ASUHAN KEPERAWATAN DAN PENATALAKSANAAN BPH (BENIGNA PROSTAT HYPERPLASIA)

 

BAB 1

LATAR BELAKANG

 

1.1 Latar Belakang

Kelenjar prostat adalah organ tubuh pria yang paling sering mengalami pembesaran, baik jinak maupun ganas. Diperkirakan 50% pria usia di atas 60 tahun dan hampir 90% pria usia 90 tahun di USA mempunyai gejala dari pembesaran prostat dan membutuhkan terapi. Bushman melaporkan bahwa 18% pria usia 40 tahun secara signifikan memeriksakan pembesaran prostat yang menggangu sehingga memungkinkan mereka untuk meminta bantuan medis.

Hiperplasia prostat jinak atau BPH (benign prostatic hyperplasia) merupakan sebuah diagnosis histologik yang merujuk kepada proliferasi jaringan epitel dan otot halus di dalam zona transisi prostatika. BPH kerap menyebabkan disfungsi pada saluran kemih bagian bawah pria dan paling sering ditemukan pada pria lanjut usia. Sekitar 18 – 25% laki-laki dengan usia di atas 40 tahun dan lebih dari 90% laki-laki dengan usia di atas 80 tahun mengalami BPH (Sutanto, 2021).

Penyebab BPH belum diketahui secara pasti, tetapi pembesaran prostat adalah salah satu kondisi umum yang dialami laki-laki seiring dengan bertambahnya usia. Penderita yang mengalami BPH biasanya mengalami hambatan pada saluran air seni atau uretra didekat pintu masuk kandung kemih seolah-olah tercekik akibatnya, timbul rasa nyeri hebat pada perut. Keadaan ini selanjutnya dapat menimbulkan infeksi pada kandung kemih. Jika telah terjadi infeksi, aliran air seni berhenti, untuk mengeluarkan air seni harus menggunakan kateter, yang akibatnya penderita akan mengalami rasa sakit. Dalam kondisi yang lebih parah lagi maka dilakukan pemotongan pada kelenjar prostat (Syahwal et al., 2016).

Menurut data WHO (2013), diperkirakan terdapat sekitar 70 juta kasus degeneratif, salah satunya ialah BPH, dengan insidensi di negara maju sebanyak 19%, sedangkan di negara berkembang sebanyak 5.35% kasus. Tahun 2013 di Indonesia terdapat 9,2 juta kasus BPH, di antaranya diderita oleh laki-laki berusia di atas 60 tahun (Amadea et al., 2019).

Di Indonesia, penyakit pembesaran prostat jinak menjadi urutan keduasetelah penyakit batu saluran kemih, dan jika dilihat secara umumnya,diperkirakan hampir 50 persen pria Indonesia yang berusia di atas 50 tahun,dengan kini usia harapan hidup mencapai 65 tahun ditemukan menderita penyakit BPH ini. Selanjutnya, 5 persen pria Indonesia sudah masuk ke dalamlingkungan usia di atas 60 tahun. Oleh itu, jika dilihat, dari 200 juta lebih bilangan rakyat indonesia, maka dapat diperkirakan 100 juta adalah pria, dan yangberusia 60 tahun dan ke atas adalah kira-kira seramai 5 juta, maka dapat secaraumumnya dinyatakan bahwa kira-kira 2.5 juta pria Indonesia menderita penyakit BPH (Firdaus, 2017).

 

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1   Bagaimana tinjauan teori dari penyakit BPH?

1.2.2   Bagaimana asuhan keperawatan teoritis dari BPH?

1.2.3   Bagaimana pengaplikasian teori pada klien dengan BPH?

 

1.3 Tujuan

1.3.1   Untuk memahami tinjauan teori dari penyakit BPH.

1.3.2   Untuk memahami asuhan keperawatan teoritis dari BPH.

1.3.3   Untuk memahami pengaplikasian teori pada klien dengan BPH.


 

BAB 2

TINJAUAN TEORI

 

2.1 Pengertian BPH

Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak sebelah inferior buli-buli dan melingkari uretra posterior. Bila mengalami pembesaran, organ ini dapat menyumbat uretra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli. Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa 20 gram (Amadea et al., 2019).

BPH adalah singkatan dari Benign Prostatic Hyperplasia yaitu adalah suatu keadaan di mana kelenjar prostat mengalami pembesaran, memanjang ke atas ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan menutup orifisium uretra. BPH merupakan kondisi patologis yang paling umum pada pria. Benigna Prostatic Hyperplasia (BPH) akan timbul seiring dengan bertambahnya usia, sebab BPH erat kaitannya dengan proses penuaan. Penyebab BPH belum diketahui secara pasti, tetapi sampai saat ini berhubungan dengan proses penuaan yang mengakibatkan penurunan kadar hormon pria, terutama testosteron. Hormon testosteron dalam kelenjar prostat akan diubah menjadi dihidrotestosteron (DHT). DHT inilah yang kemudian secara kronis merangsang kelenjar prostat sehingga membesar (Sutanto, 2021).

Insidensi BPH akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia, yaitu sekitar 20% pada pria usia 40 tahun, kemudian menjadi 70% pada pria usia 60 tahun dan akan mencapai 90% pada pria usia 80 tahun (Amadea et al., 2019).

 

2.2 Etiologi BPH

Pembesaran prostat menyebabkan terjadinya penyempitan lumen uretra pars prostatika dan menghambat aliran urin sehingga menyebabkan tingginya tekanan intravesika. Untuk dapat mengeluarkan urin, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan, menyebabkan terjadinya perubahan anatomik buli-buli, yakni: hipertropi otot destrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli-buli. Perubahan struktur pada buli-buli tersebut dirasakan sebagai keluhan pada saluran kemih bagian bawah atau Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS) (Amadea et al., 2019).

Tekanan intravesika yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini menimbulkan aliran balik dari buli-buli ke ureter atau terjadinya refluks vesikoureter. Jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis bahkan jatuh ke dalam gagal ginjal (Amadea et al., 2019).

Pada usia yang makin tua, kadar testosteron makin menurun, sedangkan kadar estrogen relatif tetap, sehingga perbandingan estrogen : testosteron relatif meningkat. Estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan sensitivitas sel-sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen, meningkatkan jumlah reseptor androgen dan menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat (apoptosis). Akibatnya, dengan testosteron yang menurun merangsang terbentuknya sel-sel baru, tetapi sel-sel prostat yang telah ada mempunyai umur yang lebih panjang sehingga massa prostat menjadi lebih besar.


2.3 Manifestasi Klinis

Gejala awal BPH termasuk kesulitan dalam mulai buang air kecil dan perasaan buang air kecil yang tidak lengkap. Saat kelenjar prostat tumbuh lebih besar, ia menekan uretra dan mempersempitnya. Ini menghalangi aliran urin. Kandung kemih mulai mendorong lebih keras untuk mengeluarkan air seni, yang menyebabkan otot kandung kemih menjadi lebih besar dan lebih sensitif. Ini membuat kandung kemih tidak pernah benar-benar kosong, dan menyebabkan perasaan perlu sering buang air kecil. Gejala lain termasuk aliran urin yang lemah (Amadea et al., 2019).

Gejala BPH umumnya disebut sebagai "gejala saluran kemih bagian bawah" atau lower urinary tract symptoms (LUTS), dan ini dapat dibagi lagi menjadi gejala obstruktif dan gejala iritatif.

Gejala Obstruktif

Gejala Iritatif

1.  Retensi urin (urin tertahan dikandung kemih sehingga urin tidak bisa keluar),

2.  Hesitansi (sulit memulai miksi),

3.  Pancaran miksi lemah,

4.  Intermiten (kencing terputus-putus)

5.  Miksi tidak puas (menetes setelah miksi).

1.  Nokturia,

2.  Urgensi (perasaan ingin miksi yang sangat mendesak)

3.  Disuria (nyeri pada saat miksi).

Tabel 2.1 Perbandingan gejala obstruktif dan iritatif pada BPH

Keluhan pada saluran kemih bagian atas akibat hiperplasi prostat pada saluran kemih bagian atas berupa adanya gejala obstruksi, seperti nyeri pinggang, benjolan di pinggang (merupakan tanda dari hidronefrosis), atau demam yang merupakan tanda infeksi atau urosepsis. Keluhan diluar saluran kemih biasanya klien datang diawali dengan keluhan penyakit hernia inguinalis atau hemoroid. Timbulnya penyakit ini dikarenakan sering mengejan pada saat miksi sehingga mengakibatkan tekanan intra abdominal. Adapun gejala dan tanda lain yang tampak pada klien BPH, pada pemeriksaan prostat didapati membesar, kemerahan, dan tidak nyeri tekan, keletihan, anoreksia, mual dan muntah, rasa tidak nyaman pada epigastrik, dan gagal ginjal dapat terjadi dengan retensi kronis dan volume residual yang besar (Sumberjaya & Mertha, 2020).

