MAKALAH KEPERAWATAN JIWA TERAPI MODALITAS

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental spiritual dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa kesehatan jiwa adalah bagian dari kesehatan dan merupakan kemampuan individu untuk dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga dapat mengatasi tekanan dan dapat  bekerja secara produktif  atau dapat berkontribusi untuk komunitas dan lingkungannya (UU No.18 Tahun 2014). Selanjutnya Orang Dengan Gangguan Jiwa yang disingkat ODGJ adalah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi sebagai manusia (UU No.18 Tahun 2014). (Ranika, 2018)

Terapi modalitas merupakan terapi yang memfokuskan cara pendekatan dengan pasien gangguan jiwa yang bertujuan untuk mengubah prilaku pasien gangguan jiwa yang tadinya berprilaku maladaptif menjadi adaptif. Terapi modalitas adalah suatu kegiatan dalam memberikan asuhan keperawatan baik di institusi maupun di masyarakat, yang bermanfaat bagi keswa dan berdampak teraupeutik. (Ranika, 2018)

Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa sebagian besar pemberian terapi modalitas dalam kategori penuh, yaiu sejumlah 39 pasien (65,0%) sedangkan pemberian terapi modalitas dalam kategori tidak penuh sejumlah 21 pasien (35,0%). Terapi modalitas merupakan hal yang utama yang diberikan dalam keperawatan jiwa. Terapi ini diberikan dalam upaya mengubah perilaku pasien dan perilaku yang maladaptive menjadi perilaku adaptif. (Hadiyanto & Choiriyah, 2016)

Masalah kesehatan jiwa telah menjadi masalah kesehatan yang belum terselesaikan di masyarakat, baik pada tingkat global maupun nasional, terlebih di masa pandemi COVID-19, seperti yang dilansir oleh Kemenkes RI pada tanggal 07 Oktober 2021 (Widyawati, 2021). Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi. Data tersebut menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa masih sangat perlu untuk diperhatikan.

Penanganan masalah kesehatan jiwa perlu keterlibatan semua pihak, termasuk bidang keperawatan. Kehadiran perawat sebagai petugas kesehatan yang berada disamping klien selama 24 jam menjadi sangat penting. Pelaksanaan asuhan keperawatan harus dilaksanakan secara komperehensif dan holistik, termasuk monitor dan evaluasi kondisi kesehatan mental dari klien gangguan jiwa.

Banyak ahli dalam kesehatan jiwa memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap apa yang dimaksud gangguan jiwa dan bagaimana gangguan perilaku terjadi. Perbedaan pandangan tersebut tertuang dalam bentuk model konseptual kesehatan jiwa. Pandangan model psikoanalisa berbeda dengan pandangan model social, model perilaku, model eksistensial, model medical, berbeda pula dengan model stress – adaptasi. Masing-masing model memiliki pendekatan unik dalam terapi gangguan jiwa termasuk terapi modalitas. Terapi modalitas sendiri mempunyai teknik dan jenis sendiri dalam menangani pasien jiwa yang dari kami mahasiswa belum mengetahui dengan baik, oleh karena itu kami membuat makalah ini dengan tujuan mengetahui lebih dalam tentang apa itu terapi modalitas dan dapat membagikan ilmu tentang terapi modalitas kepada teman-teman juga.

 

1.2  Rumusan Masalah

Apakah yang dimaksud dengan Terapi Modalitas ?

 

1.3  Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu : Untuk mengetahui tentang apa itu Terapi Modalitas

1.4  Manfaat

Manfaat dari penulisan makalah ini diharapkan mahasiswa dapat mengambil makna dari filosofi teori keperawatan agar dapat menerapkan pada praktik keperawatan baik dalam ruang lingkup pendidikan, pelayanan, dan penelitian.

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Terapi Modalitas

Terapi modalitas merupakan terapi utama dalam keperawatan jiwa. Sebagai seorang terapis,  perawat harus mampu mengubah perilaku maladaftif pasien menjadi perilaku yang adaptif serta meningkatkan potensi  yang dimiliki pasien. Ada bermacam-macam terapi modalitas dalam keperawatan jiwa seperti terapi individu, terapi keluarga, terapi bermain, terapi lingkungan, terapi biologi dan terapi aktifitas kelompok. Terapi modalitas dapat dilakukan secara individu maupun kelompok atau dengan memodifikasi lingkungan dengan cara mengubah seluruh lingkungan menjadi lingkungan yang terapeutik untuk klien, sehingga memberikan kesempatan klien untuk belajar dan mengubah perilaku dengan memfokuskan pada nilai terapeutik dalam aktivitas dan interaksi. (Ns. Nurhalimah, 2016)

Ada beberapa jenis terapi modalitas dalam keperawatan jiwa seperti :

1.      Terapi Individu

2.      Terapi Kelompok

3.      Terapi Keluarga

4.      Terapi Lingkungan

5.      Terapi Biologis

6.      Terapi Kognitif

Terapi modalitas keperawatan jiwa merupakan bentuk terapi non-farmakologis yang dilakukan untuk memperbaiki dan mempertahankan sikap klien agar mampu bertahan dan bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat sekitar dengan harapan klien dapat terus bekerja dan tetap berhubungan  dengan  keluarga, teman, dan sistem pendukung yang ada ketika menjalani terapi.

Pemberian terapi modalitas yang penuh didapatkan oleh pasien setiap harinya yakni, terapi psikofarmaka yang diberikan dalam rentang tiap 12 jam, terapi individu pada setiap shif dengan strategi pertemuan (SP) pasien dengan perilaku kekerasan dan terapi aktifitas kelompok. Terapi aktifitas kelompok dikhususkan dengan topik stimulasi persepsi perilaku kekerasan. Sedangkan pasien yang mendapatkan terapi modalitas tidak penuh, hanya mendapat 2 terapi yakni psikofarmaka dan terapi individu. Untuk terapi aktifitas kelompok sejumlah 21 pasien tidak bisa mengikuti secara rutin dikarenakan banyak faktor diantaranya harus mengikuti kegiatan rehabilitasi di unit rehabilitasi dan pasien pada saat jam terapi aktifitas kelompok sedang tidak ada

2.1.1 Tujuan Terapi Modalitas 

Tujuan dilaksanakannya terapi modalitas dalam keperawatan jiwa adalah:

