KEBUTUHAN OKSIGENASI

 

LAPORAN PENDAHULUAN

KEBUTUHAN OKSIGENASI

 

A.  Konsep Oksigenasi

1.      Pengertian Oksigenasi

Oksigenasi adalah proses penambahan O2 ke dalam system (kimia atau fisika). O2 merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme sel. Pernapasan atau respirasi adalah pertukaran gas antara individu dan lingkungan (Mubarak dkk, 2020).

2.      Fungsi Pernapasan

Fungsi utama pernapasan menurut Mubarak dkk, 2020 adalah untuk memperoleh O2 agar dapat digunakan oleh sel-sel tubuh dan mengeluarkan CO2 yang dihasilkan oleh sel (Mubarak dkk, 2020).

3.      Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernapasan

a.       Anatomi dan fisiologi saluran pernafasan

1)      Anatomi sistem pernafasan atas




2)      Anatomi sistem pernafasan bawah




b.      Fisiologi

1)       Hidung

Sebagai “gerbang utama” keluar masuknya udara saat bernapas, fungsi hidung sangat penting. Di lapisan dalam hidung, terdapat rambut-rambut halus, yang fungsinya adalah menyaring kotoran dari udara yang kamu hirup. 

2)       Faring

Faring merupakan nama lain dari tenggorokan bagian atas, berupa tabung yang terletak di belakang mulut dan rongga hidung, dan menghubungkan keduanya ke trakea (batang tenggorokan). Fungsi faring dalam sistem pernapasan manusia adalah menyalurkan aliran udara dari hidung dan mulut, ke trakea.

3)       Epiglotis

Epiglotis merupakan lipatan tulang rawan yang terletak di belakang lidah, tepatnya di atas laring atau kotak suara. Seperti katup, epiglotis akan terbuka saat bernapas, untuk memungkinkan udara masuk ke laring, menuju paru-paru. Lalu, saat makan, epiglotis akan menutup, untuk mencegah makanan dan minuman masuk ke saluran pernapasan dan menyebabkan tersedak.

4)       Laring (Kotak Suara)

Laring atau kotak suara terletak di bawah persimpangan saluran faring yang membelah menjadi trakea dan kerongkongan. Organ pernapasan ini memiliki dua pita suara yang membuka saat bernapas dan menutup untuk memproduksi suara. 

Saat bernapas, udara mengalir melewati dua pita suara yang berimpitan, sehingga menghasilkan getaran. Getaran inilah yang kemudian menghasilkan suara saat berbicara.

5)       Trakea (Batang Tenggorokan)

Fungsi trakea dalam sistem pernapasan cukup penting, yaitu mengalirkan udara dari dan menuju paru-paru. Organ ini berbentuk tabung berongga lebar, yang menghubungkan laring ke bronkus paru-paru. 

6)       Tabung Bronkial

Organ pernapasan ini berbentuk tabung, dengan silia atau rambut-rambut kecil yang bergerak seperti gelombang. Gerakan gelombang tersebut akan membawa dahak, lendir, atau cairan ke atas hingga ke luar tenggorokan. 

Fungsi lendir atau dahak di tabung bronkial adalah untuk mencegah masuknya debu, kuman, atau zat asing lain agar tidak sampai masuk ke paru-paru. 

7)       Bronkiolus

Bronkiolus merupakan cabang dari bronkus yang berfungsi untuk menyalurkan udara dari bronkus ke alveoli. Bronkiolus juga berfungsi untuk mengontrol jumlah udara yang masuk dan keluar saat proses pernapasan berlangsung.

8)       Paru-Paru

Paru-paru adalah organ yang berjumlah sepasang, dan terletak di dalam tulang rusuk. Fungsi utama paru-paru dalam sistem pernapasan adalah untuk menampung udara kaya oksigen, dan mengalirkannya ke pembuluh darah, untuk disebarkan ke seluruh tubuh. 

9)       Alveolus

Alveolus adalah kantong-kantong kecil di dalam paru yang terletak di ujung bronkiolus. Fungsinya adalah sebagai tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Pada alveolus juga ada kapiler pembuluh darah. 

Kemudian, alveolus akan menyerap oksigen dari udara yang dibawa oleh bronkiolus dan mengalirkannya ke dalam darah. Setelah itu, karbon dioksida dari sel-sel tubuh mengalir bersama darah ke alveolus untuk diembuskan keluar.