 

2.4 Patofisiologi BPH

Biasanya ditemukan gejala dan tanda obstruksi dan iritasi. Gejala dan tanda obstruksi saluran kemih berarti penderita harus menunggu pada permulaan miksi, miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran miksi menjadi melelah, dan rasa belum puas sehabis miksi. Gejala iritasi disebabkan hipersentivitas otot detrustor berarti bertambahnya frekuensi miksi, nokturia, dan disuria. Gejala obstruksi terjadi karena detrusorr gagal berkontraksi dengan cukup kuat dan gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna pada saat miksi atau pembesaran prostat menyebabkan rangsangan  pada kandung kemih sehingga vesika sering berkontraksi meskipun belum penuh. Gejala dan tanda ini diberi skor untuk menentukan berat keluhan klinis.

Apabila vesika dekompensasi, akan terjadi retensi urin sehingga pada akhir miksi masih ditemukan sisa urine pada kandung kemih dan timbul rasa tidak tuntas pada akhir miksi. Jika keadaan ini berlanjut pada suatu saat akan terjadi kemacetan total sehingga penderita tidak mampu lagi miksi. Karena produksi urine terus terjadi, pada suatu saat vesika tidak mampu lagi menampung urine sehingga tekanan intra vesika terus meningkat. Apabila tekanan vesika semakin tinggi dari pada tekanan sfingter dan obstruksi, akan terjadi inkontinensia paradoks. Retensi kronik menyebabkan rufluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis, dan gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi. Pada waktu miksi, penderita harus selalu mengejan sehingga lama-kelamaan menyebaban hernia atau hemoroid.

Karena selalu terdapat sisa urine, dapat terbentuk batu endapan didalam kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat pula menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks, dapat terjadi pelonefritis.                   

     


2.5 Pemeriksaan Penunjang BPH

Berikut adalah beberapa pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan ketika klien di curigai menderita BPH:

1.    Urinalisis

Pemeriksaan urinalisis dapat menentukan adanya leukosituria dan hematuria. Apabila ditemukan hematuria, maka perlu dicari penyebabnya. Bila dicurigai adanya infeksi saluran kemih perlu dilakukan pemeriksaan kultur urine.

2.    Pemeriksaan fungsi ginjal

Obstruksi infravesika akibat BPH dapat menyebabkan gangguan pada saluran kemih bagian atas. Gagal ginjal akibat BPH terjadi sebanyak 0,3-30% dengan rata-rata 13,6%. Pemeriksaan faal ginjal berguna sebagai petunjuk perlu tidaknya melakukan pemeriksaan pencitraan pada saluran kemih bagian atas. Penilaian fungsi ginjal harus dilakukan jika dicurigai adanya gangguan fungsi ginjal, berdasarkan riwayat dan pemeriksaan klinis atau dengan adanya hidronefrosis.

3.    Pemeriksaan PSA (Prostate Specific Antigen)

PSA disintesis oleh sel epitel prostat dan bersifat organ specific tetapi bukan cancer specific. Kadar PSA didalam serum dapat mengalami peningkatan pada keradangan, setelah manipulasi pada prostat (biopsi prostat atau TURP), pada retensi urine akut, kateterisasi, keganasan prostat, dan usia yang makin tua. Serum PSA dapat dipakai untuk mngetahui perjalanan penyakit dari BPH, dalam hal ini jika kadar PSA tinggi berarti :

1)   Pertumbuhan volume prostat lebih cepat.

2)   Keluhan akibat BPH/ laju pancaran urine lebih jelek.

3)   Lebih mudah terjadi retensi urine akut

Pertumbuhan volume kelenjar prostat dapat diprediksi berdasarkan kadar PSA. Semakin tinggi kadar PSA, maka semakin cepat laju pertumbuhan prostat. Laju pertumbuhan volume prostat rata-rata setiap tahun pada kadar PSA 0,2-1,3 ng/dl adalah 0,7 mL/tahun, sedangkan pada kadar PSA 1,4-3,2 ng/dl adalah 2,1 mL/tahun, dan kadar PSA 3,3-9,9 ng/dl adalah 3,3 mL/tahun. Serum PSA dapat meningkat pada saat terjadi retensi urine akut dan kadarnya perlahan-lahan menurun terutama setelah 72 jam dilakukan kateterisasi.

4.    Uroflowmetry (Pancaran Urine)

Uroflowmetry adalah pemeriksaan pancaran urine selama proses berkemih. Pemeriksaan non-invasif ini ditujukan untuk mendeteksi gejala obstruksi saluran kemih bagian bawah. Dari Uroflowmetry dapat diperoleh informasi mengenai volume berkemih, laju pancaran maksimum (Qmax), laju pancaran rata-rata (Qave), waktu yang dibutuhkan untuk mencapai laju pancaran maksimum, dan lama pancaran. Pemeriksaan ini dipakai untuk mengevaluasi gejala obstruksi infravesika, baik sebelum maupun setelah terapi.

Hasil Uroflowmetry tidak spesifik menunjukkan penyebab terjadinya kelainan pancaran urine. Pancaran urine yang lemah dapat disebabkan obstruksi saluran kemih bagian bawah atau kelemahan otot detrusor.

5.    Residu Urine

Residu urine atau post voiding residual urine (PVR) adalah sisa urine di kandung kemih setelah berkemih. Jumlah residu urine pada pria normal rata-rata 12 mL.

Pemeriksaan residu urine dapat dilakukan dengan cara USG, bladder scan atau dengan kateter uretra. Pengukuran dengan kateter ini lebih akurat dibandingkan USG, tetapi tidak nyaman bagi klien, dapat menimbulkan cedera uretra, infeksi saluran kemih, hingga bakteremia.

Peningkatan volume residu urine dapat disebabkan oleh obstruksi saluran kemih bagian bawah atau kelemahan kontraksi otot detrusor. Volume residu urine yang banyak pada pemeriksaan awal berkaitan dengan peningkatan risiko perburukan gejala. Peningkatan volume residu urine pada pemantauan berkala berkaitan dengan risiko terjadinya retensi urine (Mochtar et al., 2015).

6.    Colok dubur

Dari hasil pemeriksaan Rectal Toucher didapatkan  Sfingter Ani Menjepit Pada mukosa teraba massa yang konsistensinya kenyal, permukaan sedikit tidak rata, batas tegas, puncak agak sulit dicapai. Tidak teraba nodul.  Setelah jari dikeluarkan pada hanscoon  Darah, lendir dan feses tidak ada. Pada pemeriksaan Abdomen dan pemeriksaan Thorax tidak nampak adanya kelainan (Amadea et al., 2019).

Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan kesan keadaan tonus sfingter anus, mukosa rectum, kelainan lain seperti benjolan didalam rectum dan prostat. Pada perabaan melalui colok dubur, harus diperhatikan konsistensi prostat (pada pembesaran prostat jinak konsistensinya kenyal), adakah asimetri, adakah nodul pada prostat, apakah batas atas dapat diraba. Pada karsinoma prostat, prostat teraba keras atau teraba benjolan yang konsistensinya lebih keras dari sekitarnya atau ada prostat asimetri dengan bagian yang lebih keras. Dengan colok dubur dapat pula diketahui batu prostat bila teraba krepitasi (Amadea et al., 2019).

7.    USG

Dari hasil pemeriksaan penunjang yang paling berperan adalah pemeriksaan USG, dari hasil USG menunjukkan kesan adanya Hipertrofi Prostat Grade 3. Untuk pemeriksaan darah rutin yang dilakukan untuk RBC, HB, WBC, HCT dan PLT dalam batas normal. Tidak tampak adanya tanda-tanda infeksi ataupun anemia (Amadea et al., 2019).

