ASUHAN KEPERAWATAN KEBUTUHAN ELIMINASI ALVI

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1              Latar Belakang

Kebutuhan adalah segala sesuatu yang mutlak dan penting bagi seseorang terutama klien. Kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan yang diperlukan untuk kelangsungan hidup setiap orang (DeLaune & Ladner, 2011). Kebutuhan dasar manusia merupakan komponen yang vital untuk mempertahankan hidup dan kesehatan. Manusia sebagai makhluk yang unik dan holistik mempunyai kepuasan saat kebutuhan dasar manusia terpenuhi, seperti fisiologis, psikologis, sosial budaya, intelektual, dan kebutuhan spiritual (Delaune & Ladner, 2011).

Manusia memiliki beberapa kebutuhan fiologis untuk bertahan hidup yaitu, oksigen, cairan, nutrisi, eliminasi, temperatur, tempat tinggal istirahat dan seks. Eliminasi adalah proses pembuangan metabolisme tubuh, sisa metabolism akan terbagi menjadi dua jenis yaitu sisa dari saluran cerna yang akan dibuang menjadi feses dan sisa metabolisme yang dibuang baik bersama feses ataupun melalui saluran lain seperti urine, CO2, nitrogen dan H2O (Potter & Perry, 2010).

Eliminasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang esensial dan berperan penting untuk kelangsunga hidup manusia. Eliminasi dibutuhkan untuk mempertahankan keseimbangan fisiologis melalui pembuangan   sisa-sisa metabolisme. Sisa metabolisme terbagi menjadi dua jenis yaitu  berupa  feses yang berasal dari saluran cerna dan urin melalui saluran perkemihan (Kasiati & Rosmalawati, 2016). Eliminasi fekal atau defekasi merupakan proses pembuangan sisa metabolism tubuh yang tidak terpakai.   Perubahan   pada defekasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan bagian tubuh lain, karena sisa-sisa produk usus adalah racun (Saryono & Widianti, 2010)

Eliminasi produk pencernaan yang teratur merupakan aspek yang penting untuk fungsi normal tubuh. Perubahan eliminasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan sistem tubuh lainnya, karena fungsi usus bergantung pada keseimbangan beberapa faktor, pola eliminasi dan kebiasaan. Untuk menangani masalah eliminasi perawat harus memahami eliminasi normal dan faktor-faktor yang meningkatkan atau menghambat eliminasi. Asuhan kaperawatan yang mendukung akan menghormati privasi dan kebutuhan emosional klien. Tindakan yang dirancang untuk meningkatkan eliminasi normal juga harus meminimalkan rasa ketidaknyamanan.

 

1.2              Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah makalah ini adalah:

1.2.1        Bagaimana laporan pendahuluan dari kebutuhan eliminasi alvi?

1.2.2        Bagaimana asuhan keperawatan teori dari kebutuhan eliminasi alvi?

 

1.3              Tujuan

1.3.1.      Untuk mengetahui laporan pendahuluan dari kebutuhan eliminasi alvi.

1.3.2.      Untuk mengetahui asuhan keperawatan teori dari kebutuhan eliminasi alvi.

 

1.4              Manfaat

1.4.1        Menambah dan meningkatkan pengetahuan tentang laporan pendahuluan dari kebutuhan eliminasi alvi.

1.4.2        Menambah dan meningkatkan pengetahuan tentang asuhan keperawatan teori dari kebutuhan eliminasi alvi.

 


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1              Konsep Dasar Kebutuhan Eliminasi Alvi

2.1.1        Eliminasi Alvi

Eliminasi alvi atau juga yang biasa disebut eliminasi fekal (defekasi) adalah pengeluaran feses dari anus dan rectum. Defekasi juga disebut bowel movement atau pergerakan usus (Kozier et al., 2011). Sistem tubuh yang memiliki peran dalam proses eliminasi fekal adalah sistem gastrointestinal bawah meliputi usus halus dan usus besar. Usus halus terdiri atas duodenum, jejunum, dan ileum dengan panjang kurang lebih 6 meter dan diameter 2,5 cm, serta berfungsi sebagai tempat absorpsi elektrolit Na, Cl, K, Mg, HCO3, dan kalsium.

Gerakan peristaltik yang kuat dapat mendorong feses ke depan. Gerakan ini terjadi 1-4 kali dalam waktu 24 jam. Peristaltik sering terjadi sesudah makan. Biasanya, 1/3-2/3 dari produk buangan hasil makanan dicernakan dalam waktu 24 jam, dibuang dalam feses, dan sisanya sesudah 24-48 jam berikutnya.

Eliminasi produk sisa pencernaan yang teratur merupakan aspek yang penting untuk fungsi normal tubuh. Perubahan eliminasi dapat menyebabkan masalah pada sistem gastrointestinal dan sistem tubuh lainnya.Karena fungsi usus bergantung pada keseimbangan beberapa faktor, pola dan kebiasaan eliminasi bervariasi diantara individu. Namun, telah terbukti bahwa pengeluaran feses yang sering, dalam jumlah yang besar, dan karakteristiknya normal biasanya berbanding lurus dengan rendahnya insiden kanker kolorektal.

Dengan mengetahui eliminasi normal serta faktor-faktor yang meningkatkan, menghambat, menyebabkan gangguan eliminasi dapat membantu mengatasi masalah eliminasi klien. Asuhan keperawatan yang mendukung akan menghormati privasi dan kebutuhan emosional klien tindakan yang dirancang untuk meningkatkan eliminasi normal juga harus meminimalkan rasa ketidaknyamanan klien (Potter & Perry, 2010).