10)  Diafragma

Merupakan dinding otot yang memisahkan rongga dada dan perut. Ketika melakukan pernapasan perut, diafragma akan bergerak ke bawah dan menciptakan rongga untuk menarik udara. Organ pernapasan ini juga bisa membantu memperluas paru-paru (Makarim, 2021).

4.      Faktor yang Mempengaruhi Oksigenasi

a.       Saraf Otonomik

Pada rangsangan simpatis dan parasimpatis dari saraf otonom dapat mempengaruhi kemampuan untuk dilatasi dan konstriksi. Ketika terjadi rangsangan, ujung saraf dapat mengeluarkan neurotransmitter karena pada saluran pernapasan terdapat reseptor adrenergic dan reseptor kolinergik.




 

Pengaruh saraf otonomik

Simpatis

Ujung saraf mengeluarkan neurotransmiter

Noradrenalin

Parasimpatis

Asetilkolin

Bronkodilatasi

Bronkokosntriksi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar: Pengaruh Saraf Otonomik terhadap Oksigenasi

 

b.      Hormonal dan Obat

Semua hormon termasuk derivat katekolamin dapat melebarkan saluran pernapasan. Obat yang tergolong parasimpatis dapat melebarkan saluran napas, seperti sulfas atropin, ekstrak beladona dan obat yang menghambat adregenik tipe beta (khususnya beta-2) dapat mempersempit saluran napas (bronkokonstriksi), seperti obat yang tergolong beta bloker nonselektif.

 

c.       Alergi pada Saluran Napas

Faktor yang menimbulkan keadaan alergi, antara lain debu yang terdapat di dalam udara pernapasan, bulu binatang, serbuk benang sari bunga, kapuk, makanan, dan lain-lain. Ini menyebabkan bersin. Apabila ada rangsangan di daerah nasal menyebabkan batuk apabila di saluran napas bagian atas, dan bronkokonstriksi terjadi pada asma bronkial, dan jika terletak saluran napas bagian bawah menyebabkan rhinitis.

d.      Faktor Fisiologis

Gangguan pada fungsi fisiologis akan berpengaruh terhadap kebutuhan oksigen seseorang. Kondisi ini lambat laun dapat mempengaruhi fungsi pernapasannya.

1)      Penurunan kapasitas angkut O2

2)      Penurunan konsentrasi O2 inspirasi

3)      Hipovolemia

4)      Peningkatan laju metabolik

5)      Kondisi lainnya (seperti kehamilan, obesitas, trauma, penyakit otot, dan penyakit kronis)

e.       Status Kesehatan

Pada orang yang sehat, sistem pernapasan dapat menyediakan kadar oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi, pada kondisi sakit tertentu, proses oksigenasi tersebut dapat terhambat sehingga mengganggu pemenuhan kebutuhan oksigen tubuh. Kondisi tersebut antara lain gangguan pada sistem pernapasan dan kardiovaskular, penyakit kronis, penyakit obstruksi pernapasan atas, dan lain-lain.

f.       Faktor Perkembangan

Tingkat perkembangan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi sistem pernapasan individu.

1)      Bayi prematur

2)      Bayi dan anak-anak

3)      Anak usia sekolah dan remaja

4)      Dewasa muda dan paruh baya

5)      Lansia

g.      Faktor Perilaku

Perilaku keseharian individu dapat berpengaruh terhadap fungsi pernapasannya. Status nutrisi, gaya hidup, kebiasaan berolahraga, kondisi emosional, dan penggunaan zat-zat tertentu secara tidak langsung akan berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan oksigen tubuh.

1)      Nutrisi

2)      Olahraga

3)      Ketergantungan zat adiktif

4)      Emosi

5)      Gaya hidup

h.      Lingkungan

Kondisi lingkungan seperti ketinggian, suhu, serta polusi dapat mempengaruhi proses oksigenasi (Mubarak dkk, 2020).

5.      Gangguan pada Masalah Kebutuhan Oksigenasi

a.       Perubahan pola napas

Pola napas mengacu pada frekuensi, volume, irama, dan usaha pernapasan. Pola napas yang normal (eupnea) ditandai dengan pernapasan yang tegang, berirama, dan tanpa usaha. Perubahan pola napas yang umum terjadi adalah sebagai berikut.

1)      Takipnea dalah frekuensi pernapasan yang cepat.