 

2.6 Penatalaksanaan BPH

Pertolongan pertama pada penderita BPH adalah mengeluarkan urine yang terkandung dalam kandung kemih dengan memasang kateter, selanjutnya baru dipertimbangkan untuk operasi.

Kateterisasi merupakan tindakan pemasangan kateter dengan tujuan memudahkan rilis urin. Kateterasi kerap digunakan untuk menangani retensi urin kronik pada klien yang tidak dapat menerima operasi. Kateterisasi dapat bersifat intermiten, atau clean intermittent catheterization (CIC), maupun menetap. CIC biasanya dikerjakan sebelum pemasangan kateter menetap dan dilakukan dalam lingkungan steril secara periodik.4 Bila kateterisasi ingin dihentikan, perlu dilakukan evaluasi selama 3-7 hari bersamaan dengan pemberian obatobatan α1-blocker. Evaluasi ini bertujuan untuk melihat pancaran dan sisa urin ketika klien berkemih tanpa pemberian kateter. Di sisi lain, bila kateterisasi melalui uretra tidak dapat dilakukan, prosedur alternatif yang dapat dipilih adalah sistostomi. Sistosomi merupakan prosedur pemasangan kateter khusus secara supravesika melalui dinding abdomen.

Penatalaksanaan jangka panjang pada klien dengan BPH adalah dengan melakukan pembedahan. Salah satu tindakan yang paling banyak dilakukan pada klien dengan BPH adalah tindakan pembedahan Transurethral Resection Of the Prostate (TURP) yang prosedur pembedahan dengan memasukkan resektoskopi melalui uretra untuk mengeksisi dan mereseksi kelenjar prostat yang mengalami obstruksi. Prosedur tersebut menimbulkan luka bedah yang berakibat menimbulkan nyeri pada luka post operasi. TURP menjadi pilihan utama pembedahan karena lebih efektif untuk menghilangkan gejala dengan cepat dibandingkan dengan penggunaan obat-obatan (Sumberjaya & Mertha, 2020).

Pembedahan merupakan suatu tindakan tatalaksana BPH yang bersifat invasif. Oleh sebab itu, indikasi yang jelas perlu ditemukan sebelum seorang klinisi memutuskan untuk melakukan pembedahan. Indikasi-indikasi tersebut, meliputi retensi urin akut, infeksi saluran kemih berulang, hematuria makroskopik, sistolitiasis, penurunan fungsi ginjal, gagal berkemih setelah melepaskan kateter, perubahan patologis pada vesica urinaria, keluhan telah memberat, tidak adanya perbaikan setelah terapi konservatif dan medikamentosa, serta klien menolak terapi selain bedah.

Adapun berikut merupakan beberapa pilihan terapi pembedahan yang dapat dilakukan:

1)   Transurethral Resection of the Prostate (TURP)

TURP merupakan suatu pembedahan invasif minimal yang kerap digunakan pada klien BPH dengan volume prostat 30-80 cc. Meski demikian, TURP dapat digunakan pada kondisi prostat apapun tergantung pada pengalaman dan ketersediaan peralatan seorang ahli bedah urologi. Pada umumnya, TURP memiliki efektivitas dalam perbaikan gejala BPH yang mencapai 90% sehingga metode ini merupakan salah satu baku emas tatalaksana invasif BPH.

Prosedur TURP merupakan prosedur yang sangat direkomendasikan oleh IAUI. Akan tetapi, tingkat keberhasilan TURP dapat menurun bila terjadi retensi bekuan darah, retensi urin akut, maupun infeksi saluran kemih. Selain itu, terdapat pula angka mortalitas 30 hari pertama pascaoperasi sebesar 0,1% serta kemungkinan terjadinya komplikasi yang meliputi ejakulasi retrograd, disfungsi ereksi, dan stenosis leher vesica urinaria (Sutanto, 2021).


2)   Laser Prostatektomi

Laser prostatektomi merupakan penembakan sinar berenergi untuk menghancurkan jaringan hiperplastik prostat. Jenis-jenis laser yang kerap digunakan meliputi laser Nd:YAG, Holmium:YAG, KTP:YAG, Green Light Laser, Thulium:YAG, dan Diode. Penggunaan laser dalam tatalaksana invasif direkomendasikan bila klien sedang dalam terapi antikoagulan yang tidak dapat dihentikan karena risiko mengidap emboli yang tinggi. Pada prosedur ini, prostat akan mengalami koagulasi ketika temperatur telah mencapai 600C hingga 650C. Pada temperatur 1000C, prostat akan mengalami vaporisasi dan ukurannya mengecil (Sutanto, 2021).

3)   Transurethral Insicion of the Prostate (TUIP)

Termoterapi merupakan tindakan memanaskan jaringan prostat menggunakan transurethral microwave, transurethral needle ablation, atau high intensity focused ultrasound hingga suhu 450C untuk menimbulkan nekrosis dan koagulasi jaringan tersebut. Dampak dari termoterapi adalah penggunaan kateter yang berkepanjangan meski tanpa perlu melakukan perawatan inap di rumah sakit. Dari ketiga metode pemberian panas, metode transurethral needle ablation memiliki angka rekurensi BPH terendah dengan kisaran 20-50% pada 20 bulan pertama pascatindakan (Sutanto, 2021).

 

 

4)   Pemasangan Stent Intraluminal

Stent merupakan alat medis yang dapat dipasang di dalam lumen saluran antara leher vesica urinaria dan area proksimal dari colliculus seminalis. Dengan memasang alat bantu ini, dapat membuka jalur aliran urin di lumen uretra pars prostatika sehingga urinasi dapat berjalan lancar kembali. Stent dapat dipasang secara temporer hingga kondisi kembali normal atau secara permanen. Beberapa efek samping dari pemasangan stent adalah obstruksi, disuria, dan nyeri perineal (Sutanto, 2021).

5)   Operasi Terbuka

Terdapat dua jenis pembedahan terbuka, yaitu metode Freyer melalui transvesikal dan metode Millin secara retropubik. Pembedahan dengan operasi terbuka baru dianjurkan ketika volume prostat telah mencapai angka melebihi 80 cc. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa operasi terbuka merupakan cara operasi yang sangat invasif dengan angka morbiditas tinggi. Perdarahan dapat menjadi penyulit dini di tengah operasi dan meningkatkan risiko mortalitas atau komplikasi pascatindakan. Beberapa komplikasi yang kerap terjadi meliputi striktur uretra pada 6% kasus dan inkontinensia urin pada 10% kasus (Sutanto, 2021).

 

2.7 Komplikasi BPH

Komplikasi yang berkaitan dengan prostatektomi bergantung pada jenis pembedahan dan mencakup hemorargi, pembentukan bekuan, obstruksi kateter, dan disfungsi seksual. Kebanyakan prostatektomi tidak menyebabkan impotensi (meskipun prostatektomi perineal dapat menyebabkan impotensi akibat kerusakan saraf pudendal yang tidak dapat dihindari). Pada kebanyakan kasus, aktivitas seksual dapat dilakukan kembali dalam 6-8 minggu, karena saat ini fossa prostatic telah sembuh. Setelah ejakulasi, maka cairan seminal mengalir kedalam kandung kemih dan diekskresikan bersama urin. (Sutanto, 2021).

 

2.8 Teori Asuhan Keperawatan BPH

2.8.1   Pengkajian

1)   Pengumpulan data

(1)     Identitas

BPH secara umum terjadi pada pria lebih tua dari 50 tahun.

(2)     Keluhan Utama

Keluhan yang paling dirasakan oleh klien pada umumnya adalah nyeri pada saat kencing atau disebut dengan disuria, hesistensi yaitu memulai kencing dalam waktu yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan disebabkan karena otot detrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika dan setelah post operasi TURP klien biasanya mengalami nyeri di bagian genetalianya.

Untuk penilaian nyeri berdasarkan PQRST yaitu:

P = oleh luka insisi

Q = seperti ditusuk-tusuk/ disayat-sayat pisau/terbakar panas

R = di daerah genetalia bekas insisi

S = dari kategori 0 = tidak nyeri, 1-3 = nyeri ringan,4-6 = nyeri sedang, 7-9 = nyeri berat, 10 = sangat berat tidak bias ditoleransi. T = Sering timbul/tidak sering/sangat sering.

