ASUHAN KEPERAWATAN ANAK - HIRSCHPRUNG
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN HIRSCHPRUNG
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2.... Klasifikasi
Hirschprung
2.4.... Manifestasi
Klinis Hirschprung
2.7.... Penatalaksanaan
Hirschprung
2.9.... Komplikasi
Hirschprung
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN HIRSCHPRUNG
3.3.... Intervensi Keperawatan
3.4.... Implementasi
Keperawatan
3.6.... Perawatan anak kembung
3.7.... Perawatan anak tepid sponge
BAB 4 PENUTUP
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Cacat bawaan
lahir disebut juga congenital malformation, congenital anomalies, birth
defects, congenital disorders atau congenital malformations. Menurut WHO
(2015), Cacat bawaan lahir (Congenital malformation) didefinisikan sebagai
kelainan struktur maupun fungsi (misalnya kelainan metabolisme) pada bayi
lahir, yang terjadi selama janin di dalam uterus, dan diidentifikasi pada
sebelum lahir, pada saat lahir, maupun di kemudian hari setelah lahir. (Muslim, 2016)
Dari data
kelahiran yang dicatat PBB/WHO pada kurun tahun 2000 s/d 2013, ada 2,761 juta
kematian pada bayi lahir. Diantara kematian tersebut, 276000 bayi (1%)
meninggal dunia karena menderita cacat bawaan lahir. Jadi, Cacat bawaan lahir
ini merupakan penyebab utama kematian pada bayi dan anak-anak. Dan bila bayi
lahir penyandang cacat bawaan itu hidup, ini tentu menghasilkan penyakit dan
cacat bawaan yang kronis, serta keterbatasan dan ketidakmampuan bayi/anak dalam
jangka waktu selama hidup anak tersebut. Keterbatasan kemampuan jasmani,
kecerdasan dan bahkan kepribadian menjadi gangguan hidup yang diderita oleh
individu, keluarga, layanan medis, dan masyarakat pada umumnya (WHO, 2015), dan
menghambat pertumbuhan dan perkembangan jasmani, dan ruhani si penderita. Ada 6
jenis cacat bawaan bayi lahir yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun,
ialah Atresia Ani, Hirschprung, Gastrochisis, Spina bifida, Hernia, dan
Hydrocephalus (Muslim, 2016)
Hirschsprung
adalah kelainan cacat bawaan bayi, di mana usus besar si jabang bayi tidak
memiliki saraf motorik untuk gerakan peristaltik usus besar, sehingga usus
besar tersebut tidak mampu mengadakan kontraksi otot untuk gerakan peristaltik
di bagian pangkal usus besarnya. Akibatnya terjadi penyumbatan usus besar yang
terjadi akibat lemahnya pergerakan usus usus besar untuk mengeluarkan faeces.
(Muslim, 2016)
Penyakit Hirschsprung
(HSCR) adalah penyakit
multigenetik kompleks yang
ditandai dengan tidak
adanya sel ganglion
intrinsik di pleksus
submukosa dan mienterik
saluran usus. Segmen
aganglionik dimulai di
distal pada sfingter
ani interna (IAS)
dan meluas ke
proksimal ke panjang
usus yang bervariasi.
Pada 80% anak
yang terkena, segmen
aganglionik terbatas pada
rekto sigmoid (HSCR
segmen pendek); pada
3% sampai 10%,
seluruh kolon aganglionik
(total colonic aganglionosis
[TCA]); dan pada
sebagian kecil, aganglionosis
meluas ke usus
halus proksimal.
Cacat bawaan
lahir disebabkan oleh banyak faktor. Secara umum faktor-faktor tersebut dibagi
dua, ialah faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik penyebab cacat bawaan
lahir antara lain adalah karena faktor resesif autosomal, faktor dominan
autosomal, faktor genetik berpaut kromosom X, dan faktor aberasi kromosom
(Suryo, 2001). Resiko faktor genetik bisa meningkat karena perkawinan keluarga
(consanguinis factors) (Madi dkk (2005), karena menyebabkan meningkatkan
homozigositas alel-alel cacat bawaan. Adapun faktor lingkungan penyebab cacat
bawaan lahir adalah karena infeksi kuman pada janin selama kehamilan, karena
rendahnya mutu asupan nutrisi ibu hamil, dan karena ekpos faktor teratogenik
yang dialami ibu hamil. (Muslim, 2016)
1.2
Rumusan
Masalah
1.2.1
Bagaimana
tinjauan teori dari Hirschprung?
1.2.2
Bagaimana
asuhan keperawatan teoritis dari Hirschprung?
1.2.3
Bagaimana perawatan anak sakit tepid sponge dan anak kembung berdasarkan evidence based nursing?
1.3
Tujuan
1.3.1
Untuk
memahami tinjauan teori dari Hirschprung
1.3.2
Untuk
memahami asuhan keperawatan teoritis dari Hirschprung.
1.3.3
Untuk mengetahui bagaimana perawatan anak sakit tepid sponge dan anak
kembung berdasarkan evidence based
nursing
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Definisi
Hirschprung
Penyakit Hirschsprung atau megakolon
aganglionik adalah anomali kongenital yang mengakibatkan obstruksi mekanik
karena ketidak adekuatan motilitas sebagian dari usus. Penyakit ini disebabkan
oleh gangguan
perkembangan dari sistem saraf enterik dengan karakteristik tidak adanya sel
ganglion kolon dan kolon tidak bisa mengembang. Pada kondisi klinik penyakit
Hirschsprung lebih dikenal dengan megakolon kongenital. Pada tahun 1886, Harold
Hirschsprung pertama kali mendeskripsikan penyakit Hirschsprung sebagai
penyebab konstipasi pada awal masa bayi. (Muslim, 2016)
Penyakit
Hirschsprung adalah kondisi bawaan yang rumit dari usus, yang diakui sebagai
asal genetik dan hasil dari gangguan perkembangan normal sistem saraf enterik.
