Asuhan Keperawatan Pada Bayi Atau Anak Dengan Gangguan ISPA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Usaha
peningkatan kesehatan masyarakat pada kenyataannya tidaklah mudah seperti
membalikkan telapak tangan saja, karena masalah ini sangatlah kompleks, dimana
penyakit yang terbanyak diderita oleh masyarakat terutama pada yang paling
rawan yaitu ibu dan anak, ibu hamil dan ibu menyusui serta anak bawah lima
tahun. Salah satu penyakit yang diderita oleh masyarakat terutama adalah ISPA
(Infeksi Saluran Pernapasan Akut) yaitu meliputi infeksi akut saluran
pernapasan bagian atas dan infeksi akut saluran pernapasan bagian bawah. ISPA
adalah suatu penyakit yang terbanyak diderita oleh anak- anak, baik dinegara
berkembang maupun dinegara maju dan sudah mampu. dan banyak dari mereka perlu
masuk rumah sakit karena penyakitnya cukup gawat. Penyakit-penyakit saluran
pernapasan pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai
pada,masa dewasa. dimana ditemukan adanya hubungan dengan terjadinya Chronic
Obstructive Pulmonary Disease.
ISPA
masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi
dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi.
Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. 40 % -60 %
dari kunjungan diPuskesmas adalah oleh penyakit ISPA. Dari seluruh kematian
yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20 % -30 %. Kematian yang terbesar umumnya
adalah karena pneumonia dan pada bayi berumur kurang dari 2 bulan. Hingga saat
ini angka mortalitas ISPA yang berat masih sangat tinggi. Kematian seringkali
disebabkan karena penderita datang untuk berobat dalam keadaan berat dan sering
disertai penyulit-penyulit dan kurang gizi. Data morbiditas penyakit pneumonia
di Indonesia per tahun berkisar antara 10 -20 % dari populasi balita. Untuk
mengurangi terjadinya ISPA pada anak dan balita maka dilakukan deteksi dini
oleh masyarakat atau kader dengan cirri balita dan anak dalam keadaan batuk,
sukar bernafas, segera dibawa ke puskesmas atau UPK terdekat untuk mendapatkan
pengobatan.
1.2 Tujuan
a) Untuk
mendapatkan gambaran secara nyata dalam melaksanakan asuhan keperawatan klien
ISPA.
b) Untuk
memperoleh gambaran nyata mengenai : Pengkajian klien ISPA Diagnosa yang
mungkin timbul pada klien ISPA Intervensi yang akan dilaksanakan pada klien
ISPA Pelaksaan tindakankeperawatan pada klien ISPA Evaluasi keperawatan klien
ISPA
1.3 Manfaat
a) Sebagai
bahan pembelajaran untuk penderita ISPA agar lebih menjaga kesehatannya.
b) Sebagai
tambahan membuat asuhan keperawatan.
c) Sebagai
sumber informasi bagi para pembaca.
BAB II
LAPORAN
PENDAHULUAN
2.1 Definisi
ISPA
Infeksi saluran
pernafasan akut (ISPA)
adalah radang akut
saluranpernafasan atas
maupun bawah yang disebabkan oleh
infeksi jasad renik
ataubakteri, virus, maupun
reketsia tanpa atau
disertai dengan radang
parenkimparu.
ISPA
adalah masuknya mikroorgamisme (bakteri, virus, riketsia) ke dalamsaluran
pernafasan yang menimbulkan gejala penyakit yang dapat berlangsungsampai 14
hari.
ISPA
adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang
dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai
gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga
tengah dan selaput paru. Sebagian besar
dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan
tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan
menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat
mengakibat kematian.
Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit
ISPA
a.Agent
Infeksi
dapat berupa flu biasa hingga radang paru-paru. Kejadiannya bisa secara akut
atau kronis, yang paling sering adalah rinitis simpleks, faringitis,
tonsilitis, dan sinusitis. Rinitis simpleks atau yang lebih dikenal sebagai
selesma/common cold/koriza/flu/pilek, merupakan penyakit virus yang paling
sering terjadi pada manusia. Penyebabnya adalah virus Myxovirus, Coxsackie, dan
Echo.