(3)     Riwayat penyakit sekarang

Pada klien BPH keluhan yang ada adalah frekuensi,  nokturia, urgensi, disuria, pancaran melemah, rasa tidak puas sehabis miksi, hesistensi (sulit memulai miksi), intermiten (kencing terputus-putus), dan waktu miksi memanjang dan akhirnya menjadi retensi urine.

(4)     Riwayat penyakit dahulu

Kaji apakah memilki riwayat infeksi saluran kemih (ISK), adakah riwayat mengalami kanker prostat. Apakah klien pernah menjalani pembedahan prostat.

 

(5)     Riwayat penyakit keluarga

Adakah anggota keluarga yang mengalami penyakit seperti yang dialami klien, adakah anggota keluarga yang mengalami penyakit kronis lainnya

(6)     Riwayat psikososial dan spiritual

Bagaimana hubungan klien dengan anggota keluarga yang lain dan lingkungan sekitar sebelum maupun saat sakit, apakah klien mengalami kecemasan, rasa sakit, karena penyakit yang dideritanya, dan bagaimana klien menggunakan koping mekanisme untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

2)   Pemeriksaan Fisik

(1)      B1 - Breath

a.    Ekspansi paru tidak maksimal akibat cemas berlebih

b.    Frekuensi napas tidak teratur

Masalah keperawatan: Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kecemasan

(2)      B2 - Blood

a.    Vasokontriksi pembuluh darah vena pada vesika urinari

b.    Aliran balik vena berkurang

c.    Beban kerja jantung meningkat

d.   Aritmia, takikardi, perubahan EKG, palpitasi, takikardi

Masalah keperawatan: penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan irama jantung.

(3)      B3 - Brain

a.    Merangsang reseptor nyeri di SSP

b.    Rasa nyeri pada waktu berkemih/disuria

Masalah keperawatan: nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisiologis.

(4)      B4 - Bladder

a.    Inspeksi : Terdapat bekas luka post operasi TURP di daerah genetalia,bisa terjadi retensi urin karena adanya kloting (post-op), terpasang kateter DC yang terhubung urin bag, warna urin bisa kemerahan akibat bercampur dengan darah (hematuria), umumnya klien juga terpasang drainase dibawah umbilicus sebelah kanan.

b.    Palpasi : Terdapat nyeri tekan di bagian genetalia.

Masalah keperawatan: Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan hiperventilasi

(5)      B5 - Bowel

a.    Selalu mengedan waktu BAK

b.    Hernia & hemoroid

c.    Susah dan nyeri sewaktu BAB

Masalah keperawatan: Defisit nutrisi berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme, dipsnea saat makan.

(6)      B6 - Bone

a.    Inspeksi : Terdapat luka insisi di bagian supra pubis akibat operasi prostat klien umumnya tidak memiliki gangguan pada system musculoskeletal tetapi tetap perlu dikaji kekuatan otot ekstremitas atas dan bawah dengan berdasarkan pada nilai kekuatan otot 0-5, di kaji juga adanya kekuatan otot atau keterbatasan gerak, warna kulit normal,rambut warna hitam keturanan asia, kaji keadaan luka apa terdapat pus atau tidak, kaji ada tidaknya infeksi, dan kaji keadaan luka bersih atau tidak.

b.    Palpasi : Turgor kulit elastis, akral teraba hangat.

Masalah keperawatan: Resiko intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan pernapasan ditandai dengan penyakit paru obstruksi kronis (PPOK).

 

 

 

 

 

 

2.8.2   Diagnosis Keperawatan

1)        Diagnosis Keperawatan Pre Operasi

NO

DIAGNOSIS KEPERAWATAN PRE OPERASI

KODE

DIAGNOSIS

1.

D.0077

Diagnosis: Nyeri Akut

Definisi: Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan

Penyebab:

Agen pencedera fisiologis

1.      Inflamasi

2.      Iskemia

3.      Neoplasma

Agen pencedera kimiawi

1.      Terbakar

2.      Bahan kimia iritan

Agen pencedera fisik

1.      Abses

2.      Amputasi

3.      Terpotong

4.      Mengangkat berat

5.      Prosedur operasi

6.      Trauma

7.      Latihan fisik berlebih

Gejala dan tanda mayor:

Subjektif

1.      Mengeluh nyeri

Objektif

1. Tampak meringis

2. Bersikap protektif (mis. Waspada, posisi menghindari nyeri)

3. Gelisah

4. Frekuensi nadi meningkat

5. Sulit tidur

Gejala dan tanda minor:

Subjektif  (tidak tersedia)

Objektif

1. Tekanan darah meningkat

2. Pola napas berubah

3. Nafsu makan berubah

4. Proses berpikir terganggu

5. Menarik diri

6. Berfokus pada diri sendiri

7. Diaforesis

2.

D. 0050

Diagnosis: Retensi Urin

Definisi: Pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap

Penyebab :

1. Peningkatan tekanan uretra

2. Kerusakan arkus refleks

3. Blok spingter

4. Disfungsi neurologis (mis. Trauma, penyakit saraf)

5. Efek agen farmakologis (mis. Atropine, belladonna, psikotropik, antihistamin, opiate)

Gejala dan tanda mayor:

Subjektif

1. Sensasi penuh pada kandung kemih

Objektif

1. Disuria/anuria

2. Distensi kandung kemih

Gejala dan tanda minor:

Subjektif

1. Dribbling (urin menetes)

Objektif

1. Inkontinensia berlebih

2. Residu urin 150 ml atau lebih

3.

D. 0040

Diagnosis: Gangguan Eliminasi Urin

Definisi: Disfungsi eliminasi urin

Penyebab:

1. Penurunan kapasitas kandung kemih

2. Iritasi kandung kemih

3. Penurunan kemampuan menyadari tanda-tanda gangguan kandung kemih

4. Efek tindakan medis dan diagnostik (mis. Operasi ginjal, operasi saluran kemih, dan obat-obatan)

5. Kelemahan otot pelvis

6. Ketidakmampuan mengakses toilet (mis. Imobilisasi)

7. Hambatan lingkungan

8. Ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan eliminasi

9. Outlet kandung kemih tidak lengkap (mis. Anomali saluran kemih kongenital)

10. Imaturitas (pada anak usia <3 tahun)

Gejala dan tanda mayor:

Subjektif

1. Desakan berkemih (Urgensi)

2. Urin menetes (dribbling)

3. Sering buang air kecil

4. Nokturia

5. Mengompol

6. Enuresis

Objektif

1. Distensi kandung kemih

2. Berkemih tidak tuntas (hesitancy)

3. Volume residu urin meningkat

Gejala dan tanda minor:

Subjektif (tidak tersedia)

Objektif (tidak tersedia)

 

2)   Diagnosis Keperawatan Post Operasi

NO

DIAGNOSIS KEPERAWATAN POST OPERASI

KODE

DIAGNOSIS

1.

D.0077

Diagnosis: Nyeri Akut

Definisi: Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan

Penyebab:

Agen pencedera fisiologis

1.      Inflamasi

2.      Iskemia

3.      Neoplasma

Agen pencedera kimiawi

1.      Terbakar

2.      Bahan kimia iritan

Agen pencedera fisik

1.      Abses

2.      Amputasi

3.      Terpotong

4.      Mengangkat berat

5.      Prosedur operasi

6.      Trauma

7.      Latihan fisik berlebih

Gejala dan tanda mayor:

Subjektif

2.      Mengeluh nyeri

Objektif

6. Tampak meringis

7. Bersikap protektif (mis. Waspada, posisi menghindari nyeri)

8. Gelisah

9. Frekuensi nadi meningkat

10. Sulit tidur

Gejala dan tanda minor:

Subjektif  (tidak tersedia)

Objektif

8. Tekanan darah meningkat

9. Pola napas berubah

10. Nafsu makan berubah

11. Proses berpikir terganggu

12. Menarik diri

13. Berfokus pada diri sendiri

14. Diaforesis

2.

