SISTEM ENDOKRIN

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang

        Endokrin berasal dari bahasa Yunani yang artinya “sekret ke dalam”.masuk sirkulasi ke dalam darah yaitu hormon (merangsang). Sistem endokrin adalah control kelenjar tanpa saluran (ductiess) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai “pembawa pesan” dan di bawah oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh yang selanjutnya akan menerjemahkan “pesan” tersebut menjadi suatu tindakan

        Sistem endokrin terdiri atas badan-badan jaringan kelenjar,seperti tiroid,tapi juga terdiri atas kelenjar yg ada di dalam suatu organ tertentu,seperti testis,ovarium,dan jantung. Sistem endokrin menggunakan hormon untunk mengendalikan dan mengatur fungsi tubuh sama seperti sistem saraf menggunakan sinyal listrik kecil. Kedua sistem berinteraksi di otak dan saling melengkapi,tapi mereka cenderung berkerja dengan kecepatan yang berbeda. (Philip E.P, 2001). Jika kelenjar endokrin mengalami kelainan fungsi, maka kadar hormon di dalam darah bisa menjadi tinggi atau rendah, sehingga mengganggu fungsi tubuh. Untuk mengendalikan fungsi endokrin, maka pelepasan setiap hormon harus diatur dalam batas-batas yang tepat.

1.2     Tujuan

1.             Menyebutkan fungsi dasar sistem Endokrin.

2.             Memahami Struktur Fisiologi dan Anatomi dari sistem Endokrin.

1.3     Manfaat

3.             Memahami fungsi dasar sistem endokrin.

4.             Memahami Struktur Fisiologi dan Anatomi dari sistem endokrin.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Anatomi Sistem Endokrin

Kelenjar endokrin merupakan sekelompokan sel yang berfungsi mensekresikan senyawa kimia (hormon) dan mendistribusikan melalui peredaran darah menuju sel/jaringan/organ yang memerlukan (target). Hormon yang disekresikan oleh kelenjar endokrin pada umumnya menuju organ target/sasaran yang letaknya cukup jauh dari tempat sekresinya. Hormon pada umumnya diproduksi kelenjar endokrin saat dibutuhkan dan dalam jumlah sedikit, namun mempunyai dampak respon yang luas. Hormon bertindak sebagai pembawa pesan kimiawi (messenger) untuk dibawa ke organ sasaran dan diterjemahkan pesan yang didapat di organ tersebut.




Secara umum fungsi kelenjar endokrin dapat disebutkan sebagai berikut:

1.  Mensekresikan hormon yang dialirkan langsung ke dalam darah (tanpa saluran khusus/ductless) yang diperlukan sel/jaringan/organ tubuh tertentu.

2.      Bertindak mengontrol aktivitas kelenjar tubuh

3.      Merangsang aktivitas kelenjar tubuh

4.      Merangsang pertumbuhan jaringan

5.     Pengaturan metabolisme, proses oksidasi, meningkatkan absorbsi glukosa pada usus halus

6.      Mempengaruhi metabolisme lemak, protein, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air.

7.      Memelihara lingkungan internal tubuh agar tetap optimal dan homeostatis

 

2.2  Fisiologi Sistem Endokrin

Kelenjar dari sistem endokrin adalah sama pada pria dan wanita kecuali untuk testis, yang hanya ditemukan pada laki-laki, dan ovarium, yang hanya ditemukan pada wanita.

1.             Gland pituitary (Hipofisis)

Selama bertahun-tahun, kelenjar pituitari atau hipofisis disebut "master" kelenjar endokrin karena mengeluarkan beberapa hormon yang mengontrol kelenjar endokrin lainnya. Kita sekarang tahu bahwa hipofisis kelenjar itu sendiri memiliki master hipotalamus. Daerah ini kecil di otak bawah, thalamus adalah penghubung utama antara sistem saraf dan endokrin. Sel-sel dalam hipotalamus mensintesis setidaknya sembilan hormon yang berbeda, dan kelenjar pituitari mensekresi tujuh. Bersama-sama, hormon ini memainkan peran penting dalam regulasi hampir semua aspek pertumbuhan, perkembangan, metabolisme, dan homeostasis  