Penyakit Hirschsprung (HSCR) adalah kelainan motilitas bawaan bawaan yang paling
umum dan ditandai dengan tidak adanya sel ganglion (aganglionosis) di pleksus
mienterik dan submukosa dari usus bagian distal. Diperkirakan timbul dari
kegagalan kolonisasi usus distal oleh prekursor sistem saraf enterik (ENS)
selama perkembangan embrionik. (Silambi et al., 2020)
Tidak adanya sel ganglion mengganggu
ekspresi saraf parasimpatis penghambatan di pleksus mienterik dari segmen yang
terkena. Baru-baru ini, telah ditunjukkan bahwa inhibitor neurotransmitter
nitric oxide juga berkurang pada segmen aganglionik. Kurangnya aktivitas
penghambatan yang normal menghasilkan kontraksi tonik dari segmen yang terkena,
menghasilkan gejala obstruksi dan dilatasi serta hipertrofi kolon proksimal.
(Silambi et al., 2020)
Neonatus dengan HSCR biasanya datang dengan
obstruksi usus distal dalam beberapa hari pertama kehidupan. Bayi cukup bulan
yang gagal lulus meconium dalam 24-48 jam pertama setelah kelahiran harus
dinilai HSCR. Tanda-tanda obstruksi usus distal termasuk distensi abdomen,
kegagalan dalam pemberian makanan, dan muntah yang tidak terlalu kencang atau
berat. Hidrasi harus dinilai dengan adekuat dengan memeriksa fontanel bayi,
waktu pengisian kapiler sentral, suhu perifer, selaput lendir, dan turgor kulit
di samping parameter fisiologis (mis. Detak jantung, tekanan darah, laju
pernapasan, dan saturasi oksigen). Penting untuk menilai fitur dysmorphic,
khususnya fitur sindrom Down, kelainan tulang belakang, dan untuk penempatan
normal anus untuk mengecualikan malformasi anorektal. Perut biasanya cukup
buncit dengan loop usus teraba. (Silambi et al., 2020)
Diagnosis penyakit Hirschsprung didasarkan
pada prinsip ini. Tiga zona diidentifikasi di usus besar yang terkena penyakit
Hirschprungs, segmen sempit, zona transisi dan segmen usus proksimal melebar.
Secara histologis, pada segmen yang menyempit terdapat aganglionosis dan ikatan
saraf hipertrofik. Anak-anak dengan
HSCR memiliki kualitas
hidup yang jauh
lebih rendah, dengan
dampak negatif pada
kesejahteraan sosial dan
emosional mereka dan
aktivitas fisik yang
berkurang. (Ambartsumyan et al., 2020)
Penyakit
Hirschprung dapat terjadi dalam 1:5000 kelahiran. Risiko tertinggi terjadinya
penyakit Hirschprung biasanya pada pasien yang mempunyai riwayat keluarga
penyakit Hirschprung dan pada pasien penderita Syndrome Down, sekitar 5-15%
dari pasien dengan penyakit Hirschsprung juga memiliki trisomi 21. Kejadian
pada bayi laki-laki lebih banyak dari pada perempuan dengan perbandingan 4:1
dan ada kenaikan insidensi pada kasus-kasus dengan faktor risiko familial yang
rata-rata mencapai 6%. (Shilvia, 2017)
Anak kembar dan adanya riwayat keturunan
meningkatkan resiko terjadinya penyakit Hirschsprung. Laporan insidensi
tersebut bervariasi sebesar 1,5 sampai 17,6% dengan 130 kali lebih tinggi pada
anak laki dan 360 kali lebih tinggi pada anak perempuan. Penyakit Hirschsprung
lebih sering terjadi secara diturunkan oleh ibu aganglionosis dibanding oleh
ayah. Sebanyak 12,5% dari kembaran pasien mengalami aganglionosis total pada
colon (sindroma Zuelzer-Wilson). Salah satu laporan menyebutkan empat keluarga
dengan 22 pasangan kembar yang menderita kebanyakan mengalami long segment
aganglionosis. (Shilvia, 2017)
2.1 Klasifikasi Hirschprung
Hirschsprung Disease
dibedakan berdasarkan panjang segmen yang terkenan yaitu:
1.
Segmen
pendek Segmen pendek aganglionosis mulai dari anus sampai sigmoid, merupakan
70% kasus penyakit Hirsprung disease, dan lebih sering ditemukan pada anak
laki-laki.
2.
Segmen
panjang Daerah aganglionosis dapat melebihi sigmoid, bahkan kadang dapat
meyerang seluuruh kolon atau sampai usus halus. Anak laki-laki dan perempuan
memiliki peluang yang sama, satu dalam 10 tanpa membedakan jenis kelamin.
