MAKALAH KMB ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKHIAL
BAB 1
LATAR BELAKANG
1.1 Latar Belakang
Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif
intermiten, reversible dimana trachea dan bronchi berespon secara hiperaktif
terhadap stimulasi tertentu. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan
hiperesponsif jalan nafas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa
wheezing, sesak nafas, dada teraa berat dan batuk-batuk terutama pada waktu
malam atau dini hari. Seranagn asma menyebabkan klien tidak dapat beraktifitas
melkukan kegiatan harian, sehingga menambah produktivitas menurun serta
menurunkan kualitas hidup (Wahid, 2013).
Asma suatu penyakit kronik yang paling sering
muncul pada masa kanak-kanak, dapat dialami oleh berbagai kelompok usia. Faktor
risiko untuk asma mencakup riwayat kesehatan keluarga, alergi (faktor paling
kuat) dan terpapar zat iritan atau alergen dalam waktu yang lama (misalnya,
rumput, jamur, debu, binatang). Penecetus yang paling sering memunculkan gejala
asma dan eksaserbasi mencakup iritan jalan napas (misal, polutan, suhu dingin,
panas, bau menyengat, asap, parfume), latihan fisik, stres atau perasaan marah,
rhinosinusitis dengan postnasal drip, obat-obatan, infeksi virus pada jalan
napas dan refluks gastroesofage (Brunner, 2013).
Insidensi, prevalensi, dan keparahan asma
semuanya meningkat, dengan asma pada usia anak-anak menjadi lebih sering
dijumpai. Estimasi mengenai hal ini bervariasi karena angka insidensinya yang
meningkat, tetapi selama lima belas tahun angka tahunan yang tercatat menunjukkan kasus baru telah meningkat
sebanyak 70%. Saat ini asma tercatat sebagai penyakit kronik tersering pada
anak-anak, dengan estimasi pervalensi antara 8-14% (Brunner, 2013).
Pada kisaran usia 12-14 tahun, Inggris
memiliki insidensi asma tertinggi di dunia. Di seluruh dunia morbiditas dan
mortalitas asma mengalami peningkatan hebat sehingga penelitian yang cermat
mengenai tatalaksana asma terus dilakukan. Krisis ini mengakibatkan adanya
tuntutan dari petugas kesehatan primer akan adanya publikasi dan implementasi
panduan tata laksana asma (Brunner, 2013).
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1
Bagaimana tinjauan teori dari penyakit asma bronkial?
1.2.2
Bagaimana asuhan keperawatan teoritis dari asma bronkial?
1.2.3
Bagaimana pengaplikasian teori pada klien dengan asma bronkial?
1.3 Tujuan
1.3.1
Untuk memahami tinjauan teori dari penyakit asma bronkial.
1.3.2
Untuk memahami asuhan keperawatan teoritis dari asma bronkial.
1.3.3
Untuk memahami pengaplikasian teori pada klien dengan
asma bronkial.
BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian Asma Bronkial
Asma adalah penyakit inflamasi kronik pada
jalan napas yang dikarakteristikkan dengan hiperresponsivitas, edema mukosa,
dan produksi mukus (Brunner, 2013).
Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversible
dimana trakea dan bronkus dapat berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi
tertentu (Smelzer Suzanne, 2001).
Asma adalah suatu gangguan yang kompleks dari
bronchial yang di karakteristikan oleh periode bronkospasme ( kontraksi spasme
yang lama pada jalan nafas) (Wahid, 2013).
2.2 Etiologi Asma Bronkial
2.2.1
Faktor Prediposisi
Merupakan faktor genetik yaitu diturunkannya
bakat alergi dari keluarga dekat, meski belum diketahui bagaimana penurunannya
dengan jelas. Karena adanya bakat alergi ini. Penderita sangat mudah terkena
asma apabila dia terpapar dengan faktor pencetus.
2.2.2
Faktor Pencetus
1)
Alergen
Adalah suatu bahan penyebab alergi. Dimana ini
dibagi menjadi tiga, yaitu:
(1)
Inhalan, yang masuk melalui saluran pernafasan. (debu,
bulu binatang, serbuk bunga, bakteri, polusi)
(2)
Ingestan, yang masuk melalui mulut (makanan dan
obat-obatan)
(3)
Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit. (perhiasan,
logam dan jam tangan).
2)
Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa yang dingin sering
mempengaruhi asma, perubahan cuaca menjadi pemicu serangan asma. Kadang
serangan berhubungan asma seperti: musim hujan, musim bunga, musim kemarau. Hal
ini berhubungan dengan angin, serbuk bunga dan debu.
3)
Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab
terjadinya asma, hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang
yang bekerja di pabrik kayu, polisi lalu lintas.
4)
Olahraga
Sebagian besar penderita akan mendapat serangan asma bila
sedang bekerja dengan berat/aktivitas berat. Serangan asma karena aktivitas biasanya
segera setelah aktivitas selesai. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan
asma.
5)
Stress
Gangguan emosi dapat menjadi pencetus
terjadinya serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang
sudah ada. Disamping gejala asma harus segera diobati penderita asma yang
mengalami stress harus diberi nasehat untuk menyelesaikan masalahnya.
2.2.3
Penyebab Obstruksi Jalan Nafas
1) Kontraksi otot sekitar bronkus sehingga
terjadi penyempitan nafas.
2) Pembengkakan membran bronkus.
3) Bronkus terisi oleh mucus yang kental.
2.3 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang dapat ditemui pada klien asma menurut Halim
Danokusumo (2000) dalam Padila (2015) diantaranya ialah:
1) Stadium Dini
(1) Faktor hipersekresi yang lebih menonjol
a. Batuk berdahak disertai atau tidak dengan pilek
b. Ronchi basah halus pada serangan kedua atau
ketiga, sifatnya hilang timbul
c. Wheezing belum ada
d. Belum ada kelainan bentuk thorak
e. Ada peningkatan eosinofil darah dan IgE
f. BGA belum patologis.