2)      Bradipnea adalah frekuensi pernapasan yang lambat kurang lebih sepuluh kali per menit dan abnormal.

3)      Apnea adalah henti napas.

4)      Hiperventilasi merupakan cara tubuh dalam mengompensasi peningkatan jumlah oksigen dalam paru agar pernapasan lebih cepat dan dalam.

5)      Hipoventilasi merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkan karbon dioksida dengan cukup yang dilakukan pada saat ventilasi alveolar.

6)      Pernapasan Kussmaul yaitu salah satu jenis hiperventilasi yang menyertai asidosis metabolic dengan mengeluarkan karbon dioksida melalui pernapasan yang cepat dan dangkal.

7)      Ortopnea adalah ketidakmampuan untuk bernapas, kecuali dalam posisi tegak atau berdiri.

8)      Dispnea merupakan perasaan sesak dan berat saat pernapasan.

9)      Cheyne stokes merupakan siklus pernapasan yang amplitudonya mula-mula naik kemudian menurun dan berhenti, kemudian mulai dari siklus baru.

10)  Pernapasan paradoksal merupakan pernapasan dinding paru bergerak berlawanan arah dari keadaan normal.

11)  Pernapasan Biot merupakan pernapasan dengan irama yang mirip dengan Cheyne stokes tetapi amplitudonya tidak teratur.

12)  Stridor merupakan pernapasan bising yang terjadi karena penyempitan pada saluran pernapasan.

b.      Hipoksia

Adalah kondisi Ketika kadar oksigen dalam tubuh (sel) tidak adekuat akibat kurangnya penggunaan atau pengikatan O2 pada tingkat sel.

c.       Obstruksi jalan napas

Baik total maupun sebagian dapat terjadi di seluruh tempat di sepanjang jalan napas atau bawah. Obstruksi jalan napas atas (hidung, faring, alring) merupakan suatu kondisi individu mengalami ancaman pada kondisi pernapasannya terkait dengan ketidakmampuan batuk secara efektif, yang dapat disebabkan oleh benda asing yang menyumbat orofaring pada orang yang tidak sadar. Sementara obstruksi jalan napas bawah meliputi sumbatan total atau Sebagian pada jalan napas bronkus dan paru.

d.      Pertukaran gas

Pertukaran gas merupakan suatu kondisi individu mengalami penurunan gas baik oksigen maupun karbon dioksida antara alveoli paru dan system vaskular. Dapat disebabkan oleh sekresi yang kental atau imobilisasi akibat penyakit system saraf, depresi susunan saraf pusat, atau penyakit radang pada paru (Mubarak dkk, 2020).

6.      Penatalaksanaan Fisioterapi Dada, Drainase Postural, dan Terapi Oksigen


Fisioterapi dada dan drainase postural merupakan serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan membersihkan dan mempertahankan kepatenan jalan napas. Dalam pelaksanaannya, tindakan tersebut dilakukan atas instruksi dokter.

a.       Fisioterapi dada

Terdiri atas Tindakan perkusi dan vibrasi. Perkusi adalah Tindakan menepuk-nepuk kulit dengan tenaga oenuh menggunakan kedua tangan yang dibentuk menyerupai mangkuk secara bergantian, bertujuan melepaskan sumbatan sekret pada dinding bronkus. Sementara vibrasi adalah serangkaian getaran kuat yang dihasilkan oleh kedua tangan yang diletakkan mendatar di atas dada klien, tujuannya untuk meningkatkan turbulensi udara yang diembuskan sehingga sekret terlepas dari dinding bronkus.

b.      Drainase postural

Adalah drainase sekret dari berbagai segmen paru dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Posisi yang paling sering digunakan pada prosedur ini adalah posisi untuk mengeluarkan sekret dari segmen bawah paru. Ini karena segmen atas paru dapat mengalirkan sekretnya dengan memanfaatkan gaya gravitasi.

 

            Terapi oksigen diberikan kepada pasien yang mengalami gangguan ventilasi pada seluruh area paru, pasien dengan gangguan pertukaran gas, serta mereka yang mengalami gagal jantung dan membutuhkan terapi oksigen guna mencegah hipoksia. Sejumlah sistem pemberian oksigen tersedia bagi klien di berbagai kondisi, bergantung pada kebutuhan oksigen klien, kenyamanan, dan tingkat perkembangannya (Mubarak dkk, 2020).