2.1.2        Proses Defekasi

Defekasi adalah proses pengosongan usus yang sering disebut dengan buang air besar. Terdapat dua pusat yang menguasai refleks untuk defekasi, yaitu terletak di medula dan sumsum tulang belakang. Apabila terjadi rangsangan parasimpatis, sfingter anus bagian dalam akan mengendur dan usus besar menguncup. Refleks defekasi dirangsang untuk buang air besar kemudian sfingter anus bagian luar diawasi oleh sistem saraf parasimpatis, setiap waktu menguncup atau mengendur. Selama defekasi, berbagai otot lain membantu proses tersebut, seperti otot-otot dinding perut, diafragma, dan otot-otot dasar pelvis (Hidayat, 2021).

Feses terdiri atas sisa makanan seperti selulose yang tidak direncanakan dan zat makanan lain yang seluruhnya tidak dipakai oleh tubuh, berbagai macam mikroorganisme, sekresi kelenjar usus, pigmen empedu, dan cairan tubuh. Feses yang normal terdiri atas masa padat dan berwarna cokelat karena disebabkan oleh mobilitas sebagai hasil reduksi pigmen empedu dan usus kecil (Hidayat, 2021).

Dalam Hidayat (2021) disebutkan bahwa secara umum terdapat dua macam refleks dalam membantu proses defekasi, yaitu:

1)   Refleks defekasi intrinsik yang dimulai dari adanya zat sisa makanan (feses) dalam rektum sehingga terjadi distensi, kemudian flexus mesenterikus merangsang gerakan peristaltik, dan akhirnya feses sampai di anus, proses defekasi terjadi saat sfingter interna berelaksasi

2)   Refleks defekasi parasimpatis yang dimulai dari adanya feses dalam rektum yang merangsang saraf rektum, kemudian ke spinal cord, merangsang ke kolon desenden, ke sigmoid, lalu rektum dengan gerakan peristaltik, dan akhirnya terjadi proses defekasi saat sfingter interna berelaksasi.

 

2.1.3        Pola Defekasi

Pola defekasi sangat bersifat individual, bervariasi dari beberapa kali sehari hingga dua atau tiga kali perminggu. Jumlah feses yang dikeluarkan juga bervariasi pada setiap orang. Penundaan keinginan defekasi berulang dapat menyebabkan ekspansi rektum untuk mengakomodasi feses yang terakumulasi dan pada akhirnya akan kehilangan sensitivitas terhadap keinginan defekasi. Konstipasi pada akhirnya terjadi.

   Waktu defekasi dan jumlah feses sangatlah bersifat individual. Orang dalam keadaan normal, frekuensi buang air besar 1 kali dalam sehari. Tetapi, ada pula yang buang air besar 3-4 kali seminggu. Ada yang buang air besar setelah sarapan pagi, ada pula yang malam hari. Pola defekasi individu juga bergantung pada bowel training yang dilakukan pada masa kanak-kanak. Sebagian besar orang memiliki kebiasaan defekasi setelah sarapan karena adanya refleks gastrokolik yang menyebabkan ‘mass movement’ pada usus besar.

   Umumnya jumlah feses bergantung pada jumlah intake makanan. Namun secara khusus, jumlah feses sangat bergantung pada kandungan serat dan cairan pada makanan yang dimakan. Pola defekasi akan berubah adanya konstipasi, fekal infaction, diare, dan inkontensia. Kondisi ini berpengaruh terhadap konsistensi dan frekuensi buang air besar.

 

2.1.4        Faktor-faktor yang Mempengaruhi Eliminasi Alvi

1)   Pola diet

Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi eliminasi feses. Cukupnya selulosa, serat pada makanan, penting untuk memperbesar volume feses. Makanan tertentu pada beberapa orang sulit atau tidak bisa dicerna. Ketidakmampuan ini berdampak pada gangguan pencernaan, di beberapa bagian jalur dari pengairan feses. Makan yang teratur mempengaruhi defekasi. Makan yang tidak teratur dapat mengganggu keteraturan pola defekasi. Individu yang makan pada waktu yang sama setiap hari mempunyai suatu keteraturan waktu, respon fisiologi pada pemasukan makanan dan keteraturan pola aktivitas peristaltik di colon.

2)   Cairan

Pemasukan cairan juga mempengaruhi eliminasi feses. Ketika pemasukan cairan yang adekuat ataupun pengeluaran (contoh: urine, muntah) yang berlebihan untuk beberapa alasan, tubuh melanjutkan untuk mereabsorbsi air dari chyme ketika ia lewat di sepanjang colon. Dampaknya chyme menjadi lebih kering dari normal, menghasilkan feses yang keras. Ditambah lagi berkurangnya pemasukan cairan memperlambat perjalanan chyme di sepanjang intestinal, sehingga meningkatkan reabsorbsi cairan dari chime.

3)   Stress psikologi

Dapat dilihat bahwa stres dapat mempengaruhi defekasi. Penyakit- penyakit tertentu termasuk diare kronik, seperti ulcus pada collitis, bisa jadi mempunyai komponen psikologi. Diketahui juga bahwa beberapa orang yang cemas atau marah dapat meningkatkan aktivitas peristaltik dan frekuensi diare. Ditambah lagi orang yang depresi bisa memperlambat motilitas intestinal, yang berdampak pada konstipasi.

4)   Aktivitas

Pada pasien immobilisasi atau bedrest akan terjadi penurunan gerak peristaltik dan dapat menyebabkan melambatnya feses menuju rectum dalam waktu lama dan terjadi reabsorpsi cairan feses sehingga feses mengeras.