(2) Faktor spasme bronchiolus dan edema yang lebih
dominan:
a. Timbul sesak napas dengan atau tanpa sputum
b. Wheezing
c. Ronchi basah bila terdapat hipersekresi
d.
Penurunan tekanan parsial O2
2)
Stadium lanjut/kronik
(1)
Batuk, ronchi
(2)
Sesak napas berat dan dada seolah-olah tertekan
(3)
Dahak lengket dan sulit dikeluarkan
(4)
Suara napas melemah bahkan tak terdengar (silent chest)
(5)
Thorak seperti barel chest
(6)
Tampak tarikan otot stenorkleidomastoideus
(7)
Sianosis
(8)
BGA Pa O2 kurang dari 80%
(9)
Terdapat peningkatan gambaran bronchovaskuler kiri dan kanan pada rontgen
paru
(10)
Hipokapnea dan alkalosis bahkan asidosis respiratorik.
2.4 Patofisiologi Asma Bronkial
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkeolus
yang menyebabkan sulit bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitibilitas
bronkeolus terhadap benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe
alergi di duga terjadi dengan cara sebagai berikut: seseorang yang alergi di
duga mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibodi IgE
abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini terutama melekat pada sel mast
yang melekat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan bronkeolus dan
bronchus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibodi IgE
orang tersebut meningkat. Alergen bereaksi dengan antibodi
yang sudah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan
berbagai macam zat, diantaranya histamine zat anafilaksis yang bereaksi lambat.
Faktor kemotatik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor
ini akan menghasilkan edema lokal pada dinding bronkeolus kecil maupun sekresi
mukus yang kental dalam lumen bronkeolus dan spasme otot polos bronkeolus
sehingga menyebabkan tahanan saluran nafas menjadi sangat meningkat (Wahid, 2013).
Pada asma, diameter bronkeolus lebih berkurang selama ekspirasi
daripada inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama sekresi paksa
menekan bagian kuar bronkeolus. Karena bronkeolus tersumbat sebagian, maka
sumbatan selanjutnya akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi
berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya melakukan inspirasi
dengan baik dan adekuat, tetapi sekali- kali melakukan ekspirasi. Hal ini
menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi
meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi
dari paru. Ini biasanya menyebabkan Barrel chest (Wahid, 2013).
2.5 Pemeriksaan Penunjang Asma Bronkial
Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan untuk
menegakkan diagnosa asma bronkial menurut Padila (2015) yaitu:
1)
Spirometri untuk mengkaji jumlah udara yang dinspirasi
2)
Uji provokasi bronkus
3)
Pemeriksaan sputum
4)
Pemeriksaan cosinofit total
5)
Pemeriksaan tes kulit dilakukan untuk mencari faktor
alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif asma
6)
Pemeriksaan kadar IgE total dan IgE spesifik dalam sputum
7)
Foto thorak untuk mengetahui adanya pembengkakan, adanya
penyempitan bronkus dan adanya sumbatan
8)
Analisa gas darah
Untuk mengetahui status kardiopulmoner yang
berhubungan dengan oksigenasi.
2.6 Penatalaksanaan Asma Bronkial
Penatalaksanaan klien dengan asma bronkiale
adalah:
1)
Non farmakologi, tujuan dari terapi asma:
(1)
Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma
(2)
Mencegah kekambuhan
(3)
Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta
mempertahankannya
(4)
Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal
termasuk melakukan exercise
(5)
Menghindari efek samping obat asma
(6)
Mencegah obstruksi jalan napas yang ireversibel (Wijaya
& Putri, 2014).
Terapi non farmakologik
a) Memberikan penyuluhan.
b) Menghindari faktor pencetus.
c) Memberikan latihan batuk efektif.
d) Mengajarkan fisioterapi napas (senam asma).
e) Pemberian oksigen bila perlu (Wahid, 2013).
2)
Farmakologi, obat anti asma:
(1)
Bronchodilator
Adrenalin, epedrin, terbutallin, fenotirol
(2)
Antikolinergin
Iptropiem bromid (atrovont)
(3)
Kortikosteroid
Predrison, hidrokortison, orodexon.
(4)
Mukolitin
BPH, OBH, bisolvon, mucapoel dan banyak minum
air putih (Wijaya & Putri, 2014).
2.7 Komplikasi Asma Bronkial
Komplikasi yang mungkin timbul adalah:
1) Status asmatikus: suatu keadaan darurat medis
berupa serangan asma akut yang berat bersifat refrator terhadap pengobatan yang
lazim dipakai
2) Atelektasis: ketidakmampuan paru mengembang
dan mengempis.
3) Hipoksemia.
4) Peneumothoraks.
5) Emfisema.
6) Deformitas thoraks.
7) Gagal nafas (Wahid, 2013).
2.8 Teori Asuhan Keperawatan Asma Bronkial
2.8.1
Pengkajian
1)
Pengumpulan data
(1)
Identitas klien
Pengkajian mengenai nama, umur dan jenis
kelamin perlu dikaji pada penyakit status asmatikus. Serangan asma pada usia
ini memberikan implikasi bahwa sangat mungkin terdapat status atopi. Sedangkan
serangan pada usia dewasa di mungkinkan adanya faktor non atopi. Alamat
menggambarkan kondisi lingkungan tempat klien berada, dapat mengetahui
kemungkinan faktor pencetus serangan asma. Status perkawinan, gangguan
emosional yang timbul dalam keluarga atau lingkungan merupakan faktor pencetus
serangan asma, pekerjaan, serta bangsa perlu juga digaji untuk mengetahui
adanya pemakaran bahan alergen. Hal lain yang perlu dikaji tentang: tanggal
MRS, nomor rekam medik, dan diagnosis keperawatan medis.