1.
Umur
Berdasarkan
hasil penelitian Daulay (1999) di Medan, anak berusia dibawah 2 tahun mempunyai
risiko mendapat ISPA 1,4 kali lebih besar dibandingkan dengan anak yang lebih
tua. Keadaan ini terjadi karena anak di bawah usia 2 tahun imunitasnya belum
sempurna dan lumen saluran nafasnya masih sempit.
2.Jenis
Kelamin
Berdasarkan
hasil penelitian Kartasasmita (1993), menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan prevalensi, insiden maupun lama ISPA pada laki-laki dibandingkan
dengan perempuan.
3.
Status Gizi
Di
banyak negara di dunia, penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama
kematian terutama pada anak dibawah usia 5 tahun. Akan tetapi anak-anak yang
meninggal karena penyakit infeksi itu biasanya didahului oleh keadaan gizi yang
kurang memuaskan. Rendahnya daya tahan tubuh akibat gizi buruk sangat
memudahkan dan mempercepat berkembangnya bibit penyakit dalam tubuh.
4.
Berat Badan Lahir
Berat
Badan Lahir Rendah (BBLR) ditetapkan sebagai suatu berat lahir <2.500 gram.
Menurut Tuminah (1999), bayi dengan BBLR mempunyai angka kematian lebih tinggi
dari pada bayi dengan berat ≥2500 gram saat lahir selama tahun pertama
kehidupannya. Pneumonia adalah penyebab kematian terbesar akibat infeksi pada
bayi baru lahir.
5.Status
ASI Eksklusif
Air
Susu Ibu (ASI) dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang bayi kaya akan faktor
antibodi untuk melawan infeksi-infeksi bakteri dan virus, terutama selama
minggu pertama (4-6 hari) payudara akan menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal
mengandung zat kekebalan (Imunoglobulin, Lisozim, Laktoperin, bifidus factor
dan sel-sel leukosit) yang sangat penting untuk melindungi bayi dari infeksi.
6.Status
Imunisasi
Imunisasi
adalah suatu upaya untuk melindungi seseorang terhadap penyakit menular
tertentu agar kebal dan terhindar dari penyakit infeksi tertentu. Pentingnya
imunisasi didasarkan pada pemikiran bahwa pencegahan penyakit merupakan upaya
terpenting dalam pemeliharaan kesehatan anak.
c. Lingkungan
1.
Kelembaban Ruangan
Hasil
penelitian Chahaya, dkk di Perumnas Mandala Medan (2004), dengan desain cross
sectional didapatkan bahwa kelembaban ruangan berpengaruh terhadap terjadinya
ISPA pada balita. Berdasarkan hasil uji regresi, diperoleh bahwa faktor kelembaban
ruangan mempunyai exp (B) 28,097, yang artinya kelembaban ruangan yang tidak
memenuhi syarat kesehatan menjadi faktor risiko terjadinya ISPA pada balita
sebesar 28 kali.
2.
Suhu Ruangan
Salah
satu syarat fisiologis rumah sehat adalah memiliki suhu optimum 18- 300C. Hal
ini berarti, jika suhu ruangan rumah dibawah 180C atau diatas 300C keadaan
rumah tersebut tidak memenuhi syarat. Suhu ruangan yang tidak memenuhi syarat
kesehatan menjadi faktor risiko terjadinya ISPA pada balita sebesar 4 kali.
3.
Ventilasi
Ventilasi
rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah menjaga agar aliran udara
di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang
diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga.
4.
Kepadatan Hunian Rumah
Menurut
Gani dalam penelitiannya di Sumatera Selatan (2004) menemukan proses kejadian
pneumonia pada anak balita lebih besar pada anak yang tinggal di rumah yang
padat dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah yang tidak padat.