5)   Obat-obatan

Beberapa obat memiliki efek samping yang dapat berpengeruh terhadap eliminasi yang normal. Beberapa menyebabkan diare; yang lain seperti dosis yang besar dari tranquilizer tertentu dan diikuti dengan prosedur pemberian morphin dan codein, menyebabkan konstipasi. Beberapa obat secara langsung mempengaruhi eliminasi. Laxative adalah obat yang merangsang aktivitas usus dan memudahkan eliminasi feses. Obat-obatan ini melunakkan feses, mempermudah defekasi. Obat-obatan tertentu seperti dicyclomine hydrochloride (Bentyl), menekan aktivitas peristaltik dan kadang- kadang digunakan untuk mengobati diare.

6)   Usia

Umur tidak hanya mempengaruhi karakteristik feses, tapi juga pengontrolannya. Anak-anak tidak mampu mengontrol eliminasinya sampai sistem neuromuscular berkembang, biasanya antara umur 2 – 3 tahun. Orang dewasa juga mengalami perubahan pengalaman yang dapat mempengaruhi proses pengosongan lambung. Di antaranya adalah atony (berkurangnya tonus otot yang normal) dari otot-otot polos colon yang dapat berakibat pada melambatnya peristaltik dan mengerasnya (mengering) feses, dan menurunnya tonus dari otot-otot perut yang juga menurunkan tekanan selama proses pengosongan lambung. Beberapa orang dewasa juga mengalami penurunan kontrol terhadap muskulus spinkter ani yang dapat berdampak pada proses defekasi.

7)   Penyakit

Penyakit seperti obstruksi usus, paralitik ileus, kecelakaan pada spinal cord dan tumor Cedera pada sumsum tulang belakan dan kepala dapat menurunkan stimulus sensori untuk defekasi. Gangguan mobilitas bisa membatasi kemampuan klien untuk merespon terhadap keinginan defekasi ketika dia tidak dapat menemukan toilet atau mendapat bantuan. Akibatnya, klien bisa mengalami konstipasi. Atau seorang klien bisa mengalami fekal inkontinentia karena sangat berkurangnya fungsi dari spinkter ani.

 

2.2              Laporan Pendahuluan

2.2.1        Gangguan Pada Eliminasi Alvi

Masalah yang sering terjadi pada gangguan eliminasi fekal yaitu konstipasi, fekal impaksi, diare, inkontinensia, flatulens dan hemorrhoid. Konstipasi merupakan penurunan jumlah atau frekuensi normal dari defekasi yang ditandai dengan kesulitan dalam mengeluarkan feses yang tekstur dari feses itu sendiri yaitu keras, kering dan banyak. Fekal impaksi merupakan akibat konstipasi yang tidak teratur, sehingga tumpukan feses yang keras di rektum tidak bisa dikeluarkan. Diare merupakan pengeluaran feses dengan tekstur lunak dan tidak berbentuk. Inkontinensia adalah perubahan pada kebiasaan defekasi normal yang ditandai dengan pasase feses involunter (Herdman & Kamitsuru, 2015).

Flatulensi merupakan keadaan perut mengalami penumpukkan gas di bagian lumen intestinal sehingga menimbulkan rasa nyeri, kembung dan kram perut. Hemorrhoid adalah suatu keadaan dimana terdapat peningkatan tekanan di daerah anus menyebabkan vena di daerah anus mengalami pelebaran (Khair, 2016).

 

2.2.2        Etiologi

1)   Konstipasi

Konstipasi berhubungan dengan jalan yang kecil, kering, kotoran yang keras, atau tidak ada lewatnya kotoran di usus untuk beberapa waktu. Ini terjadi ketika pergerakan feses melalui usus besar lambat, hal ini ditambah lagi dengan reabsorbsi cairan di usus besar. Konstipasi berhubungan dengan pengosongan kotoran yang sulit dan meningkatnya usaha atau tegangan dari otot-otot volunter pada proses defekasi. Menurut Herdman & Kamitsuru (2015) faktor yang menyebabkan konstipasi adalah:

(1)     Fungsional terdiri atas kebiasaan defekasi yang tidak teratur, kebiasaan menekan dorongan defekasi, kelemahan otot defekasi, ketidakadekuatan toileting, perubahan lingkungan, dan rata-rata aktivitas fisik harian yang kurang berdasarkan jenis kelamin serta usia.

(2)     Mekanis yaitu abses rectal, fisura anal rectal, gangguan neurologis (trauma kepala, kejang), kehamilan, ketidakseimbangan elektrolit, obesitas, obstruksi pasca bedah, pembesaran prostat, penyakit hisprung, prolaps rectal, rektokel, striktur anal rectal, tumor dan ulkus rectal.

(3)     Farmakologis yaitu meliputi agens farmaseutikal dan penyalagunaan laksatif.

(4)     Fisiologis yaitu asupan cairan dan serat tidak cukup, kebiasaan makan buruk, ketidakadekuatan gigi, ketidakadekuatan oral hygiene, penurunan motilitas traktus gastrointestinal dan perubahan kebiasaan makan.

(5)     Psikologis yaitu depresi, konfusi mental dan stress emosi.

2)   Fecal Impaction

Merupakan akibat konstipasi yang tidak teratur, sehingga tumpukan feses yang  keras  di  rectum  tidak  bisa  dikeluarkan,  impaksi berat,  tumpukan feses  sampai  pada  kolon  sigmoid.  Penyebabnya  pasien  dalam  keadaan lemah,  bingung,  tidak  sadar,  konstipasi  berulang  kali  dan  pemeriksaan yang dapat menimbulkan konstipasi (Saryono & Widianti, 2010).