(2)
Riwayat penyakit sekarang
Klien dengan serangan asma datang mencari
pertolongan dengan keluhan, terutama sesak nafas yang hebat dan mendadak
kemudian diikuti dengan gejala-gejala lain yaitu: wezing, penggunaan otot bantu
pernafasan, kelelahan, gangguan kesadaran, sianosis serta perubahan tekanan
darah. Perlu juga dikaji kondisi awal terjadinya serangan.
(3)
Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah diderita pada masa-masa
dahulu seperti infeksi saluran nafas atas, sakit tenggorokan, amandel,
sinusitis, polip hidung. Riwayat serangan asma frekuensi, waktu, alergen-alergen
yang di curigai sebagai pencetus serangan serta riwayat pengobatan yang
dilakuakn untuk meringankan gejala asma.
(4)
Riwayat kesehatan keluarga
Pada klien pada status asmatitus perlu dikaji
tentang riwayat penyakit asma atau penyakit alergi yang lain pada anggota
keluarganya karena hipersensitifitas pada penyakit asma ini lebih ditentukan
oleh faktor genetik oleh lingkungan.
(5)
Riwayat psikososial
Gangguan emosional sering dipandang sebagai
salah satu pencetus bagi serangan asma baik gangguan itu berasal dari rumah
tangga, lingkungan sekitar sampai lingkungan kerja. Seorang yang punya beban
hidup yang berat berpontensial terjadi serangan asma.
2)
Pemeriksaan Fisik
(1)
B1 - Breath
a.
Peningkatan frekuensi pernafasan, susah bernafas,
perpendekan periode inspirasi, pemanjangan ekspirasi, penggunaan otot-otot
aksesori pernafasan (retraksi sternum, pengangkatan bahu waktu bernafas).
b.
Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap
aktivitas atau latihan.
c.
Nafas memburuk ketika klien berbaring terlentang ditempat
tidur
d.
Pernafasan cuping hidung.
e.
Adanya suara napas tambahan wheezing (mengi) yang terdengar tanpa stetoskop.
f.
Batuk keras, kering dan akhirnya batuk produktif.
g.
Faal paru terdapat penurunan FEV1.
Masalah keperawatan:
a.
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan
dengan sekresi kental peningkatan produksi mukus dan bronkospasme.
b.
Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan retensi
CO2, peningkatan sekresi, peningkatan kerja pernafasan dan proses
penyakit.
(2)
B2-Blood
a. Takikardia
b. Tensi meningkat
c. Pulsus paradoksus (penurunan tekanan darah 10
mmHg pada waktu inspirasi).
d. Sianosis
e. Diaforesis
f. Dehidrasi
Masalah keperawatan: Gangguan perfusi jaringan
perifer berhubungan dengan hipoksemia.
(3)
B3-Brain
Gelisah, muncul rasa cemas, dan terjadi penurunan
kesadaran.
Masalah keperawatan: Gangguan perfusi jaringan
cerebral.
(4)
B4-Bowel
Pada klien yang mengalami dipsnea penggunaan otot bantu nafas maksimal
kontraksi otot abdomen meningkat sehingga menyebabkan nyeri abdomen yang
mengakibatkan menurunnya nafsu makan. Dalam keadaan hipoksia juga mengakibatkan
penurunan motilitas pada gaster sehingga memperlambat pengosongan lambung yang
menyebabkan penurunan nafsu makan.
Masalah keperawatan: Defisit nutrisi berhubungan dengan peningkatan
kebutuhan metabolisme, dipsnea saat makan.
(5)
B5-Bladder
Klien dengan hiperventilasi akan kehilangan
cairan melalui penguapan dan tubuh berkompensasi dengan penurunan produksi
urin.
Masalah keperawatan: Gangguan eliminasi urine
berhubungan dengan hiperventilasi.
(6)
B6-Bone
Pada klien yang mengalami hipoksia penggunaan
otot bantu nafas yang lama menyebabkan kelelahan. Selain itu hipoksia
menyebabkan metabolisme anaerob sehingga terjadi penurunan ATP.
Masalah keperawatan: Resiko intoleransi
aktivitas berhubungan dengan gangguan pernapasan ditandai dengan penyakit paru
obstruksi kronis (PPOK).
