LAPORAN PENDAHULUAN KB MOW (METODE OPERATIF WANITA)
LAPORAN
PENDAHULUAN
- Definisi
MOW (Metode Operatif Wanita)
Kontrasepsi
merupakan upaya pencegahan terbuahinya sel telur oleh sel sperma (konsepsi).
Terdapat beberapa metode yang digunakan dalam kontrasepsi. Kontrasepsi mantap
merupakan salah satu metode kontrasepsi yang bersifat permanen. Kontrasepsi ini
hanya diperkenankan bagi mereka yang sudah mantap memutuskan untuk tidak lagi
mempunyai anak. Kontrasepsi mantap terdiri dari tubektomi (pada perempuan) dan
vasektomi (pada laki-laki). Tubektomi adalah tindakan mengikat atau memotong
saluran telur wanita sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan ovum yang
mengakibatkan orang yang bersangkutan tidak akan mendapatkan keturunan lagi (Hidayah & Lubis, 2019)
MOW
(Medis Operatif Wanita) / Tubektomi atau juga dapat disebut dengan sterilisasi.
MOW merupakan tindakan penutupan terhadap kedua saluran telur kanan dan kiri
yang menyebabkan sel telur tidak dapat melewati saluran telur, dengan demikian
sel telur tidak dapat bertemu dengan sperma laki laki sehingga tidak terjadi
kehamilan, oleh karena itu gairah seks wanita tidak akan turun
Sterilisasi
(tubektomi) merupakan salah kontrasepsi yang paling efektif. Keefektifan metode
sterilisasi mencapai 98,85% bila dilakukan sesuai dengan standar operasional
prosedur yang telah ditetapkan. Tubektomi memiliki keuntungan karena keluhan
lebih sedikit dibandingkan dengan cara kontrasepsi yang lain. Selain itu
kontrasepsi ini juga lebih praktis karena hanya memerlukan satu kali tindakan
saja. (Hidayah & Lubis, 2019)
Tubektomi pada wanita
adalah tindakan pada
kedua saluran telur
wanita yang mengakibatkan yang bersangkutan tidak akan
mendapatkan keturunan lagi.
Kontrasepsi ini untuk
jangka panjang dan
sering disebut sterilisasi.14 Peserta harus memenuhi persyaratan yaitu calon peserta harus
sukarela memutuskannya, terikat dalam
perkawinan yang sah dan
harmonis, memiliki sekurangnya dua anak yang sehat fisik
dan mental dan
calon peserta dalam
keadaan sehat yang
dinyatakan oleh pemeriksaan dokter (Afifah Nurullah, 2021)
Sterilisasi pada
wanita adalah salah
satu metode kontrasepsi
yang efektif dan
aman mencegah kehamilan permanen.
Metode sterilisasi dapat
dilakukan dengan berbagai
teknik, seperti laparoskopi
sterilisasi dengan menggunakan loops, atau klips khusus, ataupun elektrokauter,
ada pula metode histeroskopi
yang menggunakan kumparan
implant pada kedua
osteum tuba sehingga merangsang
tumbuhnya jaringan yang menyebabkan penyumbatan tuba permanen, dan yang paling
sering dilakukan adalah mini laparotomi sterilisasi pasca persalinan ataupun
sterilisasi saat akhir
operasi caesar(Fritz and
Speroff, 2011).Tuba sterilisasi
dapatdilakukan pada bagian apa tuba yang sehat menggunakan
berbagai metode operatif seperti Pomeroy’s, irving, uchida, maupun fimbriektomi. (Munizar et al., 2020)
Tujuan dilakukannya sterilasis adalah untuk menghentikan
peluang mempunyai anak dikemudianhari,
indikasinya biasanya berkaitan
dengan kondisi medis
yang membahayakan bila
terjadi kehamilan ataupun
kesulitan dalam persalinan,
dapat pula oleh karena
sudah cukup mempunyai anak. Beberapa wanita yang telah
melakukan sterilisasi muncul penyesalan dikemudian hari, dan sekitar 1-3%
memiliki keinginan untuk
mempunyai anak kembali(Becner, dkk, 2015).Keinginan untuk mempunyai
anak kembali paling
umum dikarenakan perubahan
status pernikahan pasca sterilisasi, kematian anak yang
dimiliki, satus sosial ekonomi rendah, dan tingkat pendidikan yang rendah. (Munizar et al., 2020)
- Etiologi Demam
- Manifestasi
Klinis Demam
1. Nyeri tekan lokal pada bagian post operasi
2. Pucat
D.
Waktu
Pelaksanaan MOW
1.
Setiap waktu selama siklus menstruasi apabila diyakini
secara rasional klien tersebut tidak hamil
2.
Hari ke-6 hingga ke-13 dari siklus menstruasi (fase
proliferasi)
3.
Pasca Persalinan (postpartum) a. Minilaparatomi : dalam
waktu 2 hari atau setelah 6 minggu atau 12 minggu b. Laparoskopi : tidak tepat
untuk klien pasca persalinan
4.
Pasca Keguguran Sesudah abortus, dapat dilakukan MOW pada
:
a. Triwulan pertama : dalam waktu 7 hari
sepanjang tidak ada bukti inveksi pelvik (minilaparatomi atau laparoskopi)
b. Triwulan kedua : dalam waktu 7 hari sepanjang
tidak ada bukti inveksi pelvik (minilaparatomi saja).