3)   Diare

Penyebab terjadinya diare yaitu meningkatnya frekuensi BAB yang disebabkan oleh meningkatnya gerakan peristaltik (Bayu, 2016). Faktor penyebab diare menurut Herdman & Kamitsuru (2015) yaitu sebagai berikut:

(1)     Fisiologis ditandai dengan inflamasi gastrointestinal, iritasi gastrointestinal, kram, malabsorpsi dan parasit.

(2)     Psikologis ditandai dengan ansietas dan tingkat stress tinggi.

(3)     Situasional ditandai dengan pemaparan pada toksin, penyalahgunaan laksatif/zat lain dan program pengobatan.

4)   Inkontinensia Alvi

Inkontinensia berhubungan dengan berkurangnya kemampuan untuk mengontrol feses dan keluarnya gas melalui spinkter ani. Masalah ini merupakan masalah distres emosional yang akhirnya dapat mengarah pada isolasi sosial (Herdman & Kamitsuru, 2015).

5)   Flatulens

Hal-hal yang menyebabkan peningkatan  gas  di  usus  adalah  pemecahan  makanan  oleh  bakteri  yang menghasilkan gas metan, pembusukan di usus yang menghasilkan CO2 (Saryono & Widianti, 2010).

6)   Hemorrhoid

Penyebab terjadinya hemorrhoid yaitu melebarnya vena di anus, meningkatnya tekanan pada daerah anus yang disebabkan karena konstipasi kronik, tekanan kuat yang terjadi selama proses defekasi, kehamilan dan obesitas (Bayu, 2016).

 

2.2.3        Manifestasi Klinis

1)   Konstipasi

Tanda dan gejala konstipasi yaitu sebagai berikut:

(1)     Menurunnya jumlah atau frekuensi Buang Air Besar (BAB);

(2)     Tekstur BAB keras dan kering dan susah dikeluarkan;

(3)     Nyeri rektum;

(4)     Nyeri abdominal (pada perut);

(5)     Anoreksia;

(6)     Kembung;

(7)     Nafsu makan berkurang; dan

(8)     Selalu membutuhkan bantuan untuk defekasi (Bayu, 2016).

2)   Fecal Impaction

Tanda dan Gejala fecal impaction yaitu sebagai berikut:

(1)     Anorexia (tidak enak makan);

(2)     Distensi abdomen; dan

(3)     Mual dan muntah (Bayu, 2016).

3)   Diare

Batasan karakteristik seseorang mengalami diare menurut Herdman & Kamitsuru (2015) yaitu ada dorongan untuk defekasi, bising usus hiperaktif, defekasi feses cair lebih dari 3 kali dalam waktu 24 jam, kram dan nyeri abdomen.

4)   Inkontinensia

Batasan karakteristik seseorang mengalami inkontinensia menurut Herdman & Kamitsuru (2015) yaitu ketidakmampuan mengeluarkan feses padat, ketidakmampuan mengenali dorongan defekasi, ketidakmampuan mengenali rektum penuh, ketidakmampuan menunda defekasi, kulit perianal kemerahan, rembesan konstan feses lunak, dan tidak perhatian terhadap dorongan defekasi.

5)   Flatulens

Karena menumpuknya gas pada lumen intestinal, dinding usus meregang dan distended, merasa penuh, nyeri dan kram. Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus) (Saryono & Widianti, 2010).

6)   Hemorrhoid

Perdarahan dapat mudah terjadi dengan mudah jika dinding pembuluh teregang. Jika terjadi inflamasi dan pengerasan, maka klien merasa panas dan terasa gatal. Karena adanya rasa nyeri saat BAB maka kadang-kadang klien mengabaikan keinginannya untuk BAB sehingga dapat terjadi konstipasi sebagai akibat lanjut dari hemorrhoid (Saryono & Widianti, 2010).

 

2.3              Asuhan Keperawatan Teori

2.3.1        Pengkajian

1)   Riwayat keperawatan

Riwayat keperawatan memberikan informasi tentang pola dan kebiasaan eliminasi biasanya dilakukan oleh klien. Hal normal dan abnormal yang dideskripsikan klien sering berbeda dari faktor atau keadaan yang mendukung eliminiasi normal. Mengidentifikasi pola, kebiasaan normal dan abnormal, serta persepsi klien yang normal dan abnormal terhadap eliminasi fekal membantu menentukan masalah klien. Anda dapat mengorganisasi riwayat keperawatan melalui faktor yang mempengaruhi eliminasi dengan cara sebagai berikut:

(1)     Tentukan pola eliminasi normal klien: sertakan frekuensi dan waktunya dalam sehari. Minta klien dalam pemberian perawatan untuk melengkapi catatan eliminasi fekal, sehingga dapat membantu melakukan pengkajian yang akurat tentang pola eliminasi fekal harian klien saat ini.

(2)     Deskripsikan klien terhadap karaktersirik fekal yang biasanya: tentukan apakah feses memiliki bentuk normal, lembek arau keras, warna, dan apakah mengandung darah atau tidak minta klien untuk klien untuk mendeskripsikan bentuk feses biasanya dan jumlah feses per hari.

(3)     Identifikasi rutinitas yang dilakukan untuk mendukung pola eliminasi normal: contohnya mengonsumsi minuman hangat, memakan makanan tertentu, buang air besar pada waktu tertentu.

