot menyala dan tempat di atas kompor gas bersih? Apakah
tempat penyimpanan dapat dijangkau dengan mudah? Apakah
cairan pembersih, pemutih, dan lain-lain berada di dalam botol yang asli
serta disimpan dengan aman? |
|
Kamar
mandi |
Kondisi
lantai, penerangan lampu, adanya matras karet pada bathtub atau shower,
balok pegangan, kotak obat, jarak toilet-bathtub. Apakah
tersedia fasilitas untuk mencuci tangan? Adakah
alas atau permukaan yang tahan licin di dalam bak mandi/pancuran? Apakah
keset kamar mandi sudah aman? Apakah
klien membutuhkan alat pegangan di dekat bak mandi atau toilet? |
|
Kamar/ruang
tidur |
Letak
keset atau karpet, tata letak perabot, tombol lampu, penerangan malam hari,
akses ke toilet. Apakah
tinggi tempat tidur memadai untuk dapat naik dan turun dari tempat tidur
dengan mudah? Apakah
cahaya untuk siang hari dan malam hari sudah adekuat? Apakah
lantai tidak licin? Apakah
klien memiliki telepon di tempat tidurnya? |
|
Bahaya
akibat listrik dan kebakaran |
Pengaturan
listrik yang membahayakan (misal stopkontak tidak terlindungi, ada lebih dari
satu aliran kabel, letak kabel dekat dengan barang-barang basah, dan lain-lain). Apakah
semua peralatan berfungsi dengan baik? Apakah
semua peralatan telah dipasang ke tanah? Apakah
kabel listrik berada dalam kondisi yang baik? Apakah
sambungan kabel hanya digunakan bila perlu? |
3) Riwayat Keperawatan dan Pemeriksaan Fisik
Dapat
mengungkapkan berbagai data tentang praktik keamanan klien dan risiko klien
dalam mengalami cedera. Data tersebut meliputi usia dan tingkat perkembangan,
status kesehatan umum, status mobilitas, ada tidaknya defisit fisiologis atau
persepsi atau kerusakan sensorik lain, perubahan proses pikir atau gangguan
kognitif atau emosional, adanya tindak penganiayaan atau pengabaian, dan
riwayat kecelakaan atau cedera. Selain itu perlu juga dikaji tentang riwayat
keselamatan yang meliputi kesadaran klien akan adanya bahaya, pengetahuan
tentang tindakan pengamanan baik di rumah ataupun di tempat kerja, dan setiap
ancaman yang ia rasakan terhadap kesehatannya.
4) Perangkat Pengkajian Risiko
Perangkat
ini ditujukan untuk mengidentifikasi klien yang berisiko mengalami cedera
tertentu, seperti jatuh, atau untuk mengkaji kondisi klien secara umum agar
klien tetap aman di lingkungan rumahnya maupun di tatanan perawatan kesehatan.
Perangkat tersebut merangkum data-data spesifik yang terdapat dalam riwayat
keperawatan dan pemeriksaan fisik klien.
5) Penilaian Tingkat Kebahayaan Lingkungan
Rumah
Bahaya
di lingkungan rumah, seperti jatuh, kebakaran, keracunan, terpapar kebisingan,
sengatan listrik, paparan radiasi, asfiksia, pemasangan restraint pada
klien, dan bahaya-bahaya lainnya dapat disebabkan oleh penggunaan perabotan
rumah tangga, perkakas, dan peralatan masak yang tidak tepat.
a. Riwayat jatuh
Apakah
usia klien lebih dari 65 tahun, riwayat jatuh di rumah atau rumah sakit,
mengalami gangguan penglihatan atau pendengaran, kesulitas berjalan atau
mobilitas.
b. Riwayat kecelakaan
Beberapa
orang memiliki kecenderungan mengalami kecelakaan berulang, karena itu riwayat
sebelumnya perlu dikaji untuk memprediksi kemungkinan kecelakan itu terulang
kembali.