2.2 Etiologi Hirschprung
Sampai tahun 1930-an etiologi Penyakit
Hirschsprung belum jelas di ketahui. Penyebab sindrom tersebut baru jelas
setelah Robertson dan Kernohan pada tahun 1938 serta Tiffin, Chandler, dan
Faber pada tahun 1940 mengemukakan bahwa megakolon pada penyakit Hirschsprung
primer disebabkan oleh gangguan peristalsis usus dengan defisiensi ganglion di
usus bagian distal. Sebelum tahun 1948 belum terdapat bukti yang menjelaskan
apakah defek ganglion pada kolon distal menjadi penyebab penyakit Hirschsprung
ataukah defek ganglion pada kolon distal merupakan akibat dilatasi dari stasis
feses dalam kolon.
Aganglionosis pada penyakit Hirschsprung
bukan di sebabkan oleh kegagalan perkembangan inervasi parasimpatik ekstrinsik,
melainkan oleh lesi primer, sehingga terdapat ketidakseimbangan autonomik yang
tidak dapat dikoreksi dengan simpatektomi. Kenyataan ini mendorong Swenson
untuk mengengembangkan prosedur bedah definitif penyakit Hirschsprung dengan
pengangkatan segmen aganglion disertai dengan preservasi sfingter anal. (Shilvia, 2017)
Abnormalitas seluler
dan molekuler selama
perkembangan sistem saraf
enterik (ENS) dan
migrasi sel krista
neural ke dalam
usus yang sedang berkembang merupakan etiologi utama
dalam Hirschprung. Ledakan neuro yang
diturunkan dari krista
saraf pertama kali
muncul di esofagus
yang sedang berkembang dalam 5 minggu kehamilan
pada janin manusia.
Sel-sel ini bermigrasi
secara craniocaudal ke
bagian usus yang
sedang berkembang dari 5 hingga
12 minggu kehamilan. Fenotipe Hirschprung
bervariasi karena berbagai
kemungkinan kelainan selama
perkembangan sistem saraf
enterik dan waktu yang
berbeda di mana
penghentian migrasi sel
turunan neural crest dapat terjadi. Berhentinya migrasi dini pada janin
yang sedang berkembang menyebabkan segmen aganglionosis yang panjang. (Muslim, 2016)
HSCR
adalah malformasi kongenital
usus belakang yang
ditandai dengan tidak
adanya sel ganglion
intrinsik parasimpatis di
pleksus submukosa dan
mienterikus. 2 Hal ini dianggap
sebagai konsekuensi dari
penghentian prematur migrasi
kraniokaudal sel krista
saraf vagal antara
minggu kelima dan
ke-12 kehamilan untuk
membentuk sistem saraf
enterik (ENS) dan
karena itu dianggap
sebagai neurokristopati. Sementara
sfingter anal internal
adalah batas inferior
konstan, pasien dapat
diklasifikasikan sebagai HSCR
segmen pendek ketika segmen
aganglionik tidak melampaui
sigmoid atas, dan
HSCR segmen panjang
ketika aganglionosis meluas
ke proksimal ke
sigmoid.
2.3 Manifestasi Klinis Hirschprung
Karakteristik gejala yang terlihat pada
pasien penyakit Hirshcsprung adalah kesulitan dalam proses pengeluaran mekonium
pada neonatus dan konstipasi kronik sejak lahir pada anak karena terjadinya
obstruksi usus besar. (Shilvia, 2017)
Manifestasi penyakit
Hirschsprung yang khas biasanya terjadi pada neonatus cukup bulan. Ada trias
gejala klinis yang sering dijumpai, yakni pengeluaran mekonium yang terlambat,
muntah hijau dan distensi abdomen. Pengeluaran mekonium yang terlambat (lebih
dari 24 jam pertama) merupakan tanda klinis yang signifikans. Pada lebih dari
90% bayi normal, mekonium pertama keluar dalam usia 24 jam pertama, namun pada
lebih dari 90% kasus penyakit Hirschsprung mekonium keluar setelah 24 jam.