(4)     Pengkajian penggunaan alat bantu artificial dirumah: kaji apakah klien menggunakan enema, laksatif, atau makanan tambahan.. Tanyakan seberapa sering klien menggunakannya.

(5)     Perubahan nafsu makan: termasuk perubahan pola makan dan perubahan berat badan (jumlah berat badan yang berkurang atau meningkat). Jika terjadi perubahan berat badan, tanyakan apakah perubahan tersebutdirencanakan, seperti kehilangan berat badan disertai diet.

(6)     Riwayat diet: tentukan pilihan makanan klien dalam satu hari. Tentukan asupan buah, sayur, sereal, dan roti; dan apakah klien makan teratur atau tidak.

(7)     Deskripsikan asupan cairan per hari: meliputi jenis dan jumlah cairan menggunakan alat ukur yang ditemukan dirumah sakit.

(8)     Riwayat pembedahan dan penyakit yang mempengaruhi sistem pencernaan: informasi ini sering membantu untuk menjelaskan tanda dan potensi untuk mempertahankan dan mengembalikan pola eliminasi fekal yang normal, dan apakah klien memiliki riwayat keluarga dengan penyakit kanker gastrointestinal.

(9)     Riwayat medikasi: tanyakan apakah klien menggunakan medikasi (misalnya laksatif, antasida. Suplemen zat besi, dan analgesik) yang dapat mengganggu defekasi atau karakteristik fekal.

(10) Keadaan emosional: keadaan emosional klien secara signifikan dapat menggangu frekuensi buang air besar. Selama pengkajian, observasi emosi klien, nada suara, dan sikap yang mempengaruhi perilaku secara signifikan yang mengindikasikan stress.

(11) Riwayat latihan: minta klien untuk mendeskripsikan jenis dan jumlah latihan per hari secara spesifik.

(12) Riwayat nyeri atau ketidaknyamanan: tanyakan klien apakah terdapat riwayat nyeri abdomen atau anal. Jenis, frekuensi, dan lokasi nyeri dapat membantu mengidentifikasi sumber penyakit.

(13) Riwayat sosial: klien mungkin memiliki berbagai penataan pada tempat tinggal. Dimana pasien tinggal dapat mempengaruhi kebiasaan buang air besar klien.

(14) Mobilitas dan ketangkasan: mobilitas dan ketangkasan klien perlu dievaluasi sehingga dapat membantu menentukan apakah klien membutuhkan alat bantu atau bantuan dari orang lain.

2)   Pemeriksaan fisik

(1)      Tanda-tanda vital

(2)      Inspeksi gigi dan gusi

(3)      Abdoment

a.   Inspeksi: bentuk, kesimetrisan, warna kulit, adanya massa, peristaltik, jaringan parut, vena, stoma, lesi. Secara normal gelombang peristaltik tidak terlihat, jika dapat diobservasi berarti terdapat obstruksi intesti. Distensi abdomen biasanya terjadi karena adanya gas, tumor atau cairan pada rongga peritoneum. Pengukuran dengan meteran setiap hari menentukan apakah distensi bertambah, tempat pengukuran harus tetap, misalnya pada umbilikus dan pada waktu yang sama setiap harinya.

b.   Auskultasi: dilakukan sebelum melakukan palpasi untuk mencegah perubahan peristaltik. Dalam auskultasi harus dikaji keadaan bising usus apakah normal, hipoperistaltik atau hiperperistaltik

c.   Palpasi dan perkusi: lakukan palpasi secara pelan dan jika teraba adanya massa lakukan palpasi lebih dalam lagi dan diperlukan suatu ketrampilan khusus. Lakukan perkusi untuk mnegetahui adanya cairan dan gas (timpani), tumor dan massa (dull/redup).

(4)      Rektum

Inspeksi anus akan adanya lesi, warna, inflamasi, dan hemorroid. Lakukan palpasi (dengan menggunakan sarung tangan, jelly dan jari telunjuk) untuk mengkaji keadaan dinding rektum.

3)   Pemeriksaan diagnostik

(1)     Direct visualisation tehnic

(2)     Indirect visualisation tehnik

(3)     Endoskopi

(4)     Barium enema

(5)     Pengambilan sampel feses

 

2.3.2        Diagnosa Keperawatan

1)   Inkontinensia Fekal

(1)      Definisi

Perubahan kebiasaan buang air besar dari pola normal yang ditandai dengan pengeluaran feses secara involunter (tidak disadari).

(2)      Penyebab

a.   Kerusakan susunan saraf motorik bawah

b.   Penurunan tonus otot

c.   Gangguan kogntif

d.  Penyalahgunaan laksatif

e.   Kehilangan fungsi pengendalian sfingter rektum

f.    Pascaoperasi pullthrough dan penutupan kolosomi

g.   Ketidakmampuan mencapai kamar kecil

h.   Diare kronis

i.     Stres berlebihan

(3)      Gejala dan Tanda Mayor

a.   Subjektif: Tidak mampu mengontrol pengeluaran feses dan  menunda defekasi

b.   Objektif: Feses keluar sedikit-sedikit dan sering

(4)      Gejala dan Tanda Minor

a.    Subjektif: Tidak tersedia

b.    Objektif: Bau feses, kulit perianal kemerahan

(5)      Kondisi Klinis Terkait

a.   Spina bifida

b.   Atresia ani

c.   Penyakit Hirschsprung

2)   Konstipasi

(1)     Definisi

Penurunan defekasi normal yang disertai pengeluaran feses sulit dan tidak tuntas serta feses kering dan banyak.