c. Keracunan
Beberapa
anak dan orang tua sangat berisiko tinggi terhadap keracunan. Pengkajian
meliputi seluruh aspek pengetahuan keluarga tentang risiko bahaya keracunan dan
upaya pencegahannya.
d. Kebakaran
Beberapa
penyebab kebakaran di rumah perlu ditanyakan tentang sejauh mana klien mengantisipasi
risiko terjadi kebakaran, termasuk pengetahuan klien dan keluarga tentang upaya
proteksi dari bahaya kecelakaan akibat api.
e. Sengatan listrik
Memberikan
pertolongan bagi klien yang terkena sengatan listrik. Jika seseorang terkena
macroshock (sengatan listrik yang cukup besar) jangan sentuh klien tersebut
sampai pusat listrik dimatikan dan klien aman dari arus listrik.
f. Terpapar kebisingan
Kebisingan
memiliki efek psikososial dan efek fisiologis. Efek psikososial seperti rasa
jengkel, tidur, dan istirahat terganggu, serta gangguan konsentrasi dan pola
komunikasi.
g. Melakukan perlindungan terhadap radiasi
Tingkat
bahaya radiasi bergantung pada lamanya, kedekatan dengan sumber radioaktif, dan
pelindung yang digunakan selama terpapar radiasi.
h. Penggunaan restraint pada klien
Restraint
adalah alat atau tindakan pelindung untuk membatasi gerakan/aktivitas fisik
klien atau bagian tubuh klien. Restraint diklasifikasikan menjadi
fisikal (physical) dan kemikal (chemical) restraint. Restraint
sebaiknya dihindari sebab berbagai komplikasi sering dikeluhkan akibat
pemasangan restraint. Komplikasi fisik di antaranya luka tekan, retensi
urine, inkontinensia, dan sulit BAB, bahkan kematian pun dilaporkan. Komplikasi
psikologisnya adalah penurunan harga diri, bingung, pelupa, depresi, takut, dan
marah (Mubarak, Indrawati, dan Susanto, 2020).
B) Diagnosa Keperawatan
Diagnosis yang muncul
pada kebutuhan keamanan dan proteksi menurut Standar Diagnosis Keperawatan
Indonesia (2017) antara lain:
a) Gangguan integeritas kulit/jaringan (D.0129)
Definisi:
Kerusakan kulit (dermis
dan/atau epidermis) atau jaringan (membran mukosa, kornea, fasia, otot, tendon,
tulang, kartilago, kapsul sendi dan/atau ligamen).
Penyebab:
1. Perubahan sirkulasi
2. Perubahan status nutrisi (kelebihan atau
kekurangan)
3. Kekurangan/kelebihan volume cairan
4. Penurunan mobilitas
5. Bahan kimia iritatif
6. Suhu lingkungan yang ekstrem
7. Efek terapi radiasi
8. Kurang terpapar informasi tentang upaya
mempertahankan/melindungi integritas jaringan
Gejala dan
tanda mayor
|
Subjektif |
Objektif |
|
Tidak
Tersedia |
Kerusakan
jaringan dan/atau kerusakan kulit |
Gejala dan tanda
minor
|
Subjektif |
Objektif |
|
Tidak
Tersedia |
Nyeri Perdarahan Kemerahan hematoma |
Kondisi Klinis Terkait
1. Imobilisasi
2. Gagal jantung kongestif
3. Gagal ginjal
4. Diabetes melitus
5. Imonodefisiensi (mis. AIDS)
Keterangan
·
Dispesifikkan
menjadi menjadi kulit atau jaringan
·
Kulit
hanya terbatas pada dermis dan epidermis, sedangkan jaringan meliputi tidak
hanya kulit tetapi juga mukosa, kornea, fasia, otot, tendon, tulang, kartilago,
kapsul sendi dan/atau ligamen.
Kriteria
Hasil (SLKI, 2019)
Definisi:
Keutuhan
kulit (dermis dan/atau epidermis) atau jaringan (membran mukosa, kornea, fasia,
otot, tendon, tulang, kartilago, kapsul sendi dan/atau ligamen).