Kelenjar pituitari mempunyai struktur seperti kacang yang berdiameter 1-1,5 cm (0,5 in.) terletak pada fossa hypophyseal sela tursika tulang sphenoid. Menempel di hipotalamus dengan tangkai, infundibulum dan memiliki dua bagian anatomis dan fungsional yang terpisah: hipofisis anterior dan hipofisis posterior. Hipofisis anterior (lobus anterior), juga disebut adenohypophysis, menyumbang sekitar 75% dari total berat kelenjar dan terdiri dari jaringan epitel. Hipofisis anterior terdiri dari dua bagian pada orang dewasa: distalis pars adalah bagian yang lebih besar, dan tuberalis pars bentuknya ada kantung di sekitar infundibulum.

Hipofisis Posterior (posterior lobus), juga disebut neurohypophysis, terdiri dari jaringan saraf. Ini juga terdiri dari dua bagian: nervosa pars, bagian bulbar yang lebih besar, dan infundibulum. ada wilayah ketiga dari kelenjar pituitari yang disebut intermedia pars atrophies, selama perkembangan janin manusia dan tidak lagi ada sebagai lobus tersendiri pada orang dewasa. Namun, beberapa sel yang bermigrasi ke bagian yang berdekatan dari hipofisis anterior.



Gambar 2.2 Kelenjar Pituari

2.             Kelenjar Thyroid

Kelenjar tiroid berbentuk kupu-kupu berada di inferior laring (kotak suara). Terdiri dari lobus lateral kanan dan kiri, terletak di kedua sisi trakea, yang dihubungkan oleh sebuah isthimus anterior ke trakea Sekitar 50% dari kelenjar tiroid memiliki tiga lobus kecil, yang disebut lobus piramidal. Memanjang superior dari isthmus. Massa normal tiroid adalah sekitar 30 g (1 oz).

Kelenjar tiroid terletak di kiri dan di kanan trakea di daerah faring, dekat jakun. Kelenjar ini menghasilkan hormon tiroksin, triidotironin, dan kalsironin. Hormon_hormon ini berfungsi mempengaruhi metabolisme sel, mempengaruhi pertumbuhan, dan mempengaruhi perubahan tiroksin.

Kelebihan (hipersekresi) tiroksin pada orang dewasa akan mengakibatkan penyakit morbus basedow. Tanda-tanda penyakit ini, antara lain metabolisme meningkat, denyut jantung cepat, gugup, emosional, pelupuk mata melebar, dan bola mata menonjol. Hipersekresi tiroid pada anak_anak menyebabkan gigantisme (pertumbuhan raksasa). Sementara itu, kekurangan (hiposekresi) tiroksin pada orang dewasa menyebabkan miksedema. Gejala ini ditandai dengan kegemukan yang luar biasa (obesitas) dan kecerdasan menurun. Hiposekresi tiroksin pada anakanak menyebabkan kretinisme , yaitu pertumbuhan kerdil dan kemunduran mental. Hormon tiroksin mengandung banyak yodium. Kekurangan yodium dalam jangka panjang dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar tiroid. Hal itu terjadi kerena kelenjar tiroid harus bekerja keras memproduksi tiroksin dengan bahan baku (yodium) yang kurang. Pembengkakan kelenjar tiroid menimbulkan penyakit gondok.



Gambar 2.2 Kelenjar Thyroid 13

3.             Kelenjar Paratiroid

Kelenjar paratiroid terdapat di bagian dorsal kelenjar tiroid. Kelenjar ini menempel pada bagian anterior serta posterior di kedua lobus kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di kutub inferior. Kelenjar ini mempunyai ukuran panjang sekitar 6 mm, lebar 3 mm, dan ketebalan 2 mm.

Kelenjar paratiroid terususun sebagian besar oleh dua macam sel yaitu chief cells dan oxyphill cells. Dari kedua macam sel tersebut, chief cells merupakan populasi sel terbesar di kelenjar paratiroid. Secara umum hormon ini memproduksi parathormon (PTH), yang berperan dalam metabolisme kalsium dalam tubuh. Apabila sekresi hormon itu meningkat maka kadar kalsium dalam darah meningkat dan dapat menyebabkan pengendapan kalsium dalam ginjal. Sebaliknya, jika kadar parathormon dalam tubuh menurun, maka menyebabkan kejang pada otot. Adapun fungsi spesifik dari PTH dijelaskan sebagai berikut:

a)             Meningkatkan kadar kalsium di dalam darah dengan melepaskan kalsium dari tulang.

b)             Menaikkan penyerapan (absorbsi) kalsium dari makanan dalam usus.

c)             Meningkatkan penyerapan kembali (reabsorbsi) kalsium di dalam tubulus ginjal.