D. 0069

Diagnosis: Disfungsi Seksual

Definisi: Perubahan fungsi seksual selama fase respon seksual berupa hasrat, terangsang, orgasme, dan/atau relaksasi yang dirasa tidak memuaskan, tidak bermakna atau tidak adekuat

Penyebab :

1.    Perubahan fungsi/struktur tubuh (mis. Kehamilan, baru melahirkan, obat-obatan, pembedahan, anomali, proses penyakit, trauma, radiasi)

2.    Perubahan biopsikososial seksualitas

3.    Ketiadaan model peran

4.    Model peran tidak dapat mempengaruhi

5.    Kurang privasi

6.    Ketiadaan pasangan

7.    Kesalahan informasi

8.    Kelainan seksual (mis. Hubungan penuh kekerasan)

9.    Konflik nilai

10. Penganiayaan fisik (mis. Kekerasan dalam rumah tangga)

11. Kurang terpapar informasi

Gejala dan tanda mayor:

Subjektif

1. Mengungkapkan aktivitas seksual berubah

2. Mengungkapkan eksitasi seksual berubah

3. Merasa hubungan seksual tidak memuaskan

4. Mengungkapkan peran seksual berubah

5. Mengeluhkan hasrat seksual menurun

6. Mengungkapkan fungsi seksual berubah

7. Mengeluh nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia)

Objektif (tidak tersedia)

Gejala dan tanda minor:

Subjektif

1. Mengungkapkan ketertarikan pada pasangan berubah

2. Mengeluh hubungan seksual terbatas

3. Mencari informasi tentang kemampuan mencapai kepuasan seksual

Objektif (tidak tersedia)

3.

D. 0142

Diagnosis: Risiko Infeksi

Definisi: Berisiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik

Faktor Risiko:

1. Penyakit kronis (mis. Diabetes melitus)

2. Efek prosedur invasif

3. Malnutrisi

4. Peningkatan paparan organisme patogen lingkungan

5. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer

a.       Gangguan peristaltik

b.      Kerusakan integritas kukit

c.       Perubahan sekresi pH

d.      Penurunan kerja siliaris

e.       Ketuban pecah lama

f.       Ketuban pecah sebelum waktunya

g.      Merokok

h.      Statis cairan tubuh

6. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder

a.       Penurunan hemoglobin

b.      Imununosupresi

c.       Leukopenia

d.      Supresi respon inflamasi

e.       Vaksinasi tidak adekuat

 

2.8.3   Intervensi Keperawatan Post Operasi

NO

DIAGNOSIS

TUJUAN DAN KRITERIA HASIL

INTERVENSI

1.

Nyeri Akut

(D.0077)

Definisi: Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan nyeri akut dapat teratasi dengan kriteria hasil:

1.   Keluhan nyeri dari 2 (cukup meningkat) menjadi 5 (menurun)

2.   Meringis dari 2 (cukup meningkat) menjadi 5 (menurun)

3.   Sikap protektif dari 2 (cukup meningkat) menjadi 5 (menurun)

4.   Kesulitan tidur dari 3 (sedang) menjadi 5 (menurun)

5.   Tekanan darah dari 3 (sedang) menjadi 5 (membaik).

Manajemen nyeri

Kode: 1.08238

Observasi:

1.    Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri

2.    Identifikasi skala nyeri

3.    Identifikasi respons nyeri non verbal

4.    Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri

5.    Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri

6.    Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup

7.    Monitor efek samping penggunaan analgetik

Terapeutik:

1.    Berikan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi rasa nyeri

2.    Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri

3.    Fasilitasi istirahat dan tidur

4.    Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri

 

Edukasi

1.    Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri

2.    Jelaskan strategi meredakan nyeri

3.    Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri

Kolaborasi

1.    Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

2.

 

 

 

 

 

 

Disfungsi seksual

(D.0069)

Definisi:

Perubahan fungsi seksual selama fase respon seksual berupa hasrat, terangsang, orgasme, dan/atau relaksasi yang dirasa tidak memuaskan, tidak bermakna atau tidak adekuat

 

 

 

 

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan fungsi seksual membaik dengan kriteria hasil:

1.    Kepuasan hubungan seksual dari 2 (cukup menurun) menjadi 5 (meningkat)

2.    Keluhan nyeri saat berhubungan seksual dari 1 (memburuk) menjadi 5 (membaik)

3.    Hasrat seksual dari 2 (cukup memburuk) menjadi 5 (membaik)

Edukasi Seksualitas

Kode: 1.12447

Observasi:

1.     Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi

Terapeutik:

1.     Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan

2.     Jadwal pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan

3.     Berikan kesempatan untuk bertanya

4.     Fasilitasi kesadaran keluarga terhadap anak dan remaja serta pengaruh media

Edukasi

1.    Jelaskan anatomi dan fisiologi system reproduksi laki-laki dan perempuan

2.     Jelaskan perkembangan seksualitas sepanjang siklus kehidupan

3.

Resiko Infeksi

(D.0142)

Definisi:

Berisiko mengalami peningkatan terserang oganisme patogenik

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan derajat infeksi menurun dengan kriteria hasil:

1.   Kebersihan badan dari 3 (Sedang) menjadi 5 (meningka)

2.   Demam dari 2 (cukup meningkat) menjadi 5 (menurun)

3.   Kemerahan dari 2 (cukup meningkat) menjadi 5 (menurun)

4.   Nyeri dari 2 (cukup meningkat) menjadi 5 (menurun)

5.   Bengkak dari 2 (cukup meningkat) menjadi 5 (menurun)

6.   Kadar sel darah putih dari 2 (cukup memburuk) menjadi 5 (membaik)

Pencegahan infeksi

Kode: 1.14539

Observasi:

1.     Monitor tanda gejala infeksi lokal dan sistemik

Terapeutik

1.    Batasi jumlah pengunjung

2.    Berikan perawatan kulit pada daerah edema

3.    Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan klien dan lingkungan klien

4.    Pertahankan teknik aseptik pada klien berisiko tinggi

Edukasi

1.    Jelaskan tanda dan gejala infeksi

2.    Ajarkan cara memeriksa luka

3.    Anjurkan meningkatkan asupan cairan

Kolaborasi

1.    Kolaborasi pemberian imunisasi, Jika perlu

 

2.8.4   Implementasi

Implementasi (tindakan) asuhan keperawatan dilakukan dengan intervensi yang telah dibuat atau direncanakan (Wahid, 2013).

 

2.8.5   Evaluasi

Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang teramati dan tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Jika hasil evaluasi menunjukkan tercapainya tujuan dan kriteria hasil, klien bisa keluar dari siklus proses keperawatan. Jika sebalikanya, klien akan masuk kembali ke dalam siklus tersebut mulai dari pengkajian ulang. Secara umum, evaluasi ditujukan untuk:

1)   Melihat dan menilai kemampuan klien dalam mencapai tujuan

2)   Menentukan apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum

3)   Mengkaji penyebab jika tujuan asuhan keperawatan belum tercapai.


 

BAB 3

APLIKASI TEORI

 

3.1 Pengkajian

1)   Identitas Klien

(1)     Nama                                            : Tn. S

(2)     Jenis kelamin                                : Laki-laki

(3)     Umur                                            : 70 tahun

(4)     Agama                                          : Islam

(5)     Pendidikan                                   : SD

(6)     Pekerjaan                                      : Petani

(7)     Tanggal MRS                               : 20 Maret 2019

(8)     Tanggal Pengkajian          : 22 Maret 2019

(9)     Diagnosis Medis              : BPH

2)   Riwayat Penyakit

(1)     Keluhan utama

Klien mengatakan merasa nyeri

P: Post op BPH

Q: Tertusuk-tusuk

R: dibagian genetalia

S: Skala 5

T: Hilang timbul

(2)     Riwayat penyakit sekarang

Klien mengatakan sering buang air kecil tapi terus menerus sebelum dibawa ke rumah sakit. Klien MRS tanggal 20-03-2019 di ruang anggrek. Tanggal 21-03-2019 klien dilakukan operasi pukul 15.50, setelah itu klien dipindah ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan yang intensif pada tanggal 22-03-2019 pukul 17.00.

(3)     Riwayat penyakit dahulu

a.    Riwayat penyakit kronik dan menular: Klien mengatakan tidak pernah sakit parah sebelumnya.

b.    Riwayat penyakit alergi: Klien mengatakan tidak memiliki penyakit alergi, atau alergi pada obat dan makanan.

c.    Riwayat operasi: Klien mengatakan pernah operasi sebelumnya namun lupa operasi apa.

(4)     Riwayat penyakit keluarga

Klien mengatakan tidak ada keluarga yang mengalami penyakit seperti klien.

3)   Pola Aktivitas Sehari-hari Terfokus

(1)     Pola Nutrisi

a.    Makan

SMRS: Klien makan 3x/hari satu piring (nasi, lauk, dan sayur).