Berdasarkan hasil penelitian Chahaya tahun 2004, kepadatan hunian rumah dapat
memberikan risiko terjadinya ISPA sebesar 9 kali.
5.Penggunaan
Anti Nyamuk
Penggunaan
Anti nyamuk sebagai alat untuk menghindari gigitan nyamuk dapat menyebabkan
gangguan saluran pernafasan karena menghasilkan asap dan bau tidak sedap.
Adanya pencemaran udara di lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan
paru-paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernafasan.
6.Bahan
Bakar Untuk Memasak
Bahan
bakar yang digunakan untuk memasak sehari-hari dapat menyebabkan kualitas udara
menjadi rusak. Kualitas udara di 74% wilayah pedesaan di China tidak memenuhi
standar nasional pada tahun 2002, hal ini menimbulkan terjadinya peningkatan
penyakit paru dan penyakit paru ini telah menyebabkan 1,3 juta kematian.
7.
Keberadaan Perokok
Rokok
bukan hanya masalah perokok aktif tetapi juga perokok pasif. Asap rokok terdiri
dari 4.000 bahan kimia, 200 diantaranya merupakan racun antara lain Carbon
Monoksida (CO), Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) dan lain-lain. Berdasarkan
hasil penelitian Pradono dan Kristanti (2003), secara keseluruhan prevalensi
perokok pasif pada semua umur di Indonesia adalah sebesar 48,9% atau 97.560.002
penduduk.
8.
Status Ekonomi dan Pendidikan
Berdasarkan
hasil penelitian Djaja, dkk (2001), didapatkan bahwa bila rasio pengeluaran
makanan dibagi pengeluaran total perbulan bertambah besar, maka jumlah ibu yang
membawa anaknya berobat ke dukun ketika sakit lebih banyak. Bedasarkan hasil
uji statistik didapatkan bahwa ibu dengan status ekonomi tinggi 1,8 kali lebih
banyak pergi berobat ke pelayanan kesehatan dibandingkan dengan ibu yang status
ekonominya rendah.
Klasifikasi Berdasarkan Lokasi
Anatomia.
a. Infeksi Saluran Pernafasan atas
Akut (ISPaA)
Infeksi
yang menyerang hidung sampai bagian faring, seperti pilek, otitismedia,
faringitis.
b.Infeksi Saluran Pernafasan bawah
Akut (ISPbA)
Infeksi
yang menyerang mulai dari bagian epiglotis atau laring sampaidengan alveoli,
dinamakan sesuai dengan organ saluran nafas, sepertiepiglotitis, laringitis,
laringotrakeitis, bronkitis, bronkiolitis, pneumonia.
2.2 Etiologi
Etiologi ISPA
lebih dari 300
jenis bakteri, virus,
dan jamur. Bakteripenyebabnya antara
lain dari genus
streptokokus, stafilokokus, pnemokokus,hemofilus, bordetella,dan korinebacterium.Virus penyebabnya
antara laingolongan mikovirus,
adenovirus, koronavirus, pikornavirus,
mikoplasma,herpesvirus.Bakteri dan virus yang paling sering menjadi
penyebab ISPA diantaranyabakteri stafilokokus dan streptokokus
serta virus influenza yang di
udara bebasakan masuk dan
menempel pada saluran
pernafasan bagian atas
yaitutenggorokan dan hidung.Biasanya bakteri dan virus tersebut
menyerang anak-anak usia dibawah 2tahun yang kekebalan tubuhnya
lemah atau belum sempurna. Peralihan musim kemarau ke musim hujan juga
menimbulkan risiko serangan ISPA.
Beberapa faktor
lain yang diperkirakan
berkontribusi terhadap kejadianISPA pada anak
adalah rendahnya asupan
antioksidan, status gizi kurang, danburuknya sanitasi lingkungan.