Ekspektasi:
Meningkat
Kriteria
Hasil
|
|
Menurun |
Cukup Menurun |
Sedang |
Cukup Meningkat |
Meningkat |
||
|
Elastisitas |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
Hidrasi |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
Perfusi jaringan |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
|
Meningkat |
Cukup Meningkat |
Sedang |
Cukup Menurun |
Menurun |
||
|
Kerusakan jaringan |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
Kerusakan lapisan kulit |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
Nyeri |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
Perdarahan |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
Kemerahan |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
Hematoma |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
Pigmentasi abnormal |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
Jaringan parut |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
Nekrosis |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
Abrasi kornea |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
b) Hipertermia (D.0130)
Definisi:
Suhu tubuh meningkat di atas
rentang normal tubuh.
Penyebab:
1. Dehidrasi
2. Terpapar lingkungan panas
3. Proses penyakit (mis. Infeksi, kanker)
4. Ketidaksesuaian pakaian dengan suhu
lingkungan
5. Peningkatan laju metabolisme
6. Respon trauma
7. Aktivitas berlebihan
8. Penggunaan inkubator
Gejala dan tanda
mayor
|
Subjektif |
Objektif |
|
Tidak
Tersedia |
Suhu
tubuh diatas normal |
Gejala tanda minor
|
Subjektif |
Objektif |
|
Tidak
Tersedia |
Kulit
merah Kejang Tubuh
terasa hangat Takikardi Takipnea |
Kondisi
klinis terkait
1. Proses infeksi
2. Hipertiroid
3. Stroke
4. Dehidrasi
5. Trauma
6. Prematuritas
c) Hipotermia (D.0131)
Definisi:
Suhu tubuh berada di
bawah rentang normal tubuh.
Penyebab:
1. Kerusakan hipotalamus
2. Konsumsi alkohol
3. Berat badan ekstrem
4. Kekurangan lemak subkutan
5. Terpapar suhu lingkungan rendah
6. Pemakaian pakaian tipis
7. Penurunan laju metabolisme
8. Tidak berkativitas
9. Transfer panas (mis. Konduksi, konveksi,
evaporasi, radiasi)
10. Kurang terpapar informasi tentang
pencegahan hipotermia
Gejala tanda mayor
|
Subjektif |
Objektif |
|
Tidak
Tersedia |
Kulit
teraba dingin Mengigil Suhu
tubuh dibawah normal |
gejala tanda minor
|
Subjektif |
Objektif |
|
Tidak
Tersedia |
Akrosianosis Bradikardi Dasar
kuku sianotik Hipoglikemi Hipoksia |
Kondisi
klinis terkait
1. Hipotiroidisme
2. Anoreksia nervosa
3. Cedera batang otak
4. Tenggelam
d) Perlambatan pemulihan pascabedah D.0133
e) Risiko alergi D.0134
f) Risiko cedera D.0136
g) Risiko cedera pada ibu D.0137
h) Risiko cedera pada janin D.0138
i)
Risiko
gangguan integritas kulit/jaringan D.0139
j)
Risiko
hipotermia D.0140
k) Risiko hipotermia perioperatif D.0141
l)
Risiko
infeksi D.0142
m) Risiko jatuh D.0143
n) Risiko luka tekan D.0144
o) Risiko perlambatan pemulihan pascabedah D.0147
p) Risiko termoregulasi tidak efektif D.0148
q) Termoregulasi tidak efektif D.0149
C) Intervensi (SIKI, 2018)
Diagnosa: Gangguan
integeritas kulit/jaringan b/d penurunan mobilitas yang di tandai dengan pasien
imobilisasi, adanya luka dekubitus.
Intervensi
perawatan integeritas kulit
Definisi:
mengidentifikasi dan merawat kulit untuk menjaga keutuhan, kelembaban, dan
mencegah perkembangan mikrooganisme.
Tindakan:
Observasi
1.