Mekonium normal berwarna hitam kehijauan, sedikit lengket dan dalam jumlah yang
cukup. (Shilvia, 2017)
Muntah hijau dan distensi abdomen biasanya
dapat berkurang manakala mekonium dapat dikeluarkan segera. Distensi abdomen
merupakan manifestasi obstruksi usus letak rendah dan dapat disebabkan oleh
kelainan lain, seperti atresia ileum dan lain-lain. Muntah yang berwarna hijau
disebabkan oleh obstruksi usus, yang dapat pula terjadi pada kelainan lain dengan
gangguan pasase usus, seperti pada atresia ileum, enterokolitis netrotikans
neonatal, atau peritonitis intrauterine. Tanda-tanda edema, bercak-bercak
kemerahan khususnya di sekitar umbilikus, punggung, dan di sekitar genitalia
ditemukan bila telah terdapat komplikasi peritonitis. Sedangkan enterokolitis
merupakan ancaman komplikasi yang serius bagi penderita penyakit Hirschsprung
ini, yang dapat menyerang pada usia kapan saja, namun paling tinggi saat usia
2-4 minggu, meskipun sudah dapat dijumpai pada usia 1 minggu. Gejalanya berupa
diare, distensi abdomen, feses berbau busuk dan disertai demam. (Shilvia, 2017)
Pada anak, manifestasi
klinis yang menonjol selain konstipasi kronis adalah biliousemesis atau muntah
hijau, distensi abdomen, penurunan nafsu makan, dan gagal tumbuh. Sekitar 10%
pada anak dengan penyakit Hirschsprung mengalami diare yang disebabkan oleh
enterokolitis. Hal ini dapat berkembang menjadi perforasi kolon yang
menyebabkan sepsis. (Shilvia, 2017)
Hirschprung muncul dengan
gejala sembelit, seperti keterlambatan lebih dari 48 jam dalam menghilangkan
meconium, perut kembung, dan muntah. Dalam 80% kasus, penyakit ini didiagnosis
pada tahun pertama kehidupan, tidak umum pada masa remaja dan dewasa; kasus
seperti itu biasanya muncul dalam bentuk penyakit segmen ultrashort. (Silambi et al., 2020)
Pasien
di diagnosis dengan Hirschsprung Disease dilihat dari berdasarkan gejala yang
subjektif seperti BAB keluar sedikit sedikit dan perut kembung. Kemudian berdasarkan
gejala objektif pada pemeriksaan fisik didapatkan inspeksi perut tampak
kembung, auskultasi didapatkan peristaltik usus kesan menurun, pada palpasi
didapatkan distensi abdomen. Pada perkusi didapatkan hipertimpani. Pada
pemeriksaan Rectal Toucher didapatkan spinchter mencekik,ampula berisi feses
berwarna kuning, dan mukosa licin. (Silambi et al., 2020)
2.4 Patofisiologi
Penyakit Hirschsprung dapat terjadi dibagian kolon ascending ataupun
sigmoid. Tidak adanya ganglion penting seperti myenteric (Auerbach) dan pleksus
submukosa (Meissner) sehingga mengurangi peristaltik usus dan fungsinya.Sel
ganglion enterik berasal dari puncak saraf. Selama perkembangan normal,
neuroblasts ditemukan di usus kecil pada minggu ke-7 kehamilan dan akan
mencapai usus besar pada minggu ke-12 kehamilan. Salah satu kemungkinan
penyebab penyakit Hirschsprung adalah kecacatan dalam migrasi neuroblast
sehingga menyebabkan kegagalan turunnya neuroblast untuk berada di lokasinya
yaitu di usus besar. Selain itu, terjadi kegagalan neuroblas untuk bertahan
hidup, berkembang biak juga dapat menyebabkan gagalnya neuroblast turun kearah
usus besar. Segmen yang agangloinik terbatas pada rektosigmoid pada 75 %
penderita, 10% seluruh kolonnya tanpa sel-sel ganglion. (Shilvia, 2017)
Tiga saraf pleksus usus
seperti pada bagian submukosa (Meissner) pleksus intermuskuler (Auerbach)
pleksus mukosa pleksus kecil. Semua pleksus ini terintegrasi dan halus terlibat
dalam semua aspek fungsi usus, termasuk absorbsi, sekresi, motilitas, dan
aliran darah. Motilitas yang normal terutama di bawah kendali neuron intrinsic
meskipun kehilangan persarafan ekstrinsik. Ganglia ini mengontrol kontraksi dan
relaksasi otot polos, dengan relaksasi yang mendominasi. Pada pasien dengan
penyakit Hirschsprung, sel ganglion tidak hadir, yang mengarah ke peningkatan
dalam usus yaitu persarafan ekstrinsik. Bertambah banyaknya ujung-ujung saraf
pada usus yang aganglionik menyebabkan kadar asetilkolinesterase tinggi. (Shilvia, 2017)
Persarafan dari kedua
sistem kolinergik dan sistem adrenergik menjadi 2-3 kali dari persarafan
normal. Adrenergik (rangsang) sistem diperkirakan mendominasi atas kolinergik
(penghambatan) sistem, yang menyebabkan peningkatan tonus otot polos. Dengan
hilangnya saraf intrinsik enterik penghambatan, menyebabkan ketidakseimbangan
kontraktilitas otot polos, peristaltik yang tidak terkoordinasi, dan obstruksi
fungsional. (Shilvia, 2017)
Hirschprung harus
dicurigai pada setiap anak dengan kesulitan buang air besar pada periode bayi
baru lahir. Dalam beberapa kasus, pemeriksaan rektal digital dapat
mengungkapkan anus yg ketat dan juga dapat menyebabkan pasase mekonium
menghilangkan obstruksi usus akut. Perut buncit terlihat pada 63% – 91% neonatus
dengan Hirschprung.
2.5
Pathway Hirschprung
2.1 Penatalaksanaan Hirschprung
Tujuan umum dalam penatalaksaan penyakit
Hirchsprung meliputi: (1) untuk memperbaiki gejala klinis dan komplikasi yang
tidak teratasi, (2) untuk memonitor tindakan sementara sampai bedah
rekonstruksi, dan (3) untuk menjaga fungsi usus pasca pembedahan. (Shilvia, 2017)
Pada prinsipnya, sampai
saat ini, penyembuhan penyakit Hirschsprung hanya dapat dicapai dengan
pembedahan. Tindakan-tindakan medis dapat dilakukan tetapi hanya untuk
sementara dimaksudkan untuk menangani distensi abdomen dengan pemasangan pipa
anus atau pemasangan pipa lambung dan irigasi rektum. Pemberian antibiotika
dimaksudkan untuk pencegahan infeksi terutama untuk enterokolitis dan mencegah
terjadinya sepsis. Cairan infus dapat diberikan untuk menjaga kondisi nutrisi
penderita serta untuk menjaga keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa
tubuh. (Shilvia, 2017)
Pilihan bedah bervariasi
tergantung pada usia pasien, status mental, kemampuan untuk melakukan aktivitas
hidup sehari-hari, panjang segmen aganglionik, derajat dilatasi kolon, dan
kehadiran enterokolitis. Pilihan bedah kolostomi termasuk pada tingkat usus
normal, irigasi rektal diikuti oleh reseksi usus dan prosedur kolostomi. (Shilvia, 2017)
Penanganan bedah pada
umumnya terdiri atas dua tahap yaitu tahap pertama dengan pembuatan kolostomi
dan tahap kedua dengan melakukan operasi definitif. Tahap pertama dimaksudkan
sebagai tindakan darurat untuk mencegah komplikasi dan kematian. Pada tahapan
ini dilakukan kolostomi, sehingga akan menghilangkan distensi abdomen dan akan
memperbaiki kondisi pasien. Tahapan kedua adalah dengan melakukan operasi
definitif dengan membuang segmen yang aganglionik dan kemudian melakukan
anastomosis antara usus yang ganglionik dengan dengan bagian bawah rektum.