(2)     Penyebab

a.    Fisiologis

a)    Penurunan motilitas gastrointestinal

b)   Ketidakadekuatan pertumbuhan gigi

c)    Ketidakcukupan diet

d)   Ketidakcukupan asupan serat

e)    Ketidakcukupan asupan cairan

f)    Aganglionik (mis. penyakit Hircsprung)

g)   Kelemahan otot abdomen

b.    Psikologis

a)    Konfusi

b)   Depresi

c)    Gangguan emosional

c.    Situasional

a)    Perubahan kebiasaan makan (mis. jenis makanan, jadwal makan)

b)   Ketidakadekuatan toileting

c)    Aktivitas fisik harian kurang dari yang dianjurkan

d)   Penyalahgunaan laksatif

e)    Efek agen farmakologis

f)    Ketidakteraturan kebiasaan defekasi

g)   Kebiasaan menahan dorongan defekasi

h)   Perubahan lingkungan

(3)     Gejala dan Tanda Mayor

a.    Subjektif: Defekasi kurang dari 2 kali seminggu dan pengeluaran feses lama dan sulit

b.    Objektif: Feses keras dan peristaltik usus menurun

(4)     Gejala dan Tanda Minor

a.   Subjektif: Mengejan saat defekasi

b.   Objektif: Distensi abdomen, kelemahan umum, teraba massa pada rektal

(5)     Kondisi Klinis Terkait

a.    Lesi/cedera pada medula spinalis

b.    Spina bifida

c.    Stroke

d.   Sklerosis multipel

e.    Penyakit Parkinson

f.     Demensia

g.    Hiperparatiroidisme

h.    Hipoparatiroidisme

3)   Risiko konstipasi

(1)      Definisi

Berisiko mengalami penurunan frekuensi normal defekasi disertai kesulitan dan pengeluaran feses tidak lengkap.

(2)   Faktor Risiko

a.   Fisiologis

a)    Penurunan motilitas gastrointestinal

b)   Pertumbuhan gigi tidak adekuat

c)    Ketidakcukupan diet

d)   Ketidakcukupan asupan serat

e)    Ketidakcukupan asupan cairan

f)    Aganglionik (mis. penyakit Hircsprung)

g)   Kelemahan otot abdomen

b.   Psikologis

a)    Konfusi

b)   Depresi

c)    Gangguan emosional

c.   Situasional

a)    Perubahan kebiasaan makan (mis. jenis makanan, jadwal makan)

b)   Ketidakadekuatan toileting

c)    Aktivitas fisik harian kurang dari yang dianjurkan

d)   Penyalahgunaan laksatif

e)    Efek agen farmakologis

f)    Ketidakteraturan kebiasaan defekasi

g)   Kebiasaan menahan dorongan defekasi

h)   Perubahan lingkungan.

 

2.3.3        Perencanaan

1)   Inkontinensia Fekal

(1)     Intervensi Utama

a.   Latihan Eliminasi Fekal

Definisi

Tindakan

Mengajarkan suatu kemampuan melatih usus untuk dievakuasi pada

 

Observasi

­   Monitor peristaltik usus secara teratur

Terapeutik

­   Anjurkan waktu yang konsisten untuk buang air besar

­   Berikan privasi, kenyamanan dan posisi yang meningkatkan proses defekasi

­   Gunakan enema rendah, jika perlu

­   Anjurkan dilatasi rektal digital, jika perlu

­   Ubah program latihan elimanisi fekal, jika perlu

Edukasi

­   Anjurkan mengkonsumsi makanan tertentu, sesuai program atau hasil konsultasi

­   Anjurkan asupan cairan yang adekuat sesuai kebutuhan

­   Anjurkan olah raga sesuai toleransi

Kolaborasi

­   Kolaborasi penggunaan supositoria, jika perlu

b.   Perawatan Inkontinensia Fekal

Definisi

Tindakan

Mengidentifikasi dan merawat pasien yang mengalami pengeluaran feses secara involunter (tidak disadari).

 

Observasi

­   Identifikasi penyebab inkontinensia fekal baik fisik maupun psikologis (mis. gangguan saraf motorik bawah, penurunan tonus otot, gangguan sfingter rektum, diare kronis, gangguan kognitif, stress berlebihan)

­   Identifikasi perubahan frekuensi defekasi dan konsistensi feses

­   Monitor kondisi kulit perianal

­   Monitor keadekuatan evakuasi feses

­   Monitor diet dan kebutuhan cairan

­   Monitor efek samping pemberian obat

Terapeutik

­   Bersihkan daerah perianal dengan sabun dan air

­   Jaga kebersihan tempat tidur dan pakaian

­   Laksanakan program latihan usus (bowel training), jika perlu

­   Jadwalkan BAB di tempat tidur, jika perlu

­   Berikan celana pelindung/ pembalut/popok, sesuai kebutuhan

­   Hindari makanan yang menyebabkan diare

Edukasi

­   Jelaskan definisi, Jenis dan penyebab inkontinensia fekal

­   Anjurkan mencatat karakteristik feses

Kolaborasi

­   Kolaborasi pemberian obat diare (mis. loperamide, atropin)

 

(2)     Intervensi Pendukung

a.    Dukungan Emosional

b.    Dukungan Perawatan Diri: BAB/BAK

c.    Edukasi Toilet Training

d.   Manajemen Demensia

e.    Manajemen Diare

f.     Manajemen Eliminasi Fekal

g.    Manajemen Lingkungan

h.    Manajemen Nutrisi

i.      Manajemen Prolapsus Rektum

j.      Pemberian Obat

k.    Pemberian Obat Intravena

l.      Pemberian Obat Oral

m.  Pemberian Obat Rektal

n.    Perawatan Perineum

o.    Promosi Latihan Fisik

p.    Rujukan ke Perawat Enterostoma

q.    Terapi Aktivitas

2)   Konstipasi

(1)     Intervensi utama

a.    Manajemen Eliminasi Fekal

Definisi

Tindakan

Mengidentifikasi dan mengelola gangguan pola eliminasi fekal.