Identifikasi
penyebab gangguan integritas kulit (mis. Perubahan sirkulasi, perubahan
nutrisi, penurunan kelembaban, suhu lingkungan ekstrem, penurunan mobilitas)
Terapeutik
2.
Ubah
posisi tiap 2 jam jika tirah baring
3.
Lakukan
pemijatan pada area penonjolan tulang, jika perlu
4.
Bersihkan
perineal dengan air hangat, terutama selama periode diare
5.
Gunakan
produk berbahan petrolium atau minyak pada kulit kering
6.
Gunakan
produk berbahan ringan/alami dan hipoalergik pada kulit sensitif
7.
Hindari
produk berbahan dasar alkohol pada kulit kering
Edukasi
8.
Anjurkan
menggunakan pelembab (mis. Lotion, serum)
9.
Anjurkan
minum air yang cukup
10. Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
11. Anjurkan meningkatkan asupan buah dan
sayur
12. Anjurkan menghindari terpapar suhu ekstrem
13. Anjurkan menggunakan tabir surya SPF
minimal 30 saat berada di luar rumah
14. Anjurkan mandi dan menggunakan sabun
secukupnya
D) Implementasi
Implementasi dilakukan untuk meningkatkan dan
mempertahankan keamanan klien. Sedangkan pada keselamatan, implementasi
dilakukan untuk mengurangi faktor yang dapat berisiko
jatuh.
E) Evaluasi
Rencana keperawatanan yang dirancang untuk mengurangi
risiko cedera pada klien, dievaluasi dengan cara membandingkan kriteria hasil
dengan tujuan yang ditetapkan selama tahap perencanaan.
H. Tindakan
Keperawatan untuk Peningkatan Keamanan Pasien
A) Membersihkan
lingkungan pasien (disinfeksi)
Pengertian
Suatu tindakan untuk membunuh kuman patogen dan
apatogen, tetapi tidak termasuk sporanya pada peralatan perawatan dan
kedokteran atau permukaan jaringan tubuh dengan menggunakan bahan disinfektan
atau dengan cara mencuci, mengoleskan, merendam, dan menjemur.
Tujuan
Mencegah terjadinya infeksi silang dan memelihara
peralatan dalam keadaan siap pakai.
Prosedur Pelaksanaan
1. Disinfeksi
dengan cara mencuci
a. Tangan.
Cuci tangan dan bersihkan dengan sabun, kemudian siram, atau basahi dengan
alkohol 70%
2. Disinfeksi
dengan cara merendam
a. Tangan.
Rendam tangan dalam larutan lisol 0,5%
b. Peralatan.
Merendam peralatan perawatan atau kedokteran setelah dipakai dalam larutan
lisol 3-5% sekurang-kurangnya dua jam.
c. Alat
tenun. Rendam alat tenun setelah dipakai oleh pasien penyakit menular dalam
larutan lisol 3-5% sekurang-kurangnya 24 jam.
3. Disinfeksi
dengan cara menjemur di bawah sinar matahari
a. Jemur
kasur, bantal, tempat tidur, dan lain-lain sekurang-kurangnya dua jam setiap
permukaan.
b. Jemur
peralatan perawatan, misalnya urinal dan pispot.
B) Mencuci
tangan aseptik
Pengertian
Membersihkan tangan dari segala kotoran dimulai dari
ujung jari sampai siku dan lengan dengan cara tertentu sesuai kebutuhan.
Tujuan
Mencegah terjadinya infeksi silang melalui tangan dan
menjaga kebersihan perorangan.
Macam-macam Cara Mencuci Tangan
1. Mencuci
tangan bersih
2. Mencuci
tangan steril
Mencuci Tangan Bersih
Tujuan
1. Membebaskan
tangan dari kuman dan mencegah kontaminasi
2. Memindahkan
angka maksimum kulit dari kemingkinan adanya organisme patogen.
3. Mencegah
atau mengurangi peristiwa infeksi.
4. Memelihara
tekstur dan integritas kulit tangan dengan tepat.