Dikenal beberapa prosedur
tindakan definitif yaitu prosedur Swenson, prosedur Duhamel, prosedur Soave,
prosedur Rehbein dengan cara reseksi anterior, prosedur Laparoscopic
Pull-Through, prosedur Transanal Endorectal Pull-Through dan prosedur
miomektomi anorektal.
Tindakan bedah sementara
pada penderita penyakit Hirschsprung adalah berupa kolostomi pada usus yang
memiliki ganglion normal paling distal. Tindakan ini dimaksudkan guna
menghilangkan obstruksi usus dan mencegah enterokolitis sebagai salah satu
komplikasi yang berbahaya. Manfaat lain dari kolostomi adalah: menurunkan angka
kematian pada saat dilakukan tindakan bedah definitif dan mengecilkan kaliber
usus pada penderita penyakit Hirschsprung yang telah besar sehingga
memungkinkan dilakukan anastomose. Kolostomi tidak dikerjakan bila dekompresi
secara medic berhasil dan direncanakan bedah definitif langsung. (Shilvia, 2017)
Kolostomi merupakan
kolokutaneostomi yang disebut juga anus preternaturalis yang di buat untuk
sementara atau menetap. Indikasi kolostomi adalah dekompresi usus pada
obstruksi, stoma sementara untuk bedah reseksi usus pada radang, atau
perforasi, dan sebagai anus setelah reseksi usus distal untuk melindungi
anastomosis distal. Kolostomi dapat berupa stoma ikat atau stoma ujung.
Kolostomi dikerjakan pada:
1. Pasien neonatus.
Tindakan bedah
definitif langsung tanpa kolostomi menimbulkan banyak komplikasi dan kematian.
Kematian dapat mencapai 28,6%, sedangkan pada bayi 1,7%. Kematian ini
disebabkan oleh kebocoran anastomosis dan abses dalam rongga pelvis.
2. Pasien anak dan dewasa yang
terlambat terdiagnosis.
Kelompok pasien ini
mempunyai kolon yang sangat terdilatasi, yang terlalu besar untuk
dianastomosiskan dengan rectum dalam bedah definitif. Dengan tindakan
kolostomi, kolon dilatasi akan mengecil kembali setelah 3 sampai 6 bulan
pascabedaah, sehingga anastomosis lebih mudah dikerjakan dengan hasil yang
lebih baik.
3. Pasien dengan enterokolitis
berat dan dengan keadaan umum yang buruk. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah
komplikasi pasca bedah, dengan kolostomi pasien akan cepat mencapai perbaikan
keadaan umum. Pada pasien yang tidak termasuk dalam kategori 1, 2, dan 3
tersebut dapat langsung dilakukan tindakan bedah definitif
2.2
Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis penyakit Hirchsprung harus
ditegakkan sedini mungkin. Berbagai teknologi tersedia untuk menegakkan
diagnosis penyakit Hirschsprung. Namun demikian, dengan melakukan anamnesis
yang cermat, pemeriksaan fisik yang teliti, pemeriksaan radiologi, serta
pemeriksaan patologi anatomi biopsi isap rectum dan manometri, diagnosis
penyakit Hirschsprung pada sebagian besar kasus dapat ditegakkan
1. Pemeriksaan colok dubur
Pada penderita hirsprung disease
pemeriksaan colok anus sangat penting untuk dilakukan. Saat pemeriksaan ini,
jari akan merasakan jepitan karena lumen rektum yang sempit, pada saat ditarik
akan diikuti dengan keluarnya udara dan mekonium (feses) yang menyemprot.
2. Pemeriksaan Fisik
Bayi yang baru lahir
jarang dilakukan pemeriksaan fisik secara lengkap seperti inspeksi, palpasi,
perkusi dan auskultasi sehingga pemeriksaan fisik pada kasus penyakit
Hirschspung sering dilakukan setelah beberapa jam kemudian, pada penilaian
inspeksi (melihat) sering terlihat perut buncit yang membesar tanpa diketahui
sebelumnya. Pemeriksaan perkusi dan auskultasi pada pasien penyakit
Hirschsprung sering di dengar suara berisi suatu masa ataupun kontraksi usus
yang meningkat, penurunan bising usus, dan suara timpani akibat abdominal
mengalami kembung. Pada palpasi akan teraba dilatasi kolon pada abdominal.