1.      Menimbulkan kesadaran terhadap salah satu perilaku pasien

2.      Mengurangi gejala gangguan jiwa

3.      Memperlambat kemunduran

4.      Membantu adaptasi terhadap situasi sekarang

5.      Membantu keluarga dan orang-orang yang berarti

6.      Mempengaruhi keterampilan merawat diri sendiri

7.      Meningkatkan aktivitas

8.      Meningkatkan kemandirian (Prabowo,2014).

2.1.2 Peran Perawat Dalam Terapi Modalitas

Secara umum peran perawat dalam pelaksanaan terapi modalitas bertindak sebagai leader, fasilitator, evaluator dan motivator ( Nasir dan Muhits, 2011). Tindakan tersebut meliputi:

1.      Mendidik dan mengorientasi kembali seluruh anggota keluarga, misalnya perawat menjelaskan mengapa komunikasi itu penting, apa visi seluruh keluarga, kesamaan harapan apa yang dimiliki semua anggota keluarga.

2.      Memberikan dukungan kepada klien serta sistem yang mendukung klien untuk mencapai tujuan dan usaha untuuk berubah. Perawat menyakinkan bahwa anggota keluarga klien mampu memecahkan masalah yang dihadapi anggota keluarganya.

3.      Mengkoodinasi dan mengintegrasi sumber pelayanan kesehatan. Perawat menunjukkan institusi kesehatan mana yang harusbekerja sama dengan keluarga dan siapa yang bisa diajak konsultasi

4.      Memberi pelayanan prevensi primer, sekunder dan tersier melalui penyuluhan, perawatan dirumah, pendidikan dan sebagainnya. Bila ada anggota keluarga yang kurang memahami perilaku sehat didiskusikan   atau bila ada keluarga yang membutuhkan perawatan.

2.2 Macam-Macam Terapi Modalitas

2.2.1 Terapi Individu

Terapi individu merupakan bentuk terapi yang menekankan pada perubahan individu dengan cara mengkaji perasaan, sikap dan cara berfikir dan perilakunya. Hal ini bertujuan agar pasien mampu memahami diri dan perilakunya sendiri, membuat perubahan personal atau berusaha lepas dari rasa sakit hati dan ketidakbahagiaan. Pada pelaksanaan terapi individu ini perawat di ruang rawat inap menggunakan strategi pertemuan (SP) interaksi dengan pasien perilaku kekerasan. Diantara materi interaksi individu adalah melatih klien relaksasi nafas dalam ketika emosi akan muncul. Relaksasi  nafas dalam merupakan salah satu cara untuk menurunkan respon emosi seseorang. (Hadiyanto & Choiriyah, 2016)

Hasil penelitian Sumirta et al  (2013) tentang pengaruh terapi relaksasi nafas dalam terhadap pengendalian marah klien dengan perilaku kekerasan di RSJ Provinsi Bali menunjukkan bahwa kemampuan mengendalikan marah pada pasien dengan perilaku kekerasan mengalami peningkatan yang signifikan setelah diberikan terapi dan dilatih melakukan nafas dalam dengan nilai p value =0,000 < α (0,05). Hal ini menunjukkan ada pengaruh teknik rekasasi nafas dalam terhadap pengendalian marah klien dengan perilaku kekerasan. (Hadiyanto & Choiriyah, 2016)

Menurut Smeltzer dan Bare (2002) relaksasi nafas dalam dapat meningkatkan ventilasi alveoli, memelihara pertukaran gas, mencegah atelektase paru, memberikan perasaan tenang, mengurangi stress baik fisik ataupun emosional. Relaksasi nafas dalam merangsang tubuh untuk melepaskan opioid endogen yaitu endorphin dan enkefalin. Dilepaskannya hormon endorphin dapat memperkuat daya tahan tubuh, menjaga sel tetap awet muda, melawan penuaan, menurunkan agresifitas dalam hubungan antar manusia. (Hadiyanto & Choiriyah, 2016)

Terapi individu Adalah suatu hubungan yang terstruktur yang terjalin antara perawat dan klien untuk mengubah perilaku klien. Diaman hubungan yang terjalin merupakan  hubungan yang disengaja dengan tujuan terapi, dilakukan dengan tahapan sistematis (terstruktur) sehingga melalui hubungan ini diharapkan terjadi  perubahan tingkah laku klien sesuai dengan tujuan yang ditetapkan di awal hubungan. Hubungan terstruktur dalam terapi individual ini, bertujuan agar klien mampu menyelesaikan konflik yang dialaminya. Selain itu klien juga diharapkan mampu meredakan penderitaan (distress) emosional, serta mengembangkan cara yang sesuai dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. (Ns. Nurhalimah, 2016)

Tahapan hubungan dalam terapi individual meliputi:

a.       Tahapan Orientasi

Tahap orientasi dilakukan ketika perawat pertama kali berinteraksi dengan klien.dilaksanakan pada tahap ini, tindakan yang pertama kali harus dilakukan  adalah membina hubungan saling percaya dengan klien. Hubungan saling percaya antara perawat dan klien sangat penting terjalin, karena dengan terjalinnya hubungan saling percaya, klien dapat diajak untuk mengekspresikan seluruh permasalahannya dan ikut bekerja sama dalam menyelesaikan masalah yang dialami, sepanjang berhubungan dengan perawat.  Bila hubungan saling percaya telah terbina dengan baik, tahapan berikutnya adalah klien bersama perawat mendiskusikan apa yang menjadi penyebab timbulnya masalah yang terjadi pada klien, jenis konflik yang terjadi, juga dampak dari masalah tersebut terhadap klien  Tahapan orientasi diakhiri dengan adanya kesepakatan antara perawat dan klien tentang tujuan yang hendak dicapai dalam hubungan perawat-klien dan bagaimana kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut.

b.      Tahapan Kerja

Pada tahap ini perawat memiliki peran yang sangat penting sebagai seorang terapis dalam memberikan berbagi intervensi keperawatan. Keberhasilan pada tahap ini ditandai dengan kemampuan perawat dalam mengali dan mengeksplorasiklien untuk mengungkapkan permasalahan yang dialami. Pada tahap ini juga sangat penting seorang terapis Pada tahap ini, klien dibantu untuk dapat mengembangkan pemahaman tentang dirinya, dan apa yang terjadi dengan dirinya. Selain itu klien  didorong untuk berani mengubah perilaku dari perilaku maladaptive menjadi perilaku adaptif.