Persiapan Alat
1. Wastafel
dengan keran air hangat mengalir (sesuaikan dengan kondisi yang ada)
2. Sabun
atau desinfektan
3. Handuk
kerja
4. Sikat
kuku (tidak menjadi suatu keharusan)
5. Tempat
untuk handuk kotor
Perhatian
1. Jika
perawat mempunyai luka terbuka atau luka di tangan, beberapa institusi
mempunyai kebijakan melarang perawat kontak dengan klien
2. Cuci
tangan untuk semua personel medis pada saat datang dan sebelum pergi
3. Cuci
tangan sangat penting sebelum dan setelah membawa pasien
4. Personel
kesehatan seharusnya tidak memakai perhiasan
Prosedur Pelaksanaan
1.
Singsingkan lengan baju seragam
yang panjang di atas pergelangan tangan dan lepaskan perhiasan dan jam tangan
2.
Pertahankan kuku jari pendek dan
terkikir
3.
Perhatikan permukaan tangan dan
jari-jari terhadap adanya luka goresan atau potongan pada kulit. Luka terbuka
dapat menjadi sarang mikrooganisme
4.
Berdiri di depan wastafel, jaga
agar tangan dan seragam tidak menyentuh permukaan wastafel. Jika tangan
menyentuh wastafel selama mencuci tangan, ulangi proses mencuci tangan dari
awal. Gunakan wastafel dengan keran yang mudah dijangkau. Bagian dalam wastafel
merupakan area yang terkontaminasi
5.
Buka keran yang dioperasikan dengan
tangan
6.
Hindari memercikkan air ke seragam
7.
Atur aliran air sehingga suhunya
hangat (sesuaikan dengan kondisi yang ada)
8.
Basahi tangan dan lengan bawah secara
menyeluruh di bawah air mengalir. Jaga tangan dan lengan bawah berada lebih
rendah dari siku selama mencuci
9.
Oleskan satu mililiter sabun cair biasa atau
tiga milimeter sabun cair antiseptik pada tangan dan gosok sampai berbusa. Jika
menggunakan sabun batang, pegang dan gosok sampai berbusa
10. Cuci tangan
menggunakan banyak busa dan gosokkan selama 10-15 detik. Jalin jari-jari dan
gosok telapak dan punggung tangan dengan gerakkan memutar
11. Jika area di
bawah jari-jari kotor, bersihkan dengan kuku jari tangan yang ;ain dan
tambahkan sabun atau disikat. Jaga kulit di bawah (di sekitar) kuku Anda tidak
mengalami luka atau terpotong
12. Bilas tangan
dan pergelangan tangan secara menyeluruh, jaga tangan di atas dan siku di
bawah. Pembilasan secara mekanik membersihkan kotoran dan mikrooganisme
13. Ulangi langkah
9-11, tetapi lama mencuci tangan diperpanjang 1, 2, 3 menit
14. Keringkan
tangan secara menyeluruh, usap dari jari turun ke pergelangan tangan dan lengan
bawah. Tujuan pengeringan area paling berdih (ujung kari) ke area yang bersih
(pergelangan tangan) untuk menghindari kontaminasi
15. Letakkan handuk
dalam wadah yang telah disediakan
16. Hentikan aliran
air dengan siku. Untuk menghentikan aliran keran dengan tangan, gunakan tisu
kertas bersih dan kering. Handuk basah dan tangan baasah memungkinkan pemudahan
patogen melalui kerja kapiler
17. Pertahankan
tangan tetap bersih
C) Menggunakan
Alat Pelindung Diri
Mengenakan Masker
Pengertian
Suatu tindakan keparawatan yaitu menutup bagian mulut
dan hidung sebagai kewaspadaan untuk mengurangi transmisi droplet udara yang
mengandung mikrooganisme saat merawat klien yang diisolasi, saat membantu
prosedur steril, atau saat menyiapkan alat-alat steril untuk area steril.