Namun pada anak-anak, perut buncit dan di tambah tidak mengeluarkan mekonium
(kotoran pertama) dapat dipertimbangkan bahwa penyebabnya adalah penyakit
Hirschprung. Bila dilakukan colok dubur maka sewaktu jari ditarik keluar maka
feses akan menyemprot keluar dalam jumlah yang banyak dan kemudian tampak perut
anak sudah kempes lagi (Mustaqqin dan Sari, 2011).
3. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi
merupakan pemeriksaan yang penting pada penyakit Hirschsprung. Biasanya
gambaran foto polos abdomen menggambarkan distensi lipatan usus dengan sedikit
udara pada rectum. Dan diagnosis didasarkan pada adanya bagian transisi antara
usus bagian proksimal yang melebar dan kolon bagian distal yang mengecil karena
disebabkan oleh nonrelaxation dari usus aganglionik. Bagian transisi ini
biasanya tidak terjadi pada 1-2 minggu kelahiran (Kartono, 2010). Pemeriksaan
yang merupakan standard dalam menegakkan diagnosa penyakit Hirschsprung adalah
foto dengan barium enema, dimana akan dijumpai 3 tanda khas:
a. Tampak daerah penyempitan di
bagian rektum ke proksimal yang panjangnya bervariasi.
b. Terdapat daerah transisi,
terlihat di proksimal daerah penyempitan ke arah daerah dilatasi.
c. Terdapat daerah pelebaran
lumen di proksimal daerah transisi.
Foto radiografi diambil segera setelah injeksi kontras dan 24 jam
selanjutnya
Apabila dari foto barium enema tidak
terlihat tanda-tanda khas penyakit Hirschsprung, maka dapat dilanjutkan dengan
foto retensi barium, yakni foto setelah 24-48 jam barium dibiarkan membaur
dengan feses. Gambaran khasnya adalah terlihatnya barium yang bercampur dengan
feses kearah proksimal kolon.
4. Pemeriksaan Manometri
Merupakan uji dengan suatu balon yang ditempatkan dalam rektum dan dikembangkan.
Secara normal, dikembangkannya balon akan menghambat sfingter ani interna. Efek
inhibisi pada penyakit hirsprung disease tidak ada dan jika balon berada dalam
usus angelionik, dapat diidentifikasikan gelombang rektal yang abnormal. Uji
ini efektif dilakukan pada masa nounatus karena dapat diperoleh hasil baik
positf palsu ataupun negatif palsu..
Beberapa hasil manometri anorektal yang spesifik bagi penyakit Hirschsprung
adalah:
a. Hiperaktivitas pada segmen
yang dilatasi
b. Tidak dijumpai kontraksi
peristaltik yang terkoordinasi pada segmen usus aganglionik
c. Tidak dijumpai relaksasi
spinkter interna setelah distensi rektum akibat desakan feses. Tidak dijumpai
relaksasi spontan (Shilvia, 2017)
2.3 Komplikasi
Hirschprung
Komplikasi potensial untuk operasi kompleks
terkait dengan penyakit Hirschsprung mencakup seluruh spektrum komplikasi dari
tindakan bedah gastrointestinal. Komplikasi termasuk peningkatan insiden
enterokolitis pasca operasi dengan prosedur Swenson, sembelit setelah perbaikan
Duhamel, dan diare dan inkontinensia dengan prosedeur Soave.
Secara umum, komplikasi kebocoran
anastomosis dan pembentukan striktur (5-15%), obstruksi usus (5%), abses pelvis
(5%), infeksi luka (10%), dan membutuhkan re-operasi kembali (5%), seperti
prolaps atau striktur. Kemudian, komplikasi yang terkait dengan manajemen bedah
penyakit Hirschsprung termasuk enterokolitis, gejala obstruktif, inkontinensia,
sembelit kronis (6-10%), dan perforasi.
Enterokolitis menyumbang morbiditas dan
mortalitas yang signifikan pada pasien dengan penyakit Hirschsprung. Hasil
enterokolitis dari proses inflamasi pada mukosa dari usus besar atau usus
kecil. Sebagai penyakit berlangsung, lumen usus menjadi penuh dengan eksudat
fibrin dan berada pada peningkatan risiko untuk perforasi. Proses ini dapat
terjadi di kedua bagian aganglionik dan ganglionik usus. transisi. Pasien
mungkin hadir pasca operasi dengan distensi abdomen, muntah, sembelit atau
indikasi obstruksi yang sedang berlangsung. Obstruksi mekanik dapat dengan
mudah didiagnosis dengan rektal digital dan barium enema. Komplikasi ini perlu
diketahui secara dini karena dapat mengakibatkan kematian pada setiap saat bila
penanganan tidak memadai
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN HIRSCHPRUNG
3.1 Pengkajian
1.
Identitas
Penyakit ini
sebagian besar ditemukan pada bayi cukup bulan dan merupakan kelainan tunggal.
Jarang pada bayi prematur atau bersamaan dengan kelainan bawaan lain.
2.
Riwayat
kesehatan
a.
Keluhan
utama
Obstipasi
merupakan tanda utama dan pada bayi baru lahir. Trias yang sering ditemukan
adalah mekonium yang lambat keluar (lebih dari 24 jam setelah lahir), perut
kembung dan muntah berwarna hijau. Gejala lain adalah muntah dan diare.
b.