Observasi

­   Identifikasi masalah usus dan penggunaan obat pencahar

­   Identifikasi pengobatan yang berefek pada kondisi gastrointestinal

­   Monitor buang air besar (mis. warna, frekuensi, konsistensi, volume)

­   Monitor tanda dan gejala diare, konstipasi, atau impaksi

Terapeutik

­   Berikan air hangat setelah makan

­   Jadwalkan waktu defekasl bersama pasien

­   Sediakan makanan tinggi serat

Edukasi

­   Jelaskan Jenis makanan yang membantu meningkatkan keteraturan peristaltik usus

­   Anjurkan mencatat warna, frekuensi, konsistensi, volume feses

­   Anjurkan meningkatkan aktifitas fisik, sesuai toleransi

­   Anjurkan pengurangan asupan makanan yang meningkatkan pembentukan gas

­   Anjurkan mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi serat

­   Anjurkan meningkatkan asupan cairan, jika tidak ada kontraindikasi

Kolaborasi

­   Kolaborasi pemberian obat supositoria anal, jika perlu.

 

b.    Manajemen Konstipasi

Definisi

Tindakan

Mengidentifikasi dan mengelola pencegahan dan mengatasi sembelit/impaksi.

Observasi

­   Periksa tanda dan gejala konstipasi

­   Periksa pergerakan usus, karakteristik feses (konsistensi, bentuk, volume, dan warna)

­   Identifikasi faktor risiko konstipasi (mis. obat-obatan, tirah baring, dan diet rendah serat)

­   Monitor tanda dan gejala ruptur usus dan/atau peritonitis

Terapeutik

­   Anjurkan diet tinggi serat

­   Lakukan masase abdomen, jika perlu

­   Lakukan evakuasi feses secara manual, jika perlu

­   Berikan enema atau irigasi, jika perlu

Edukasi

­   Jelaskan etiologi masalah dan alasan tindakan

­   Anjurkan peningkatan asupan cairan, jika tidak ada kontraindikasi

­   Latih buang air besar secara teratur

­   Ajarkan cara mengatasi konstipasi

Kolaborasi

­   Kolaborasi penggunaan pencahar jika perlu.

(2)     Intervensi pendukung

a.    Dukungan Perawatan Diri: BAB/BAK

b.    Edukasi Diet

c.    Edukasi Toilet Training

d.   Insersi Selang Nasogastrik

e.    Latihan Eliminasi Fekal

f.     Manajemen Cairan

g.    Manajemen Elektrolit

h.    Manajemen Nutrisi

i.      Manajemen Nyeri

j.      Manajemen Prolapsus Rektum

k.    Pemantauan Cairan

l.      Pemberian Enema

m.  Pemberian Obat

n.    Pemberian Obat Oral

o.    Pemberian Obat Rektal

p.    Penurunan Flatus

q.    Perawatan Kehamilan Trimester Kedua dan Ketiga

r.     Perawatan Pascapersahnan

s.     Perawatan Selang Gastrointestinal

t.     Perawatan Stoma

u.    Promosi Latihan Fisik

v.    Promosi Eliminasi Fekal

w.  Reduksi Ansietas

x.    Terapi Aktivitas

y.    Terapi Relaksasi

z.    Koping Defensif

3)   Resiko Konstipasi

(1)     Intervensi utama

a.   Pencegahan konstipasi

Definisi

Tindakan

Mengidentifikasi dan menurunkan risiko terjadinya penurunan frekuensi normal

defekasi yang disertai kesulitan feses yang tidak lengkap.

Observasi

­   Identifikasi faktor risiko konstipasi (mis, asupan serat tidak adekuat, asupan cairan

­   tidak adekuat, aganglionlk, kelemahan otot abdomen, aktivitas fisik kurang)

­   Monitor tanda dan gejala konstipasi (mis. defekasi kurang 2 kali seminggu, defekasi

­   lama/sulit, feses keras, peristaltik menurun)

­   Identifikasi status kognitif untuk mengkomunikasikan kebutuhan

­   Identifikasi penggunaan obat-obatan yang menyebabkan konstipasi

Terapeutik

­   Batasi minuman yang mengandung kafein dan alkohol

­   Jadwalkan rutinitas BAK

­   Lakukan masase abdomen

­   Berikan terapi akupresur

Edukasi

­   Jelaskan penyebab dan faktor risiko konstipasi

­   Anjurkan minum air putih sesuai dengan kebutuhan (1500-2000 mL/hari)

­   Anjurkan mengkonsumsi makanan berserat (25-30 gram/hari)

­   Anjurkan meningkatkan aktivitas fisik sesuai kebutuhan

­   Anjurkan berjalan 15-20 menit 1-2 kali/hari

­   Anjurkan berjongkok untuk memfasilitasi proses BAB

Kolaborasi

­   Kolaborasi dengan ahli gizi, jika perlu.