MRS: Klien makan 3x/hari porsi rumah sakit tidak habis.

b.    Minum

SMRS: Klien minum 1 botol besar air mineral kemasan perhari.

MRS: Klien minum 1 botol tanggung air mineral kemasan perhari.

(2)     Pola Tidur/Istirahat

SMRS: Klien tidur siang dari jam 12.00 sampai jam 16.00 WIB. Dan malam hari tidur dari jam 23.00 sampai jam 05.00 WIB.

MRS: Klien tidak bisa tidur/istirahat pada saat siang hari karena menahan nyeri dan bersikap waspada. Klien baru bisa tidur lewat tengah malam selama 4-5 jam.

(3)     Pola Eliminasi

a.    BAB

SMRS: Klien BAB 2x/hari lunak, berwarna coklat.

MRS: Klien belum pernah BAB sejak MRS karena takut jika mengejan akan semakin merasa nyeri dia area genetalia nya.

b.    BAK

SMRS: Klien BAK 5x/hari dengan jumlah urine 1000 cc/hari berwarna kuning.

MRS: Klien BAK dengan bantuan alat. Terpasang treeway, irigasi: kateter cairan NaCL 0.9%, traksi: terdapat plester di paha kiri, warna urine kuning terang, jumlah urine 600cc/jam.

4)   Pemeriksaan fisik

(1)     B1 – Breathing

Jalan nafas spontan, frekuensi nafas 16x/menit, SpO2 96%, irama nafas teratur, suara nafas vesicular.

(2)     B2 – Blood

Irama jantung regular, nadi 77x/menit, tekanan darah 137/92 mmHg, akral hangat, CRT < 3 detik, tidak ada edema.

(3)     B3 – Brain

Kesadaran composmentis, GCS 4,5,6. Terdapat respon nyeri, klien nampak menahan rasa sakit dan bersikap waspada.

(4)     B4 – Bladder

BAK dengan bantuan alat. Terpasang treeway, irigasi: kateter cairan NaCL 0.9%, traksi: terdapat plester di paha kiri, warna urine kuning terang, jumlah urine 600cc/jam.

(5)     B5 – Bowel

Tidak pernah BAB, perut tidak terasa kembung, tidak ada nyeri tekan, tidak terpasang NGT, mukosa bibir kering, lidah bersih, tidak ada rembesan.

(6)     B6 – Bone

Suhu 36,2oC, turgor baik, kekuatan otot 5-5-5-5

5)   Pemeriksaan Penunjang

(1)     Urinalisis

a.     Neutrofil: 5,7% (Nilai normal: 13,93-73,7%)

b.    Limfosit: 29,7% (Nilai normal: 18,0-48,3%)

c.     Monosit: 5,5% (Nilai normal: 4,4%)

d.    PLT: 293 103 /µL (Nilai normal: 155-366 103 /µL)

e.     Kalsium Ion: 1.150 Mmol/L (Nilai normal: 1,16-1,32 Mmol/L)

(2)     USG Urologi

a.    Ginjal kanan/kiri: Ukuran normal, intensitas echo cortex Nampak normal, batas echo cortex tampak jelas, tak tampak ektasis system pelviokaliseal, tak tampak batu/kristal/massa.

b.    Buli: Volume cukup, tak tampak penebalan dinding, tak tampak massa/batu/kista.

c.    Prostate: Ukuran membesar dengan volume 59,3 cm3, intensitas echo parenchyma tampak normal, tak tampak massa/kalsifikasi.

6)   Terapi

(1)     Infus: RD5 1000 cc/24jam

(2)     Injeksi:

Metamizole sodium 500 mg/ml

Ondan sentron 2 x 4 mg

Fosmiccin 2 x 2 gr

Tranexamid acid 3 x 100

 

3.2 Analisa Data dan Diagnosis Keperawatan

No

Masalah Keperawatan

Kemungkinan Penyebab

Data

1

Nyeri Akut

Agen cedera fisik (pasca operasi)

DS:

Klien mengatakan nyeri

P: Post op BPH

Q: Tertusuk-tusuk

R: dibagian genetalia

S: Skala 5

T: Hilang timbul

DO:

Keadaan umum; lemah

Klien tampak menahan nyeri dan bersikap waspada

Sulit tidur/istirahat di siang hari

Tekanan Darah: 137/92 mmHg

Klien post-op BPH 1 hari yang lalu

Diagnosis Keperawatan:

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (pasca operasi).

3.3 Intervensi Keperawatan

NO

DIAGNOSIS

TUJUAN DAN KRITERIA HASIL

INTERVENSI

1.

Nyeri Akut

(D.0077)

Definisi: Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam diharapkan nyeri akut dapat teratasi dengan kriteria hasil:

1.    Keluhan nyeri dari 2 (cukup meningkat) menjadi 5 (menurun)

2.   Meringis dari 2 (cukup meningkat) menjadi 5 (menurun)

3.   Sikap protektif dari 2 (cukup meningkat) menjadi 5 (menurun)

4.   Kesulitan tidur dari 3 (sedang) menjadi 5 (menurun)

5.   Tekanan darah dari 3 (sedang) menjadi 5 (membaik).

Manajemen nyeri

Kode: 1.08238

Observasi:

1.    Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri

2.    Identifikasi skala nyeri

3.    Identifikasi respons nyeri non verbal

4.    Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri

5.    Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri

6.    Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup

7.    Monitor efek samping penggunaan analgetik

Terapeutik:

1.    Berikan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi rasa nyeri

2.    Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri

3.    Fasilitasi istirahat dan tidur

4.    Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri

Edukasi

1.    Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri

2.    Jelaskan strategi meredakan nyeri

3.    Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri

Kolaborasi

1.    Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

 

3.4 Implementasi

DX

Tanggal/Jam

IMPLEMENTASI

PARAF

1

Jum’at, 22 Maret 2019

 

  17:10

Mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri

Mengidentifikasi skala nyeri

Hasil: Klien mengatakan merasa nyeri

P: Post op BPH

Q: Tertusuk-tusuk

R: dibagian genetalia

S: Skala 5

T: Hilang timbul

ü    

 

17:05

Mengidentifikasi respons nyeri non verbal

Hasil :

Klien tampak menahan nyeri dan bersikap waspada

Sulit tidur/istirahat di siang hari

Tekanan darah: 137/92 mmHg

ü    

 

17.10

Menjelaskan strategi meredakan nyeri dengan mengajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri seperti teknik relaksasi napas dalam/teknik distraksi.

Hasil:

Klien memahami teknik tersebut dapat mengurangi sensasi nyeri dan mengontrol intensitas reaksi klien terhadap rasa nyeri

ü    

 

17.15

Memberikan teknik non farmakologi untuk mengurangi rasa nyeri: teknik relaksasi napas dalam

Hasil :

Klien dapat mengikuti instruksi dengan baik, namun teknik ini tidak berhasil dan klien mengatakan nyeri tidak berkurang

 

Memberikan teknik non farmakologi untuk mengurangi rasa nyeri: teknik distraksi dengan mendengarkan musik (mengajarkan menyalakan musik lewat telepon genggam)

Hasil :

Klien mengatakan suka mendengarkan musik yang tenang dan halus, terutama musik-musik klasik.

Klien terlihat lebih tenang dan nyaman saat mendengarkan musik dan mulai teralihkan dari rasa nyeri.

ü    

 

17:20

Mengontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri: mengurangi suhu ruangan.

memberitahukan klien/keluarga klien lain untuk tidak berisik.

Hasil :

Klien merasa lebih rileks dan nyaman

ü    

 

18. 00

Berkolaborasi pemberian analgetik.

Hasil:

Injeksi metamizole sodium 500 mg/ml

ü    

 

19:00

Memfasilitasi tidur dan istirahat klien dengan menganjurkan klien untuk bersiap tidur malam dan menyarankan tetap mendengarkan musik untuk menambah rasa nyaman

Hasil :

Klien memilih tidur sambil tetap mendengarkan musik klasik secara lirih dan dengan gorden pembatas ruangan di tutup agar tidak terlihat pasien lain.