Riwayat kesehatan sekarang
Merupakan
kelainan bawaan yaitu obstruksi usus fungsional. Obstruksi total saat lahir dengan muntah, distensi abdomen dan
ketiadaan evakuasi mekonium. Bayi sering mengalami konstipasi, muntah dan
dehidrasi. Gejala ringan berupa konstipasi selama beberapa minggu atau bulan
yang diikuti dengan obstruksi usus akut. Namun ada juga yang konstipasi ringan,
enterokolitis dengan diare, distensi abdomen, dan demam. Diare berbau busuk
dapat terjadi
c.
Riwayat
kesehatan dahulu
Tidak
ada penyakit terdahulu yang mempengaruhi terjadinya penyakit Hirschsprung
d.
Riwayat kesehatan keluarga
Tidak
ada keluarga yang menderita penyakit ini diturunkan kepada anaknya
3.
Pemeriksaan
fisik
Pemeriksaan
yang didapatkan sesuai dengan manifestasi klinis. Pada survey umum terlihat
lemah atau gelisah. TTV biasa didapatkan hipertermi dan takikardi dimana
menandakan terjadinya iskemia usus dan gejala terjadinya perforasi. Tanda
dehidrasi dan demam bisa didapatkan pada kondisi syok atau sepsis
Pada
pemeriksaan fisik fokus pada area abdomen, lipatan paha, dan rectum akan didapatkan
a.
Inspeksi: Tanda
khas didapatkan adanya distensi abnormal. Pemeriksaan rectum dan fese akan
didapatkan adanya perubahan feses seperti pita dan berbau busuk.
b.
Auskultasi:
Pada fase awal didapatkan penurunan bising usus, dan berlanjut dengan hilangnya
bisng usus.
c.
Perkusi: Timpani
akibat abdominal mengalami kembung.
d.
Palpasi: Teraba
dilatasi kolon abdominal.
ü Sistem kardiovaskuler: Takikardia.
ü Sistem pernapasan: Sesak napas, distres
pernapasan.
ü
Sistem
pencernaan: Umumnya obstipasi. Perut kembung/perut tegang, muntah berwarna
hijau. Pada anak yang lebih besar
terdapat diare kronik. Pada colok anus jari akan merasakan jepitan dan pada
waktu ditarik akan diikuti dengan keluarnya udara dan mekonium atau tinja yang
menyemprot.
ü
Sistem
saraf : Tidak ada kelainan.
ü
Sistem
lokomotor/musculoskeletal : Gangguan rasa nyaman : nyeri
ü
Sistem
endokrin: Tidak ada kelainan.
ü
Sistem
integument: Akral hangat, hipertermi
3.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respons klien terhadap
masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang berlangsung aktual
maupun potensial yang bertujuan untuk mengidentifikasi respon klien individu,
keluarga, dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan dengan kesehatan (SDKI,
2017).
|
NO |
DIAGNOSIS KEPERAWATAN |
|
|
KODE |
DIAGNOSA |
|
|
1 |
D.0049 |
Diagnosis
: Konstipasi Definisi : Penurunan defekasi normal yang disertai pengeluaran feses sulit dan tidak tuntas serta feses kering dan banyak.
|
|
2 |
D.0019 |
Diagnosa
: Defisit nutrisi |
|
3 |
D.0036 |
Diagnosis
: Risiko ketidakseimbangan cairan |
3.1 Intervensi Keperawatan
|
NO |
DIAGNOSA |
TUJUAN DAN KRITERIA HASIL |
INTERVENSI |
|
1 |
Konstipasi Definisi : Penurunan defekasi normal yang disertai
pengeluaran feses sulit dan tidak tuntas serta feses kering dan banyak. |
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan konstipasi dapat teratasi dg kriteria hasil : 1.
Mual dari skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup menurun) 2.
Muntah dari skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup menurun) 3.
Dispepsia dari skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup menurun) 4.
Nyeri abdomen dari skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup
menurun) |
Manajemen
Konstipasi Kode : 1.04155 Observasi : -
Periksa tanda dan gejala konstipasi -
Periksa pergerakan usus, karakteristik feses (konsistensi, bentuk,
volume, dan warna) -
Monitor tanda dan gejala ruptur usus dan/atau peritonitis Terapeutik : -
Lakukan evakuasi feses secara manual, jika perlu -
Berikan enema atau irigasi, jika perlu Edukasi : -
Jelaskan etiologi masalah dan alasan tindakan -
Anjurkan peningkatan asupan cairan, jika tidak ada kontraindikasi -
Ajarkan cara mengatasi konstipasi/impaksi Kolaborasi : -
Konsultasi dengan tim medis tentang penurunan/peningkatan frekuensi suara
usus |
|
2 |
Defisit
nutrisi Definisi
: Asupan nutrisi
tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme
|
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan defisit nutrisi dapat teratasi dg kriteria hasil : 1. Nyeri abdomen dari skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup
menurun) 2. Perasaan cepat kenyang dari skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4
(cukup menurun) 3. Diare dari skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup menurun) |
Manajemen Nutrisi Kode : 1.03119 Observasi : -
Identifikasi status nutrisi -
Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien -
Monitor asupan makanan -
Monitor hasil pemeriksaan laboratorium Terapeutik : -
Lakukan oral hygine sebelum makan, jika perlu -
Fasilitasi menentukan pedoman diet -
Berikan makanan tinggi untuk mencegah konstipasi Edukasi : -
Anjurkan posisi duduk, jika mampu -
Ajarkan diet yang diprogramkan Kolaborasi : -
Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (mis. Pereda nyeri,
antlemetik), jika perlu -
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis
nutrien yg dibutuhkan, jika perlu |
|
3 |
Risiko
ketidakseimbangan cairan Definisi : Berisiko mengalami penurunan,
peningkatan atau percepatan perpindahan cairan dari intravaskuler,
interstisial atau intraselular |
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan risiko ketidakseimbangan cairan dapat teratasi dg kriteria hasil : 1. Edema dari skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup menurun) 2. Dehidrasi dari skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup menurun) 3. Asites dari skala 2 (cukup meningkat) menjadi skala 4 (cukup menurun) 4. Asupan cairan dari skala 2 (cukup menurun) menjadi skala 4 (cukup
meningkat) |
Manajemen Cairan Kode : 1.03098 Observasi : -
Monitor status hidrasi (mis. Frekuensi nadi, kekuatan nadi, akral,
pengisian kapiler, kelembapan mukosa turgor kulit, tekanan darah) -
Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (mis. Hematokrit, Na, K, Cl, berat
jenis urine, BUN) -
Monitor berat badan harian Terapeutik : -
Catat intake-output dan hitung balance cairan 24 jam -
Berikan asupan cairan, sesuai kebutuhan -
Berikan cairan intravena, jika perlu Kolaborasi : -
Kolaborasi pemberian diuretik, jika perlu |
3.1 Implementasi Keperawatan
Implementasi (tindakan) asuhan keperawatan
dilakukan dengan intervensi yang telah dibuat atau direncanakan.