2.8.2
Diagnosis Keperawatan
|
NO |
DIAGNOSIS
KEPERAWATAN |
|
|
KODE |
DIAGNOSA |
|
|
1. |
D.0001 |
Diagnosis: Bersihan
Jalan Napas Tidak Efektif Definisi: Ketidakmampuan
membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan
napas tetap paten. Penyebab: Fisiologis 1. Spasme jalan napas 2. Hipersekresi jalan napas 3. Disfungsi neuromoskuler 4. Benda asing dalam jalan napas 5. Adanya jalan napas buatan 6. Sekresi yang tertahan 7. Hiperplasia dinding jalan napas 8. Proses infeksi 9. Respon alergi 10. Efek agen farmakologis Situasional 1. Merokok aktif 2. Merokok pasif 3. Terpajan polutan Gejala dan tanda mayor: Subjektif
(tidak tersedia) Objektif 1. Batuk tidak
efektif 2. Tidak mampu
batuk 3. Sputum
berlebihan 4. Mengi,
wheezing, dan ronchi kering 5. Mekonium
dijalan napas (pada neonatus) Gejala dan tanda minor: Subjektif 1. Dipsnea 2. Sulit bicara 3. Ortopnea Objektif 1. Gelisah 2. Sianosis 3. Bunyi napas
menurun 4. Frekuensi
napas berubah 5. Pola napas
berubah |
|
2. |
D. 0003 |
Diagnosis: Gangguan
Pertukaran Gas Definisi: Kelebihan
atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran
alveolus-kapiler Penyebab : 1. Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi 2. Perubahan membran alveolus-kapiler Gejala dan tanda mayor: Subjektif 1. Dispnea Objektif 1. PCO2 meningkat/menurun 2. PO2
menurun 3. Takikardia 4. pH Arteri meneingkat/menurun 5. Bunyi napas tambahan Gejala dan tanda minor: Subjektif 1. Pusing 2. Penglihatan kabur Objektif 1. Sianosis 2. Diaforesis 3. Gelisah 4. Napas cuping hidung 5. Pola napas abnormal (cepat/lambat, reguler/ireguler,
dalam/dangkal) 6. Warna kulit abnormal (mis. Pucat, kebiruan) 7. Kesadaran menurun |
|
3. |
D. 0005 |
Diagnosis: Pola Napas
Tidak Efektif Definisi: Inspirasi
dan/ atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat. Penyebab: 1. Depresi pusat pernapasan. 2. Hambatan upaya napas. 3. Defermitas dinding dada. 4. Deformitas tulang dada. 5. Gangguan neuromuskular. 6. Gangguan neuorologis. 7. Imaturitas neurologis 8. Penurunan energi. 9. Obesitas. 10. Posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru. 11. Sindrom hipoventilasi. 12. Kerusakan inervasi diafragma (kerusakan saraf C5
keatas). 13. Cedera pada medula spinalis. 14. Efek agen farmakologis. 15. Kecemasan. Gejala dan tanda mayor: Subjektif 1. Dispnea Objektif 1. Penggunaan otot bantu pernapasan. 2. Fase ekspirasi memanjang. 3. Pola napas abnormal. Gejala dan tanda minor: Subjektif 1. Ortopnea Objektif 1. Pernapasan pursed-lip. 2. Pernapasan cuping hidung. 3. Diameter thoraks anterior-posterior meningkat. 4. Ventilasi semenit menurun. 5. Kapasitas vital menurun. 6. Tekanan ekspirasi menutrus. 7. Tekanan inspirasi menurun. 8. Ekskursi dada berubah. |
2.8.3 Intervensi Keperawatan
|
NO |
DIAGNOSA |
TUJUAN DAN
KRITERIA HASIL |
INTERVENSI |
|
1. |
Bersihan Jalan Napas
Tidak Efektif Definisi: Ketidakmampuan
membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan
napas tetap paten. |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam
diharapkan bersihan jalan napas dapat teratasi dengan kriteria
hasil: 1. Produksi sputum dari skala 2
(cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup menurun). 2. Mengi dari skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup menurun). 3. Wheezing dari skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup menurun). 4. Dispnea dari skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup menurun). |
Manajemen Jalan Napas Kode: 1.01011 Observasi: 1. Monitor pola napas (frekuensi,
kedalaman, usaha napas). 2. Monitor bunyi napas tambahan (mis. Gargling, mengi, wheezing, ronkhi
kering) 3. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma) Terapeutik: 1. Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan
chin-lift 2. Posisikan semi-fowler atau fowler 3. Berikan minuman hangat 4. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu 5. Berikan oksigen, jika perlu Edukasi : 1. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak
kontraindikasi 2. Ajarkan teknik batuk efektif Kolaborasi : 1. Kolaborasi pemberian bronkodilator , ekspektoran,
mukolitik, jika perlu. |
|
2. |
Gangguan Pertukaran
Gas Definisi: Kelebihan
atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran
alveolus-kapiler. |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3
x 24 jam diharapkan Gangguan pertukaran gas dapat teratasi dengan kriteria
hasil: 1. Dispnea dari skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup menurun) 2. Bunyi napas tambahan dari skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup menurun) 3. PCO2 dari skala 2 (cukup memburuk) menjadi skala 4 (cukup membaik) 4. PO2 dari skala 2 (cukup memburuk) menjadi skala 4 (cukup
membaik) 5. Takikardi dari skala 2 (cukup memburuk) menjadi skala 4 (cukup membaik) 6. pH arteri dari skala 2 (cukup memburuk) menjadi skala 4 (cukup membaik). |
Terapi Oksigen Kode: 1. 01026 Observasi: 1.
Monitor kecepatan aliran
oksigen 2.
Monitor tanda-tanda
hipoventilasi 3.
Monitor efektifitas terapi
oksigen (mis. Oksimetri, analisa gas darah) Terapeutik: 1. Pertahankan
kepatenan jalan napas 2. Berikan
oksigen tambahan Edukasi: 1. Ajarkan klien dan
keluarga cara menggunakan oksigen Kolaborasi: 1. Kolaborasi penentuan dosis oksigen 2. Kolaborasi penggunaan oksigen saat aktivitas dan/atau
tidur |
|
3.
|
Pola Napas Tidak
Efektif Definisi: Inspirasi
dan/ atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat. |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan Pola
napas tidak efektif dapat teratasi dengan kriteria
hasil: 1.
Dispnea dari skala 2 (cukup
meningkat) menjadi skala 4 (cukup menurun) 2.
Penggunaan otot bantu napas
dari skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup menurun) 3.
Pemanjangan fase ekspirasi dari
skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup menurun) |
Manajemen Jalan Napas Kode: 1.01011 Observasi: 1. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas). 2. Monitor bunyi napas tambahan (mis. Gurgling, mengi, wheezing, ronkhi
kering) 3. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma) Terapeutik : 1. Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan
chin-lift 2.
Posisikan semi-fowler
atau fowler 3.
Berikan minuman hangat 4.
Lakukan fisioterapi
dada, jika perlu 5.
Berikan oksigen, jika
perlu Edukasi : 1.
Anjurkan asupan cairan
2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi 2.