2.3Klasifikasi ISPA
Program
Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:
a) Pneumonia berat: ditandai secara
klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam (chest indrawing).
b) Pneumonia: ditandai secara klinis
oleh adanya napas cepat.
c) Bukan pneumonia: ditandai secara
klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa tarikan dinding dada
kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong
bukan pneumonia
Berdasarkan
hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi penyakit ISPA. Klasifikasi ini
dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan dan untuk golongan umur 2 bulan
sampai 5 tahun. Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2 klasifikasi penyakit
yaitu :
1)
Pneumonia berada: diisolasi dari cacing tanah oleh Ruiz dan kuat dinding pada
bagian bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur kurang 2
bulan yaitu 60 kali per menit atau lebih.
2) Bukan pneumonia: batuk pilek biasa,
bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau napas
cepat.
Untuk
golongan umur 2 bulan
sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi penyakit yaitu :
1) Pneumonia berat: bila disertai napas
sesak yaitu adanya tarikan dinding dada bagian bawah kedalam pada waktu anak
menarik napas (pada saat diperiksa anak harus dalam keadaan tenang tldak
menangis atau meronta).
2) Pneumonia: bila disertai napas cepat.
Batas napas cepat ialah untuk usia 2 -12 bulan adalah 50 kali per menit atau
lebih dan untuk usia 1 -4 tahun adalah 40 kali per menit atau lebih.
3) Bukan pneumonia: batuk pilek biasa,
bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas
cepat.
2.4 Manifestasi klinis
Penyakit
ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk adanya demam, adanya obstruksi
hidung dengan sekret yang encer sampai dengan membuntu saluran pernafasan, bayi
menjadi gelisah dan susah atau bahkan sama sekali tidak mau minum (Pincus
Catzel & Ian Roberts; 1990; 451).
2.5 Tanda dan gejala
-Pilek
biasa
-
Keluar sekret cair dan jernih dari hidung
-
Kadang bersin-bersin
-
Sakit tenggorokan
-
Batuk
-
Sakit kepala
-
Sekret menjadi kental
-
Demam
-
Nausea
-
Muntah
-Anoreksia
Penyakit
ISPA adalah penyakit yang sangat menular, hal ini timbul karena menurunnya
sistem kekebalan atau daya tahan tubuh, misalnya karena kelelahan atau stres.
Pada stadium awal, gejalanya berupa rasa panas, kering dan gatal dalam hidung,
yang kemudian diikuti bersin terus menerus, hidung tersumbat dengan ingus encer
serta demam dan nyeri kepala. Permukaan mukosa hidung tampak merah dan membengkak.
Infeksi lebih lanjut membuat sekret menjadi kental dan sumbatan di hidung
bertambah. Bila tidak terdapat komplikasi, gejalanya akan berkurang sesudah 3-5
hari. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah sinusitis, faringitis, infeksi
telinga tengah, infeksi saluran tuba eustachii, hingga bronkhitis dan pneumonia
(radang paru).
Pada
umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan keluhan-keluhan dan
gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit mungkin gejala-gejala
menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan kegagalan
pernapasan dan mungkin meninggal. Bila sudah dalam kegagalan pernapasan maka
dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih rumit, meskipun demikian mortalitas masih
tinggi, maka perlu diusahakan agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan
yang sudah berat cepat-cepat ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam
kegagalan pernapasan.
Tanda-tanda
bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda-tanda
laboratoris.
Tanda-tanda
klinis
a. Pada sistem respiratorik adalah:
tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi dinding thorak, napas cuping
hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang, grunting expiratoir dan
wheezing.
b. Pada sistem cardial adalah: tachycardia,
bradycardiam, hypertensi, hypotensi dan cardiac arrest.
c. Pada sistem cerebral adalah : gelisah,
mudah terangsang, sakit kepala, bingung, papil bendung, kejang dan coma.
Tanda-tanda
laboratoris
a.
Hypoxemia
b.Hypercapnia
dan
c.
Acydosis (metabolik dan atau respiratorik).
Tanda-tanda
bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah: tidak bisa minum,
kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi buruk, sedangkan tanda bahaya pada
anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah: kurang bisa minum (kemampuan
minumnya menurun sampai kurang dari setengah volume yang biasa diminumnya),
kejang, kesadaran menurun, stridor, Wheezing, demam dan dingin.