Kelenjar menghasilkan hormon paratiroid dan merupakan hormon utama yang mengatur metabolisme kalsium untuk mempertahankan kadar kalsium plasma pada batas normal. Fungsi utama hormon paratiroid mempertahankan kadar kalsium dalam cairan ekstraseluler agar selalu dalam keadaan homeostatis. Kadar kalsium dalam cairan ekstraseluler sendiri dipengaruhi beberapa hal, yaitu: proses absorpsi kalsium di saluran pencernaan, deposit kalsium dalam tulang serta mobilisasinya, dan pengeluaran kalsium lewat urin, feses, keringat serta air susu. Sementara itu hormon PTH juga berpengaruh dalam mobilisasi kalsium tulang dan terkait kadar kalsium dalam darah. Apabila kadar kalsium dalam darah rendah maka sekresi PTH ditingkatkan. Jika terjadi hipokalsimea yang berkepanjangan maka menyebabkan hipertrofi dan hiperplasi kelenjar paratiroid.

Dalam kondisi hipokalsemi, yaitu kadar kalsium dalam darah yang rendah, sekresi hormon paratiroid berlangsung dalam beberapa tahap, yakni:

a)    Sel-sel paratiroid dengan waktu cepat akan mensekresikan hormon paratiroid yang sudah tersedia dalam sel dalam keadaan hipokalsemi.

b)     Aktivitas sel kelenjar paratiroid menghasilkan hormon paratiroid lebih banyak dalam waktu beberapa jam.

c)    Jika hipokalsemia masih terjadi, maka dalam beberapa hari terjadi penggandaan sel untuk memperbanyak masa sel kelenjar paratiroid. Dalam keadaan normal, hormon paratiroid bisa mempertahankan konsentrasi kalsium plasma sehingga tidak menyebabkan hipokalsimea. Hormon paratiroid bekerja dengan tulang dan ginjal secara langsung, sedangkan secara tidak langsung dengan usus halus dengan perantara metabolism vitamin D.

Hormon paratiroid bekerja pada tulang dengan cara meningkatkan reabsorbsi kalsium serta fosfat. Sementara itu kerja hormon paratiroid pada ginjal melalui dua mekanisme, yakni:

a)    Hormon paratiroid akan meningkatkan reabsorbsi kalsium namun menurunkan reabsorbsi fosfat. Reabsorbsi kalsium di ginjal terjadi pada daerah tubulus proksimal (60%). Sementara sekitar 25% pada lengkung Henle dan 15% terjadi pada tubulus distal.

b)    Hormon paratiroid meningkatkan kerja enzim 1α-dihidroksilase yang ada di bagian ginjal yang akan berakibat meningkatnya perubahan 25% hidroksi-kolekalsiferol menjadi 1.25 dihidroksikolekalsiferol.



Gambar 2.2 Kelenjar Paratinoid

d)     Kelenjar Adrenal

Kelenjar adrenal atau kelenjar suprarenal berjumlah sepasang dan terletak di permukaan anterior/superior ginjal pada kedua sisinya. Secara umum, fungsi kelenjar adrenal yaitu mengatur keseimbangan air, elektrolit dan garam-garam, mengatur dan mempengaruhi metabolisme lemak, hidrat arang serta protein, mempengaruhi aktifitas jaringan limfoid.

Kelenjar adrenal pada manusia panjangnya 4-6 cm, lebar 1-2 cm, dan tebal 4-6 mm. Bersama-sama kelenjar adrenal mempunyai berat lebih kurang 8 gr, tetapi berat dan ukurannya bervariasi bergantung umur dan keadaan fisiologi. Pada umumnya kelenjar adrenal ukurannya lebih besar pada wanita dan pada tikus atau mencit menunjukkan perbedaan ukuran strain yang berbeda.