Ajarkan teknik batuk
efektif Kolaborasi : 1. Kolaborasi pemberian
bronkodilator , ekspektoran, mukolitik, jika perlu |
2.8.4 Implementasi
Implementasi (tindakan) asuhan keperawatan dilakukan dengan intervensi yang
telah dibuat atau direncanakan (Wahid, 2013).
2.8.5 Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan
perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang teramati dan
tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi
dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan
lainnya. Jika hasil evaluasi menunjukkan tercapainya tujuan dan kriteria hasil,
klien bisa keluar dari siklus proses keperawatan. Jika sebalikanya, klien akan
masuk kembali ke dalam siklus tersebut mulai dari pengkajian ulang. Secara umum,
evaluasi ditujukan untuk:
1) Melihat dan menilai kemampuan klien dalam
mencapai tujuan
2) Menentukan apakah tujuan keperawatan telah
tercapai atau belum
3) Mengkaji penyebab jika tujuan asuhan
keperawatan belum tercapai.
BAB 3
APLIKASI TEORI
3.1 Pengkajian
1)
Identitas Umum
Identitas Klien:
Nama :
Ny. ‘’N”
Umur :
48 Tahun
Jenis kelamin :
Perempuan
Status :
Janda
Pendidikan :
SD
Pekerjaan :
IRT
Alamat :
Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara
Diagnosa Medis :
Asma Bronkial
Identitas Penanggung Jawab:
Nama :
Tn. S
Usia :
28 Tahun
Jenis kelamin :
Laki – laki
Status :
Kawin
Pendidikan :
SMA
Pekerjaan :
Wiraswasta
Alamat :
Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara
Hubungan dengan klien :
Anak
2)
Riwayat Penyakit
(1)
Riwayat penyakit sekarang ( Keluhan utama )
Ny. N mengatakan sesak napas
(2)
Keluhan yang menyertai
Ny. N mengatakan batuk dan pilek
(3)
Riwayat penyakit dahulu
Ny.N mengatakan telah menderita asma kurang lebih 3 tahun
(4)
Riwayat penyakit keluarga
Ny. N mengatakan di keluarganya tidak ada yang sakit
asma
(5)
Faktor pencetus
Ny N mengatakan sesak terjadi apabila kedinginan
3)
Fokus pengkajian
Data Subjektif
(1)
Ny. N mengatakan sesak napas dan batuk berdahak
(2)
Ny. N mengatakan serangan asma terjadi jika ia merasa kedinginan,
atau terkena paparan debu.
(3)
Ny. N mengatakan serangan sesak sering terjadi tiba-tiba dan terjadi
di malam hari
(4)
Ny. N mengatakan ketika serangan terjadi gejala lain yang di timbulkan
yaitu pilek dan batuk
(5)
Ny. N juga mengatakan ketika batuk sulit untuk mengeluarkan dahak
Data Objektif
(1)
Nampak sesak
(2)
Terdapat bunyi suara napas tambahan (ronchi)
(3)
Pernapasan 28 x/menit
(4)
Irama napas cepat
(5)
Nampak batuk berdahak dengan konsistensi kental dan berwarna kuning.
4)
Pemeriksaan fisik
(1)
Keadaan Umum
Kesadaran: Composmentis
GCS: 15
TTV:
a.
Tekanan Darah: 120/80mmHg
b.
Nadi: 100x/menit
c.
Suhu: 36oC
d.
Respiration Rate: 28x/menit
(2)
Kulit
Inspeksi: Tidak pucat, tidak sianosis, tidak ada lesi
Palpasi: Turgor kulit kurang baik
(3)
Kepala
Inspeksi: Simetris, tidak ada benjolan
Palpasi: Tidak ada nyeri tekan
(4)
Mata
Inspeksi: Pergerakan bola mata simetris, refleks pupil
normal, konjungtiva anemis, kornea bening
Palpasi: Tidak ada nyeri tekan
(5)
Hidung
Inspeksi: Bentuk simetris, ada pernapasan cuping,
terpasang O2
Palpasi: Tidak nyeri tekan
(6)
Mulut
Inspeksi: Mukosa bibir kering, pucat, gigi dan lidah
bersih
Palpasi: Tidak ada nyeri tekan
(7)
Telinga
Inspeksi: Bentuk daun telinga simetris, bersih, tidak
ada sekret
Palpasi: Tidak ada nyeri tekan
Perkusi: Pendengaran normal
(8)
Leher
Inspeksi: Bentuk simetris, tidak ada pembesaran kelenjar
tiroid
Palpasi: Tidak ada nyeri tekan
(9)
Jantung
Inspeksi: Dada simetris
Palpasi: Pergerakan napas simetris
Keluhan nyeri dada: Tidak ada
(10) Paru-paru
Inspeksi: Bentuk dada simetris
Palpasi: Pergerakan napas simetris
Auskultasi: Irama napas tidak teratur dan cepat, terdengar
suara napas tambahan (ronchi)
Keluhan: Sesak, batuk non produktif
(11) Punggung
Inspeksi: Bentuk punggung simetris, tidak ada lesi
(12) Abdomen
Keluhan: Mual
Inspeksi: Bentuk simetris, tidak ada pembesaran hepar
dan limfe
Palpasi: Tidak ada nyeri tekan
Auskultasi: Bising usus 14x/menit
(13) Ekstremitas
Inspeksi: Eksteremitas atas dan bawah tidak ada kelainan
(14) Neurologi
Kesadaran: Composmentiis
GCS : 4 – 5 – 6 = 15
Keluhan: Pusing
5)
Pemeriksaan Penunjang
(1)
Pemeriksaan Darah Lengkap
WBC: 12,39 103/μL (Tinggi) Nilai normal: 4,10-11,00
RBC: 6,21 103/μL (Tinggi) Nilai normal: 4,50
– 5,90
HGB: 13,75 g/dl (Normal) Nilai normal: 13,50 – 17,50
(2)
Pemeriksaan AGD
pH: 7,37 (Normal) Nilai normal: 7,35 – 7,45
pCO2 46,00 (Tinggi) Nilai normal: 35 – 45
mmHg
pO2 133,00 (Tinggi) Nilai normal: 80 – 100
mmHg
HCO3- 26,60 (Tinggi) Nilai normal:
22 – 26 mmol/L
(3)
Rontgen Thorax AP
Cor: besar dan bentuk normal
Pulmo: Tak tampak infiltrat atau nodul.