c.       Tahapan Terminasi

Tahap terminasi terjadi bila klen dan perawat menyepakati bahwa masalah yang mengawali terjalinnya hubungan terapeutik telah terselesaikan dan klien telah mempu mengubah perilaku dari maladaptif menjadi adaptif. Pertimbangan lain untuk melakukan terminasi adalah apabila klien telah merasa lebih baik, terjadi peningkatan fungsi diri, social dan pekerjaan, serta yang terpenting adalah  tujuan terapi telah tercapai. (Ns. Nurhalimah, 2016)

2.2.2 Terapi Kelompok

Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau arahkan oleh perawat spesialis jiwa atau perawat jiwa yang telah terlatih. Terapi kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi klien dengan gangguan interpersonal. (Pardede & Laia, 2020)

Terapi aktivitas kelompok merupakan terapi yang dilakukan pada kelompok penderita berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh seseorang terapis. Menurut Keliat dan Pawirowiyono (2016) tujuan kelompok adalah membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain, tempat berbagi pengalaman dan untuk menemukan cara menyelesaikan masalah. (Pardede & Laia, 2020)

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan kemampuan mengontrol perilaku kekerasan setelah dilakukan Terapi Aktivitas kelompok stimulasi persepsi adalah konsentrasi dan adanya ketertarikan responden terhadap Terapi Aktivitas Kelompok yang dilaksanakan, sehingga setelah dilaksanannya TAK ini, kemampuan responden dalam mengontrol perilaku kekerasan dapat mengalami peningkatan. (Pardede & Laia, 2020)

Salah satu contoh terapi kelompok merupakan senam yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sensori, upaya memusatkan perhatian, kesegaran jasmani dan mengekspresikan perasaan. Terapi ini menggunakan aktivitas sebagai stimulus dan terkait dengan pengalaman dalam kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok (Keliat & Pawirowiyono., 2016). Dengan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi ini, maka akan memberikan dampak positif dalam upaya pencegahan, meningkatkan pengobatan, dan pemulihan kesehatan. (Pardede & Laia, 2020)

Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi dapat dijadikan sebagai alternatif pilihan terapi untuk penanganan risiko perilaku kekerasan pasien jiwa. Hal ini didukung dengan teori yang menyebutkan TAK stimulasi persepsi risiko perilaku kekerasan bertujuan untuk membentuk kemampuan klien untuk menyelesaikan masalah dengan stimulus yang diberikan kepada pasien. (Pardede & Laia, 2020)

Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang diberikan  kepada  sekelompok pasien dilakukan dengan cara berdiskusi antar sesama pasien dan dipimpin atau diarahkan oleh seorang  therapist atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih. (Ns. Nurhalimah, 2016)

Manfaat TAK :

Secara umum terapi aktivitas kelompok mempunyai manfaat :

a.       Meningkatkan kemampuan menilai dan menguji kenyataan (reality testing) melalui komunikasi dan umpan balik dengan atau dari orang lain.

b.      Meningkatkan kemampuan  sosialisasi  pasien

c.       Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya hubungan antara reaksi emosional diri sendiri dengan perilaku defensive (bertahan terhadap stress) dan adaptasi.

d.      Membangkitkan motivasi bagi kemajuan  fungsi-fungsi psikologis seperti kognitif dan afektif. (Ns. Nurhalimah, 2016)

Secara khusus tujuan terapi aktifitas kelompok adalah

a.       Meningkatkan identitas diripasien

b.      Menyalurkan emosipasien  secara konstruktif. 

c.       Meningkatkan keterampilan hubungan sosial yang akan membantu pasien didalam kehidupan sehari-hari.

d.      Bersifat rehabilitatif: meningkatkan kemampuan ekspresi diri, keterampilan sosial, kepercayaan diri, kemampuan empati, dan meningkatkan kemampuan tentang masalah-masalah kehidupan dan pemecahannya. (Ns. Nurhalimah, 2016)

Jenis Terapi Aktifitas Kelompok

1)      TAK: Stimulasi Persepsi 

a)      Definisi: Terapi aktivitas kelompok (TAK): Stimulasi persepsi adalah terapi yang menggunakan akivitas sebagai stimulus yang  terkait dengan pengalaman dan atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok. Hasil diskusi kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternatif penyelesaian masalah. Fokus terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi adalah membantu pasien yang mengalami kemunduran orientasi.Terapi ini sangat efektif untuk pasein yang mengalami gangguan persepsi; halusinasi, menarik diri , gangguan orientasi  realitas, kurang inisiatif atau  ide. Pasien yang mengikuti kegiatan terapi ini merupakan pasien yang kooperatif, sehat fisik, dan dapat  berkomunikasi verbal.

b)        Tujuan TAK Stimulasi Persepsi

Tujuan umum : pasien memiliki kemampuan dalam  menyelesaikan masalah yang  diakibatkan oleh paparan stimulus yang diterimanya  Tujuan khususnya:

(1)   Pasien dapat mempersepsikan stimulus yang dipaparkan kepadanya dengan tepat.

(2)   Klien dapat menyelesaikan masalah yang timbul dari stimulus yang dialami.

c)      Aktivitas dalam TAK terbagi dalam empat bagian

(1)   Mempersepsikan stimulus nyata sehari-hari yaitu:   Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Stimulasi Persepsi yang dilakukan adalah: menonton televisi. membaca majalah/koran/artikel dan melihat gambar.

(2)   Stimulus nyata dan respons yang dialami dalam kehidupan  Untuk TAK ini pasien yang mengikuti adalah pasien dengan halusinasi, dan pasien menarik diri yang telah mengikuti TAKS,  dan pasien dengan perilaku kekerasan. Aktivitas ini dibagi dalam beberapa sesi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu :

-          Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi : mengenal kekerasan yang bisa dilakukan materi terapi ini meliputi penyebab, tanda dan gejala, perilaku kekerasan; akibat perilaku kekerasan.

-          Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi : mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan fisik

-          Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi : mencegah perilaku kekerasan melalui interaksi sosial asertif;

-          Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi : mencegah perilaku kekerasan melalui kepatuhan minum obat;

-          Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi : mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan ibadah.