Kelenjar ini berbentuk piramid dan dikelilingi jaringan ikat padat kolagen yang mengandung jaringan lemak. Selain itu setiap kelenjar ini dibungkus kapsul jaringan ikat cukup tebal dan membentuk sekat/septa ke dalam kelenjar. Jaringan ikat fibrosa mengelilingi kelenjar adrenal dan membagi kelenjar menjadi daerah kortek sebelah luar serta daerah medulla sebelah dalam. Pada kebanyakan mamalia (mencit hanya punya dua zona) daerah kortek dibedakan menjadi tiga zona. Zona terluar yaitu zona subcapsular atau dikenal dengan zona glomerulosa tersusun atas selsel kecil dengan nukleus besar



Gambar 2.2 Kelenjar Adrenal

4.             Kelenjar kelamin (Gonad) Ovarium dan Testis

Kelenjar gonad terbentuk pada minggu- minggu pertama gestasi dan tanpak jelas pada minggu kelima. Keaktifan kelenjar gonad terjadi pada masa prepubertas dengan meningkatnya sekresi gonadotropin (FSH dan LH) akibat penurunan inhibisi steroid (Manurung et al., 2017)

a)             Testis adalah organ yang memproduksi gamet-sperma pada laki-laki dan oosit pada wanita. Selain fungsi reproduksi mereka, gonad mengeluarkan hormon. Ovarium, berpasangan tubuh berbentuk oval yang terletak di dalam rongga panggul perempuan, memproduksi beberapa hormon steroid, termasuk kedua estrogen (estradiol dan estron) dan progesteron. Hormon seks wanita ini, bersama dengan folliclestimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH) dari hipofisis anterior, mengatur siklus menstruasi, menjaga kehamilan, dan mempersiapkan kelenjar susu untuk menyusui. Mereka juga meningkatkan pembesaran payudara dan pelebaran pinggul saat pubertas, dan membantu menjaga karakteristik seks sekunder perempuan

b)             Ovarium juga memproduksi inhibin, hormon protein yang menghambat sekresi FSH. Selama kehamilan, ovarium dan plasenta menghasilkan hormon peptida yang disebut relaksin (RLX), sehingga meningkatkan fleksibilitas simfisis pubis selama kehamilan dan membantu melebarkan serviks uterus selama persalinan dan melahirkan. Tindakan ini membantu meringankan bagian bayi dengan memperbesar jalan lahir. Pada gonad laki-laki, testis, merupakan kelenjar berbentuk oval yang terletak di skrotum. Hormon utama yang dihasilkan dan disekresi oleh testis adalah testosteron, merupakan androgen atau hormon seks pria. Testosteron menstimulasi turunnya testis sebelum kelahiran, mengatur produksi sperma, dan menstimulasi perkembangan dan pemeliharaan karakteristik seks sekunder laki-laki, seperti pertumbuhan janggut dan pendalaman suara. Testis juga memproduksi inhibin, dimana menghambat sekresi FSH.


5.             Kelenjar Pineal

Kelenjar pineal berbentuk kerucut seperti buah pinus yang lalu digunakan sebagai dasar pemberian nama. Kelenjar ini sangat kecil, pada manusia berukuran panjang 6,5 mm, lebar 4 mm. Kelenjar pineal melekat ke otak lewat tangkai yang dilapisi ependima. Kelenjar pineal merupakan bagian dari epitalamus dan berkedudukan di posterior atap ventrikel ketiga. Epitalamus sendiri merupakan daerah kecil di bagian superior dan posterior thalamus. Ukuran kelenjar pineal bervariasi. Pada manusia, kurang lebih berukuran 1 cm panjangnya, sementara pada anjing hanya 1 mm. Sementara beratnya relatif ringan, berkisar antara 18-346 mg.

Bagian dasar dari pineal melekat di bagian otak melalui sebuah tangkai pendek disebut peduncle, yang membagi menjadi dua lamina, yakni lamina superior dan lamina inferior. Kelenjar pineal berhubungan 4 41 erat dengan ruangan otak (ventrikel ketiga). Bagian utama kelenjar pineal diselubungi jaringan tela choroidea dari ventrikel ketiga. Bagian tersebut berada di antara ruangan subarachnoid dan terbenam dalam cairan cerebrospinal (cerebro spinal fluid) subarachnoid.