5.
Saat melakukan seksio sesarea Pada setiap operasi yang dilakukan
dengan membuka dinding perut, hendaknya dipertimbangkan apakah wanita tersebut
sudah 19 mempunyai indikasi untuk dilakukan MOW. Hal ini harus diterangkan
kepada pasangan suami istri karena kesempatan ini dapat dipergunakan sekaligus
untuk melakukan kontrasepsi mantap
E.
Pathway
F.
Pemeriksaan
Penunjang
1.
Pemeriksaan darah rutin :
untuk mengetahui adanya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya
infeksi
2.
Pemeriksaan
foto abdomen : untuk mengetahui adanya komplikasi pasca bedah.
3. Syarat
kontrasepsi Tubektomi
1. Harus
sudah memiliki paritas > 2 anak terkecil berumur 2 tahun.
2. Umur
ibu
Menganjurkan rumus 100 artinya umur ibu
dikalikan dijumlah anak setidak-tidaknya mendekati angka 100/lebih, contoh :
ibu yang berumur 30 tahun bila 12 berumur 25 dijumlah anak minimal adalah 4
(Santoso, 2006) dan menurut Prawirohardjo (2003), usia ibu > 26 tahun.
3. Perkawinan
stabil (Keluarga harmonis). Karena
perceraian setelah kontap dapat membuat penyesalan yang sangat sulit diatasi.
4. Konseling
Konseling adalah proses yang
berjalan dan menyatu dengan semua aspek pelayanan keluarga berencana dan bukan
hanya informasi yang diberikan dan dibicarakan pada satu kesempatan yakni pada
saat pemberian pelayanan. Klien diberi kesempatan untuk menilai keuntungan,
kerugian, akibat, prosedur dan alternatif lain dan tidak harus menentukan
pilihannya ada saat itu juga. Sangat penting karena penyesalan setelah kontap
kebanyakan terjadi karena konseling yang kurang adekuat. Konseling harus
dilakukan pada saat calon klien (pasangan) berada pada kondisi psikologis yang
prima.
5. Informed
consent Adalah pernyataan klien bahwa 12 menerima atau menyetujui sebuah
tindakan medis (dalam hal ini Tubektomi) secara sukarela dan menyadari
sepenuhnya semua risiko dan akibatnya
G.
Indikasi
Indikasi sterilisasi (tubektomi) dapat dibagi lima macam,
yaitu :
1.
Indikasi medis
Adalah penyakit
yang berat dan kronik seperti penyakit jantung (termasuk derajat 3 dan 4)
ginjal, paru dan penyakit kronik lainnya. Penyakit jantung, gangguan
pernafasan, diabetes mellitus tidak terkontrol, hipertensi, maligna, anemia
gravis, tumor ginekologik, infeksi panggul 3 bulan terakhir, riwayat penyakit
operasi yang sulit observasi.
2.
Indikasi obsetri
Adalah keadaan
dimana risiko kehamilan berikutnya meningkat. Meskipun secara medis tidak
menunjukkan apa-apa seperti multiparitas (banyak anak) dengan usia relatif
lanjut (grandemultigravida) yakni paritas umur 35 tahun atau lebih, seksio
sesarea dua kali atau lebih.
3.
Indikasi genetik
Adalah penyakit
herediter yang membahayakan keselamatan dan kesehatan anak seperti :
Huntington`s chorea, Tayschs disease dan lain-lain.
4.
Indikasi kontrasepsi
Adalah indikasi
yang murni ingin menghentikan (mengakhiri) kesuburan artinya pasangan tersebut
tidak menginginkan kelahiran anak lagi.
5.
Indikasi ekonomi
Adalah pasangan
suami istri menginginkan sterilisasi karena merasa beban ekonomi keluarga
menjadi terlalu berat dengan bertambahnya anak dalam keluarga
- Komplikasi
1. Komplikasi selama operasi
a. Perdarahan dan syok
b. Sesak nafas
2. Komplikasi pasca operasi
a. Nyeri perut, perut kembung, nyeri dada
b. Infeksi dan febris
c. Disparenea karena pertumbuhan jaringan
granulasi pada bekas luka kolpotomi
- Penatalaksanaan
1. Minilaparotomi
Metode
ini merupakan penyerdahanaan laparotomi terdahulu, hanya diperlukan sayatan
kecil sekitar 3 cm baik pada perut bawah (suprapubik) maupun sub umbilical
(pada lingkar perut pusat). Tindakan ini dapat dilakukan terhadap banyak klien,
relative murah, dan dapat dilakukan oleh dokter yang diberi latihan khusus.
Operasi ini aman dan efektif.
2. Laparoskopi
Prosedur
ini memelukan tenaga Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan yang telah
dilatih secara khusus agar pelaksanaannya aman dan efektif. Teknik ini dapat
dilakukan pada 6-8 minggu pasca persalinan atau setelah atau abortus (tanpa
komplikasi). Laparoskopi sebaiknya digunakan pada jumlah klien yang cukup
banyak karena peralatan laparoskopi dan biaya pemeliharaannya cukup mahal.
Komentar
Posting Komentar