Persyaratan Masker yang Baik
1. Ukuran
masker harus cukup melindungi hidung dan mulut
2. Satu
masker hanya dipakai oleh satu orang
3. Jika
menjadi lembap, masker seharusnya diganti karena pada bagian yang lembap kuman
dapat cepat berkembang biak
4. Masker
yang sudah dipakai harus direndam dengan larutan disinfektan (atau sekali pakai
saja).
Tujuan
1. Melindungi
perawat dari infeksi pernapasan
2. Menghindari
penyebaran dan penularan penyakit
3. Mengurangi
angka kejadian infeksi
Persiapan Alat
Masker bersih sekali pakai
Prosedur Pelaksanaan
Menggunakan Masker
1. Temukan
tepi atas masker (masker biasanya mempunyai strip logam tipis di tepinya).
a. Masker
terbaru yang dianjurkan mempunyai pita kepala elastik
b. Periksa
kebijakan institusi untuk penggunaan masker yang tepat
2. Pegang
masker pada kedua tali atau pita bagian atasnya. Ikatkan kedua tali tersebut di
atas puncak belakang kepala, dengan tali di atas telinga (alternatif: selipkan
tali masker ke atas masing-masing telinga). Posisi ikatan pada puncak kepala
memberikan ikatan yang kencang. Ikatan di atas telinga dapat menyebabkan
iritasi.
3. Ikat kedua tali
bawah dengan kuat sekitar leher, dengan masker tepat bawah dagu. Mencegah
keluarnya mikroorganisme melalui sisi masker saat Anda bicara atau bernapas.
4. Dengan
perlahan, cubit pita logam atas sekitar batang hidung.
Melepaskan masker
1. Jika
menggunakan sarung tangan, lepaskan, dan cuci tangan Anda.
2. Lepaskan kedua
ikatan dan lipat masker menjadi setengahnya dengan permukaan dalam saling
berhadapan.
3. Buang masker ke
dalam wadah yang telah disediakan. Memakai masker dan pelindung mata untuk
melindungi hidung, mulut, dan mata.
Memakai dan Membuka Skort Isolasi
Pengertian
Suatu tindakan menggunakan pakaian khusus dalam merawat klien isolasi
guna menghindari penyebaran dan penularan penyakit.
Tujuan
1. Memudahkan
perawatan
2. Mencegah
penularan dan penyebaran penyakit
3. Sebagai
proteksi bagai perawat
Persiapan Alat
Skort isolasi
Hal yang Harus Diperhatikan
1. Skort (pakaian khusus) dan masker tidak
boleh dipakai di luar kamar isolasi atau dibawa dari satu kamar ke kamar lain.
2. Pengunjung
harus diajarkan cara penggunaan skort dan harus mematuhi peraturan yang
ada.
Prosedur Pelaksanaan
1. Cuci tangan.
2. Skort dipegang pada bagian bahu sebelah
dalam, kemudian kedua lengan dimasukkan bersama-sama dan tali dikaitkan.
3. Buka tali dan
lepaskan skort dengan cara memasukkan jari tangan ke dalam lengan
sehingga tidak terkontaminasi.
4. Jika skort
digantungkan di dalam kamar, lipat ke dalam bagian yang kotor atau bagian
luarnya (terbalik).
5. Setelah
menggantungkan skort, cuci tangan (Mubarak, Indrawati, dan
Susanto, 2020).
DAFTAR PUSTAKA
Mubarak,
Wahit Iqbal, Indrawati, dan Susanto. 2020. Buku Ajar Ilmu Keperawatan Dasar
Buku 2. Jakarta: Salemba Medika.
PPNI,
Tim Pokja SDKI DPP. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi
dan Indikator Diagnostik. Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat Persatuan
Perawat Nasional Indonesia.
PPNI,
Tim Pokja SLKI DPP. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan
Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat Persatuan
Perawat Nasional Indonesia.
PPNI,
Tim Pokja SIKI DPP. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi
dan Tindakan Keperawatan. Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat Persatuan
Perawat Nasional Indonesia.
Komentar
Posting Komentar