(3)   Stimulus yang tidak nyata dan respons yang dialami dalam kehidupan  Aktivitas dibagi dalam beberapa sesi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu: Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi : mengenal halusinasi

2)      Terapi Aktifitas Kelompok Sosialisasi

Tujuan umum dari terapi aktifitas kelompok sosialisasi adalah meningkatkan kemampuan sosialisasi pada pasien dengan isolasi sosial. Sedangkan tujuan khususnya adalah:

a)      Meningkatkan kemampuan komunikasi verbal pasien

b)      Pasien dapat meningkatkan kemampuan komunikasi non verbal

c)      Pasien dapat berlatih mematuhi peraturan

d)     Pasien dapat meningkatkan interaksi dengan klien lain

e)      Pasien dapat meningkatkan partisipasi dalam kelompok

f)       Pasien dapat mengungkapkan pengalamannya yang menyenangkan

g)      Pasien dapat menyatakan perasaan tentang terapi aktifitas kelompok sosialisasi

Kriteria pasien yang dapat mengikuti terapi aktifitas kelompok sosialisasi adalah :

a)      Pasien menarik diri yang cukup kooperatif

b)      Klien yang sulit mengungkapkan perasaannya melalui komunikasi verbal

c)      Klien dengan gangguan menarik diri yang telah dapat berinteraksi dengan orang lain

d)     Klien dengan kondisi fisik yang dalam keadaan sehat (tidak sedang mengidap penyakit fisik tertentu seperti diare, thypoid dan lain-lain)

e)      Klien halusinasi yang sudah dapat mengontrol halusinasinya

f)       Klien dengan riwayat marah/amuk yang sudah tenanag. (Ns. Nurhalimah, 2016)

 

Tahapan Terapi Aktifitas Kelompok (TAK)

Terapi aktifitas kelompok terdiri dari 4 fase yaitu:

1)      Fase Prakelompok: Fase ini  dimulai  dengan membuat tujuan terapi, menentukan leader, jumlah anggota, kriteria anggota, tempat dan waktu kegiatan serta  media yang digunakan.  Jumlah anggota pada terapi kelompok biasanya 7-8 orang. Sedangkan jumlah minimum 4 dan maksimum 10. Kriteria anggota yang da  mengikuti terapi aktifitas kelompok adalah:  sudah terdiagnosa baik medis maupun keperawatan, tidak terlalu gelisah, tidak agresif, serta  tidak terdiagnosa dengan waham.

2)      Fase Awal Kelompok 

Fase ini ditAndai dengan timbulnya ansietas karena masuknya anggota kelompok, dan peran baru.  fase ini terbagi atas tiga fase, yaitu orientasi, konflik, dan kohesif.

a)      Tahap orientasi.

Pada fase ini anggota mulai mencoba mengembangkan sistem sosial masingmasing, leader menunjukkan rencana terapi dan menyepakati kontrak dengan anggota.

b)      Tahap konflik  

Merupakan masa sulit dalam proses kelompok. Pemimpin perlu memfasilitasi ungkapan perasaan, baik positif maupun negatif dan membantu kelompok mengenali penyebab konflik. Serta mencegah perilaku perilaku yang tidak produktif

c)      Tahap kohesif  

Anggota kelompok merasa bebas membuka  diri tentang informasi dan lebih intim satu sama lain

3)      Fase Kerja Kelompok

Fase ini ditAndai oleh perasaan puas dan pengalaman kelompok akan digunakan secara individual pada kehidupan sehari-hari. Terminasi dapat bersifat sementara (temporal) atau akhir.

3)      Fase Terminasi

Fase ini ditAndai oleh perasaan puas dan pengalaman kelompok akan digunakan secara individual pada kehidupan sehari-hari. Terminasi dapat bersifat sementara (temporal) atau akhir. (Ns. Nurhalimah, 2016)

2.2.3 Terapi Keluarga

Terapi keluarga adalah terapi yang diberikan kepada seluruh anggota keluarga dimana setiap anggota keluarga memiliki peran dan fungsi sebagai terapis. Terapi ini bertujuan agar keluarga mampu melaksanakan fungsinya dalam merawat klien dengan gangguan jiwa. Untuk itu sasaran utama terapi jenis ini adalah keluarga yang mengalami disfungsi; yaitu keluarga yang tidak mampu melaksanakan fungsi-fungsi yang dituntut oleh anggotanya.

Dalam terapi keluarga semua masalah keluarga yang dirasakan diidentifikasi  selanjutnya setiap anggota keluarga mengidentifikasi penyebab masalah tersebut dan kontribusi setiap anggota keluarga terhadap munculnya masalah.untuk kemudian mencari solusi untuk mempertahankan keutuhan keluarga dan meningkatkan atau mengembalikan fungsi keluarga seperti yang seharusnya.

Proses terapi keluarga terdiri dari tiga tahapan yaitu fase 1 (perjanjian), fase 2 (kerja), fase 3 (terminasi). Di fase pertama perawat dan klien mengembangkan hubungan saling percaya, isu-isu keluarga diidentifikasi, dan tujuan terapi ditetapkan bersama. Kegiatan di fase kedua atau fase kerja adalah keluarga dengan dibantu oleh perawat sebagai terapis berusaha mengubah pola interaksi antar anggota keluarga, meningkatkan kompetensi masing-masing anggota keluarga, dan mengeksplorasi batasan-batasan dalam keluarga serta peraturan-peraturan yang selama ini ada.

Terapi keluarga diakhiri di fase terminasi di mana keluarga mampu memecahkan masalah yang dialami dengan mengatasi berbagai isu yang timbul. Keluarga juga diharapkan dapat mempertahankan perawatan yang berkesinambungan.