 

(2)     Intervensi pendukung

a.   Dukungan Perawatan Diri: BAB/BAK

b.   Edukasi Diet

c.   Edukasi Toilet Training

d.  Identifikasi Risiko

e.   Irigasi Kolostomi

f.    Konseling Nutrisi

g.   Latihan Eliminasi Fekal

h.   Manajemen Cairan

i.     Manajemen Elektrolit

j.     Manajemen Eliminasi Fekal

k.   Manajemen Mood

l.     Manajemen Nutrisi

m. Manajemen Nyeri

n.   Manajemen Prolapsus Rektum

o.   Pemantauan Cairan

p.   Pemantauan Nutnsi

q.   Pemberian Obat Oral

r.    Penurunan Flatus

s.    Perawatan Kehamilan Trimester Kedua dan Ketiga

t.    Perawatan Kehamilan Trimester Pertama

u.   Perawatan Stoma

v.   Promosi Kesehatan Mulut

w. Promosi Latihan Fisik

x.   Reduksi Ansietas

y.   Surveilens

z.   Terapi Aktivitas dan Terapi Relaksasi

 

2.3.4        Implementasi

Kesuksesan pelaksanaan rencana intervensi keperawatan bergantung pada meningkatnya pemahaman klien dan anggota keluarga tentang eliminasi fekal. Di rumah, rumah sakit, atau fasilitas perawatan jangka panjang; klien mampu mempelajari kebiasaan usus yang efektif (Potter & Perry, 2010).

Ajarkan klien dan anggota keluarga tentang diet yang tepat tentang asupan cairan yang adekuat, dan faktor yang menstimulasi atau memperlambat peristaltik, seperti stress emosional. Hal yang paling baik dilakukan pada jam makan klien. Klien juga perlu memperlajari pentingnya menerapkan rutinitas usus yang reguler dan latihan yang reguler dan melakukan tindakan yang sesuai saat masalah eliminasi terjadi (Potter & Perry, 2010).

 

2.3.5        Evaluasi

Evaluasi terhadap kebutuhan eliminasi dapat dinilai dengan adanya:

1)   Memahami cara eliminasi yang normal

2)   Mempertahankan defekasi secara normal yang ditunjukan dengan kemampuan pasien dalam mengontrol defektasi tanpa bantuan obat atau enema, berpartisipasi dalam program latihan secara teratur, defekasi tanpa mengedan

3)   Mempertahankan rasa nyaman yang ditunjukan dengan kenyamanan dalam kemampuan defekasi, tidak terjadi bleeding, tidak terjadi inflamasi dan lain-lain

4)   Mempertahankan integritas kulit yang ditunjukan dengan keringnya area perianal, tidak ada inflamasi atau ekskoriasi, keringnya kulit sekitar stoma dan lain-lain

5)   Melakukan latihan secara teratur, seperti rentang gerak atau aktifitas lain (jalan, berdiri, dll)

6)   Mempertahankan asupan makanan dan minuman yang cukup dapat ditunjukan dengan adanya kemampuan dalam merencanakan pola makan, seperti makan dengan tinggi atau rendah serat (tergantung dari tendensi diare / konstipasi serta mampu minum 2000 – 3000 ml).

 

 

 


BAB 3

KESIMPULAN DAN SARAN

 

3.1              Kesimpulan

3.1.1        Untuk memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan eliminasi fekal, perawat harus memahamai terlebih dahulu anatomi dan fisiologi system pencernaan.

3.1.2        Proses terjadinya defekasi dipengaruhi oleh 2 reflek yaitu reflek defekasi instrinsik dan reflek defekasi parasimpatik.

3.1.3        Untuk mendukung fungsi eliminasi fekal, seorang perawatat harus menegetahui faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi fekal yaitu usia/ tumbuh kembang, pola nutrisi/diet, intake cairan, aktifitas, factor psikologis, kebiasaan, posisi, nyeri, kehamilan, operasi dan anestesi, obat-obatan, tes diagnostik, kondisi patologis, dan irritan.

3.1.4        sebelum menentukan masalah keperawatan yang berhubungan dengan gangguan pemenuhan eliminasi fekal, perawat harus melakukan pengkajianyang meliputi: pola eliminasi sebelumnya, kebiasaan yang mendukung pola BAB, karakteristik feses, riwayat diet, riwayat diet, pola kativitas, intake cairan dan temuan pemeriksaan fisik yang mendukung.

3.1.5        dalam memfasilitasi klien dengan pemenuhan kebutuhan eliminasi fekal seorang perawat harus menguasai implementasi keperawatan yang mendukung.

 

3.2              Saran

Dengan terselesainya makalah ini, diharapkan para pembaca dapat memahami dan mendapatkan pengetahuan tentang laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan teori tentang kebutuhan eliminasi alvi. Penulis mengharapkan kritik dan saran agar makalah ini lebih baik dan memberikan motivasi kepada penulis dalam membuat makalah yang lebih baik di masa depan.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Hidayat, Aziz Alimul. (2021). E-book Keperawatan Dasar 1; Untuk Pendidikan Ners. Health Book Publishing: Surabaya

Herdman, T. H. & Kamitsuru S. (2015).Nanda International: Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC

Potter & Perry. (2010). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik. Jakarta: EGC

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: DPP PPNI

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: DPP PPNI

Saryono,  &  Widianti,  A.  T.  (2010). Catatan  Kuliah  Kebutuhan  Dasar  Manusia (KDM).Yogyakarta: Nuha Media

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NILAI KEADILAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN ILMU

Iyadatul Maridh (Menjenguk Orang Sakit)

Issue Etik Dan Dilema Etik Dalam Keperawatan