Corakan bronkovaskular normal.
Diafragma kanan dan kiri normal
Sinus pleural kanan dan kiri tajam
Tulang-tulang : tidak tampak kelainan
Kesan : cor dan pulmo tidak tampak kelainan
6)
Terapi
(1)
Nebulizer
Dosis 1 amp combivent : 2 ml NaCl 2 kali per hari
(2)
Ambroksol tablet dosis : 3 kali 1 tablet per har
(3)
Cetirizine tablet dosis : 3 kali 1 tablet per hari
(4)
Oksigen nasal canule : 5 Liter per menit
3.2 Diagnosa Keperawatan
|
No |
Diagnosa
Keperawatan |
Kemungkinan
Penyebab |
Data |
||||||
|
1 |
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi jalan napas |
IGE
pada permukan sel
Pemiabilitas
kapiler
Edema
mukosa, sekresi produktif,
kontriksi otot
Spasme
otot polos sekresi
kelenjar bonkus meningkat
Penyempitan
/ obstruksi proksimal
dari bronkus pada tahap eksprasi dan
Sputum
berlebih, batuk, mengi, sesak napas
Hipersekresi
jalan napas
Bersihan
jalan napas tidak
efektif |
Data Subjektif : 1) Ny. N mengatakan sesak napas dan batuk berdahak 2) Ny N mengatakan ketika batuk sulit untuk
mengeluarkan dahak 3) Ny, N mengatakan serangan asma terjadi jika ia
merasa kedinginan, atau terkena paparan debu. 4) Ny. N mengatakan serangan sesak sering tiba-tiba
dan terjadi di malam hari 5) Ny. N mengatakan ketika serangan terjadi gejala
lain yang di timbulkan yaitu pilek dan batuk berdahak Data Objektif : 1) Nampak sesak 2) Terdapat bunyi suara napas tambahan (ronchi) 3) Pernapasan 28 kali permenit 4) Irama napas cepat 5) Nampak batuk berdahak dengan konsistensi kental dan
berwarna kuning. |
3.3 Intervensi Keperawatan
|
Diagnosis |
Kriteria Hasil |
Intervensi |
|
Bersihan Jalan
Napas Tidak Efektif Definisi: Ketidakmampuan
membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan
napas tetap paten. |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan bersihan jalan napas membaik dengan kriteria hasil : 1. Produksi sputum menurun (skala 5) 2. Mengi menurun (skala 5) 3. Ronchi menurun (skala 5) 4. Dispnea menurun (skala 5) 5. Frekuensi napas membaik (skala 5) 6. Pola napas membaik (skala 5) |
Manajemen Jalan Napas Mengidentifikasi dan mengelola kepatenan jalan
napas. Observasi : 1. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas) 2. Monitor bunyi napas tambahan (mis. Gurgling,
mengi, wheezing, ronckhi kering) 3. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma). Terapeutik: 1. Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-litt dan chin-litt (jaw
thrust jika curiga trauma servikal) 2. Posisikan semi-fowler atau fowler 3. Berikan minuman hangat 4. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu 5. Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik 6. Lakukan hiperorganisasi sebelum penghisapan endotrakeal 7. Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep McGill 8. Berikan oksigen, jika perlu Edukasi: 1. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi 2. Ajarkan teknik batuk efektif Kolaborasi: 1. Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu. |
3.4 Implementasi
|
DX |
Tanggal/Jam |
IMPLEMENTASI |
PARAF |
|
1 |
Jum’at, 3 April 2020 |
||
|
|
09. 30 |
Memonitor Pola napas Hasil : Respirasi : 24 kali/ menit Ny. N masih sesak Memonitor bunyi napas tambahan dengan menggunakan
steteskop Hasil : Terdengar bunyi napas tambahan ronchi |
ü |
|
|
09. 40 |
Mengatur posisi semi fowler
atau fowler Hasil : Ny N merasa lebih nyaman dengan
posisi semi fowler |
ü |
|
|
09.45 |
Memberikan minum hangat Hasil : Dahak yang kental menjadi encer
sehingga mudahkan keluarnya secret dari jalan napas |
ü |
|
|
09. 50 |
Melakukan fisioterapi dada
dengan tehnik postural drainage Hasil : Klien dianjurkan tarik napas
dalam (hirup melalui hidung keluarkan melalui mulut) sebanyak 3 kali kemudian
pada napas ketiga tahan selama 10 detik dan batukakan dengan kuat menggunakan
otot abnormal sebanyak dua kali. |
ü |
|
|
10. 00 |
Memberikan
oksigen Hasil: O2 diberikan secara nasal canula dengan dosis 5 Liter/menit |
ü |
|
|
10. 15 |
Mengajarkan teknik batuk efektif Hasil : Ny. N nampak kesulitan melakukan
batuk efektif karena baru pertama
kali melakukannya Melakukan batuk efektif dilakukan 2 kali sehari |
ü |
|
|
10.30 |
Mengkolaborasikan Pemberian
bronkodilator, mukolitik dan ekspektoran Hasil : Nebulizer masker inhalasi
diberikan dosis 1 amp Combivent : 2 ml Nacl (2
kali sehari) Ambroksol tab diberikan 3 kali
1 tablet sehari Cetirizine tablet diberikan 3
kali 1 tablet sehari |
ü |
|
1 |
Sabtu, 4 April 2020 |
||
|
|
09.00 |