2.2.4 Terapi Lingkungan

Terapi lingkungan adalah suatu terapi yang dilakukan dengan cara mengubah atau menata lingkungan agar tercipta perubahan perilaku pada klien dari perilaku maladaptive menjadi perilaku adaptif. Proses terapi dilakukan dengan mengubah seluruh lingkungan menjadi lingkungan yang terapeutik untuk klien. Dengan lingkungan yang terapeutik akan memberikan kesempatan klien untuk belajar dan mengubah perilaku dengan memfokuskan pada nilai terapeutik dalam aktivitas dan interaksi. (Ns. Nurhalimah, 2016)

Terapi lingkungan dapat membantu pasien untuk mengembangkan rasa harga diri, mengembangkan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, membantu mempercayai orang lain. Terapi lingkungan dapat dibagi menjadi 4 jenis yaitu : terapi rekreasi, terapi kreasi seni, pettherapy dan plantherapy. Jenis terapi lingkungan yang tepat diterapkan pada pasien harga diri rendah adalah yang pertama terapi rekreasi, tujuan dari terapi tersebut adalah agar pasien dapat melakukan kegiatan secara konstruktif dan menyenangkan, dan mengembangkan kemampuan hubungan sosial, yang kedua adalah terapi kreasi seni, dalam terapi kreasi seni terbagi menjadi empat bagian yaitu terapi menari, atau dance, terapi musik, terapi menggambar atau melukis dan terapi literature atau biblio. Keempat jenis terapi ini membantu pasien untuk mengkomunikasikan tentang perasaan – perasaan dan kebutuhan – kebutuhannya, memberikan kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan tentang apa yang terjadi dengan dirinya serta memberikan kesempatan pada pasien untuk mengembangkan wawasan diri dan bagaimana mengekspresikan pikiran dan perilaku sesuai dengan norma yang baik. (Mulyawan & Agustina, 2018)

Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan untuk melakukan kegiatan pada pasien yang mengalami harga diri rendah adalah dengan terapi kreasi seni ; menggambar yang merupakan salah satu bagian dari terapi lingkungan. Terapi lingkungan berkaitan erat dengan stimulasi psikologis seseorang yang akan berdampak pada kesembuhan fisik maupun psikologis seseorang yang akan berdampak pada kesembuhan baik pada kondisi fisik maupun psikologis seseorang. (Mulyawan & Agustina, 2018)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nasir dan Muhith pada tahun 2011  mengatakan  60% faktor yang menentukan faktor kesehatan seseorang adalah kondisi lingkungannya. Terapi lingkungan yang terdiri dari terapi rekreasi, terapi kreasi seni dapat membantu pasien untuk mengembangkan rasa harga diri, mengembangkan kemampuan untuk melakukan kegiatan pada pasien dengan harga diri rendah. (Mulyawan & Agustina, 2018)

Jenis terapi lingkungan yang dapat diterapkan pada pasien harga diri rendah adalah terapi kreasi seni khususnya terapi stimulus menggambar  tujuannya untuk mengekspresikan tentang apa yang terjadi dengan dirinya serta memberikan kesempatan melakukan kegiatan pada pasien untuk mengembangkan wawasan diri dan bagaimana melakukan sesuatu kegiatan dan perilaku sesuai dengan norma norma yang baik. (Mulyawan & Agustina, 2018)

Terapi kreasi seni menggambar diterapkan karena ada anggapan dasar bahwa pasien harga diri rendah akan dapat mengekspresikan perasaan melalui terapi lingkungan seni menggambar dari dengan ekspresi verbal. Dengan terapi kreasi seni menggambar perawat dapat mengkaji tingkat perkembangan, status emosional pasien dengan harga diri rendah, hipotesa diagnostiknya, serta melakukan intervensi untuk mengatasi masalah pasien harga diri rendah tersebut. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kegiatan pada pasien yang mengalami harga diri rendah adalah dengan terapi kreasi seni menggambar yang merupakan salah satu terapi lingkungan. Terapi kreasi seni menggambar berkaitan erat dengan stimulasi psikologis seseorang yang akan berdampak pada kesembuhan baik pada kondisi fisik maupun pskilogis seseorang.  (Mulyawan & Agustina, 2018)

Menurut peneliti bahwa pasien harga diri rendah sebelum diberikan terapi kreasi seni menggambar tidak mampu melakukan kegiatan dan tidak mampu mengevaluasi secara positif terhadap diri sendiri karena pasien harga diri rendah selalu mengevaluasi negatif tentang dirinya, perlu diberikan reward terlebih dahulu untuk berinteraksi dengan pasien harga diri rendah agar dapat melakukan kegiatan selain itu pasien harga diri rendah mudah bosan sehingga tidak mampu menyebutkan kemampuan positif dan tidak mampu melakukan kegiatan. (Mulyawan & Agustina, 2018)

Pada penelitian Ruspawan  kemampuan mengekspresikan perasaan pada klien dengan harga diri rendah setelah diberikan terapi kreasi seni menggambar sebanyak dua kali menunjukan hasil 10 orang responden mampu mengekspresikan perasaan. Hal ini menunjukan terapi  kreasi menggambar berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan mengekspresikan perasaan dan melakukan kegiatan pada klien harga diri rendah. (Mulyawan & Agustina, 2018)

Nasir dan Muhith mengatakan seiring seringnya diberikan terapi modalitas pada pasien dengan harga diri rendah maka pasien akan mampu mengekspresikan perasaan dan mampu mengenal aspek positif serta mampu melakukan kegiatan secara mandiri sehingga dapat menghargai dirinya dan mempunyai perasaan yang berarti dan siap untuk kembali ke lingkungan masyarakat. (Mulyawan & Agustina, 2018)

Menurut peneliti bahwa pasien dengan harga diri rendah wajib diberikan terapi salah satunya terapi kreasi seni menggambar agar dapat melakukan kegiatan secara mandiri dan mampu mengevaluasi aspek positif terhadap diri sendiri, manfaat dari terapi kreasi seni menggambar adalah pasien dengan harga diri rendah dapat mengekspresikan perasaan dan dapat mengingat kegiatan positif yang dapat dilakukannya sehingga dapat melakukan kegiatan secara mandiri dan lebih percaya diri terhadap kemampuan diri.(Mulyawan & Agustina, 2018)

Pasien dapat mengenali aspek positif yang dimilikinya dan dapat melakukan kegiatan secara mandiri jika diberikan terapi stimulus kreasi seni.14 Terapi kreasi seni menggambar dapat dijadikan terapi suportif untuk pasien dengan harga diri rendah sehingga pasien dapat mengevaluasi keadaan diri dengan baik dan dapat berimajinasi sehingga pasien dapat terhindar dari aspek negatif yang dimiliki. (Mulyawan & Agustina, 2018)