ü    

1

Sabtu, 23 Maret 2019

 

  14:15

Mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri

Mengidentifikasi skala nyeri

Hasil: Klien mengatakan nyeri sudah berkurang

P: Post Op BPH

Q: Cenut-cenut ringan

R: dibagian genetalia

S: Skala 2

T: Hilang timbul, jarang muncul

ü    

 

14:20

Mengidentifikasi respons nyeri non verbal

Hasil :

Klien sudah tidak nampak meringis menahan nyeri, lebih rileks dan mengurangi kewaspaan

Sudah nyaman untuk tidur siang

Tekanan darah: 114/76 mmHg

ü    

 

14:30

Menjelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri

Hasil:

Klien memahami penyebab dan pemicu munculnya nyeri dan sebisa mungkin menjauhi penyebab.

ü    

 

14:35

Memberikan teknik non farmakologi untuk mengurangi rasa nyeri: teknik distraksi dengan mendengarkan musik

Hasil :

Klien nampak senang dan cukup sering menyalakan musik-musik instrumental atau klasik melalui telepon genggam nya.

ü    

 

14:40

Mengontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri: mengatur posisi klien

Hasil :

Klien merasa lebih rileks dan nyaman

ü    

 

18. 00

Berkolaborasi pemberian analgetik, Hasil: Injeksi antrain 1 ml

ü    

 

3.5 Evaluasi

DX

Tanggal/Jam

EVALUASI

PARAF

1

Jum’at,

22 Maret 2019

19:30

Subjective:

Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit.

P: Post op BPH

Q: Tertusuk-tusuk

R: Di bagian genetalia

S: Skala 4

T: Hilang timbul, lebih sering muncul saat bergerak atau berubah posisi

Objective:

Klien mampu mengontrol dan mengalihkan nyeri dengan mendengarkan musik dan beristirahat.

Ekspresi wajah masih sesekali meringis

Tekanan darah: 124/82 mmHg

Assessment:

Nyeri akut belum teratasi

Planning:

Intervensi dilanjutkan dengan:

Identifikasi skala nyeri

Teknik distraksi dengan mendengarkan musik

Kolaborasi dengan tim medis untuk terapi analgesik: Injeksi antrain 2 x 1ml

1

Sabtu,

23 Maret 2019

19:00

Subjective:

Klien mengatakan nyeri sudah jauh menurun dari sehari sebelumnya

P: Post op BPH

Q: Cenut-cenut ringan

R: Di bagian genetalia

S: Skala 2

T: Jarang muncul

Objective:

Klien sudah tidak nampak meringis menahan nyeri, lebih rileks dan mengurangi kewaspaan

Tekanan darah: 114/76 mmHg

Assessment:

Nyeri akut teratasi

Planning:

Intervensi dihentikan

ü    

BAB 4

PEMBAHASAN

 

4.1              Pembahasan

BPH adalah singkatan dari Benign Prostatic Hyperplasia yaitu adalah suatu keadaan di mana kelenjar prostat mengalami pembesaran, memanjang ke atas ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan menutup orifisium uretra yang juga merupakan kondisi patologis yang paling umum pada pria. Benigna Prostatic Hyperplasia (BPH) akan timbul seiring dengan bertambahnya usia, sebab BPH erat kaitannya dengan proses penuaan. Penyebab BPH belum diketahui secara pasti, tetapi sampai saat ini berhubungan dengan proses penuaan yang mengakibatkan penurunan kadar hormon pria, terutama testosteron. Hormon testosteron dalam kelenjar prostat akan diubah menjadi dihidrotestosteron (DHT). DHT inilah yang kemudian secara kronis merangsang kelenjar prostat sehingga membesar (Sutanto, 2021). Dalam asuhan keperawatan teori pada pengkajian identitas klien disebutkan bahwa BPH secara umum terjadi pada pria lebih tua dari 50 tahun. Sesuai dengan pemaparan diatas, benar ditemukan bahwa klien yang mendapatkan asuhan keperawatan pada aplikasi teori adalah laki-laki berusia 70 tahun.

Pada pemeriksaan fisik dalam asuhan keperawatan teori, masalah keperawatan utama muncul pada sitem B3 (brain) dimana muncul rangsangan reseptor nyeri di SSP dan rasa nyeri pada waktu berkemih/disuria, lalu sistem B4 (bladder) dimana terjadi kesulitan buang urine dan retensi urin karena adanya kloting. Kemudian sistem yang terganggu lainnya adalah B5 (bowel) diaman dapa terjadi hernia, hemoroid, serta susah dan nyeri sewaktu BAB. Masalah-masalah tersebut sesuai dengan pemaparan dalam teori yaitu ejala awal BPH termasuk kesulitan dalam mulai buang air kecil dan perasaan buang air kecil yang tidak lengkap. Gejala lain termasuk aliran urin yang lemah (Amadea et al., 2019). Keluhan pada saluran kemih bagian atas akibat hiperplasi prostat pada saluran kemih bagian atas berupa adanya gejala obstruksi, seperti nyeri pinggang, benjolan di pinggang (merupakan tanda dari hidronefrosis), atau demam yang merupakan tanda infeksi atau urosepsis (Sumberjaya & Mertha, 2020).

Pada aplikasi kasus yang telah di paparkan, ditemukan diagnosis keperawatan utama nyeri akut (kode D.0077) pada klien. Diagnosis tersebut didukung dengan data subjektif dan objektif yang didapatkan perawat saat pengkajian, pemeriksaan fisik, dan melihat pemeriksaan penunjang serta terapi yang diterima oleh klien. Data subjektif dan objektif yang ditemukan pada klien sesuai dengan tanda gejala mayor dan minor yang tertulis di SDKI seperti klien mengatakan dan tampak menahan nyeri, bersikap waspada, sulit tidur/istirahat di siang hari, dan peningkatan tekanan darah.

Intervensi yang diberikan oleh perawat kepada klien mengikuti panduan dalam SIKI dan SLKI. Intervensi yang diambil adalah manajemen nyeri (kode: 1.08238). Pada implementasi, perawat hampir dapat melakukan semua tindakan yang telah di rencanakan dengan melihat kondisi klien. Tindakan keperawatan dilakukan secara menyeluruh dengan memakai keempat poin intervensi yaitu, observasi, terapeutik, edukasi, maupun kolaborasi. Perawat melakukan evaluasi SOAP setiap hari seteah melakukan implementasi di hari tersebut. Masalah dapat teratasi setelah 2 hari perawatan yang sesuai dengan kriteria hasil berdasarkan SLKI.

 

4.2Intervensi Keperawatan Sesuai Evidence Based Nursing

Intervensi keperawatan yang diimplementasikan kepada klien BPH dengan diagnosis keperawatan nyeri akut (D.0077) adalah manajemen nyeri ((kode: 1.08238). Salah satu tindakan terapeutik dalam intervensi manajemen nyeri adalah adalah memberikan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi rasa nyeri. Dalam pengimplementasian kepada klien, perawat mengajarkan dua macam teknik yaitu teknik relaksasi napas dalam dan teknik distraksi. Teknik relaksasi napas dalam dinilai tidak berhasil karenatidak membantu mengurangi rasa nyeri klien.

Teknik kedua, yaitu teknik distraksi diajarkan oleh perawat dengan memberi pilihan pada klien jenis distraksi apa yang disukai dan klien memilih untuk mendengarkan musik klasik atau instrumental. Klien memilih jenis musik yang tenang, lembut, halus, dan tidak memekakkan telinga. Menurut klien, jenis musik tersebut dapat membuatnya rileks, tenang, dan nyaman sehingga klien perlahan melupakan rasa nyeri yang dirasakan. Sesuai dengan hasil evaluasi setelah 2x24 jam pemberian intervensi, klien mengatakan bahwa nyeri yang dirasakan sudah jauh berkurang (dari skala nyeri 5 menjadi 2).