2.6 Patofisiologi
Penularan
penyakit ISPA dapat terjadi melalui udara yang telah tercemar, bibit penyakit
masuk kedalam tubuh melalui pernafasan, oleh karena itu maka penyakit ISPA ini
termasuk golongan Air Borne Disease. Penularan melalui udara dimaksudkan adalah
cara penularan yang terjadi tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda
terkontaminasi. Sebagian besar penularan melalui udara dapat pula menular
melalui kontak langsung, namun tidak jarang penyakit yang sebagian besar
penularannya adalah karena menghisap udara yang mengandung unsur penyebab atau
mikroorganisme penyebab.
Walaupun
saluran pernapasan atas (akut) secara langsung terpajan lingkungan, namun
infeksi relatif jarang terjadi berkembang menjadi infeksi saluran pernapasan
bawah yang mengenai bronchus dan alveoli.
Terdapat
beberapa mekanisme protektif di sepanjang saluran pernapasan untuk mencegah
infeksi, refleksi batuk mengeluarkan benda asing dan mikroorganisme, dan
membuang mucus yang tertimbun, terdapat lapisan mukosilialis yang terdiri dari
sel-sel dan berlokasi dari bronchus ke atas yang menghasilkan mucus dan sel-sel
silia yang melapisi sel-sel penghasil mucus.
Silia
bergerak dengan ritmis untuk mendorong mucus, dan semua mikroorganisme yang
terperangkap di dalam mucus, ke atas nasofaring tempat mucus tersebut dapat
dikeluarkan melalui hidung, atau ditelan. Proses kompleks ini kadang-kadang disebut
sebagai system Eksalator mukolisiaris.
Apabila
dapat lolos dari mekanisme pertahanan tersebut dan mengkoloni saluran napas
atas, maka mikroorganisme akan dihadang oleh lapisan pertahanan yang ketiga
yang penting (system imum) untuk mencegah mikroorganisme tersebut sampai di
saluran napas bawah.
Respons
ini diperantarai oleh limfosit, tetapi juga melibatkan sel-sel darah putih
lainnya misalnya makrofag, neutrofil, dan sel mast yang tertarik ke daerah
tempat proses peradangan berlangsung. Apabila terjadi gangguan mekanisme
pertahanan di bidang pernapasan, atau mikroorganismenya sangat virulen, maka
dapat timbul infeksi saluran pernapasan bawah.
2.7 Pemeriksaan Diagnostik
Laboratorium:
Pada
pemeriksaan ditemukan gambaran sebagai berikut:
a.
Hb menurun, nilai normal L: 13-16gr%, P: 12-14gr%
b.
Leukosit meningkat, nilain normal 500-1000/mm3
c.
Eritrosit menurun, nilai normal 4,5-5,5 juta/mm3
d.Urine
biasanya lebih tua, mungkin terdapat albuminuria karena suhu tubuh meningkat.
2.8 Penatalaksanaan
1.
Suportif : meningkatkan daya tahan tubuh berupa nutrisi yang adekuat,pemberian
multivitamin dll.
2.
Antibiotik :
-
Idealnya berdasarkan jenis kuman penyebab
-
Utama ditujukan pada S.pneumonia,H.Influensa dan S.Aureus
-
Menurut WHO :
Pneumonia
rawat jalan yaitu
kotrimoksasol,Amoksisillin, Ampisillin,Penisillin Prokain.
Pnemonia
berat : Benzil penicillin,klorampenikol,kloksasilin,gentamisin.
-
Antibiotik baru lain : Sefalosforin,quinolon dll.
2.9 Komplikasi
SPA
( saluran pernafasan akut sebenarnya merupakan self limited disease yangsembuh
sendiri dalam 5 ± 6 hari jika tidak terjadi invasi kuman lain, tetapi penyakit
ISPAyang tidak mendapatkan pengobatan dan perawatan yang baik dapat menimbulkan
penyakitseperti : semusitis paranosal, penutuban tuba eustachii, lanyingitis,
tracheitis, bronchtis, dan brhonco pneumonia dan berlanjut pada kematian karena
danya sepsis yang meluas.( Whaley and Wong, 2000 ).