 

Indikasi pemberian Oksigen

1.      Gangguan pernapasan berat (RR > 30 x/mnt)

2.      Hipoperfusi/syok (TD < 90 mmHg)

3.      Hipoksemia (SpO2 < 90%)

 

 

c.       Inhalasi oksigen

Yaitu memberikan tambahan oksigen pada klien yang membutuhkan. Pemberian oksigen dapat dilakukan melalui beberapa cara, seperti:

1.      Kanula hidung

Dapat memberikan oksigen dengan aliran 1-6liter/menit dan konsentrasi oksigen sebesar 24-44%.

2.      Sungkup muka/masker wajah

a)      Sungkup muka sederhana

Aliran oksigen 5-8liter/menit dengan konsentrasi 40-60%

b)      Sungkup muka dengan kantung rebreathing

Konsentrasi oksigen 60-80% dengan aliran oksigen 8-12liter/menit.

c)      Sungkup muka nonrebreathing memberikan oksigen sampai 99% dengan aliran yang sama pada kantung rebreathing. Pada prinsipnya, udara inspirasi tidak tercampur dengan ekspirasi (Mubarak dkk, 2020).

3.      Non Invasive Ventilation

Ventilasi noninvasif merupakan teknik ventilasi mekanis tanpa menggunakan pipa trakea (endotracheal tube) pada jalan napas.

a)      Bag Valve Mask (Ambu Bag)

Bag Valve Mask yang juga dikenal BVM atau Ambubag adalah alat yang digunakan untuk memberikan tekanan pada sistem pernafasan pasien yang henti nafas atau yang nafasnya tidak adekuat. Biasanya pemberian bantuan pernapas menggunakan BVM ini dilakukan jika pemasangan alat bantu nafas yang lebih advanced (tube endoktrakeal) atau pemasangan alat bantu nafas definitif lainnya tidak dapat dilakukan. Pemasangan BVM ini harus sesuai dengan indikasi dan memperhatikan jenis serta ukuran dari masker dan bag yang dipergunakan pada BVM (sesuai dengan usia seseorang). Untuk penderita dengan kondisi trauma wajah yang parah, cedera mata terbuka, serta menggunakan benda asing dalam mulut (kawat gigi atau penggunaan gigi palsu), sebaiknya dihindari untuk memberikan bantuan pernapasan dengan menggunakan alat bantu BVM ini (kontraindikasi).

Untuk kadar oksigen yang dapat diberikan melalui BVM ini, tanpa menggunakan oksigen dari luar kadar oksigen yang dihasilkan oleh BV mini berkisar antara 21%. Sedangkan untuk penggunaan BVM dengan oksigen tanpa reservoir, kadar oksigen yang dihasilkan adalah sekitar 40-60% dengan aliran oksigen 8-10 LPM. Sedangkan untuk BVM yang menggunakan reservoir, kadar oksigen yang dapat dicapai adalah sekitar 100% dengan aliran oksigen 8-10 LPM.

b)      High Flow Nasal Canul

·         Dapat memberikan oksigen dengan flow sampai 40-60 L/mnt

·         Disertai pengatur kelembaban

·         Untuk mengurangi aerosol

·         Mulai flow 30 L dengan memaksimalkan fiO2

·         Semakin rendah flow mengurangi aerosol

·         Kateter harus terfiksasi bagus dan mulut tertutup

4.      Invasive Mechanical Ventilation

Tindakan Invasif adalah suatu tindakan medis yang langsung dapat mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh pasien.

Ventilasi mekanik adalah suatu alat bantu mekanik yang berfungsi memberikan bantuan nafas pasien dengan cara memberikan tekanan udara positif pada paruparu melalui jalan nafas buatanadalah suatu alat yang digunakan untuk membantu sebagian atau seluruh proses ventilasi untuk mempertahankan oksigenasi ( Brunner dan Suddarth, 2002).

d.      Inhalasi uap

Inhalasi uap dengan/tanpa obat adalah menghirup uap dengan/tanpa obat melalui saluran pernapasan bagian atas. Tujuannya agar sekret menjadi lebih encer dan mudah dikeluarkan, pernapasan menjadi lebih lega, dan selaput lendir pada saluran napas menjadi tetap lembap.

 

B.  Konsep Asuhan Keperawatan

1.      Pengkajian

Pengkajian keperawatan untuk status oksigenasi meliputi riwayat keperawatan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan diagnostik

 

a.       Riwayat Keperawatan

Riwayat keperawatan untuk status oksigenasi meliputi pengkajian sebagai berikut.