Memonitor pola napas Hasil : Respirasi : 20 kali permenit Sesak berkurang Memonitor bunyi napas dengan
steteskop Hasil : Masih terdapat bunyi suara
tambahan (ronchi) Mengi berkurang |
ü |
|
|
09.05 |
Memberikan posisi semi Fowler
atau fowler Hasil : Ny. N merasa lebih nyaman
dengan posisi semi fowler |
ü |
|
|
09.15 |
Memberikan oksigen Hasil : O2 diberikan secara
nasal canula 3 liter permenit |
ü |
|
|
09.30 |
Melatih batuk efektif Hasil : Ny. N mulai biasa melakukan
batuk efektif namun masih dibantu oleh perawat melatih batuk efektif |
ü |
|
|
10.15 |
Mengkolaborasikan pemberian
Nebulizer masker inhalasi, ambroksol tablet dan cetirizine tablet Hasil : Nebul 1 amp Combivent : 2 ml
Nacl diberikan dosis 2 kali sehari Ambroksol tab diberikan 3 kali
1 tablet sehari Cetirizine tablet diberikan 3
kali 1 tablet sehari |
ü |
|
1 |
Minggu, 5 April 2020 |
||
|
|
09.00 |
Memonitor pola napas Hasil : Respirasi : 18 kali/ menit Ny. N sudah tidak sesak |
ü |
|
|
09.05 |
Memonitor bunyi suara napas
tambahan Hasil : Sudah tidak ada bunyi napas
tambahan (ronchi) |
ü |
|
|
09.10 |
Memberikan posisi semifowler
atau fowler Hasil : Ny. Merasa lebih nyaman dengan
posisi semi fowler |
ü |
|
|
09.20 |
Mengajarkan teknik batuk efektif Hasil : Ny. N sudah dapat melakukan
batuk efektif tanpa bantuan dan intruksi perawat Batuk efektif dilakukan tiga
kali per hari |
ü |
|
|
10.20 |
Memberikan oksigen Hasil : Oksigen berikan secara nasal
canula 3 Liter permenit |
ü |
|
|
11.00 |
Mengkolaborasikan pemberian obat
Combivent secara Nebuleizer inhalasi, ambroksol tablet dan cetirizine tablet. Hasil : Nebul 1 ampul combivent : 2 ml
nacl diberikan 2 kali sehari Ambroksol tab diberikan 3 kali
sehari Cetirizine tablet diberikan 3
kali sehari |
ü |
3.5 Evaluasi
|
DX |
Hari/ Tanggal/Jam |
EVALUASI |
PARAF |
|
1 |
Jum’at, 3 April 2020 13.00 |
Subjektif : Ny N
mengatakan masih merasa Sesak Ny N
mengatakan masih batuk dan sulit untuk mengeluarkan dahak Objektif : Keadaan
umum : Lemah Ny. N
nampak sesak Ny. N
nampak batuk Pernapasan
cepat Terdapat
bunyi suara napas tambahan (ronchi) Napas 24x/menit Assesment : Masalah Ny N belum
teratasi Planning : Intervensi dilanjutkan Monitor pola napas Monitor bunyi napas Berikan posisi semi
fowler Lakukan fisioterapi dada Berikan oksigen Ajarkan teknik batuk
efektif Kolaborasi pemberian
Nebuleizer masker inhalasi, ambroksol tablet dan cetirizine tablet |
|
|
1 |
Sabtu, 4 April 2020 12.30 |
Subjektif : Ny N mengatakan masih batuk berdahak Ny N mengatakan sesak berkurang Objektif : Keadan Umum
: membaik Nampak batuk berdahak Terdapat bunyi
suara napas tambahan (ronchi) Dahak
nampak keluar dan berwarna putih RR :
20 kali permenit. Assesment : Masalah Ny N teratasi
sebagian Planning : Intervensi dilanjutkan Monitor pola napas Monitor bunyi napas Berikan posisi semi
fowler Berikan oksigen Ajarkan teknik batuk
efektif Kolaborasi pemberian
Nebuleizer masker inhalasi, ambroksol tablet dan cetirizine tablet |
ü |
|
1 |
Minggu, 5 April 2020 13.30 |
Subjektif : Ny N mengatakan sudah tidak batuk Ny N mengatakan sudah tidak sesak Ny. N mengatakan sudah
tidak ada lagi dahak yang keluar Objektif : Keadan Umum
: Baik Nampak tidak
sesak Nampak tidak batuk Tidak
terdapat bunyi suara napas tambahan RR :
18 kali permenit. Assesment : Masalah Ny N teratasi Planning : Intervensi dihentikan Klien pulang Konseling dan Edukasi
diberikan : 1) Memberikan informasi
kepada individu dan keluarga mengenai seluk beluk penyakit, sifat penyakit,
perubahan penyakit,jenis dan Mengetahui kapan harus Kepelayanan kesehatan. 2) Kontrol secara teratur
seperti menilai dan memantau berat asma secara berkala 3) Lakukan
PHBS (pola hidup bersih dan sehat) 4) Menjelaskan
pentingnya melakukan pencegahan dengan cara menghindari faktor pencetus
kambuhnya asma |
ü |
BAB 4
PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan
Asma adalah penyakit inflamasi kronik pada
saluran napas. Inflamasi yang berlangsung terus-menerus menyebabkan
hiperreponsivitas saluran napas. Saluran napas penderita asma sangat peka
terhadap berbagai rangsangan (bronchial hyper-reactivity), seperti
polusi udara (asap, debu, zat kimia), serbuk sari, udara dingin, makanan, hewan
berbulu, tekanan jwa, aroma menyengat (misalnya parfum), olahraga, dan obat
(aspirin dan penyekat beta). Luasnya inflamasi dapat memicu penyumbatan saluran
napas berupa bronkokonstriksi, edema, dan hiperskresi mukus yang bersifat
reversibel sehingga menimbulkan gejala klinis.