3.2 Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses
keperawatan yang merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana antara
hasil akhir yang teramati dan tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap
perencanaan. Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan klien
dan tenaga kesehatan lainnya. Jika hasil evaluasi menunjukkan tercapainya
tujuan dan kriteria hasil, klien bisa keluar dari siklus proses keperawatan.
Jika sebalikanya, klien akan masuk kembali ke dalam siklus tersebut mulai dari
pengkajian ulang. Secara umum, evaluasi ditujukan untuk:
1)
Melihat dan menilai kemampuan klien dalam mencapai tujuan
2)
Menentukan apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau
belum
3)
Mengkaji penyebab jika tujuan asuhan keperawatan belum
tercapai.
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Penyakit Hirschsprung (mega kolon kongenital)
adalah suatu penyumbatan pada usus besar
yang terjadi akibat pergerakan usus yang tidak adekuat karena sebagian dari usus besar tidak
memiliki saraf yang mengendalikan kontraksi ototnya. Hirschsprung
terjadi karena adanya permasalahan pada persarafan usus besar paling bawah
mulai dari anus hingga usus diatasnya. Penyakit hisprung merupakan suatu
kelainan bawaan yang menyebabkan gangguan pergerakan usus yang dimulai dari
spingter ani internal ke arah proksimal dengan panjang yang bervariasi dan
termasuk anus sampai rektum.Penyakit ini disebabkan oleh tidak adanya sel
ganglion para simpatis dari pleksus Auerbach di kolon.
4.2 Saran
1. Bagi petugas kesehata atau
instansi kesehatan agar lebih meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya pada
hisrchprung untuk pencapaian kualitas keperawatan secara optimal dan sebaiknya
proses keperawatan selalu dilaksanakan secara berkesinambungan.
2. Bagi klien dan keluarga,
Perawatan tidak kalah pentingnya dengan pengobatan karena bagaimanapun
teraturnya pengobatan tanpa perawatan yang sempurna maka penyembuhan yang
diharapkan tidak tercapai, oleh sebab itu perlu adanya penjelasan pada klien
dan keluarga mengenai manfaat serta pentingnya kesehatan.
3.
Bagi
mahasiswa keperawatan, diharapkan mampu memahami dan menerapkan asuhan
keperawatan yang benar pada klien dengan hirschprung.
DAFTAR PUSTAKA
Ambartsumyan, L., Smith, C., & Kapur, R. P. (2020).
Diagnosis of Hirschsprung Disease. Pediatric
and Developmental Pathology, 23(1),
8–22. https://doi.org/10.1177/1093526619892351
Hamdan Hariawan, Martini Tidore, G.
Z. R. (2020). Vol. 2 No. 1 April 2020. Perilaku Pencegahan Penyakit Tidak
Menular Pada Remaja Ambon, 2(1), 16.
Haryani, S., Adimayanti, E., & Astuti, A. P.
(2018). Pengaruh Tepid Sponge Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Pada Anak Pra
Sekolah Yang Mengalami Demam Di Rsud Ungaran. Jurnal Keperawatan Dan
Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama, 7(1), 44.
https://doi.org/10.31596/jcu.v0i0.212
Muslim. (2016). Beberapa Kejadian Cacat Bawaan Bayi
Lahir di Rumah Sakit M. Yunus Bengkulu dalam Satu Dekade Terakhir. Prosiding
Seminar Nasionalfrom Basic Science to Comprehensive Education, 2005,
81–86.
Shilvia, D. (2017). Gambaran Pasien Penyakit
Hirschsprung Pada Bayi Usia 0-12 Bulan Di Rsup Haji Adam Malik Medan Tahun
2012-2016. 61.
http://repositori.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/3762/140100130.pdf?sequence=1&isAllowed=y
Silambi, A., Setyawati, T., Langitan, A., Program, M.
P., & Hospital, U. G. (2020). Case Report : Hirschsprung Disease. Jurnal
Medical Profession (MedPro), 2(1), 36–40.
Komentar
Posting Komentar