BAB III
ASKEP TEORITIS
Pengkajian
Riwayat kesehatan:
-
Keluhan utama (demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan).
-
Riwayat penyakit sekarang (kondisi klien saat diperiksa).
-Riwayat
penyakit dahulu (apakah klien pernah mengalami penyakit sepertiyang dialaminya
sekarang).
-
Riwayat penyakit keluarga
(adakah anggota keluarga
yang pernahmengalami sakit
seperti penyakit klien).
- Riwayat sosial (lingkungan tempat
tinggal klien).
Pemeriksaan fisik :
Difokuskan
pada pengkajian sistem pernafasan:
a. Inspeksi :
- Membran mukosa hidung-faring tampak kemerahan
- Tonsil tampak kemerahan dan edema
- Tampak batuk tidak produktif
- Tidak ada jaringan parut pada leher
- Tidak tampak penggunaan otot-otot pernafasan
tambahan, pernafasancuping hidung.
b. Palpasi :
-
Adanya demam.
-
Teraba adanya pembesaran kelenjar
limfe pada daerah
leher/nyeritekan pada nodus limfe servikalis.
-
Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid
c. Perkusi :
- Suara paru normal (resonance).
d. Auskultasi :
- Suara nafas vesikuler/tidak terdengar
ronchi pada kedua sisi paru.
Riwayat Kesehatan:
1)
Keluhan Utama:
Klien
mengeluh demam.
2)
Riwayat penyakit sekarang:
Dua
hari sebelumnya klien mengalami demam mendadak, sakit kepala, badan lemah,
nyeri otot dan sendi, nafsu makan menurun, batuk,pilek dan sakit tenggorokan.
3)
Riwayat penyakit dahulu:
Klien
sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit sekarang.
4)
Riwayat penyakit keluarga:
Menurut
anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit klien
tersebut.
5)
Riwayat sosial:
Klien
mengatakan bahwa klien tinggal di lingkungan yang berdebu dan padat
penduduknya.
Pemeriksaan Persistem
B1
(Breath) :·
Inspeksi :
·
Membran mucosa
hidung faring tampak kemerahan.
·
Tonsil tanpak
kemerahan dan edema.
·
Tampak batuk tidak
produktif,
·
Tidak ada jaringna
parut pada leher,
·
Tidak tampak
penggunaan otot- otot pernapasan tambahan,pernapasan cuping hidung, tachypnea,
dan hiperventilasi.
Palpasi :
·
Adanya demam.
·
Teraba adanya
pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher / nyeri tekan pada nodus limfe
servikalis.
·
Tidak teraba
adanya pembesaran kelenjar tyroid.
·
Perkusi :
·
Suara paru normal
(resonance).
· Auskultasi
:
·
Suara napas
vesikuler / tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru.
B2
(Blood) : kardiovaskuler Hipertermi.
B3
(Brain) : penginderaan Pupil
isokhor, biasanya keluar cairan pada telinga, terjadi gangguan penciuman.
B4
(Bladder) :perkemihan Tidak ada
kelainan.
B5
(Bowel) : pencernaan Nafsu makan
menurun, porsi makan tidak habis Minum sedikit, nyeri telan pada tenggorokan.
B6
(Bone): Warna kulit kemerahan
Pemeriksaan Penunjang :
1) Pemeriksaan kultur/ biakan kuman (swab);
hasil yang didapatkan adalah biakan kuman (+) sesuai dengan jenis kuman.
2) Pemeriksaan hitung darah (deferential
count); laju endap darah meningkat disertai dengan adanya leukositosis dan bisa
juga disertai dengan adanya thrombositopenia.
3) Pemeriksaan foto thorax
ks
jika diperlukan.