Penting sekali bagi seorang perawat untuk memberikan kesempatan, dukungan, pengertian agar klien dapat berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Dengan terapi lingkungan  klein belajar ketrampilan baru seperti  mentaati aturan yang berlaku, selain itu klien belajar untuk mewujudkan haarapan dari lingkungan sekitar yang telah disepakti bersamaserta belajar untuk menghadapi dan meyelesaikan tekanan dari teman (peer group), serta belajar  berinteraksi dengan orang lain. Tujuan akhir dari terapi lingkungan adalah meningkatnya kemampuan klien dalam berkomunikasi dan mengambil keputusan yang pada akhirnya harga diri klien meningkat. Selain itu dengan terapi lingkungan diajarkan cara beradaptasi dengan lingkungan baru di luar rumah sakit sepessrti lingkungan rumah, tempat kerja dan masyarakat. (Ns. Nurhalimah, 2016)

2.2.5 Terapi Biologis

Penerapan terapi biologis atau terapi somatic didasarkan pada model medical di mana gangguan jiwa dipAndang sebagai penyakit. PAndangan model ini berbeda dengan model konsep terapi yang lain yang, Karena model terapi ini  memAndang bahwa gangguan jiwa murni dissebabkan karena adanya gangguan pada jiwa semata, tanpa mempertimbangkan adanya kelaianan patofisiologis. Proses terapi dilakukan dengan melakukan pengkajian spesifik dan pengelompokkasn gejala dalam sindroma spesifik. Perilaku abnormal dipercaya akibat adanya perubahan biokimiawi tertentu. (Ns. Nurhalimah, 2016)

Beberapa jenis terapi somatic gangguan jiwa seperti: pemberian obat (medikasi psikofarmaka), intervensi nutrisi,electro convulsive therapy (ECT), foto terapi, dan bedah otak. Beberapa terapi yang sampai sekarang tetap diterapkan dalam pelayanan kesehatan jiwa meliputi medikasi psikoaktif dan ECT. (Ns. Nurhalimah, 2016)

A      Pemberian obat (medikasi psikofarmaka)

Obat psikofarmaka disebut juga sebagai obat psikotropika, atau obat psikoaktif atau obat psikoteraputik. Penggolongan obat ini didasarkan atas adanya kesamaan efek obat  terhadap penurunan aatau berkurangnya gejala. Kesamaan dalam susunan kimiawi obat dan kesamaan dalam mekanisme kerja obat. Obat psikofarmaka adalah obat yang bekerja pada  susunan saraf pusat (SSP) dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas mental dan perilaku (mind and behavior altering drugs), digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik (psychotherapeutic medication). Obat psikofarmaka, sebagai salah satu zat psikoaktif bila digunakan secara salah (misuse) atau disalahgunakan (abuse) beresiko menyebabkan gangguan jiwa. Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ III) penyalahgunaan obat psikoaktif digolongkan kedalam gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif. Gangguan mental dan perilaku tersebut dapat bermanifestasi dalam bentuk:

1.      Intoksikasi akut (tanpa atau dengan komplikasi)

Kondisi ini berkaitan dengan dosis zat yang digunakan (efek yang berbeda pada dosis yang berbeda). Gejala intoksikasi tidak selalu mencerminkan aksi primer dari zat dan dapat terjadi efek paradoksal.

2.       Penggunaan yang merugikan (harmful use)

Kondisi ini merupakan pola penggunaan zat psikoaktif yang merusak kesehatan (dapat berupa fisik dan atau mental). Pada kondisi ini belum menunjukkan adanya sindrom ketergantungan tetapi sudah berdampak timbulnya  kelemahan/hendaya psikososial sebagai dampaknya.

3.      Sindrom ketergantungan (dependence syndrome)

Kondisi ini ditandai dengan munculnya  keinginan yang sangat kuat (dorongan kompulsif) untuk menggunakan zat psikoaktif secara terus menerus dengan tujuan memperoleh efek psiko aktif dari zat tersebut. Pada kondisi ini individu tidak mampu menguasai keinginan untuk menggunakan zat, baik mengenai mulainya, menghentikannya, ataupun membatasi jumlahnya (loss of control). Pengurangan dan penghentian penggunaan zat ini, akan menimbulkan keadaan putus zat, yang akan mengakibatkan perubahan fisiologis yang sangat tidak menyenangkan, sehingga memaksa orang tersebut menggunakannya lagi atau menggunakan obat lain yang sejenis untuk menghilangkan gejala putus obat tersebut.  Untuk memperoleh efek yang sama (gejala toleransi), individu harus meningkatkan dosis penggunaan zat psikoaktif dan terus menggunakannya walaupun individu tersebut, menyadari adanya akibat yang merugikan kesehatannya.

4.      Keadaan putus obat (withdrawal state)

Adalah gejala-gejala fisik dan mental yang timbul pada saat penghentian penggunaan zat yang terus menerus dalam jangka waktu panjang atau dosis tinggi. Gejala putus obat, sangat tergantung pada jenis dan dosis zat yang digunakan. Gejala putus zat,akan mereda bila pengguna meneruskan penggunaan zat. Ini merupakan salah satu indikator dari sindrom ketergantungan.

5.      Gangguan psikotik

Merupakan sekumpulan gejala-gejala psikotik yang terjadi selama atau segera setelah penggunaan zat psikoaktif. Gejala psikotik ditandai dengan adanya halusinasi, kekeliruan identifikasi, waham dan atau ideas of reference (gagasan yang menyangkut diri sendiri sebagai acuan) yang seringkali bersifat kecurigaan atau kejaran.  Selain itu timbul gangguan psikomotor (excitement atau stupor) dan afek abnormal yang terentang antara ketakutan yang mencekam sampai pada kegembiraan yang berlebihan. Variasi gejala sangat dipengaruhi oleh jenis zat yang digunakan dan kepribadian pengguna zat

6.      Sindrom amnestik

adalah hendaya/gangguan daya ingat jangka pendek (recent memory) yang menonjol. Pada sindrom ini juga kadang-kadang muncul gangguan daya ingat jangka panjang (remote memory), sedangkan daya ingat segera (immediate recall) masih baik. Fungsi kognitif lainnya biasanya relative baik. Adanya gangguan sensasi waktu (menyusun kembali urutan kronologis, meninjau kejadian berulangkali menjadi satu peristiwa). Pada kondisi ini, kesadaran individu kompos mentis, namun terjadi perubahan kepribadian yang sering disertai apatis dan hilangnya inisiatif, serta kecenderungan mengabaikan keadaan

 

 

Jenis Obat Psikofarmaka :

1.      Obat anti-psikosis merupakan sinonim dari neuroleptics,major transqualizer,ataractics, antipsychotics, antipsychotic drugs, neuroleptics. Obat-obat anti-psikosis  merupakan antagonis dopamine yang bekerja menghambat reseptor dopamine dalam berbagai jaras otak. Sedian obat anti-psikosis yang ada di Indonesia adalah chlorpromazine, haloperidol, perphenazine, fluphenazine, fluphenazine decanoate, levomepromazine, trifluoperazine, thioridazine, sulpiride, pinozide, risperidone. 