1)      Masalah pada pernapasan (dulu dan sekarang)

2)      Riwayat penyakit atau masalah pernapasan

a)      Nyeri

b)      Paparan lingkungan atau geografi

c)      Batuk

d)     Bunyi napas mengi

e)      Faktor risiko penyakit parub (misal perokok aktif/pasif)

f)       Frekuensi infeksi pernapasan

g)      Masalah penyakit paru masa lalu

h)      Penggunaan obat

3)      Adanya batuk dan penanganan

4)      Kebiasaan merokok

5)      Masalah pada fungsi sistem kardiovaskular (kelemahan, dispnea)

6)      Faktor risiko yang memperberat masalah oksigenasi

a)      Riwayat hipertensi, penyakit jantung, atau penyakit CVA

b)      Merokok

c)      Usia paruh baya atau lanjut

d)     Obesitas

e)      Diet tinggi lemak

f)       Peningkatan kolesterol

7)      Riwayat penggunaan medikasi

8)      Stresor yang dialami

9)      Status atau kondisi kesehatan

 

b.      Pemeriksaan Fisik

Untuk menilai status oksigenasi klien, perawat menggunakan keempat teknik pemeriksaan fisik, yaitu inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi.

1)      Inspeksi. Pada saat inspeksi perawat mengamati tingkat kesadaran klien, penampilan umum, postur tubuh, kondisi kulit dan membran mukosa, dada (kontur rongga interkosta, diameter anteriorposterior [AP], struktur toraks, pergerakan dinding dada), pola napas (frekuensi dan kedalaman pernapasan, durasi inspirasi dan ekspirasi), ekspansin dada secara umum, adanya sianosis, adanya deformitas dan jaringan parut pada dada, dan lain-lain.

2)      Palpasi. Palpasi dilakukan dengan meletakkan tumit tangan pemeriksa mendatar di atas dada pasien. Saat palpasi, perawat menilai adanya fremitus taktil pada dada dan punggung pasien dengan memintanya menyebutkan “tujuh-tujuh” secara berulang. Jika pasien mengikuti instruksi tersebut secara tepat, perawat akan merasakan adanya getaran pada telapak tangannya. Normalnya, fremitus taktil akan terasa pada individu yang sehat, dan akan meningkat pada kondisi konsolidasi. Selain itu, palpasi juga dilakukan untuk mengkaji temperatur kulit, pengembangan dada, adanya nyeri tekan, thrill, titik impuls maksimum, abnormalitas massa dan kelenjar, sirkulasi perifer, denyut nadi, pengisian kapiler, dan lain-lain.

3)      Perkusi. Secara umum, perkusi dilakukan untuk menentukan ukuran dan bentuk organ dalam serta untuk mengkaji adanya abnormalitas, cairan, atau udara di dalam paru. Perkusi sendiri dilakukan dengan menekankan jari tengah (tangan nondominan) pemeriksa mendatar di atas dada pasien. Kemudian jari tersebut diketuk-ketuk dengan menggunakan ujung jari tengah atau jari telunjuk tangan sebelahnya. Normalnya, dada menggunakan bunyi resonan atau gaung perkusi. Pada penyakit tertentu (misal pneumotoraks, emfisema), adanya udara pada dada atau paru-paru menimbulkan bunyi hipersonan atau bunyi drum. Sementara bunyi pekak atau kempis terdengar apabila perkusi dilakukan di atas area yang mengalami atelektasis.

4)      Auskultasi. Untuk mendapatkan hasil yang lebih valid dan akurat, auskultasi sebaiknya dilakukan lebih dari satu kali. Pada pemeriksaan fisik paru, auskultasi dilakukan untuk mendengarkan bunyi napas vesikular, bronkial, bronkovesikular, rales, ronki, juga untuk mengetahui adanya perubahan bunyi napas serta lokasi dan waktu terjadinya.

 

c.       Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik dilakukan untuk mengkaji status, fungsi, dan oksigenasi pernapasan pasien. Beberapa jenis pemeriksaan diagnostik antara lain sebagai berikut.

1)      Penilaian ventilasi dan oksigenasi: uji fungsi paru, pemeriksaan gas darah arteri, oksimetri, pemeriksaan darah lengkap, dan lain-lain.