Diagnosa keperawatan
1)
Peningkatan suhu tubuh b.d proses infeksi
Kriteria
Hasil : Suhu tubuh kembali normal
Tidak
ada penurun berat badan
Nadi
: 60-100 denyut per menit
RR
: 16-20 kali menit
2)
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang
dari kebutuhan tubuh
b.d anoreksia
Tujuan
:
- Klien dapat mencapai BB yang
direncanakan mengarah pada BBnormal
- Klien dapat menoleransi diet yang
dianjurkan
- Tidak menunjukkan tanda malnutrisi
- Nutrisi kembali seimbang
3.3. Intervensi
Diagnosa
:Pertambahansuhutubuhb.d proses infeksi
|
Intervensi |
Rasional |
|
Monitor
suhu tubuh paling tidak 2 jam sesuai dengan kebutuhan |
Untuk
memantau suhu tubuh pasien agar mengetahui perkembangan pasie |
|
Anjurkan
klien/keluarga untuk kompres pada kepala/aksila |
Dengan memberikan
kompres, maka akan
terjadi
proseskonduksi/perpindahan panas dengan bahan perantara. |
|
Memberikan
edukasi tentang pentingnya termogulasi dan kemungkinan efek negatif dari
demam yang berlebihan |
Agar
pasien dapat lebih mengetahui tentang penyakitnya |
|
Berkolaborasi
dengan dokter untuk pemberian intake cairan |
Untuk
mengontrol infeksi pernafasan dan menurunkan panas |
2)
diagnosa Ketidakseimbangan nutrisi: kurang
dari kebutuhan tubuh
b.d anoreksia
|
Intervensi |
Rasional |
|
Kaji
kebiasaan diet, input-output dan timbang BB setiap hari. |
Berguna untuk menentukan kebutuhan
kalori, menyusun tujuan BBdan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. |
|
Berikan
makan porsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat |
Untuk
menjamin nutrisi adekuat/meningkatkan kalori total. |
|
Tingkatkan
tirah baring |
Nafsu makan
dapat dirangsang pada
situasi rileks, bersih,
danmenyenangkan. |
|
Kolaborasi: konsultasi
ke ahli gizi
untuk memberikan diet
sesuaikebutuhan klien. |
Untuk
mengurangi kebutuhan metabolik. |
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Didapat
beberapa faktor resiko ISPA padapenderita yaitu 1) faktor agen; 2) faktor
manusia, yangterdiri dari faktor umur, jenis kelamin, dan status gizi;
3)lingkungan, yang terdiri dari faktor kelembaban udara,suhu ruangan,
ventilasi, penggunaan anti nyamuk, bahanbakar untuk memasak, dan keberadaan
perokok.
Gejala
yang dirasakan penderita yaitu nafsu makan menurun,pasien merasa lesu, demam,
disertai batuk dan pilek selama 5hari, sakit tenggorokan dan terdapat
tonsilitis dan faringitis akutsetelah di periksa dokter
4.2
Saran
1.
Bagi orang tua hindarilah faktor resiko yang dapat meningkatkankejadian ISPA
pada anak, kecuali faktor resiko yang tidak dapatdiubah seperti umur dan jenis
kelamin.
2.
Membiasakan hidup sehat dan menjaga kebersihan perseorangandan lingkungan
DAFTAR PUSTAKA
Boedihartono,
1994, Proses Keperawatan di Rumah Sakit, Jakarta.
Brooker,
Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan Ed.31.EGC : Jakarta.
Brooker,
Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan Ed.31.EGC : Jakarta.
DEPKES.
1993. Proses Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. EGC
: Jakarta.
Doenges,
E. Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Ed. 3.EGC : Jakarta.
Nasrul
Effendi, 1995, Pengantar Proses Keperawatan, EGC, Jakarta.
Achmadi,
U.F, 2003.Waspadai Penyakit Menular, Badan Peneliti danPengembangan Depkes RI,
Jakarta. Agustama., 2005.Kajian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada
Balita.
Komentar
Posting Komentar