2.      Obat anti-depresi sinonim dari thymoleptic, psychic energizers, anti depressants, anti depresan. Sediaan obat anti-depresi di Indonesia adalah amitriptyline, amoxapine, amineptine, clomipramine, imipramine, moclobemide, maprotiline, mianserin, opipramol, sertraline, trazodone, paroxetine, fluvoxamine, fluoxetine. Jenis obat anti-depresi adalah anti-depresi trisiklik, anti-depresi tetrasiklik, obat anti-depresi atipikal, selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), dan inhibitor monoamine okside (MAOI).

3.      Obat anti-mania merupakan sinonim dari mood modulators, mood stabilizers, antimanics.  Sediaan obat anti-mania di Indonesia adalah litium carbonate, haloperidol, carbamazepine.

4.      Obat anti-ansietas merupakan sinonim psycholeptics, minor transqualizers, anxiolytics, antianxiety drugs, ansiolitika.  Obat anti-ansietas terdiri atas golongan benzodiazepine dan nonbenzodiazepin. Sediaan obat anti-ansietas jenis benzodiazepine adalah diazepam, chlordiazepoxide, lorazepam, clobazam, bromazepam, oxasolam, clorazepate, alprazolam, prazepam. Sedangkan jenis non benzodiazepine adalah sulpiride dan buspirone.

5.      Obat anti-insomnia merupakan sinonim dari hypnotics, somnifacient, hipnotika. Sediaan obat anti-insomnia di Indonesia adalah nitrazepam, triazolam, estazolam, chloral hydrate.

6.      Obat anti-obsesif kompulsif merupakan persamaan dari drugs used in obsessivecompulsive disorders. Sediaan obat anti-obsesif kompulsif di Indonesia adalah clomipramine, fluvoxamine, sertraline, fluoxetine, paroxetine.

7.      Obat anti-panik merupakan persamaan dari drugs used in panic disorders. Sediaan obat anti-panik di Indonesia adalah imipramine, clomipramine, alprazolam, moclobemide, sertraline, fluoxatine, parocetine, fluvoxamine. Penggolongan obat anti-panik adalah obat anti-panik trisiklik (impramine, clomipramine), obat anti-panik benzodiazepine (alprazolam) dan obat anti-panik RIMA/reversible inhibitors of monoamine oxydase-A (moclobmide)serta obat anti-panik SSRI (sertraline, fluoxetine,paroxetine, fluvoxamine).

B       Foto Terapi

Foto terapi atau terapi sinar adalah terapi somatik pilihan. Terapi ini diberikan dengan memaparkan klien pada sinar terang 5-20x lebih terang daripada sinar ruangan. Klien biasanya duduk, mata terbuka, 1,5 meter di depan klien diletakkan lampu setinggi mata. Waktu dilaksanakan foto terapi bervariasi dari orang per orang. Beberapa klien berespon kalau terapi diberikan pada pagi hari, sementara yang lain lebih berespon kalau diberikan pada sore hari. Efek terapi ditentukan selain oleh lamanya terapi juga ditentukan oleh kekuatan cahaya yang digunakan. Dengan kekuatan cahaya sebesar 2500 lux yang diberikan selama 2 jam sehari efeknya sama dalam menurunkan depresi dengan terapi dengan kekuatan cahaya sebesar 10.000 lux dalam waktu 30 menit sehari.

Terapi sinar sangat bermanfaat dan menimbulkan efek yang positif. Kebanyakan klien membaik setelah 3-5 hari terapi kan tetapi bisa kambuh kembali segera setelah terapi dihentikan. Keuntungan yg lain klien tdk akan mengalami toleransi terhadap terapi ini.

1.      Indikasi  Fototerapi dpt menurunkan 75% gejala depresi yg dialami klien akibat perubahan cuaca (seasonal affective disorder (SAD)), misalnya pada musim hujan atau musim dingin (winter) di mana terjadi hujan, mendung terus menerus yang bisa mencetuskan depresi pada beberapa orang.

2.      Mekanisme Kerja : Fototerapi bekerja berdasarkan ritme biologis sesuai pengaruh cahaya gelap terang pd kondisi biologis. Dgn adanya cahaya terang terpapar pd mata akan merangsang sistem neurotransmiter serotonin & dopamin yang berperanan pada depresi.

3.      Efek Samping : Kebanyakan efek samping yg terjadi meliputi ketegangan pada mata, sakit kepala, cepat terangsang, insomnia, kelelahan, mual, mata menjadi kering, keluar sekresi dari hidung dan sinus.

 

C      Electroconvulsive Therapy – Ect

Terapi kejang listrik adalah suatu prosedur tindakan pengobatan pada pasien gangguan jiwa, menggunakan aliran listrik untuk menimbulkan bangkitan kejang umum, berlangsung sekitar 25–150 detik dengan menggunakan alat khusus yang dirancang aman untuk pasien. Pada prosedur tradisional, aliran listrik diberikan pada otak melalui dua elektroda dan ditempatkan pada bagian temporal kepala (pelipis kiri dan kanan) dengan kekuatan aliran terapeutik untuk menimbulkan kejang. Kejang yang timbul mirip dengan kejang epileptik tonik-klonik umum. Namun, sebetulnya yang memegang peran penting bukanlah kejang yang ditampilkan secara motorik, melainkan respons bangkitan listriknya di otak yang menyebabkan terjadinya perubahan faali dan biokimia otak.