Hal ini dirasa penulis cukup menarik karena ditemukan beberapa jurnal penelitian yang menyatakan bahwa memang terapi distraksi dengan musik terutama musik klasik berhubungan dengan penurunan skala nyeri klien. Berikut beberapa evidence based nursing yang ada dalam jurnal penelitian:

1)   Jurnal Penelitian oleh Lestyani dan Sudaryanto tahun 2020

TERAPI MUSIK KLASIK CANON IN D MAJOR COMPOSER JOHANN PACHELBEL DALAM MENURUNKAN TINGKAT NYERI PADA ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN POST OPERATIF BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA (BPH)

Lestyani Lestyani, Sudaryanto Sudaryanto

Latar Belakang. BPH (Benigna Prostat Hiperplasia) adalah pembesaran progersif dari kelenjar prostat yang dapat menyebabkan obstruksi dan ritriksi pada jalan urine. Nyeri pada pasien post operasi disebabkan terjadinya kerusakan kontiunitas jaringan karena pembedahan, kerusakan kontiunitas jaringan menyebabkan pelepasan mediator kimia yang kemudian mengaktivasi nosiseptor dan memulai tranmisi nosiseptik sampai terjadi nyeri. Musik dapat menurunkan kecemasan, nyeri, strees, dan menimbulkan mood yang positif. Angka kejadian penderita BPH di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen pada bulan Maret ditemukan kasus sebanyak 10 kasus, pada bulan April ditemukan 8 kasus, dan pada tanggal 12 september sampai dengan 1 Desember 2018 ditemukan sebanyak 6 kasus.Tujuan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis efektifitas terapi musik klasik canon in d major composer johann pachelbel dalam menurunkan tingkat nyeri pada asuhan keperawatan post operatif Benigna Prostat Hiperplasia (BPH).Metode. penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional, quasi eksperimen, pretes-postes.Hasil. Analisis pengujian statistik menghasilkan nilai uji chi square X2hitung sebesar 24,381 lebih besar X2tabel (15,567) dengan taraf signifikansi hitung (p) sebesar 0,059. Oleh karena p < taraf signifikasi tabel sebesar 5% (0,05)Kesimpulan. Terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian music terapi terhadap penurunan skala nyeri pada pasien post operasi BPH.

Kata kunci : BPH, Nyeri, Terapi music

2)   Jurnal Publikasi oleh Eviana et. Al tahun 2019

UPAYA PENURUNAN NYERI POST OP TURP HARI KE 1 DENGAN TERAPI MUSIK KLASIK PADA ASUHAN KEPERAWATAN BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA DI RSUD dr. SOEHADI PRIJONEGORO

Eviana Dewi Puspitawati1 , Siti Sarifah2 , Ika kusuma Wardani3

1Mahasiswa Prodi DIII Keperawatan ITS PKU Muhammadiyah Surakarta

2Dosen Prodi DIII Keperawatan ITS PKU Muhammadiyah Surakarta

3Dosen Prodi DIII Keperawatan ITS PKU Muhammadiyah Surakarta

 

Kata Kunci Terapi Musik Klasik, Nyeri, Benigna Prostat Hiperplasia.

 

Abstrak

Benigna Prostat Hyperplasia (BPH) merupakan salah satu penyakit yang ditakuti di kalangan pria usia lanjut. Data WHO (2013), memperkirakan terdapat sekitar 70 juta kasus degeneratif. Salah satunya adalah BPH, dengan insidensi di negara maju sebanyak 19%, sedangkan di negara berkembang sebanyak 5,35% kasus. Berdasarkan studi pendahuluan di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen ditemukan masalah pasien dengan Benigna Prostat Hiperplasia sebanyak 2.132 klien. Mengidentifikasi manfaat terapi musik klasik dalam menurunkan nyeri Post Op TURP pada Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Metode studi kasus ini dengan subjek 3 klien, metode yang digunakan yaitu pengumpulan data, wawancara, studi dokumentasi, format asuhan keperawatan medikal bedah, lembar observasi nyeri dan Standar Operasional Prosedur Terapi Musik Klasik. Analisa data dengan menggunakan perbandingan data sebelumnya, dengan etika informed consent, confidentiality, anonimyty. Skala nyeri Tn.W, Tn.S dan Tn.K mengalami penurunan setelah diberikan terapi musik klasik selama 15 menit selama 3 hari pemberian pagi, siang, dan malam.


 

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

 

5.1 Kesimpulan

BPH adalah singkatan dari Benign Prostatic Hyperplasia yaitu adalah suatu keadaan di mana kelenjar prostat mengalami pembesaran, memanjang ke atas ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan menutup orifisium uretra. BPH merupakan kondisi patologis yang paling umum pada pria. Benigna Prostatic Hyperplasia (BPH) akan timbul seiring dengan bertambahnya usia, sebab BPH erat kaitannya dengan proses penuaan. Penyebab BPH belum diketahui secara pasti, tetapi sampai saat ini berhubungan dengan proses penuaan yang mengakibatkan penurunan kadar hormon pria, terutama testosteron. Hormon testosteron dalam kelenjar prostat akan diubah menjadi dihidrotestosteron (DHT). DHT inilah yang kemudian secara kronis merangsang kelenjar prostat sehingga membesar (Sutanto, 2021).

Masalah keperawatan utama yang muncul pada klien dengan BPH pre operasi adalah nyeri akut, retensi urin, dan gangguan eliminasi urin. Sedangkan diagnosis keperawatan BPH post operasi TURP antara lain adalah nyeri akut, disfungsi seksual, dan resiko infeksi. Diagnosis keperawatan dapat diangkat apabila tanda gejala yang ditemukan pada klien sesuai dengan yang ada dalam panduan SDKI.

Pemberian asuhan keperawatan mulai pengkajian hingga evaluasi pada klien dengan BPH dapat membantu mengurangi/menghilangkan keluhan klien serta meningkatkan derajat kesehatan klien apabila di aplikasikan dengan benar dan cermat.

 

5.2 Saran

Disarankan kepada sejawat yag telah membaca makalah ini dapat menerapkan pelaksanaan asuhan keperawatan kepada klien sesuai dengan panduan SDKI, SIKI, dan SLKI yang menderita BPH untuk meningkatkan derajat kesehatan klien.               

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Amadea, R. A., Langitan, A., Wahyuni, R. D., & Program, M. P. (2019). Benign prostatic hyperplasia (bph). 1(2), 172–176.

Firdaus, T. (2017). Hubungan Pengetahuan Tentang Benign Prostate Hyperplasia ( BPH ) dengan Tingkat Kecemasan Klien Pre- Association Between Benign Prostate Hyperplasia Levels in Pre-Operative Patients. Jurnal Ilmu Kesehatan, 2017, 13.

Handriana, I. (2017). Pengetahuan Dan Sikap Keluarga Dalam Memberikan Perawatan Pada Anak Usia 4-6 Tahun Penderita Asma Di Attitudes Family in Providing Treatment in Children Age 4-6 Years of Asma Diseases in Cideres Hospital District Majalengka in 2017.

Lestyani, L. and Sudaryanto, S., 2020. Terapi Musik Klasik Canon In D Major Composer Johann Pachelbel Dalam Menurunkan Tingkat Nyeri Pada Asuhan Keperawatan Pasien Post Operatif Benigna Prostat Hiperplasia (BPH). Jurnal Keperawatan CARE, 10(1).

Mochtar, C. A., Umbas, R., Soebadi, D. M., Rsyid, N., Noegroho, B. S., Poernomo, B. B., Tjahjodjati, Danarto, H. ., Wijanarko, S., Warli, S. M., & Hamid, A. R. (2015). Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI) : Pembesaran Prostat Jinak ( Benign Prostatic Hyperplasia / BPH ). 8–33.

Puspitawati, E.D., 2019. Upaya Penurunan Nyeri Post Op Turp Hari Ke 1 Dengan Terapi Musik Klasik Pada Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hiperplasia di RSUD Soehadi Prijonegoro Sragen. DIII Keperawatan.

Sumberjaya, I. W., & Mertha, I. M. (2020). Mobilisasi Dini dan Penurunan Skala Nyeri pada Klien Post Operasi TURP Benign Prostate Hyperplasia. Jurnal Gema Keperawatan, 13(1), 43–50. https://doi.org/10.33992/jgk.v13i1.1220

Sutanto, R. L. (2021). Hiperplasia Prostat Jinak: Manajemen Tatalaksana Dan Pencegahan. Jimki, 8(2021), 3.

Syahwal, M., Dewi, I., Pengajar, S., & Diii, P. (2016). Faktor Resiko Kejadian Benigna Prostat Hiperplasia ( BPH ) Di Poli Klinik Urologi. Terapeutik Jurnal, 23–31.

 Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia Edisi 1. Jakarta: PPNI.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standart Intervensi Keperawatan Indonesia Edisi 1. Jakarta: PPNI.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2018. Standart Luaran Keperawatan Indonesia Edisi 1. Jakarta : PPNI.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iyadatul Maridh (Menjenguk Orang Sakit)

NILAI KEADILAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN ILMU

FALSAFAH KEPERAWATAN "PHILOSOPHICAL THEORY"