2)      Tes struktur sistem pernapasan: sinar-X dada, bronkoskopi, scan paru.

3)      Deteksi abnormalitas sel dan infeksi saluran pernapasan: kultur kerongkongan, sputum, uji kulit, torakosentesis (Mubarak dkk, 2020).

 

2.      Diagnosa Keperawatan pada Gangguan Pernapasan (Nanda, 2003)

a.       Ketidakefektidan bersihan jalan napas

b.      Ketidakefektifan pola napas

c.       Penurunan curah jantung

d.      Gangguan pertukaran gas

e.       Risiko infeksi

f.       Intoleransi aktivitas  

 

3.      Rencana Tindakan Keperawatan pada Gangguan Pernapasan

Tujuan asuhan keperawatan untuk klien dengan masalah oksigenasi adalah untuk mempertahankan kepatenan jalan napas, meningkatkan kenyamanan dan kemudahan saat bernapas, mempertahankan dan meningkatkan ventilasi dan oksigenasi paru, meningkatkan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas fisik, serta mencegah berbagai risiko yang terkait dengan masalah oksigenasi (misal kerusakan jaringan, gangguan keseimbangan asam-basa, sinkope, dan lain-lain).

 

a.       Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas

Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan:

1)      Sekret yang berlebihan dan kental, sekunder akibat (infeksi, inflamasi, alergi, merokok, penyakit jantung, atau paru),

2)      Imobilitas, stasis sekret, dan batuk tak-efektif, sekunder akibat (penyakit pada SSP, depresi SSP/trauma kepala, cedera serebrovaskular),

3)      Supresi reflek batuk, sekunder akibat (sebutkan),

4)      Efek trakeostomi (perubahan sekret),

5)      Imobilitas, sekunder akibat (pembedahan atau trauma, nyeri, ansietas; kelemahan, gangguan persepsi/kognitif),

6)      Kelembapan yang sangat tinggi atau sangat rendah,

7)      Terpajan udara dingin, tertawa, menangis, allergen, merokok.

Kriteria Hasil

Individu tidak akan mengalami aspirasi

Indikator

1)      Memperlihatkan upaya batuk yang efektif dan peningkatan pertukaran gas.

2)      Menjelaskan rasional intervensi untuk meningkatkan batuk.

Intervensi Umum

Mandiri

1)      Kaji faktor penyebab (missal batuk tidak efektif, nyeri, sekret yang kental, kelemahan, dan lain-lain).

2)      Kurangi atau hilangkan faktor penyebabnya.

3)      Ajarkan klien tentang metode batuk efektif yang benar.

a)      Bernapas yang dalam dan pelan sambal meninggikan badan setinggi mungkin.

b)      Gunakan pernapasan diafragma.

c)      Tahan napas selama 3-5 detik dan kemudian dengan perlahan keluarkan melalui mulut semaksimal mungkin (tulang rusuk baeah dan abdomen harus cekung ke dalam).

d)     Ambil napas kedua kali, tahan, keluarkan perlahan, dan batukkan dengan kekuatan penuh dari dada (bukan dari belakang mulut atau tenggorokan), lakukan batuk pendek yang kuat sebanyak dua kali.

4)      Lakukan fisioterapi dada dan drainase postural sesuai kebutuhan.

5)      Jika ada nyeri, berikan obat pereda nyeri sesuai kebutuhan.

6)      Sesuaikan pemberian dosis analgesik dengan sesi latihan batuk (misal berikan dosis ½– 1 jam sebelum latihan batuk).

7)      Tentukan waktu ketika klien terlihat paling bebas dari rasa nyeri, yakni saat tingkat kesadaran dan penampilan fisiknya optimal. Saat itu merupakan waktu yang tepat untuk melakukan latihan napas dan batuk aktif.

8)      Pastikan bahwa latihan batuk dilakukan pada puncak periode kenyamanan setelah pemberian analgesik, bukan pada puncak rasa kantuk.

9)      Pertahankan posisi tubuh yang baik untuk mencegah nyeri atau ceder otot.

10)  Jika sekret kental, pertahankan hidrasi yang adekuat (tingkatkan asupan cairan hingga 2-3 kali sehari jika tidak ada kontraindikasi).

11)  Pertahankan kelembapan udara inspirasi yang adekuat.

12)  Jika batuk kronis, minimalkan iritan pada udara inspirasi (misal debu, alergen).

13)  Izinkan klien beristirahat setelah berlatih batuk dan sebelum makan.