Indikasi pemberian terapi ini adalah sebagai berikut :

1.      Depresi berat dengan retardasi motorik, waham (somatik dan bersalah, tidak ada perhatian lagi terhadap dunia sekelilingnya, ada ide bunuh diri yang menetap, serta kehilangan berat badan yang berlebihan).

2.      Skizofrenia terutama yang akut, katatonik, atau mempunyai gejala afektif yang menonjol.

3.      Mania.

Kontraindikasi pemberian terapi ini antara lain sebagai berikut :

1.      Tumor intrakranial, hematoma intrakranial.

2.      Infark miokardiak akut.

3.      Hipertensi Berat

Efek samping pemberian terapi ini meliputi hal berikut.

1.      Aritmia jantung.

2.      Apnea berkepanjangan.

3.      Reaksi toksik atau alergi terhadap obat-obatan yang digunakan untuk ECT.

Penerapan terapi biologis atau terapi somatic didasarkan pada model medical di mana gangguan jiwa dipandang sebagai penyakit. Ini berbeda dengan model konsep yang lain yang memandang bahwa gangguan jiwa murni adalah gangguan pada jiwa semata, tidak mempertimbangkan adanya kelaianan patofisiologis. Tekanan model medical adalah pengkajian spesifik dan pengelompokkasn gejala dalam sindroma spesifik. Perilaku abnormal dipercaya akibat adanya perubahan biokimiawi tertentu. Terapi somatic adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan gangguan jiwa dengan tujuan mengubah perilaku yang maladaptive menjadi perilaku yang adaptif dengan melakukan tindakan yang ditujukan pada kondisi fisik klien. Walaupun yang diberi perlakuan adalah fisik klien tetapi target terapi adalah prilaku klien. (Rachman, 2018)

2.2.6 Terapi Kognitif

Prinsip terapi ini adalah memodifikasi keyakinan dan sikap yang mempengaruhi perasaan dan perilaku klien. Proses terapi dilakukan dengan membantu menemukan stressos yang menjadi penyebab gangguan jiwa, selanjutnya mengidentifikasi dan mengubah pola fikir dan keyakinan yang tidak akurat menjadi akurat. (Ns. Nurhalimah, 2016)

Terapi kognitif berkeyakinan bahwa gangguan perilaku terjadi akibat pola keyakinan dan berfikir klien yang tidak akurat. Untuk itu salah satu prinsip terapi ini adalah modifikasi perilaku adalah dengan mengubah pola berfikir dan keyakinan tersebut. Fokus auhan adalah membantu klien untuk mengevaluasi kembali ide, nila yang diyakini serta harapan dan kemudian dilanjutkan dengan menyusun perubahan kognitif. (Ns. Nurhalimah, 2016)

Pemberian terapi kognitif bertujuan untuk :

a.       Mengembangkan pola berfikir yang rasional. Mengubah pola berfikir tak rasional yang sering mengakibatkan gangguan perilaku menjadi pola berfikir rasional berdasarkan fakta dan informasi yang actual.

b.      Membiasakan diri selalu menggunakan cara berfikir realita dalam menanggapi setiap stimulus sehingga terhindar dari distorsi pikiran.

c.       Membentuk perilaku baru dengan pesan internal. Perilaku dimodifikasi dengan terlebih dahulu mengubah pola berfikir. (Ns. Nurhalimah, 2016)

Bentuk intervensi dalam terapi kognitif meliputi mengajarkan untuk mensubstitusi pikiran klien, belajar penyelesaian masalah dan memodifikasi percakapan diri negatif.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

            Terapi modalitas ialah terapi dalam keperawatan jiwa, dimana perawat mendasarkan potensi yang dimiliki klien, (modal-modality) sebagai titik tolak terapi atau penyembuhan. Kombinasi terapi modalitas merupakan suatu yang sangat dianjurkan, Untuk itu perawat mempunyai peranan yang sangat penting untuk mengkombinasikan berbagai terapi modalitas sehingga perubahan perilaku yang dicapai akan maksimal. Untuk mencapai langkah ini tetntu dituntut semakin meningkatnya kemampuan perawat dalam melaksanakan berbagai pendekatan/strategi terapi modalitas ini. Belajar berkelanjutan karenanya menjadi hal yang wajib dilakukan setiap perawat.

3.2  Saran

            Terapi modalitas sudah sepantasnya masuk dalam standar asuhan keperawatan jiwa dan menjadi integral dalan standar asuhan keperawatan jiwa, khususnya pada tindakan keperawatan jiwa yang diberikan pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan jiwa utamanya di ruang rawat inap rumah sakit jiwa, Dengan demikian menjadi kewajiban perawat untuk memberikan terapi modalitas secara rutin sesuai dengan kebutuhan diberbagai tatanan pelayanan kesehatan jiwa dan menjadikan sebagai bagian dari budaya profesional sehingga dapat meningkatkan citra dan mutu pelayanan keperawatan jiwa bagi pasien dan keluarganya.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hadiyanto, H., & Choiriyah, Z. (2016). Hubungan antara terapi modalitas dengan tanda dan gejala perilaku kekerasan pada pasien skizofrenia diruang rawat inap RSJ. Prof Dr. Soerojo Magelang. 13.

Mulyawan, M., & Agustina, M. (2018). Terapi Kreasi Seni Menggambar Terhadap Kemampuan Melakukan Menggambar Bentuk pada Pasien Harga Diri Rendah. Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Indonesia, 08.

Ns. Nurhalimah. (2016). KEPERAWATAN JIWA (A. Ari & B. Asmo (eds.); Pertama). Pusdik SDM Kesehatan.

Pardede, J. A., & Laia, B. (2020). Decreasing Symptoms of Risk of Violent Behavior in Schizophrenia Patients Through Group Activity Therapy. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, 3(3), 291–300. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.32584/jikj.v3i3.621

Rachman, T. (2018). Terapi Biologis pada Gangguan Jiwa. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 10–27.

Ranika, S. (2018). Halusinasi, ODGJ, Terapi Modalitas, Terapi Senam.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iyadatul Maridh (Menjenguk Orang Sakit)

NILAI KEADILAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN ILMU

FALSAFAH KEPERAWATAN "PHILOSOPHICAL THEORY"