Gambar 2.2 Kelenjar Pineal

6.             Pankreas

Pankreas adalah kelenjar endokrin dan kelenjar eksokrin. bahasan di sini fungsi endokrin Suatu organ pipih yang Panjangnya sekitar 12,5-15 cm (5-6 in.), pankreas berlokasi di lekukan duodenum, bagian pertama dari usus kecil, dan terdiri dari kepala, tubuh, dan ekor, Sekitar 99% dari sel-sel eksokrin pankreas disusun dalam kelompok yang disebut asinus. Asinus menghasilkan enzim pencernaan, dimana mengalir ke saluran pencernaan melalui jaringan duktus. Tersebar di antara asinus eksokrin yang 1-2 juta cluster kecil jaringan endokrin yang disebut pulau pankreas atau pulau Langerhans. Kapiler berlimpah bermanfaat baik untuk eksokrin dan endokrin bagian dari pancreas (Agung Nugroho, 2007)



2.3  Cara Mudah Menghafal Sistem Endokrin

Lagu/ kalimat untuk mempermudah menghafal anatomi dan fisiologi sistem endokrin yaitu :

 

Handphone Tidak Punya ... Padahal Aku Ganteng

 Keterangan :

1.             Handphone : Hipofisis

2.             Tidak : Tiroid

3.             Punya : Paratiroid

4.             Padahal : Pangkreas

5.             Aku : Adrenal

6.             Ganteng : Gonad


 

BAB 3

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Sistem endokrin adalah sistem kelenjar yang bekerja pada tubuh manusia yang hasil sekresinya langsung ke dalam darah tanpa melewati duktus atau saluran dan dari sekresi tersebut adalah hormone (Didin Wahyu Utomo et al., 2017)

Kelenjar Endokrin adalah kelenjar yang mengirim hasil sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan, kelenjar ini tidak memiliki saluran tapi mensekresi (mengeluarkan) hormon langsung ke dalam darah sehingga dapat mencapai setiap sel darah di dalam tubuh. Hormon bekerja pada sasaran jaringan atau organ tertentu dan mengatur aktivitas mereka.

Hormon mengatur proses seperti pemecahan subtansi kimia dalam metabolisme,keseimbangan cairan dan produksi urin,pertumbuhan dan perkembangan tubuh,serta reproduksi seksual. Sistem endokrin, terdiri dari kelenjar pituari, kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, kelenjar adrenal, pankreas endokrin, kelenjar pineal, dan kelenjar timus. Sistem endokrin berfungsi mengarahkan perubahan jangka panjang untuk sistem organ lain, menyesuaikan aktivitas metabolik dengan energi yang dibutuhkan tubuh, mengontrol perubahan struktural dan fungsional selama pertumbuhan

 3.2  Saran

Dalam penyusunan makalah ini tentunya masih banyak kekurangan dan kekeliruan baik dari segi penulisan maupun bahasa yang digunakan, untuk itu kami dari penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun sehingga dalam penulisan makalah berikutnya akan lebih baik.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Agung Nugroho, R. (2007). Endokrin (Kiswanto & T. Fitriastuti (eds.); Desember 2). Mulawarman University PRESS. Diakses pada tanggal 14 oktober jam 00.17

Didin Wahyu Utomo, Suprapto, & Nurul Hidayat. (2017). Pemodelan Sistem Pakar Diagnosis Penyakit pada Sistem Endokrin Manusia dengan Metode Dempster-Shafer. Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi Dan Ilmu Komputer, 1(9), 893–903. Diakses pada tanggal 14 oktober jam 00.43

Manurung, N., Manurung, R., & Christina, M. T. B. (2017). Asuhan Keperawatan Sistem Endokrin Dilengkapi Mind Mapping Dan Asuhan Keperawatan Nanda NIC NOC. Deepublish. https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=pYI9DwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA1&dq=sistem+endokrin+&ots=MJMeGwaoKX&sig=20c-JPLaNIm-ooa7FTN-NxuJSJI&redir_esc=y#v=onepage&q=sistem endokrin&f=false  Diakses pada tanggal 15 oktober jam 09.07

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NILAI KEADILAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN ILMU

Iyadatul Maridh (Menjenguk Orang Sakit)

Issue Etik Dan Dilema Etik Dalam Keperawatan