14)  Berikan periode istirahat yang tidak terganggu.

15)  Berikan obat yang telah diresepkan—depresan batuk, ekspektoran—sesuai instruksi dokter (tunda pemberian makan dan minum sesaat setelah pemberian obat untuk mendapatkan hasil yang terbaik).

16)  Redakan iritasi membran mukosa dengan memberikan kelembapan (hirup uap dari shower, atau duduk di atas baskom yang berisi air yang beruap dengan meletakkan handuk di atas kepala guna mengencerkan sekret dan melegakan membran).

Kolaborasi

1)      Kolaborasikan dengan dokter untuk tindakan suction guna mempertahankan kepatenan jalan napas.

2)      Kolaborasikan dengan dokter untuk pemberian oksigen melalui masker, kanula hidung, dan transtrakea guna mempertahankan dan meningkatkan oksigenasi.

Rasional

1)      Batuk yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kelelahan dan tidak efektif, dan bisa menyebabkan bronkitis.

2)      Latihan napas dalam dapat melebarkan jalan napas, menstimulasi produk surfaktan, dan mengembangkan permukaan jaringan paru sehingga meningkatkan pertukaran gas. Batuk dapat mengencerkan sekret dan mendorongnya ke bronkus untuk dikeluarkan atau diisap. Pada beberapa klien, pernapasan huffing mungkin efektif dan tidak terlalu menyakitkan.

3)      Duduk pada posisi tegak menyebabkan organ-organ abdomen terdorong menjauhi paru, akibatnya pengembangan paru menjadi lebih besar.

4)      Pernapasan diafragma mengurangi frekuensi pernapasan dan meningkatkan ventilasi alveolar.

5)      Sekret yang kental sulit untuk dikeluarkan dan dapat menyebabkan henti mukus; kondisi ini dapat menyebabkan atelektasis.

6)      Sekret harus cukup encer agar mudah dikeluarkan.

7)      Nyeri atau rasa takut akan nyeri dapat melelahkan dan menyakitkan. Dukungan emosional menjadi semangat bagi klien, air hangat dapat membantu relaksasi.

 

b.      Ketidakefektifan Pola Napas

Ketidakefektifan pola napas yang berhubungan dengan:

1)      Sekret yang berlebihan dan kental, sekunder akibat (infeksi, inflamasi, alergi, merokok, penyakit jantung atau paru),

2)      Imobilitas, stasis sekret, dan batuk tak-efektif, sekunder akibat (penyakit pada SSP; depresi SSP/trauma kepala; cedera serebrovaskular),

3)      Supresi refleks batuk, sekunder akibat (sebutkan),

4)      Efek trakeostomi (perubahan sekret),

5)      Imobilitas, sekunder akibat (pembedahan atau trauma, nyeri, ansietas, kelemahan, gangguan persepsi/kognitif),

6)      Kelembapan yang sangat tinggi atau sangat rendah,

7)      Terpajan udara dingin, tertawa, menangis, alergen, merokok.

Kriteria Hasil

Pola napas efektif, bunyi napas normal, TTV dalam batas normal, ekspansi paru mengembang.

Indikator

a.       Memiliki RR dalam batas normal dibandingkan nilai dasar (8-24 kali/menit).

b.      Mengekspresikan redanya (atau membaiknya) perasaan sesak napas.

c.       Menyebutkan faktor penyebab berikut cara untuk mencegah atau mengatasinya.

Intervensi Umum

1)      Kaji riwayat gejala meliputi episode sebelumnya (kapan, di mana, bagaimana situasinya).

2)      Kaji faktor penyebab (organik, psikologik, emosional, kebiasaan bernapas yang salah).

3)      Jelaskan penyebab ketidakefektifan pola napas kepada klien.

4)      Jika rasa takut atau panik merupakan pencetus, singkirkan penyebab ketakutan, jika memungkinkan.

5)      Alihkan perhatian klien agar tidak memikirkan kecemasannya dengan meminta klien mempertahankan kontak mata dengan Anda (atau mungkin dengan orang lain yang dia percaya).

6)      Pertimbangkan penggunaan kantong kertas sebagai alat untuk menghirup kembali udara ekspirasi (CO2 yang dikeluarkan akan dihirup kembali sehingga akan memperlambat laju pernapasan).

7)      Yakinkan klien bahwa dia bisa mengontrol pernapasannya, dan bahwa anda akan membantunya.