Pada aplikasi kasus yang telah di paparkan,
ditemukan diagnosa bersihan jalan napas tidak efektif (kode D.0001) pada klien.
Diagnosa tersebut didukung dengan data subjektif dan objektif yang didapatkan
perawat saat pengkajian, pemeriksaan fisik, dan melihat pemeriksaan penunjang
serta terapi yang diterima oleh klien. Data
subjektif dan objektif yang ditemukan pada pasien sesuai dengan tanda gejala
mayor dan minor yang tertulis di SDKI seperti sesak napas, terdapat bunyi suara
napas tambahan (ronchi), peningkatan frekuensi dan irama napas, batuk berdahak
dengan konsistensi kental dan berwarna kuning yang tidak dapat keluar dengan
efektif.
Intervensi yang diberikan oleh perawat kepada klien mengikuti
panduan dalam SIKI dan SLKI. Intervensi yang diambil adalah manajemen jalan
napas (kode: 1.01011). Pada implementasi, perawat hampir dapat melakukan semua
tindakan yang telah di rencanakan dengan melihat kondisi klien. Tindakan
keperawatan dilakukan secara menyeluruh dengan memakai keempat poin intervensi
yaitu, observasi, terapeutik, edukasi, maupun kolaborasi. Perawat melakukan
evaluasi SOAP setiap hari seteah melakukan implementasi di hari tersebut.
Masalah dapat teratasi setelah 3 hari perawatan yang sesuai dengan kriteria
hasil.
4.2 Pendidikan
Kesehatan pada Klien Asma Bronkial dan Keluarga
Upaya untuk meningkatkan perubahan pengetahuan dan sikap keluarga
terhadap perawatan penderita asma salah satunya dengan memberikan pendidikan
kesehatan oleh tenaga keperawatan. Tujuan utama pemberian pendidikan kesehatan
adalah agar orang mampu menerapkan masalah dan kebutuhan mereka sendiri, mampu
memahami apa yang dapat mereka lakukan terhadap masalahnya, dengan sumber daya
yang ada pada mereka ditambah dengan dukungan dari luar, dan mampu memutuskan
kegiatan yang tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup sehat dan kesejahteraan
masyarakat. (Handriana,
2017).
Keluarga klien penderita asma akan mengetahui penyakit yang
diderita oleh klien semakin baik setelah diberi pendidikan kesehatan oleh
tenaga kesehatan. Pendidikan kesehatan memberikan informasi seputar penyakit,
penyebab, gejala, pencegahan dan akibat jika tidak mengikuti prosedur
pengobatan dengan baik. (Handriana,
2017).
Konseling dan edukasi yang diberikan berupa:
1)
Memberikan informasi kepada individu dan keluarga
mengenai seluk beluk penyakit, sifat penyakit, perubahan penyakit,jenis dan
Mengetahui kapan harus Kepelayanan kesehatan.
2)
Kontrol secara teratur seperti menilai dan memantau berat
asma secara berkala
3)
Lakukan PHBS (pola hidup bersih dan sehat)
4)
Menjelaskan pentingnya melakukan pencegahan dengan cara
menghindari faktor pencetus kambuhnya asma
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Asma Bronkial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten,
reversibel dimana trakea dan bronchi berespon dalam secara hiperaktif terhadap
stimulus tertentu. Klien dengan diagnosa asma bronkial memiliki
keluhan sesak nafas yang hebat dan mendadak kemudian diikuti dengan
gejala-gejala lain yaitu: wezing, penggunaan otot bantu pernafasan, kelelahan,
gangguan kesadaran, sianosis serta perubahan tekanan darah.
Diagnosa keperawatan utama yang muncul pada
klien dengan asma bronkial antara lain adalah bersihan jalan napas tidak
efektif, gangguan pertukaran gas, dan pola napas tidak efektif. Diagnosa dapat
diangkat apabila tanda gejala yang ditemukan pada pasien sesuai dengan yang ada
dalam panduan SDKI.
Pemberian asuhan keperawatan mulai pengkajian
hingga evaluasi pada klien dengan asma bronkial dapat membantu
mengurangi/menghilangkan keluhan klien serta meningkatkan derajat kesehatan
klien apabila di aplikasikan dengan benar dan cermat.
5.2 Saran
Disarankan kepada setelah membaca makalah ini,
perawat dapat menerapkan pelaksanaan asuhan keperawatan kepada klien sesuai
dengan panduan SDKI, SIKI, dan SLKI yang menderita Asma Bronkial untuk
meningkatkan derajat kesehatan klien.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner dan Suddrarth. 2013. Keperawatan
Medikal Bedah Edisi 12. Jakarta: EGC.
Padila.
2015. Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam.
Yogyakarta: Nuha medika
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta:
EGC.
Tenda, D
Eric. 2014. Bronchial Thermoplasty
Sebagai Terapi Asma. Jurnal Keperawatan. 1(4): 1-2.
Tim Pokja SDKI DPP
PPNI. 2017. Standart Diagnosa Keperawatan Indonesia Edisi 1. Jakarta: PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP
PPNI. 2018. Standart Intervensi Keperawatan Indonesia Edisi 1. Jakarta: PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP
PPNI. 2018. Standart Luaran Keperawatan Indonesia Edisi 1. Jakarta : PPNI.
Wahid, Abd dan Imam
Suprapto. 2013. Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem Respirasi. Jakarta:
CV. Tans Info Media.
Wijaya AS, Putri YM.
2014. KMB 1 Keperawatan Medikal Bedah
Keperawatan
Dewasa Teori dan Contoh Askep. Yogyakarta: Nuha
Medika
Komentar
Posting Komentar