8)      Ajarkan teknik pengontrolan napas (misalnya pernapasan bibir) atau konsultasikan dengan ahli terapi pernapasan untuk memperoleh latihan guna memperbaiki pola napas yang salah.

Rasional

1)      Intervensi berfokus pada upaya memperlambat pola pernapasan dan mengajarkan klien untuk mengontrol responnya.

2)      Menenangkan klien yang mengalami sesak napas dengan mengatakan bahwa berbagai tindakan tengah diambil untuk mengatasi situasi tersebut adalah intervensi yang penting untuk mengurangi kepanikan dan menurunkan gejala yang ada.

 

c.       Pola Napas Tidak Efektif Berhubungan dengan Kelumpuhan Otot Diafragma

Intervensi

1)      Pertahankan jalan napas; posisi kepala tanpa gerak.

2)      Lakukan pengisapan lendir bila perlu. Catat jumlah, jenis, dan karakteristik sekret.

3)      Kaji fungsi pernapasan.

4)      Auskultasi suara napas.

5)      Observasi warna kulit.

6)      Kaji distensi perut dan spasme otot.

7)      Anjurkan pasien untuk minum minimal 2.000 cc/hari.

8)      Lakukan pengukuran kapasitas vital, volume tidal, dan kekuatan pernapasan.

9)      Pantau analisis gas darah.

10)  Berikan oksigen dengan cara yang tepat.

11)  Lakukan fisioterapi napas.

Rasional

1)      Pasien dengan cedera servikalis akan membutuhkan bantuan untuk mencegah aspirasi/mempertahankan jalan napas.

2)      Jika batuk tidak efektif, pengisapan dibutuhkan untuk mengeluarkan sekret, dan mengurangi risiko infeksi pernapasan.

3)      Trauma pada servikal 5-6 menyebabkan hilangnya fungsi pernapasan secara parsial, karena otot pernapasan mengalami kelumpuhan.

4)      Hipoventilasi biasanya terjadi atau menyebabkan akumulasi sekret yang berakibat pneumonia.

5)      Menggambarkan adanya kegagalan pernapasan yang memerlukan tindakan segera.

6)      Kelainan penuh pada perut disebabkan karena kelumpuhan diafragma.

7)      Membantu mengecerkan sekret, meningkatkan mobilisasi sekret sebagai ekspektoran.

8)      Menentukan fungsi otot-otot pernapasan. Pengkajian terus-menerus untuk mendeteksi adanya kegagalan pernapasan.

9)      Mengetahui adanya kelainan fungsi pertukaran sebagai contoh, hiperventilasi PaO2 rendah dan PaCO2 meningkat.

10)  Metode dipilih sesuai dengan keadaan insufisiensi pernapasan.

11)  Mecegah sekret tertahan (Mubarak dkk, 2020).


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mubarak, Wahit Iqbal dkk. (2020). Buku Ajar Ilmu Keperawatan Dasar Buku 2. Jakarta: Salemba Medika.

Makarim, dr. Fadhli Rizal. (2021). Mengenal Fungsi Organ Pernapasan Manusia. Diakses pada 5 Oktober 2021, dari https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-fungsi-organ-pernapasan-manusia

Maehcarenda, dr. Aldy Valentino. (2017). Pemberian BVM. Diakses pada 5 Oktober 2021, dari https://www.alodokter.com/komunitas/topic/bvm

Andini, N. A. (2020). Literature Review: Efektivitas Penggunaan High Flow Nasa Cannula (HFNC) pada Pasien Gagal Napas Akut. (Karya Tulis Ilmiah untuk Memperoleh Gelar Profesi Ners, Stikes Panakkukang, 2020). Diakses dari https://stikespanakkukang.ac.id/assets/uploads/alumni/da72956e371ed248c6ca6e82ab0b6aa2.pdf

Rogayah F, Fitriani F, Rasmin M. (2009). Jurnal Respirologi Indonesia. Ventilasi Noninvasif (Non-invasive Ventilation/NIV),29(3). Diakses pada 5 Oktober 2021, dari http://arsip.jurnalrespirologi.org/ventilasi-noninvasif-non-invasive-ventilationniv/

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iyadatul Maridh (Menjenguk Orang Sakit)

NILAI KEADILAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN ILMU

FALSAFAH KEPERAWATAN "PHILOSOPHICAL THEORY"